Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Kata dan Waktu
Lagu itu berputar di ruanganku, sebuah lagu yang membawaku kembali ke masa saat aku mengenal Hana. Sheila on 7… judulnya "DAN" seakan menempel di memori.
🎶 “…dan bukan maksudku … bukan inginku..melukaimu sadarkah kau di sini pun ku terluka…melupakanmu menepikanmu.. maafkan akuuu…” 🎶
Aku tersenyum getir sambil membuka SMS lama kami. Teks-teks itu sederhana, lucu, tapi penuh warna kehidupan remaja.
Hana, aku capek banget hari ini. Tugas numpuk, dan pas sudah selesai aku yang nyari dosen sampai pusing nyari karena dia kabur-kaburan terus 😅 Rasanya capek banget. Belum lagi tekanan di tempat kerja. Lelah banget, Hana. Tapi semua ini perjuanganku, Hana… mencapai D3 dengan beasiswa itu. Kamu lagi ngapain sekarang?
Membaca ulang kata-kata itu membuat hatiku hangat sekaligus aneh. Waktu terasa berhenti sebentar. Semua kenangan, tawa, dan curhat kecil itu hidup kembali mengisi ruang yang kosong selama 16 tahun.
Lalu aku menatap layar ponsel modernku. DM Hana baru saja masuk, dan rasanya… semua yang tertunda, semua rindu lama, seakan ingin mengalir kembali. Jantungku berdegup lebih kencang, tapi aku menahan diri. Aku ingin membalas, tapi juga ingin menikmati momen ini… perlahan.
Aku membuat story di medsosku. aku buatkan puisi ini untuknya namun tetap akan Ku sembunyikan merasa Hana tidak boleh tahu dan sadar tentangKu.
Di antara kata dan waktu,
Ada yang selalu kusimpan, tak terucap.
Tawa lama, pesan yang tertunda,
Mengisi ruang hampa di tengah hari.
Kau hadir dalam diamku,
Seperti lagu yang tak pernah usai…
Membawa rindu yang tak terungkap,
Tapi mungkin hanya aku yang tahu.
Aku menatap layar story-ku sendiri, tersenyum tipis. Puisi itu sudah terbit untuk semua orang, tapi aku berharap… hanya aku yang tahu, bahwa maksudku hanya satu: Hana.
Malam itu aku duduk lama, membiarkan lagu berputar, SMS lama menari di kepala, dan rindu yang tak terucap menempel di hati.
Aku tahu… ini baru permulaan.
Aku menatap DM Hana, jantungku serasa mau lompat keluar.
“Uhuyyy… buat siapa tuh. Masih suka bikin puisi ya. Cucok banget kayak lagi cinta sama seseorang tapi masih disimpan. Huft kenapa begitu? 😄”
Geming. Diam. Bingung. Rasanya seperti Hana menancapkan panah tepat di jantungku. Panah yang sudah kutahan selama 16 tahun. Aku ingin menjawab dengan santai, tapi… aku takut terlalu terbuka, takut terlalu jelas. Bagaimana kalau aku bilang ini untuknya?
Tapi di sisi lain, aku ingin dia tahu. Sebenarnya puisi itu untuknya. Dalam hati aku berpikir.
“Hana… sekian lama aku hanya main-main dengan yang lain, tapi tidak pernah serius. Mereka semua perempuan baik, tapi… entah kenapa ternyata memang mereka bukan jodohku...Aku sendiri tidak paham.”
Aku menarik napas panjang, menatap layar. Jari ini gemetar… tapi rasanya aku harus membalas. Aku harus bilang sesuatu, meski hanya separuh rahasia.
Aku mengetik balasan, jari sedikit gemetar tapi mencoba terdengar santai.
“Wkwkkwwk ada deh… mau tau aja..”
Beberapa detik terasa lama. Aku menunggu, menatap layar, membayangkan ekspresi Hana saat membaca jawabanku. DM itu… sederhana, tapi rasanya seperti menyalakan percikan kecil yang sudah lama tersimpan. Hana membalas dengan cepat:
“Wkwkkw ya udah kalau ga kasih tau gapapa ko wkwk… semoga jodoh ya. Jadi kamu masih sendiri ya?”
Dadaku seperti melonjak. Dia sadar aku masih sendiri. Sebuah senyum tipis tak bisa kutahan, bercampur deg-degan yang aneh. “Dia baru nyadar…” pikirku. Tapi di sisi lain, rasa hangat menyelimuti hati. Rasanya… lama sekali aku menunggu momen ini agar nama dan kenangan itu bukan sekadar masa lalu, tapi mulai hidup lagi di antara kami. Aku menarik napas panjang, jari di layar sedikit gemetar. Satu pertanyaan muncul di kepala apakah aku harus membuka lebih banyak lagi, atau tetap diam, membiarkan rasa ini perlahan mengalir… seperti lagu dan puisi yang sudah lama kusembunyikan?
Diam-diam aku menatap fotonya. Bathinku terasa hangat sekaligus senang. Hana tampak bahagia bersama suaminya. Senyum di wajahnya, tawa bersama anak-anak… inilah yang mungkin dimaksud dengan cinta tak harus memiliki.
Tapi… benarkah ini cinta? Benarkah rasa yang kurasakan sekarang adalah cinta, atau hanya kenangan dan rasa penasaran yang menempel terlalu lama? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, membuatku bingung dan gelisah.
Foto-fotonya yang dia bagikan membuatku sadar Hana sering pergi keluar, makan di tempat baru, atau liburan bersama keluarga. Sementara aku… yah, hanya main-main dengan teman-teman, menjalani hari seperti biasa, sambil bekerja.
Aku menahan diri untuk tidak mengirim komentar atau like berlebihan. Aku ingin tetap menjadi pengamat diam, tapi di sisi lain hatiku… tetap ingin dekat, ingin tahu lebih banyak. Perasaan ini, entah apa namanya, terasa manis sekaligus membingungkan.
Aku meneguk teh manis panas rasanya seperti mengahatkan perasaanku saat ini. menyimpan semua rasa itu dalam diam.
Bahagia melihatnya, bingung dengan hatiku sendiri… tapi mungkin, inilah awal dari sesuatu yang baru.
Entah ini cinta atau hanya rasa penasaran lama, aku tak tahu.
Yang kutahu, malam ini, kenangan dan perasaan itu kembali hidup, dan aku siap menunggu langkah selanjutnya…