NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku harus lupain kamu

Selama beberapa hari ini aku berhasil menghindar dari kak Kairi, sama seperti yang sedang aku coba lakukan saat ini.

"Jen... Jeny!.""

Akh sial, agak ga mungkin aku berpura pura tidak mendengarnya lagi.

"Maaf kak, aku lagi dikejar waktu jadi ga lihat kakak."

"Aku tau kamu menghindariku Jen."

"Ga kok, udah ya kak aku harus masuk kelas."

"Kelas kamu diarah kanan kan Jen."

"Mmm... aku lupa bawa bukunya jadi mau ke perpustakaan dulu."

"Baiklah Jen. Jam kelas kamu berakhir jam 11 kan? Bisa ke ruang himpunan dulu sebelum pulang, aku mau bahas proposal sama kamu."

"Baiklah kak, aku pergi dulu ya kak."

"Jen, aku akan menunggu kamu sampai kamu datang ya Jen."

Aku hanya menatap matanya lalu berlalu ke arah perpustakaan.

Sesampainya di perpustakaan aku hanya duduk memandang pintu masuk, setelah beberapa saat aku keluar memastikaan tidak ada kak Kairi dimanapun, lalu pergi menuju ruang kelasku.

Ruang kuliah mulai sepi ditinggalkan oleh penghuninya satu per satu.

"Jen, ga ikut kita ke kantin?", tanya salah seorang temanku.

"Mmm... ga dulu siang ini aku ada janji."

"Ok, kita duluan ya Jen."

Aku menganggukan kepalaku sambil tersenyum. Ya aku ada janji, harusnya saat ini aku melangkahkan kakiku ke ruang himpunan, tapi aku sungguh enggan untuk beranjak dari ruangan ini berharap dengan terlambat kak Kairi akan membatalkan janji itu. Aku duduk memperhatikan lalu lalang mahasiswa diluar melalui jendela disampingku.

"Apa kamu sedang berpikir untuk kabur lagi Jen?."

"Hah? Kak Kairi?."

"Jangan pura-pura ga dengar Jen, kalau aku ga samperin kamu ke kelas kamu ga akan datang ke himpunan kan?."

"Ga kok, kan ini jam makan siang jadi aku pikir mungkin kak Kairi makan siang dulu."

"Jen, maaf aku membuat keadaan menjadi canggung seperti ini, tapi aku menyukai interaksi kita dulu, aku harap kita bisa kembali normal."

Normal? Apa maksudnya normal? Normal disebelah mananya, jelas-jelas aku ga normal karena menyukainya, ucapku dalam hati. Tapi pada kenyataannya aku hanya menatapnya saja dengan wajah tanda tanyaku. Mata kami saling bertatapan selama beberapa menit kemudian aku memalingkan pandanganku ke arah jendela lagi. Ya aku sudah kehabisan kata-kata, apalagi yang bisa aku ucapkan, kak Erick sudah tau semua kartuku.

"Kamu nanti pulang bareng Belva?."

"Iya kak."

"Belva beres kuliah jam berapa?."

"Jam 1.30", ucapku singkat.

"Mau makan siang bareng?."

Aku menatapnya dengan wajah bingung lagi.

"Ya, sudah kuduga reaksimu seperti itu. Ini aku sudah beliin kamu makan siang Jen."

Aku menatap bungkusan plastik yang ia sodorkan ke arahku.

"Mmm... baiklah sampai ketemu lagi Jen."

Apa sih maksudnya? Kenapa beliin makan siang? Tanyaku dalam hati.

"Eh kak, mana proposalnya?."

"Oh itu, sudah beres kok. Bye Jen."

Aku menatap punggungnya sampai ia menghilang dari pandanganku.

"Jen... Jen! bengong mulu dari tadi, pasti gara gara si Kairi lagi."

"Kok tau?."

"Yah siapa lagi, ngapain lagi si Kairi?."

"Dia beliin aku makan siang."

"Kamu makan siang bareng?."

"Ga Bel, dia hanya beliin aku makan siang aja, terus pergi."

"Ga jelas banget sih tuh orang", ucap Belva.

"Iya kan Bel, ga jelas kan Bel, bukan aku yang berlebihan kan Bel?."

"Dia ga bilang apa gitu Jen?."

"Dia bilang, maaf udah buat keadaan canggung dan beharap kembali normal. Apa maksudnya Bel?."

"Ya sesuai perkataannya, mungkin dia cuma ga enak aja udah nolak jadi beli makan siang. Lagian cowok udah ditembak cewek, kalau dia ada perasaan suka pasti bilang kan. Kairi kan ga begitu Jen, udah jangan dipikirin lagi."

"Apa ada kemungkinan dia sebenarnya suka sama aku, cuma ga tau gimana ngomongnya Bel?"

"Jen, di umur segini mana ada cowok sepolos itu. Lagian aku pernah denger cerita dia putus deh kayanya, jadi harusnya dia memang ga sepolos itu."

"Kamu tau gosip apa? Kok aku ga tau."

"Ya ngapain juga aku cerita aku juga cuma denger sekilas belum tentu benar kan. Katanya kakak kelas kamu yg namanya Indah itu mantannya Kairi."

"Oh ya kak Indah? Bukannya mereka teman dari kecil?."

"Ya ada juga sih yang bilang gitu, entahlah. Yang jelas itu masa lalu kan, karena aku pikir saat itu Kairi suka sama kamu. Lagian aku lihat sikapnya ke kak Indah biasa aja tuh beda dengan yang ditunjukkan sama kamu. Tapi sekarang aku pikir kak Kairi itu tipe cowok player yang suka tebar pesona. Mangkanya udah jangan pikirin Kairi lagi, kalau dia emang serius suka sama kamu dia bisa kasih jawaban jelas kan Jen."

"Ya Bel, kamu bener, aku harus lupain Kairi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!