Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ban mobil berdecit keras saat berhenti di depan halaman rumah baru mereka.
Tanpa perasaan, Akhsan menyeret Zahra yang sudah hampir kehilangan kesadaran masuk ke dalam rumah.
Tubuh Zahra gemetar hebat, sisa-sisa darah dari tangan bekas infusnya menetes di lantai marmer yang dingin.
"Bi Renggo! Ke sini!" teriak Akhsan menggelegar.
Bibi Renggo berlari tergopoh-gopoh dari dapur, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Zahra yang mengenaskan.
"Ya Allah, Den! Non Zahra harus diobati, Den, kenapa dibawa pulang—"
"Pergi ke rumah utama sekarang! Jangan kembali sebelum saya panggil!" bentak Akhsan.
"Tapi, Den. Non Zahra..."
"CEPAT, BI!"
Bibi Renggo gemetar ketakutan mendengar teriakkan Akhsan.
Zahra yang lemas memberikan isyarat dengan anggukan kecil, seolah berkata bahwa ia akan baik-baik saja meski hatinya menjerit ketakutan.
Dengan air mata berlinang, Bibi Renggo terpaksa keluar menuju rumah utama keluarga Hermawan.
Begitu pintu depan terkunci, Akhsan mencengkeram lengan Zahra dan menyeretnya menuju gudang di bagian belakang rumah.
Di sana, aroma debu dan pengap menyambut mereka.
Dengan satu dorongan kasar, Zahra terjerembap ke lantai yang kotor.
Akhsan menyambar sebatang kayu penyangga rak yang tergeletak di sudut.
Matanya merah padam, dikuasai oleh racun fitnah dari Sisilia dan dendam atas kematian Gea.
"Kamu tampar Gea, hah?!"
PLAK!!
Suara tamparan keras sampai Zahra tersungkur di lantai.
BUGH!
Kemudian kayu itu menghantam pungung Zahra sangat keras.
Zahra memekik pilu, tubuhnya tersungkur mencium debu.
"Kamu teror dia setiap hari?!"
BUGH!
Zahra mengerang kesakitan, napasnya tersengal di antara isak tangis yang mulai pecah.
"Enggak, Mas. Demi Allah. Aku tidak meneror Kak Gea"
"JANGAN BOHONG!" teriak Akhsan kehilangan kendali.
Ia mengarahkan kayu itu tepat ke kaki Zahra yang masih dibalut perban dan luka infeksi.
BUGH!
"KAMU MEMBUNUHNYA! Kamu sengaja membuat pikirannya kacau agar kami kecelakaan!" teriak Akhsan dengan suara serak.
"Aku tidak pernah mencintaimu, Zahra! Bagiku kamu itu sampah!"
BUGH!
Suara pukulan terkahir yang sangat keras mengenali kepala Zahra .
Akhsan tidak menyadari jika ada paku yang menancap di kepala adiknya.
Kemudia ia melempar kayu itu ke sembarang arah, lalu merogoh saku jasnya.
Ia mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul soft pink yang sudah tampak lecek dimana buku harian Zahra yang ia temukan secara tidak sengaja di kamar Zahra.
"Buku ini sangat MENJIJIKKAN!" Akhsan melemparkan buku itu tepat ke wajah Zahra.
Flashback
Beberapa malam yang lalu, di tengah sunyinya rumah sakit, Akhsan masuk ke kamar Zahra untuk mengambil beberapa pakaian.
Saat itulah ia menemukan buku harian itu tersembunyi di bawah bantal.
Ia membukanya dengan rasa ingin tahu yang berubah menjadi rasa jijik yang luar biasa.
20 Januari:
"Hari ini Mas Akhsan tersenyum padaku. Meski aku tahu senyum itu hanya karena aku adiknya, jantungku tetap berdetak tidak karuan. Kenapa takdir begitu kejam memberiku perasaan ini pada kakakku sendiri?"
15 Februari:
"Mas Akhsan akan menikah dengan Kak Gea. Aku hancur. Tapi di sisi lain, aku sedikit bahagia.Karena dengan Kak Gea menjadi kakak iparku, dia akan sering di rumah ini. Aku bisa terus melihat Mas Akhsan meski dari jauh. Kak Gea sangat baik, dia pantas untuk Mas Akhsan."
Akhsan menutup buku itu dengan tangan gemetar di masa lalu.
Baginya, setiap kata cinta yang ditulis Zahra adalah noda bagi nama baik keluarga.
Ia merasa dilecehkan oleh perasaan "tak wajar" adiknya sendiri.
"Kamu tulis kamu bahagia Gea jadi kakak iparmu? Itu cuma kedok, kan?!"
Akhsan berlutut, menjambak rambut Zahra agar menatapnya.
"Kamu ingin dia ada di dekatmu hanya untuk menyiksanya perlahan karena kamu cemburu!"
Zahra menggeleng lemah, wajahnya sudah tidak berbentuk karena air mata dan debu.
"Enggak, Mas. Aku benar-benar menyayangi Kak Gea. Aku ikhlas kalau kalian menikah,"
"BOHONG!"
Akhsan berdiri, menatap istrinya yang tergeletak tak berdaya di lantai gudang dengan pandangan yang lebih dingin dari es.
"Mulai sekarang, gudang ini adalah tempatmu. Jangan harap bisa menyentuh ranjang di rumah ini. Nikmati cintamu yang menjijikkan itu di sini, sendirian."
BRAK!
Pintu gudang dibanting dan dikunci dari luar. Zahra mendekap buku hariannya di dada, meringkuk di atas lantai yang dingin.
Rasa sakit di punggung dan kakinya mulai mati rasa, kalah oleh rasa hancur di jiwanya.
"M-mas Akhsan, aku benar-benar mencintaimu..." bisik Zahra sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.
Malam semakin larut, namun badai di dalam hati Akhsan tak kunjung reda.
Di kamar utamanya, ia duduk di tepi ranjang dengan botol wine yang sudah hampir kosong.
Cairan merah itu ditenggaknya dengan rakus, berharap rasa panas di tenggorokannya bisa mematikan rasa sakit dan amarah yang membakar jiwanya.
Kesadaran Akhsan mulai mengabur. Logikanya tenggelam dalam pengaruh alkohol yang kuat.
Bayangan Gea, dengan senyum manis dan gaun putihnya, seolah menari-nari di depannya.
Dalam kondisi mabuk berat, ia kembali melangkah menuju gudang.
Ceklek.
Pintu gudang terbuka. Cahaya rembulan yang masuk dari ventilasi kecil menyinari sosok Zahra yang meringkuk tak berdaya di atas lantai. Namun di mata Akhsan yang sudah terpengaruh alkohol, sosok itu berubah.
Rambut yang berantakan itu terlihat seperti rambut Gea, dan isak tangis itu terdengar seperti panggilan rindu.
"Gea, apa itu kamu?" racau Akhsan parau.
"M-mas..."
Akhsan berlutut di depan Zahra dan mencengkeram bahu istrinya itu, lalu dengan rakus ia mencium bibir Zahra.
Ciuman yang penuh dengan keputusasaan dan salah alamat.
Zahra mencoba mendorong dada Akhsan dengan sisa tenaganya.
"M-mas, jangan. Mas Akhsan, sadar..." ucap Zahra lirih.
Akhsan yang sudah gelap mata tidak mendengar suara Zahra.
Dalam halusinasinya, ia sedang memeluk kekasihnya yang telah tiada.
Dengan gerakan kasar dan tidak terkendali, ia mulai melucuti pakaiannya sendiri dan pakaian Zahra.
Nafasnya memburu, bercampur aroma alkohol yang menyengat.
"Mas, sakit. Mas, tolong jangan begini..." tangis Zahra pecah.
Luka di punggung dan kakinya terasa terseret di lantai yang kasar, namun Akhsan justru semakin kuat menekannya.
Tanpa kelembutan, tanpa kasih sayang, Akhsan memaksakan kehendaknya.
Ia merampas mahkota istrinya dengan cara yang paling menyakitkan dan kasar di atas lantai gudang yang kotor dan dingin.
Tidak ada malam pengantin yang indah, yang ada hanyalah penodaan atas nama dendam dan halusinasi.
"Gea, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Gea..." bisik Akhsan di telinga Zahra, berulang kali menyebut nama wanita lain saat ia menyakiti tubuh istrinya sendiri.
Zahra memejamkan mata rapat-rapat saat mendengar suaminya memanggil wanita lain.
Air matanya mengalir deras, membasahi lantai debu di bawah kepalanya.
Ia menyerahkan segalanya kepada pria yang sangat ia cintai, namun pria itu melakukannya hanya karena mengira dia adalah orang lain.
Malam itu, di dalam gudang yang gelap, Zahra merasa jiwanya benar-benar telah mati.
Sementara Akhsan, setelah meluapkan segala emosinya, jatuh tertidur di samping Zahra yang tak berdaya, masih dengan menggumamkan nama Gea dalam tidurnya.