NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Pagi yang seharusnya tenang pecah seketika saat sebuah amplop cokelat besar dengan stempel resmi pengadilan tiba di meja depan. Awan, yang baru saja selesai menyesap kopi hitamnya, membaca isi dokumen itu dengan mata yang berkilat marah. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Gugatan hak asuh. Paman Wijaya benar-benar menabuh genderang perang. Mereka menuduh Jasmine tidak cakap secara moral karena tinggal di bawah atap yang sama dengan pria lajang tanpa ikatan pernikahan, menganggap lingkungan tersebut "tidak sehat" untuk tumbuh kembang Shaka.

"Tua bangka sialan," desis Awan. Ia meremas kertas itu hingga tak berbentuk.

Ia menoleh ke arah Jasmine yang sedang duduk di karpet bulu, membantu Shaka yang mulai belajar duduk tegak. Jasmine tampak begitu polos, tidak tahu bahwa badai hukum sedang mengarah padanya untuk merenggut satu-satunya alasan dia bertahan hidup: anaknya.

Awan tahu, tidak ada waktu untuk negosiasi. Ia harus bertindak lebih cepat daripada pengacara Paman Wijaya.

Sore harinya, hujan turun sangat deras. Petir sesekali menyambar, menciptakan kilatan cahaya di balik jendela besar ruang tengah. Jasmine sedang asyik melipat baju-baju mungil Shaka sambil bersenandung kecil saat Awan tiba-tiba masuk ke ruangan dengan langkah yang terburu-buru.

Pria itu tidak memakai jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung asal-asalan. Ia berdiri di depan Jasmine, menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat intens—campuran antara panik, marah, dan... sesuatu yang lain.

"Jas, dengerin gue baik-baik," buka Awan. Suaranya berat, mencoba menyaingi suara guntur di luar.

Jasmine mendongak, sedikit terkejut. "Kenapa, Kak? Ada masalah di kantor?"

Awan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Tanpa berlutut, tanpa musik latar yang manis, ia menyodorkan kotak itu ke depan wajah Jasmine.

"Besok kita ke kantor catatan sipil. Gue udah urus semuanya. Lo pake baju yang bener, jangan pake daster ini lagi," ucap Awan dengan nada memerintah, persis seperti sedang memberikan instruksi pada staf divisinya.

Jasmine membeku. Ia menatap kotak terbuka yang berisi cincin berlian sederhana namun sangat elegan. Ia lalu menatap wajah Awan yang tampak sangat judes dan kaku.

"Maksud Kakak apa?" tanya Jasmine, suaranya bergetar.

"Maksud gue? Kita nikah. Minggu ini. Secara hukum dan agama," jawab Awan telak. "Paman Wijaya gugat hak asuh Shaka. Dia bilang lo nggak pantes jaga Shaka karena kita tinggal bareng tanpa status. Jadi, solusi paling cepet dan paling aman adalah lo jadi istri gue. Ngerti?"

Hening. Jasmine merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia senang Awan ingin melindunginya, tapi cara pria ini menyampaikannya benar-benar... jauh dari apa yang ia bayangkan tentang sebuah pernikahan.

"Bisa nggak Kakak romantis dikit?" tanya Jasmine tiba-tiba, matanya mulai berkaca-kaca. "Ini pernikahan, Kak. Bukan akuisisi perusahaan. Kakak lamar aku kayak Kakak lagi mau beli tanah sengketa."

Awan tertegun. Ia melihat air mata mulai menggenang di pelupuk mata Jasmine. Tangannya yang memegang kotak cincin itu sedikit gemetar. Ia baru menyadari bahwa dalam upayanya yang membabi buta untuk melindungi, ia lupa bahwa Jasmine bukan sekadar "warisan" yang harus dijaga, tapi wanita yang memiliki hati.

Awan menarik napas panjang. Ia menutup kotak cincin itu, lalu secara perlahan, ia berlutut di atas karpet, tepat di depan Jasmine.

"Gue... gue nggak pinter ngomong yang manis-manis, Jas," gumam Awan. Suaranya kini melembut, tidak lagi ada nada memerintah. "Lo tahu gue kaku. Gue judes. Gue sering bikin lo nangis karena mulut gue yang kasar."

Awan meraih tangan kanan Jasmine, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.

"Gue panik karena gue takut kehilangan kalian. Gue takut kalau gue telat sedetik aja, orang-orang serakah itu bakal bawa Shaka pergi dan lo bakal hancur. Gue nggak sanggup liat itu terjadi lagi," lanjut Awan. Ia mendongak, menatap mata Jasmine dengan kejujuran yang telanjang.

"Gue mungkin nggak bisa janjiin lo cinta yang seindah di buku-buku atau cara Hero yang selalu lembut sama lo. Tapi gue janji, Jasmine... kalau lo jadi istri gue, gue bakal jadi orang pertama yang berdiri di depan lo pas dunia nyoba nyakitin lo. Gue bakal sayangin Shaka lebih dari nyawa gue sendiri."

Awan membuka kembali kotak cincin itu. Kilauan berliannya terpantul di mata Jasmine.

"Jas... gue bukan Hero. Tapi gue Awan, pria yang pengen jadi tempat lo pulang. Lo mau... lo mau nikah sama gue? Bukan cuma buat status, tapi karena... karena gue beneran butuh lo di hidup gue?"

Jasmine terisak. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena ia melihat sisi Awan yang selama ini disembunyikan di balik dinding es yang tebal. Pria kaku ini baru saja meruntuhkan seluruh harga dirinya hanya untuk memohon padanya.

"Kak Awan..." bisik Jasmine.

"Jangan panggil Kakak," potong Awan pelan, tangannya mengusap pipi Jasmine yang basah. "Nama gue Awan. Panggil gue Awan."

Jasmine tersenyum di tengah isakannya. Ia mengangguk perlahan. "Iya, Awan. Aku mau."

Awan mengembuskan napas lega yang seolah telah ia tahan selama berabad-abad. Ia mengambil cincin itu dan melingkarkannya di jari manis Jasmine. Pas sekali.

Tiba-tiba, Awan menarik Jasmine ke dalam pelukannya. Dekapan itu sangat erat, posesif, namun memberikan rasa aman yang tak tergantikan. Di luar, guntur kembali bersahutan, namun di dalam ruangan itu, Jasmine merasa telah menemukan pelabuhan terakhirnya.

Setelah beberapa saat dalam keheningan yang hangat, Awan melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap Jasmine dengan wajah yang... kembali sedikit judes.

"Udah kan romantisnya? Kaki gue pegel berlutut begini," gerutu Awan sambil berdiri dan membersihkan celananya dari bulu-bulu karpet.

Jasmine tertawa renyah, menghapus sisa air matanya. "Baru sebentar aja udah ngeluh. Padahal tadi aku baru mau terharu."

"Gue udah bilang, jatah romantis gue cuma setahun sekali. Jangan nagih-nagih lagi," balas Awan sambil berjalan menuju dapur, namun telinganya yang memerah tidak bisa menutupi rasa malu sekaligus bahagianya.

"Mau kemana?" tanya Jasmine.

"Masak mie instan. Gue laper gara-gara mikirin cara lamar lo tadi. Lo mau nggak?" tanya Awan tanpa menoleh.

"Mau! Pakai telur ya, Wan!" seru Jasmine sengaja menekankan nama pria itu.

Awan terhenti, langkahnya kaku saat mendengar Jasmine memanggil namanya tanpa embel-embel 'Kakak'. Ia tersenyum sangat tipis—senyum kemenangan yang hanya ia tunjukkan pada dinding dapur.

"Bawel. Sana ganti popok Shaka dulu!" balasnya.

Malam itu, mereka duduk di meja makan sederhana, menyantap mie instan di tengah hujan badai. Tidak ada pesta mewah, tidak ada gaun mahal, namun status mereka telah berubah di hati masing-masing. Di pojok ruangan, Shaka terbangun dan merangkak mendekat, menarik kaki celana Awan.

Awan mengangkat bayi itu dan mendudukkannya di pangkuannya. "Denger ya, Jagoan. Mulai besok, nggak akan ada yang bisa bawa kamu pergi. Karena mulai besok, Bunda kamu resmi jadi milik Om... eh, jadi milik Papa Awan."

Jasmine menatap pemandangan itu dengan hati yang penuh. Ia tahu, perjalanan mereka melawan Paman Wijaya belum selesai, tapi dengan Awan di sisinya, ia tidak lagi takut pada badai apa pun yang akan datang.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!