Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Zahra menghentikan mobilnya tepat di depan toko kue langganannya.
Dengan langkah ringan yang membawa debar penuh harap, ia turun untuk menjemput sebuah pesanan yang telah ia siapkan jauh-jauh hari.
"Mbak, saya mau ambil pesanan kue ulang tahun atas nama Zahra," ucapnya dengan nada riang yang tak mampu ia sembunyikan.
Pelayan toko yang sudah hafal dengan wajahnya tersenyum ramah sembari menyerahkan sebuah kotak cantik.
"Ini, Mbak. Tulisannya sudah sesuai dengan permintaan, ya."
Zahra menerima kotak itu, lalu menatap lekat barisan huruf di atas permukaan tart cokelat tersebut.
Selamat Ulang Tahun, Mas Akhsan.
Sederhana, namun bagi Zahra, setiap hurufnya adalah detak jantung yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan dari kedua orang tuanya.
Bagi dunia, mencintai kakak sendiri adalah garis merah yang haram untuk dilalui. Namun bagi Zahra, Akhsan adalah poros dunianya.
Ia sadar betul bagaimana rasanya mencintai seseorang yang selalu membentengi diri dengan tameng moralitas dan adat, seolah-olah perasaan Zahra adalah polusi yang harus dihindari.
"Semoga Mas Akhsan suka," gumamnya pelan.
Sebuah senyum tipis terukir, menyimpan harapan kecil bahwa mungkin, hanya mungkin, hari ini akan ada sedikit celah di hati pria itu.
Zahra segera melajukan mobilnya membelah kemacetan kota menuju kampus.
Ia tidak sabar melihat ekspresi laki-laki itu. Meski ia tahu Akhsan kemungkinan besar akan menyambutnya dengan tatapan dingin atau teguran tajam tentang 'batasan keluarga', Zahra tak peduli. Baginya, penolakan Akhsan hanyalah sebuah benteng yang suatu saat pasti akan runtuh.
Namun, langkah Zahra terhenti tepat di ambang pintu ruangan kerja Akhsan.
Pintu kaca yang transparan itu menyuguhkan pemandangan yang seketika terasa seperti sembilu yang menyayat tepat di ulu hatinya.
Di atas meja kerja yang biasanya rapi, sebuah kue tart cantik dengan hiasan elegan sudah terpotong.
Akhsan yang selalu bersikap kaku dan menjunjung tinggi formalitas di depan Zahra, kini tampak begitu santai.
Ia bahkan mengulas senyum tipis—senyum yang jarang sekali Zahra lihat saat menerima suapan kecil dari Gea.
"Zahra? Kamu di sini juga? Masuklah, kita makan kue ini bersama," ajak Gea ramah.
Senyum calon istri Akhsan itu begitu tulus. Jenis ketulusan yang justru membuat Zahra merasa seperti penjahat yang sedang menyelinap di tengah kebahagiaan orang lain.
Zahra masih berdiri mematung dengan tangannya gemetar mendekap kotak kue di pelukannya.
"Biarkan dia pergi, Gea. Dia pasti punya urusan lain," sahut Akhsan dingin.
Matanya bahkan tidak beralih dari dokumen di depannya setelah Gea meletakkan garpu.
Sejak Akhsan menyadari perasaan tak wajar adiknya, ia memang sengaja membangun tembok tinggi.
Baginya, bersikap kejam adalah satu-satunya cara agar Zahra sadar dan berhenti mengejarnya.
Zahra memaksakan sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum getir yang dipoles sekuat tenaga agar tidak terlihat hancur.
Ia melangkah masuk, lalu meletakkan kotak kuenya di meja sudut, jauh dari kue milik Gea yang tampak lebih mewah.
"Mas, jangan lupa nanti malam ada acara makan malam keluarga besar sebelum besok Mas menikah. Mama sudah wanti-wanti agar Mas datang tepat waktu," ucap Zahra dengan suara yang ia usahakan tetap stabil meski napasnya terasa pendek.
Akhsan hanya mengangguk sekilas tanpa minat. Tatapannya kemudian jatuh pada kotak yang dibawa Zahra.
"Kue itu, kamu berikan saja kepada OB di depan, Zahra. Di sini sudah ada kue dari Gea. Mubazir kalau dibuka lagi," ucap Akhsan datar, tanpa beban.
Kalimat itu sederhana, namun bagi Zahra, itu adalah penegasan posisi.
Di mata Akhsan, pemberian Zahra hanyalah sesuatu yang berlebihan, tidak dibutuhkan, dan layak dibuang.
"Oh, begitu ya? Baik, Mas. Kebetulan aku tadi memang beli lebih untuk staf di depan," bohong Zahra, meski dadanya terasa sesak luar biasa hingga ke tenggorokan.
Gea mendekat, menyentuh lengan Zahra dengan akrab.
"Kamu baik sekali, Zahra. Beruntung sekali Mas Akhsan punya adik seperhatian kamu."
Zahra hanya mampu membalas dengan senyum tipis yang hambar.
Ia segera berbalik dan keluar dari ruangan itu sebelum pertahanannya runtuh.
Di luar, ia menyerahkan kotak kue penuh harapan itu kepada petugas kebersihan yang lewat.
"Jahat kamu, Mas," bisik Zahra lirih saat kakinya melangkah menuju parkiran.
Ia masuk ke dalam mobil, mencengkeram kemudi dengan erat, dan membiarkan satu tetes air mata jatuh sebelum ia meluncur pulang.
Menyiapkan diri untuk malam yang pasti akan jauh lebih menyakitkan dengan melihat pria yang dicintainya bersiap menjadi milik orang lain secara resmi.
Sesampainya di rumah, suasana hangat langsung menyambut Zahra.
Halaman yang biasanya sepi kini penuh dengan mobil kerabat.
Gelak tawa dan aroma masakan khas keluarga besar tercium hingga ke teras.
Beberapa keluarga jauh yang sudah tiba sejak siang tadi tampak berkumpul di ruang tamu.
Zahra menarik napas dalam, mencoba menghapus sisa kesedihan di wajahnya sebelum melangkah masuk.
"Zahra! Sudah pulang, Nak?" seru Tante Lastri yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.
Zahra memaksakan senyum, menyalami tante, om, dan sepupu-sepupunya satu per satu.
Ia mencoba larut dalam basa-basi keluarga, meski pikirannya masih tertinggal di ruang kerja Akhsan.
Langkahnya kemudian terhenti saat melihat Mama di ruang makan.
Wanita yang sangat ia cintai itu sedang sibuk menghias sebuah kue ulang tahun besar dengan penuh ketelitian.
"Zahra, bantu Mama sebentar, Sayang," panggil Mama tanpa menoleh, tangannya sibuk merapikan hiasan cokelat di atas kue.
"Ini kue kesukaan Mas Akhsan. Mama buatkan khusus karena ini ulang tahun terakhirnya sebagai bujangan. Besok dia sudah jadi milik orang lain."
Zahra mendekat, matanya menatap kue buatan Mama yang tampak serupa dengan kue yang ia beli tadi. Dadanya kembali berdenyut perih.
"Bagus sekali, Ma. Mas Akhsan pasti suka," sahut Zahra pelan. Kalimat itu terasa pahit di lidahnya sendiri.
Mama menoleh, mengusap pipi Zahra dengan sayang.
"Kamu juga harus bahagia, ya? Akhirnya Mas-mu menemukan pendamping seperti Gea. Mama lega sekali. Rasanya tanggung jawab Mama hampir selesai satu per satu."
Zahra hanya bisa mengangguk kaku. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa hatinya sedang hancur lebur, namun ia hanya bisa membisu di balik topeng 'adik yang baik'.
"Oh iya, tadi kamu ke kampus, kan? Ketemu Mas-mu?" tanya Mama lagi.
"Ketemu, Ma. Tadi, ada Kak Gea juga di sana," jawab Zahra pendek.
"Syukurlah. Pasti mereka sedang mempersiapkan mental untuk besok," Mama terkekeh pelan, tidak menyadari kegelisahan di mata putrinya.
"Sudah, sekarang kamu naik, mandi, dan ganti baju yang cantik. Sebentar lagi acara makan malam dimulai. Mas-mu dan Gea akan segera sampai."
Zahra berpamitan dan melangkah gontai menuju kamarnya di lantai dua.
Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya di balik kayu jati itu.
Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat tenda dekorasi pernikahan yang mulai terpasang di halaman samping dimana sebuah monumen kesedihan yang akan meresmikan kehilangan terbesarnya besok pagi