NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Jendela yang menyala malam itu

Sementara malam menekan Gina dengan tuntutan yang tak pernah berhenti,di sisi lain, Dio justru berjalan tanpa arah.

Langkahnya pelan, pikirannya kosong—hingga ia berhenti di Tempat yang tak asing.

Di belakang halaman rumah Rahmalia.

Sesekali, Dio menoleh ke sekeliling, memastikan tak ada orang lain di sekitar.

Pandangannya sempat terangkat ke arah jendela di sisi belakang rumah rahmalia.

Kamar Rahmalia memang menghadap ke belakang halaman rumah itu.

Bukan karena berharap melihat sesuatu.

Hanya karena tanpa sadar, matanya selalu kembali ke sana.

Dan malam ini, jendela itu menyala.

Di balik kaca, Rahmalia terlihat duduk di depan meja belajarnya. Earphone masih terpasang di telinga, rambutnya tergerai rapi. Jemarinya sesekali mengetuk layar ponsel, mengikuti irama lagu latihan yang mengalun pelan.

Dio menelan ludah.

Tok. Tok.

Ketukan itu ringan, hampir ragu.

“Ca…” panggilnya pelan, suaranya ditahan serendah mungkin.

Rahmalia berhenti bergerak. Kepalanya terangkat, lalu ia menoleh ke arah jendela.

“Siapa itu?” tanyanya, agak heran.

Dio mendekat sedikit ke kaca.

“Ca… ini aku,” jawabnya pelan.

“Dio.”

Rahmalia bangkit dan membuka jendela sedikit.

“Dio? Ngapain malam-malam ke sini?”

Dio menggaruk tengkuknya.

“Ca, bukannya earphone kamu rusak sebelah? Aku mau benerin.”

Rahmalia mengernyit kecil.

“Boleh sih, tapi kamu bisa WA dulu. Aku lagi pakai buat latihan di HP.”

“Aku tahu,” kata Dio jujur.

“Makanya aku bawain penggantinya dulu. Biar kamu tetap bisa latihan sampai earphone itu selesai aku perbaiki.”

Ia mengeluarkan sebuah earphone yang baru ia beli bersama Gina dan menyerahkannya.

Rahmalia menerimanya, memperhatikan sebentar.

“Ini punya kamu? Kok kelihatan masih baru?”

“Iya,” jawab Dio cepat.

“Bukan baru. Cuma jarang aku pakai. Pakai aja dulu.”

Rahmalia tersenyum kecil.

“Makasih, Dio. Maaf nggak nyiapin apa-apa. Kamu datangnya dadakan.”

“Nggak apa-apa,” kata Dio.

“Aku juga minta maaf ganggu kamu malam-malam. Besok aku nggak sempat.”

Ia melangkah mundur.

“Yaudah, aku pulang dulu.”

“Iya,” jawab Rahmalia lembut.

“Hati-hati. Sekali lagi makasih.”

Dio mengangguk, lalu berjalan menjauh dari halaman rumah itu. Senyum tipis tidak lepas dari wajahnya sepanjang perjalanan pulang.

Setelah Dio pergi, Rahmalia kembali duduk di mejanya. Ia memasang earphone yang baru saja diterimanya, lalu menekan tombol putar.

Alisnya sedikit terangkat.

“Musiknya jadi lebih jelas,” gumamnya pelan.

“Metronomnya… ketukannya kedengeran.”

Ia membuka WhatsApp, lalu mengetik pesan singkat.

[ Makasih ya.Suara nya jadi kedengaran jelas :) ]

Pesan itu terkirim.

Rahmalia tersenyum kecil, lalu kembali fokus berlatih.

Di sisi lain, ponsel Dio bergetar di tangannya.

Ia berhenti melangkah, menunduk menatap layar.

Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.

“Gila…,” gumamnya pelan.

“Beneran dapet pesan dari malaikat.”

Ia menarik napas kecil, lalu mengetik balasan.

[Oke.Sama-sama]

Pesan itu terkirim.

Dio menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang perlu, sebelum akhirnya memasukkan ponselnya kembali ke saku.

Langkahnya berubah jadi lebih cepat. Hampir berlari.

Dio pulang ke rumah malam itu dengan perasaan ringan, tanpa tahu bahwa kebahagiaan kecilnya berasal dari sesuatu yang ia anggap sepele.

...----------------...

Esoknya, aktivitas di sekolah berjalan seperti biasa. Anak-anak berlarian di depan gerbang, sebagian sambil mengancingkan kemeja, sebagian lagi menarik napas tergesa karena takut datang terlambat.

Di depan gerbang, Siva dan Rahmalia sudah berdiri menjalankan kewajiban mereka sebagai ketua OSIS dan wakil ketua OSIS. Siva tampak sigap—dan sedikit mudah tersulut—sementara Rahmalia berdiri di sampingnya dengan ekspresi lebih tenang.

Tak lama kemudian, sebuah mobil putih mewah memasuki area parkir sekolah. Mobil itu berhenti perlahan. Pintu terbuka, dan Gina turun dengan langkah rapi seperti biasa.

“Selamat pagi, cantikku,” sapa Siva spontan.

Rahmalia melambaikan tangan sambil tersenyum.

“Pagi, Gin.”

Gina membalas dengan senyum lebar.

“Pagi!,bestie-bestie ku. Senang deh tiap pagi ditungguin di depan gerbang begini.”

Siva mendengus.

“Hah, kalau bukan karena aku ketua OSIS, mana sudi aku berdiri di sini pagi-pagi.”

Rahmalia terkekeh kecil.

“Bukannya dari awal kamu yang paling semangat mau ikut OSIS?”

“Iya, ikut OSIS,” sahut Siva cepat.

“Tapi aku pinginya jadi anggota Osis doang. Lah ini malah tiba-tiba jadi ketua OSIS, padahal aku masih kelas satu.”

“Itu karena senior-senior kita bakatnya kalah sama kamu,” timpal Gina santai.

“Tetep aja,” gumam Siva.

“Aku tuh paling benci jadi ketua. Bawaannya emosi mulu.”

Seorang anggota OSIS mendekat dengan wajah waswas.

“Ketua, sudah mau pukul tujuh.”

Siva langsung berdiri lebih tegak. “Iya, iya. Tutup, tutup.”

Belum sempat gerbang benar-benar ditutup, terdengar suara dari kejauhan—suara yang sudah terlalu familiar.

“Nah, itu dia,” Siva menoleh sambil menghela napas.

“Baru juga diomongin, datang orang yang bikin temperamen aku naik tiap pagi.”

“Woi, jangan ditutup! Gue belum masuk!” teriak Dio sambil berlari ke arah gerbang.

“DIO, BERENGSEK!” Siva langsung membentak.

“Bisa nggak lu sekali aja nggak telat?!”

“Apaan sih, pagi-pagi udah berisik kayak toa rusak,” balas Dio santai sambil mengorek telinganya.

“Lu nggak bisa apa bangun lebih pagi?” sahut Siva ketus.

“Gue ada urusan dulu,” jawab Dio.

“Makanya telat.”

“Alasan mulu,” gerutu Siva.

“Heh, jaga mulut lu,” balas Dio.

“Sudah, sudah,”

Rahmalia cepat-cepat maju, menahan Siva yang mulai melangkah ke arah Dio.

Di sisi lain, Gina ikut menahan Dio.

“Udah, Yo. Jangan ribut.”

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Klaksonnya berbunyi satu kali, cukup nyaring.

Dio menoleh dengan kesal.

“Woi, berisik.”

Pintu mobil terbuka. Seorang laki-laki turun dengan langkah tenang.

Azmi.

Ia menatap mereka sekilas, lalu tersenyum tipis.

“Maaf,” ucapnya sopan.

“Saya mau masuk parkiran. Sepertinya jalannya sedang tertutup.”

Nada suaranya datar, tidak meninggi, tidak merendahkan.

“Tapi bisa, kan, nggak perlu pakai klakson segala?” Dio masih terdengar sebal.

Azmi mengangguk kecil.

“Iya. Maaf, itu salah saya.”

Ia melangkah sedikit ke samping.

“Kalau begitu, saya izin lewat dulu.”

“Oh, iya. Silakan,” ucap Gina.

Azmi baru melangkah satu langkah ketika Siva tiba-tiba mengangkat tangan.

“Heh. Stop,” katanya tegas.

“Kata siapa kamu boleh masuk?”

Azmi berhenti, lalu menunjuk dirinya sendiri.

“Saya?”

“Iya, kamu,” jawab Siva dingin.

“Dio, jelasin aturannya.”

Dio langsung berdiri tegak dengan ekspresi dibuat-buat serius.

“Sesuai tata tertib sekolah, Pasal tiga ratus lima puluh enam ayat dua,” ucapnya nyeleneh,

“Siswa yang datang melewati jam masuk pukul tujuh wajib dihukum memungut sampah sampai satu trash bag penuh.”

“Hah?” Azmi terlihat kaget.

“Sampah?”

Ia refleks menoleh ke Gina dan Rahmalia.

“Iya,” sahut Siva.

“Kamu telat. Dan mobil kamu juga masih di tengah gerbang. Harusnya langsung ke parkiran.”

Rahmalia dan Gina mengangguk pelan, tanda setuju.

“Tapi tadi kalian—” Azmi mencoba menjelaskan.

Dio sudah muncul membawa dua kantong trash bag. Ia menyerahkan satu ke Azmi.

“Biasain,” katanya sambil berbisik di telinga Azmi.

“Ikuti senior lu.”

Gina terkekeh. “Ketua OSIS-ku emang keren. Orang paling tampan di sekolah aja tetap kena hukuman.”

“Tentu,” jawab Siva datar.

“Semua harus adil. Nggak ada yang diistimewakan.”

Kalimat itu membuat Siva berhenti bicara.

Matanya tertuju pada lengan Gina.

“Gin,” katanya pelan.

“Tangan kamu kenapa?”

Gina refleks menarik tangannya, menutupinya. Dio, Rahmalia, dan Azmi ikut menoleh.

“Oh, ini?” Gina tersenyum kecil.

“Nggak apa-apa. Cuma iritasi. Aku garuk terus, jadi luka.”

“Kita ke UKS aja,” ujar Rahmalia khawatir.

“Aku ada salep di mobil,” ucap Azmi cepat.

“Tunggu sebentar.”

Ia berlari kecil ke arah mobil, lalu kembali membawa sebuah tube kecil.

“Sini,” katanya lembut.

“Biar aku olesin.”

Tanpa menunggu jawaban, Azmi memegang tangan Gina dengan hati-hati, lalu mengoleskan salep ke bagian yang terluka.

Gina terdiam.

Tatapan matanya hanya tertuju pada wajah Azmi yang serius tapi lembut. Pipinya terasa hangat, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Ia tidak menarik tangannya.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Gina merasa—

ada sesuatu yang berbeda.

“Ehem… bisa kita mulai nggak? Kelamaan,” ucap Dio kesal.

Ucapan itu langsung memecah suasana.

Gina tersadar. Ia refleks menarik lengannya dari genggaman Azmi. Azmi terdiam sejenak, terlihat bingung dengan reaksi Gina yang tiba-tiba berubah.

“Sekarang?” tanya Azmi ragu.

“Iya,” jawab Dio cepat.

“Nanti nyesel kalau nggak dari sekarang.”

Rahmalia melangkah maju sedikit.

“Ya sudah. Kalian jalan dulu. Jangan sampai telat masuk jam pelajaran pertama.”

“Baik, Ca,” sahut Dio.

“Eh, nanti siang kamu istirahat di mana?”

“Aku, Siva, sama Gina kayaknya ke perpustakaan,” jawab Rahmalia.

“Hari ini mau belajar. Minggu depan ada ujian tengah semester.”

“Oh,” Dio mengangguk.

“Oke, nanti aku ikut.”

“Ngapain ikut?” Siva langsung menyela.

“Baca buku aja lu nggak pernah.”

“Berisik lu,” balas Dio.

“Sok tahu.”

Ia melirik ke arah gerbang.

“Udah ah, gue cabut. Takut sampahnya keburu diambil orang.”

Siva mendengus, Rahmalia tersenyum kecil, sementara Gina hanya diam.

Mereka pun berpisah, berjalan ke arah masing-masing, kembali ke rutinitas pagi yang terlihat biasa—meski tidak sepenuhnya sama.

1
Nayla Syberia
di posisi nya Gina maksudnya typo lagi 🤧😬😭
Nayla Syberia
Sakit sih kalo di posisi nya Gimana,tapi yaa mau gimana,dah terlanjur😀.
Dukung penuh lah kalo Gina mau mindahin hati nya ke Dio,mungkin bisa lah ampe pasutri🤭
Hunk
Makasih banyak udah mampir dan ngikutin ceritanya. Semoga kakak nggak kaget dengan alur yang bakal datang nanti.🙏🤭
Nayla Syberia
Wah,apakah apakah apakah Gina dan Dio ni nyusul🤭
Choco Syam
walau ga mudah tpi perasaanku sama gina mulai berdamai
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
🍾⃝─ͩ─ᷞᴀͧʟᷡᴢͣ ❦ ⃟ ᴿᶦˢᵃⁿএ
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!