Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Jendela yang menyala malam itu
Sementara malam menekan Gina dengan tuntutan yang tak pernah berhenti,di sisi lain, Dio justru berjalan tanpa arah.
Langkahnya pelan, pikirannya kosong—hingga ia berhenti di Tempat yang tak asing.
Di belakang halaman rumah Rahmalia.
Sesekali, Dio menoleh ke sekeliling, memastikan tak ada orang lain di sekitar.
Pandangannya sempat terangkat ke arah jendela di sisi belakang rumah rahmalia.
Kamar Rahmalia memang menghadap ke belakang halaman rumah itu.
Bukan karena berharap melihat sesuatu.
Hanya karena tanpa sadar, matanya selalu kembali ke sana.
Dan malam ini, jendela itu menyala.
Di balik kaca, Rahmalia terlihat duduk di depan meja belajarnya. Earphone masih terpasang di telinga, rambutnya tergerai rapi. Jemarinya sesekali mengetuk layar ponsel, mengikuti irama lagu latihan yang mengalun pelan.
Dio menelan ludah.
Tok. Tok.
Ketukan itu ringan, hampir ragu.
“Ca…” panggilnya pelan, suaranya ditahan serendah mungkin.
Rahmalia berhenti bergerak. Kepalanya terangkat, lalu ia menoleh ke arah jendela.
“Siapa itu?” tanyanya, agak heran.
Dio mendekat sedikit ke kaca.
“Ca… ini aku,” jawabnya pelan.
“Dio.”
Rahmalia bangkit dan membuka jendela sedikit.
“Dio? Ngapain malam-malam ke sini?”
Dio menggaruk tengkuknya.
“Ca, bukannya earphone kamu rusak sebelah? Aku mau benerin.”
Rahmalia mengernyit kecil.
“Boleh sih, tapi kamu bisa WA dulu. Aku lagi pakai buat latihan di HP.”
“Aku tahu,” kata Dio jujur.
“Makanya aku bawain penggantinya dulu. Biar kamu tetap bisa latihan sampai earphone itu selesai aku perbaiki.”
Ia mengeluarkan sebuah earphone yang baru ia beli bersama Gina dan menyerahkannya.
Rahmalia menerimanya, memperhatikan sebentar.
“Ini punya kamu? Kok kelihatan masih baru?”
“Iya,” jawab Dio cepat.
“Bukan baru. Cuma jarang aku pakai. Pakai aja dulu.”
Rahmalia tersenyum kecil.
“Makasih, Dio. Maaf nggak nyiapin apa-apa. Kamu datangnya dadakan.”
“Nggak apa-apa,” kata Dio.
“Aku juga minta maaf ganggu kamu malam-malam. Besok aku nggak sempat.”
Ia melangkah mundur.
“Yaudah, aku pulang dulu.”
“Iya,” jawab Rahmalia lembut.
“Hati-hati. Sekali lagi makasih.”
Dio mengangguk, lalu berjalan menjauh dari halaman rumah itu. Senyum tipis tidak lepas dari wajahnya sepanjang perjalanan pulang.
Setelah Dio pergi, Rahmalia kembali duduk di mejanya. Ia memasang earphone yang baru saja diterimanya, lalu menekan tombol putar.
Alisnya sedikit terangkat.
“Musiknya jadi lebih jelas,” gumamnya pelan.
“Metronomnya… ketukannya kedengeran.”
Ia membuka WhatsApp, lalu mengetik pesan singkat.
[ Makasih ya.Suara nya jadi kedengaran jelas :) ]
Pesan itu terkirim.
Rahmalia tersenyum kecil, lalu kembali fokus berlatih.
Di sisi lain, ponsel Dio bergetar di tangannya.
Ia berhenti melangkah, menunduk menatap layar.
Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
“Gila…,” gumamnya pelan.
“Beneran dapet pesan dari malaikat.”
Ia menarik napas kecil, lalu mengetik balasan.
[Oke.Sama-sama]
Pesan itu terkirim.
Dio menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang perlu, sebelum akhirnya memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Langkahnya berubah jadi lebih cepat. Hampir berlari.
Dio pulang ke rumah malam itu dengan perasaan ringan, tanpa tahu bahwa kebahagiaan kecilnya berasal dari sesuatu yang ia anggap sepele.
...----------------...
Esoknya, aktivitas di sekolah berjalan seperti biasa. Anak-anak berlarian di depan gerbang, sebagian sambil mengancingkan kemeja, sebagian lagi menarik napas tergesa karena takut datang terlambat.
Di depan gerbang, Siva dan Rahmalia sudah berdiri menjalankan kewajiban mereka sebagai ketua OSIS dan wakil ketua OSIS. Siva tampak sigap—dan sedikit mudah tersulut—sementara Rahmalia berdiri di sampingnya dengan ekspresi lebih tenang.
Tak lama kemudian, sebuah mobil putih mewah memasuki area parkir sekolah. Mobil itu berhenti perlahan. Pintu terbuka, dan Gina turun dengan langkah rapi seperti biasa.
“Selamat pagi, cantikku,” sapa Siva spontan.
Rahmalia melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Pagi, Gin.”
Gina membalas dengan senyum lebar.
“Pagi!,bestie-bestie ku. Senang deh tiap pagi ditungguin di depan gerbang begini.”
Siva mendengus.
“Hah, kalau bukan karena aku ketua OSIS, mana sudi aku berdiri di sini pagi-pagi.”
Rahmalia terkekeh kecil.
“Bukannya dari awal kamu yang paling semangat mau ikut OSIS?”
“Iya, ikut OSIS,” sahut Siva cepat.
“Tapi aku pinginya jadi anggota Osis doang. Lah ini malah tiba-tiba jadi ketua OSIS, padahal aku masih kelas satu.”
“Itu karena senior-senior kita bakatnya kalah sama kamu,” timpal Gina santai.
“Tetep aja,” gumam Siva.
“Aku tuh paling benci jadi ketua. Bawaannya emosi mulu.”
Seorang anggota OSIS mendekat dengan wajah waswas.
“Ketua, sudah mau pukul tujuh.”
Siva langsung berdiri lebih tegak. “Iya, iya. Tutup, tutup.”
Belum sempat gerbang benar-benar ditutup, terdengar suara dari kejauhan—suara yang sudah terlalu familiar.
“Nah, itu dia,” Siva menoleh sambil menghela napas.
“Baru juga diomongin, datang orang yang bikin temperamen aku naik tiap pagi.”
“Woi, jangan ditutup! Gue belum masuk!” teriak Dio sambil berlari ke arah gerbang.
“DIO, BERENGSEK!” Siva langsung membentak.
“Bisa nggak lu sekali aja nggak telat?!”
“Apaan sih, pagi-pagi udah berisik kayak toa rusak,” balas Dio santai sambil mengorek telinganya.
“Lu nggak bisa apa bangun lebih pagi?” sahut Siva ketus.
“Gue ada urusan dulu,” jawab Dio.
“Makanya telat.”
“Alasan mulu,” gerutu Siva.
“Heh, jaga mulut lu,” balas Dio.
“Sudah, sudah,”
Rahmalia cepat-cepat maju, menahan Siva yang mulai melangkah ke arah Dio.
Di sisi lain, Gina ikut menahan Dio.
“Udah, Yo. Jangan ribut.”
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Klaksonnya berbunyi satu kali, cukup nyaring.
Dio menoleh dengan kesal.
“Woi, berisik.”
Pintu mobil terbuka. Seorang laki-laki turun dengan langkah tenang.
Azmi.
Ia menatap mereka sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Maaf,” ucapnya sopan.
“Saya mau masuk parkiran. Sepertinya jalannya sedang tertutup.”
Nada suaranya datar, tidak meninggi, tidak merendahkan.
“Tapi bisa, kan, nggak perlu pakai klakson segala?” Dio masih terdengar sebal.
Azmi mengangguk kecil.
“Iya. Maaf, itu salah saya.”
Ia melangkah sedikit ke samping.
“Kalau begitu, saya izin lewat dulu.”
“Oh, iya. Silakan,” ucap Gina.
Azmi baru melangkah satu langkah ketika Siva tiba-tiba mengangkat tangan.
“Heh. Stop,” katanya tegas.
“Kata siapa kamu boleh masuk?”
Azmi berhenti, lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Saya?”
“Iya, kamu,” jawab Siva dingin.
“Dio, jelasin aturannya.”
Dio langsung berdiri tegak dengan ekspresi dibuat-buat serius.
“Sesuai tata tertib sekolah, Pasal tiga ratus lima puluh enam ayat dua,” ucapnya nyeleneh,
“Siswa yang datang melewati jam masuk pukul tujuh wajib dihukum memungut sampah sampai satu trash bag penuh.”
“Hah?” Azmi terlihat kaget.
“Sampah?”
Ia refleks menoleh ke Gina dan Rahmalia.
“Iya,” sahut Siva.
“Kamu telat. Dan mobil kamu juga masih di tengah gerbang. Harusnya langsung ke parkiran.”
Rahmalia dan Gina mengangguk pelan, tanda setuju.
“Tapi tadi kalian—” Azmi mencoba menjelaskan.
Dio sudah muncul membawa dua kantong trash bag. Ia menyerahkan satu ke Azmi.
“Biasain,” katanya sambil berbisik di telinga Azmi.
“Ikuti senior lu.”
Gina terkekeh. “Ketua OSIS-ku emang keren. Orang paling tampan di sekolah aja tetap kena hukuman.”
“Tentu,” jawab Siva datar.
“Semua harus adil. Nggak ada yang diistimewakan.”
Kalimat itu membuat Siva berhenti bicara.
Matanya tertuju pada lengan Gina.
“Gin,” katanya pelan.
“Tangan kamu kenapa?”
Gina refleks menarik tangannya, menutupinya. Dio, Rahmalia, dan Azmi ikut menoleh.
“Oh, ini?” Gina tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa. Cuma iritasi. Aku garuk terus, jadi luka.”
“Kita ke UKS aja,” ujar Rahmalia khawatir.
“Aku ada salep di mobil,” ucap Azmi cepat.
“Tunggu sebentar.”
Ia berlari kecil ke arah mobil, lalu kembali membawa sebuah tube kecil.
“Sini,” katanya lembut.
“Biar aku olesin.”
Tanpa menunggu jawaban, Azmi memegang tangan Gina dengan hati-hati, lalu mengoleskan salep ke bagian yang terluka.
Gina terdiam.
Tatapan matanya hanya tertuju pada wajah Azmi yang serius tapi lembut. Pipinya terasa hangat, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak menarik tangannya.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Gina merasa—
ada sesuatu yang berbeda.
“Ehem… bisa kita mulai nggak? Kelamaan,” ucap Dio kesal.
Ucapan itu langsung memecah suasana.
Gina tersadar. Ia refleks menarik lengannya dari genggaman Azmi. Azmi terdiam sejenak, terlihat bingung dengan reaksi Gina yang tiba-tiba berubah.
“Sekarang?” tanya Azmi ragu.
“Iya,” jawab Dio cepat.
“Nanti nyesel kalau nggak dari sekarang.”
Rahmalia melangkah maju sedikit.
“Ya sudah. Kalian jalan dulu. Jangan sampai telat masuk jam pelajaran pertama.”
“Baik, Ca,” sahut Dio.
“Eh, nanti siang kamu istirahat di mana?”
“Aku, Siva, sama Gina kayaknya ke perpustakaan,” jawab Rahmalia.
“Hari ini mau belajar. Minggu depan ada ujian tengah semester.”
“Oh,” Dio mengangguk.
“Oke, nanti aku ikut.”
“Ngapain ikut?” Siva langsung menyela.
“Baca buku aja lu nggak pernah.”
“Berisik lu,” balas Dio.
“Sok tahu.”
Ia melirik ke arah gerbang.
“Udah ah, gue cabut. Takut sampahnya keburu diambil orang.”
Siva mendengus, Rahmalia tersenyum kecil, sementara Gina hanya diam.
Mereka pun berpisah, berjalan ke arah masing-masing, kembali ke rutinitas pagi yang terlihat biasa—meski tidak sepenuhnya sama.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔