NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 DEDIKASI SANG BUTTERFLY DAN BENIH CEMBURU

​Kamis, 24 April 2025, Musim Semi

​Sinar matahari musim semi yang hangat menyapu jalanan eksklusif Monte Carlo, memantul pada kaca-kaca etalase butik mewah yang berderet rapi. Di salah satu sudut paling prestisius, sebuah butik dengan desain elegan minimalis namun tetap memancarkan kemewahan kelas atas kini sedang dalam masa paling sibuknya. Olivia Elenora Aurevyn, sang Golden Butterfly, akhirnya resmi kembali ke dunianya. Setelah tiga hari masa pemulihan pasca keluar dari rumah sakit, Olive memutuskan untuk tidak lagi berdiam diri di mansion utama Aurevyn. Baginya, bekerja bukan hanya soal uang, melainkan soal integritas dan pembuktian diri.

​Pagi itu, Olive sudah berada di meja kerjanya yang dipenuhi dengan sketsa kain, palet warna, dan beberapa contoh material kasmir terbaik. Fokusnya saat ini adalah menyelesaikan proyek ambisius dari Valerius Defense & Security Group. Marcus, asisten pribadi Liam, telah mengirimkan pesan pengingat yang cukup formal namun sopan bahwa seragam eksklusif untuk divisi pengamanan elit mereka harus sudah siap pada tanggal 10 bulan depan. Artinya, Olive hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk menyelesaikan sentuhan akhir.

​Meskipun statusnya sekarang adalah tunangan dari sang penguasa sistem keamanan global, Liam Maximilian Valerius, Olive tetap menjunjung tinggi profesionalitas. Ia tidak ingin orang-orang berpikir bahwa ia mendapatkan proyek besar ini hanya karena hubungan pribadinya.

​"Pekerjaan adalah pekerjaan, dan perasaan adalah perasaan. Aku harus menunjukkan bahwa desain Aurevyn adalah yang terbaik," gumam Olive sambil menggoreskan pensil sketsanya dengan teliti.

​Di sudut ruangan yang telah disulap menjadi area bermain mini, Leon Alexander atau Alex tampak sibuk dengan blok susunnya. Sesekali ia menoleh ke arah ibunya, memastikan bahwa sang ibu masih berada dalam jangkauan pandangannya. Olive memang terpaksa membawa Alex ke butik karena hari ini Bunda Feli sedang sangat sibuk. Karin Felicya, ibu Olive, ternyata bukan hanya sekadar sosialita; ia adalah otak arsitektur di balik kemegahan hotel-hotel milik Aurevyn Global Group. Proyek baru di pesisir pantai membuat Feli harus terjun langsung ke lapangan, meninggalkan Olive untuk menjaga Alex sendirian.

​Entah karena pengaruh popularitas nama Aurevyn atau memang desain Olive yang sangat memukau, hari itu butik Aurevyn Couture mendadak dibanjiri pengunjung. Banyak sosialita Monako yang penasaran dengan kembalinya si primadona yang sempat menghilang ke London tersebut. Olive mulai kewalahan. Ia harus melayani pengukuran baju, memberikan konsultasi desain, sekaligus memastikan Alex tetap tenang di sudut ruangan.

​Keringat dingin mulai membasahi dahi porcelain Olive. Di saat ia merasa hampir menyerah pada tumpukan pekerjaan, pintu butik berdenting nyaring. Dua gadis cantik dengan gaya high fashion yang mencolok masuk dengan tawa yang memenuhi ruangan.

​Zaylee (Zee) dan Vera Odile melangkah masuk dengan langkah anggun. Zee mengenakan gaun mini Chanel yang menunjukkan kaki jenjangnya, sementara Vera tampil elegan dengan setelan monokrom yang tajam. Mereka baru saja menyelesaikan kelas siang di kampus dan langsung menuju butik Olive.

​"Oh Tuhan, Olive! Lihat dirimu, kau tampak seperti sedang berperang dengan tumpukan kain!" seru Zee sambil meletakkan tas Hermes-nya di meja kasir.

​Vera mendekat, menatap kerumunan pelanggan di dalam butik dengan tatapan mengobservasi. "Kau baru buka beberapa minggu dan tempat ini sudah seperti pasar mewah, Olive. Kau butuh bantuan."

​Olive menghela napas lega melihat kedua sahabatnya. "Zee, Vera, syukurlah kalian datang. Bisakah kalian membantuku menjaga Alex sebentar? Aku harus melayani pelanggan di ruang ganti."

​Tanpa diperintah dua kali, Zee langsung menghampiri Alex. "Alex Sayang! Sini sama Tante Zee yang paling cantik! Kita main mobil-mobilan, yuk?"

​Vera, dengan sifatnya yang teliti dan tenang, mulai membantu Olive merapikan beberapa pajangan dan mencatat pesanan pelanggan yang belum terlayani. "Olive, aku serius. Kau tidak bisa melakukan ini sendirian. Meskipun kau sangat berbakat, kau butuh tim. Kau harus merekrut karyawan secepatnya sebelum kau pingsan lagi karena kelelahan."

​Olive tersenyum kecut sambil mengukur bahu seorang pelanggan. "Aku tahu, Vera. Tapi mencari orang yang bisa dipercaya di kota seperti ini sangat sulit."

​Zee yang sedang menggendong Alex tiba-tiba menjentikkan jarinya. "Hei! Aku punya ide. Di kampusku, ada satu gadis. Dia sangat lugu, pintar, dan sangat butuh biaya kuliah. Dia bekerja paruh waktu di perpustakaan tapi gajinya sangat kecil. Dia orangnya teliti dan jujur. Namanya Luna. Bagaimana kalau besok siang aku membawanya ke sini?"

​Mendengar kata 'lugu' dan 'butuh biaya', hati lembut Olive langsung tersentuh. Ia teringat masa-masa sulitnya di London saat ia juga harus berjuang demi sesuap nasi untuk Alex. "Benarkah ada orang seperti itu? Jika kau yang merekomendasikannya, Zee, aku percaya. Bawa dia besok siang. Aku akan mewawancarainya secara langsung."

​Zee bersorak senang. "Bagus! Akhirnya si pintar itu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak daripada hanya menyusun buku berdebu."

​Sore itu, suasana butik menjadi jauh lebih ringan berkat kehadiran The Royal Lustre. Zee menghibur Alex hingga bocah itu tertawa riang, sementara Vera membantu Olive mengelola administrasi butik. Namun, di balik keceriaan itu, sebuah bayangan besar sedang mengamati dari kejauhan.

​Di dimensi lain, tepatnya di lantai teratas gedung Valerius, suasana sedang berada di titik beku. Liam Maximilian Valerius duduk di kursi kebesarannya, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV rahasia di depan butik Olive. Ia melihat banyak pria muda yang keluar masuk butik tersebut, beberapa bahkan mencoba memulai percakapan dengan Olive.

​Genggaman Liam pada gelas kopinya mengeras. Rasa cemburu menyengat dadanya seperti ribuan jarum. Ia tidak suka melihat lelaki lain menatap kulit porcelain Olive atau tersenyum pada bibir hati miliknya.

​"Siapa pria-pria itu, Marcus?" tanya Liam dengan suara dingin yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

​Marcus, yang sedang berdiri di depan meja kerja Liam, hanya bisa menghela napas. "Itu pelanggan, Tuan. Mereka membeli baju untuk istri atau pasangan mereka."

​"Mereka menatapnya terlalu lama," geram Liam. "Dan kenapa Olive tidak membalas pesan terakhirku? Sudah lewat tiga puluh menit."

​Marcus melirik tabletnya. "Nona Olive sangat sibuk hari ini, Tuan. Butiknya sangat ramai. Nona Zaylee dan Nona Vera sedang di sana membantu menjaga Master Alex."

​Liam menyandarkan punggungnya, matanya menyipit. "Dia terlalu bekerja keras. Kenapa dia harus melembur? Dia bisa meminta apa saja dariku, namun dia memilih untuk kelelahan di butik itu."

​Kesalahpahaman mulai tumbuh subur di pikiran Liam. Baginya, sikap mandiri Olive dan sifatnya yang "biasa saja" saat membalas pesan singkat Liam adalah indikasi bahwa Olive tidak benar-benar menginginkannya. Liam berpikir bahwa mungkin Olive hanya menerimanya karena keterpaksaan perjodohan, atau mungkin ada pria lain di masa lalu London yang belum sepenuhnya hilang dari hati Olive.

​Padahal, kenyataannya Olive hanya merasa sangat rendah diri. Setiap kali ia melihat Liam yang begitu sempurna tubuh kekar bak dewa Yunani, kekayaan tak berseri, dan aura kekuasaan Olive selalu merasa dirinya hanyalah "barang bekas" yang tidak pantas bersanding dengan sang Monarch.

​"Marcus, kirimkan bunga ke butiknya. Bunga yang paling besar yang pernah ada di Monako. Pastikan semua pria di sana tahu bahwa pemilik butik itu sudah memiliki tuan," perintah Liam dengan posesif yang meledak-ledak.

​"Baik, Tuan," jawab Marcus kaku. Di dalam hatinya, Marcus hanya bisa berdoa agar tuannya tidak meledakkan butik itu hanya karena cemburu buta.

​Perang dingin dalam hati Liam terus berkecamuk. Ia ingin segera menarik Olive ke dalam pelukannya, memberitahunya bahwa dunia ini ada di telapak tangannya jika Olive menginginkannya. Namun, rasa takut akan penolakan dan ketakutan jika rahasia masa lalu terbongkar membuat sang Iron Monarch hanya bisa terdiam dalam kecemburuannya yang membakar.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!