Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Suamiku.. Aku Takut
“Kamu tampan… aku sangat menyukaimu.”
Mata Fasha masih dipenuhi air mata, namun kalimat aku sangat menyukaimu terdengar begitu tulus.
“Maaf atas kekacauan ini, Tuan Sander.”
“Fasha, cepat kemari.”
Fasha perlahan menggeleng. Ia menatap senyum canggung ayahnya yang menjijikkan, memperhatikannya berjalan mendekat dengan langkah cepat.
Tepat saat tangan ayahnya hendak terangkat, Fasha refleks mengangkat lengannya untuk menutupi wajah, lalu dengan ketakutan bersembunyi di belakang Sander.
“Tidak… tolong… jangan pukul wajahku…”
'Agak lebay, tapi aku nggak mau dekat-dekat sama orang munafik kayak kalian!'
“Tidak, tidak, Fasha. Ayah tidak bermaksud memukulmu.”
Namun kepanikan Fasha justru membuat pembelaan itu terdengar semakin tidak meyakinkan.
Semakin ayahnya berusaha menjelaskan, semakin mencurigakan sikapnya.
Sander sempat terdiam sejenak. Ia bergeser setengah langkah ke samping, merasakan ujung kemejanya dicengkeram erat.
Ia menoleh dan mendapati Fasha menggenggam pakaiannya, mata gadis itu penuh permohonan, sudut matanya memerah, jelas menahan tangis.
“Fasha, kemarilah.”
Ayahnya tersenyum meminta maaf kepada Sander, lalu dengan paksa menarik Fasha ke samping.
Fasha menarik napas tertahan. Gerakannya tanpa sengaja memperlihatkan luka di lengannya. Ia meringis pelan.
“Sakit… sakit…”
“Ayah tidak menggunakan kekerasan. Mana mungkin sakit? Bicara yang baik. Jangan sampai Tuan Sander memikirkan hal jahat tentang ayah...”
Namun Sander melihat jelas bahwa Fasha berusaha melepaskan diri, sementara cengkeraman di pergelangan tangannya justru semakin kuat, meninggalkan bekas merah yang mencolok.
Alis Sander sedikit berkerut.
“Tuan Harlan..”
Ayahnya langsung bersikap seolah terpojok. Ia menyeka sudut mata yang kering, lalu berkata dengan nada mengeluh,
“Maaf, Tuan. Ibu Fasha meninggal lebih awal. Saya membesarkannya sendirian dengan susah payah, berusaha semampu saya agar dia tidak kekurangan apapun. Saya bahkan tidak tahu harus mengadu pada siapa tentang kesulitan saya.”
“Situasi Fasha memang agak istimewa. Dia sering gelisah di rumah. Tadi dia terburu-buru, terjatuh saat keluar kamar, mungkin lengannya terluka.”
Mendengar itu membuat Fasha mendapatkan ide lalu mulai menyambung perkataan sang ayah, “Benar Suamiku.. aku baru saja jatuh… dan bajuku robek karna baju yang dibeli ayah kualitasnya tidak bagus…”
Pakaian Fasha jelas dua ukuran terlalu kecil darinya. Lengannya terbuka, ujung kain tergulung, bahkan ada lubang kecil di bagian punggung bawah.
“Suamiku… aku takut…”
Dengan putus asa, Fasha mendorong ayahnya dan kembali bersembunyi di belakang Sander.
“Dia tadi memukulku… itu sakit sekali…”
“Fasha, di depan banyak orang, jangan membuat keributan.” ucap ayahnya setengah mengancam namun dengan nada sehalus mungkin.
“Tolong… jangan pukul aku…”
“Tolong… aku mohon…”
Fasha menangis tersedu-sedu, lalu berlutut di lantai dan bersujud berulang kali.
'Cih.. kalau aku bisa hidup senang bersama Sander, mengapa aku harus membuat kalian juga disukai olehnya? Hanya aku yang boleh..'
Ayahnya tampak panik melihat tindakan Fasha. Ia hendak menjelaskan, tetapi langsung terdiam saat bertemu tatapan dingin Sander.
Sander mengerutkan kening. Ia menarik Fasha berdiri dengan gerakan tegas namun tetap lembut. Tatapannya jatuh pada bagian belakang leher Fasha, di sana terlihat bekas merah samar.
“Di sini sakit… dan di sini juga.”
Fasha menyingsingkan lengan bajunya, memperlihatkan memar yang tersebar di sepanjang lengannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Pandangan Fasha beralih ke ayahnya. Rasa takut kembali menyergap.
Dengan suara gemetar, ia berkata,
“Dia tidak memukulku… dia tidak melakukannya…”
“Itu hanya salah paham… hanya salah paham…”
'Karna Fasha asli bodoh dan tak bisa menjawab apapun, kali ini aku akan menjadi kebalikannya.. berpura-pura bodoh namun menusuk para musuhku itu' dengan tegas Fasha ingin agar Sander mengasihaninya dan membenci ayahnya.
Dengan wajah memelas, ia kembali berkata, “Fasha memang bodoh… tidak tahu apa-apa…”
Menyadari sikap Sander yang sudah berubah, Harlan berusaha menyelamatkan keadaan, tetapi semuanya sudah terlambat.
Pesta yang seharusnya meriah berubah menjadi tegang. George pun semakin membenci keluarga Madeline dan berkata blak-blakan, “Menyiksa anak sendiri bukan hal sepele. Jika ini sampai terbongkar, reputasimu akan hancur.”
“Ini hanya kesalahpahaman..”
“Butler Dean, suruh pelayan dapur untuk menyajikan makanan.”
George berniat mengakhiri persoalan itu secara halus, oleh sebab itu Harlan buru-buru mengalah dan tak berani berkata apa-apa lagi.
Sementara itu Fasha masih bersembunyi di belakang Sander, ia diam-diam melirik ke arah George yang kini terdiam.
'Ayahnya sangat jahat, lihat! ia bahkan menyuruh orang dapur untuk menyajikan makanan laut! Tak ada satupun yang bisa di makan oleh Sander!'
Begitu seluruh pelayan undur diri, Fasha menatap Tuan George dengan tajam, membuat pria tua itu tersinggung dan hendak memarahinya namun belum sempat sepatah kata keluar dari mulutnya, Fasha langsung berkata:
"Waw.. semua makanan laut ini sangat enak! Aku boleh makan semuanya, kan?"