NovelToon NovelToon
Tanda Huruf 'S' & Misteri Kayu Ilegal

Tanda Huruf 'S' & Misteri Kayu Ilegal

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.

Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.

Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

five (5)

Kapal tongkang itu berderit hebat saat arus Sungai Ciliwung yang sedang meluap menghantam lambungnya. Ratna, Teguh, dan Mbah Mansur terombang-ambing di atas dek yang licin oleh campuran air hujan dan tumpahan oli. Di belakang mereka, dermaga mati itu perlahan menghilang ditelan kegelapan, menyisakan siluet Bambang dan Selina yang tampak seperti monster kecil yang murka di kejauhan.

"Bu, pegangan yang kuat!" teriak Teguh seraya merangkul Mbah Mansur agar tidak terpelanting ke tepian kapal.

Ratna merayap menuju ruang kemudi kapal yang sudah tak berfungsi, berusaha mencari posisi yang lebih stabil. Napasnya tersengal, dadanya terasa nyeri akibat hantaman Bambang tadi. Namun, rasa sakit fisiknya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya saat menyadari bahwa kantor polisi tempat yang ia anggap sebagai rumah kedua kini telah menjadi sarang pemangsa.

"Teguh!" panggil Ratna di antara deru angin malam. "Kau yakin motor itu masih ada di bawah jembatan? Jika Bambang mengirim unit patroli, kita akan terjebak seperti tikus!"

Teguh menyeka darah dari sudut bibirnya yang pecah. "Saya menyembunyikannya di gudang semen tua di bawah pilar jembatan, Bu. Tempat itu tidak terdaftar di peta patroli rutin. Saya sering ke sana untuk menenangkan diri... tidak ada yang tahu."

Ratna menatap asistennya itu dengan pandangan baru. Ada kedewasaan yang muncul dari wajah Teguh yang biasanya selalu tampak kaku dan patuh. "Kau mempertaruhkan segalanya, Teguh. Kariermu, tunjanganmu, namamu. Bambang akan membuat kita tampak seperti pengkhianat di depan publik besok pagi."

Teguh terdiam sejenak, menatap aliran air hitam yang berbuih di bawah mereka. "Nama baik bisa dibersihkan nanti, Bu. Tapi nyawa Mbah Mansur dan kebenaran di kartu memori itu? Kalau itu hilang, tidak ada lagi yang tersisa dari keadilan di Sukamaju. Saya lebih baik jadi buronan yang jujur daripada komandan yang membusuk di balik seragam."

Mbah Mansur, yang sedari tadi hanya bisa gemetar, perlahan membuka suaranya dengan parau. "Nak... kalian tidak seharusnya melakukan ini demi orang tua seperti saya. Saya hanya seorang pemulung..."

Ratna mendekat, memegang tangan kasar Mbah Mansur dengan lembut. "Mbah, bukan hanya soal Mbah. Ini soal mereka yang merasa bisa menghancurkan hidup siapa saja demi kayu-kayu itu. Mbah adalah saksi bahwa mereka tidak tak terkalahkan."

Tiba-tiba, suara helikopter terdengar dari kejauhan. Cahaya lampu sorot mulai menyapu permukaan sungai dari langit.

"Sial! Mereka mengerahkan unit udara!" Teguh mengumpat. "Bambang benar-benar gila. Dia menggunakan fasilitas negara untuk menutupi kejahatannya!"

"Matikan semua cahaya!" perintah Ratna. "Teguh, kita harus terjun sebelum kapal ini melewati jembatan. Lampu helikopter itu akan segera menemukan posisi tongkang ini karena ukurannya yang besar."

Mereka bersiap di tepi kapal. Jembatan beton tua itu mulai terlihat seperti raksasa yang membungkuk di depan mereka.

"Dalam hitungan ketiga!" Ratna menggenggam erat kartu memori di saku rahasianya. "Satu... dua... LOMPAT!"

Ketiganya terjun ke dalam air yang sedingin es. Ratna merasakan arus sungai menyeret tubuhnya dengan kuat, paru-parunya berontak meminta oksigen. Ia berjuang sekuat tenaga untuk tetap muncul ke permukaan, memastikan Mbah Mansur tetap berada dalam jangkauan Teguh.

Setelah pergulatan yang melelahkan dengan arus, mereka berhasil mencapai tepian sungai yang berlumpur tepat di bawah bayang-bayang jembatan. Di sana, di balik tumpukan karung semen yang sudah mengeras, dua buah motor trail tua sudah menunggu.

Ratna berdiri dengan tubuh menggigil, memeras air dari rambutnya. Ia menoleh ke arah kota Sukamaju yang lampu-lampunya tampak tenang, tidak tahu bahwa di bawah permukaannya, sebuah badai besar baru saja dimulai.

"Kita tidak bisa kembali ke rumah masing-masing," kata Ratna pelan, suaranya kini setajam belati. "Mulai detik ini, kita mati bagi dunia. Kita hanya akan hidup untuk satu tujuan: menghancurkan Proyek S.K. sampai ke akar-akarnya."

Teguh menyerahkan sebuah helm hitam kepada Ratna. "Jadi, ke mana kita akan pergi, Bu?"

Ratna memakai helmnya, matanya menyala dengan api pembalasan. "Ke tempat di mana mereka tidak akan pernah berani mencari. Ke pedalaman Hutan Kemuning. Kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan di sana."

Setelah berhasil keluar dari sungai yang ganas, Teguh memacu motor trailnya menembus jalan-jalan setapak yang hanya diketahui oleh para pemburu lokal. Ratna membonceng Mbah Mansur di motor satunya, memastikan pria tua itu tidak terjatuh karena lemas. Mereka berhenti di sebuah gubuk tua di tengah perkebunan karet yang sudah ditinggalkan, sekitar lima belas kilometer dari dermaga.

Gubuk itu hanya memiliki satu ruangan sempit dengan lantai tanah. Teguh segera menyalakan lampu minyak kecil yang cahayanya remang-remang, sementara Ratna membantu Mbah Mansur duduk di atas dipan bambu.

"Kita hanya punya waktu beberapa jam sebelum matahari terbit," kata Ratna, suaranya serak karena kedinginan. Ia mengeluarkan laptop kecil dari tas kedap air yang dibawa Teguh. "Kita harus tahu apa yang membuat Samsul Bahri rela mati demi benda ini."

Teguh mengeluarkan pembaca kartu (card reader) dan menghubungkannya. Tangan Ratna sedikit gemetar saat ia memasukkan kartu memori itu ke dalam slot. Layar laptop menyala, memancarkan cahaya biru yang kontras dengan kegelapan gubuk.

"Isinya terenkripsi, Bu," gumam Teguh sambil memperhatikan barisan kode yang muncul di layar. "Butuh kata sandi."

Ratna terdiam, otaknya berputar cepat. Ia mengingat kembali pesan terakhir di kertas sobekan: 'Dia tahu tentang kayu ilegal... jangan biarkan dia bicara... temukan dia sebelum dia menemukan kita – H'. Ia juga ingat cincin bertanda 'S'.

"Coba masukkan 'SUKAMADJU-1996'," perintah Ratna.

"Tahun apa itu, Bu?"

"Tahun saat Bambang dan Samsul pertama kali bergabung di unit kehutanan. Tahun di foto lama yang aku temukan di arsip."

Teguh mengetikkan kode itu. Access Denied.

"Salah, Bu."

Ratna memejamkan mata, mencoba menempatkan dirinya di posisi Samsul yang ketakutan. Jika Samsul ingin pesan ini sampai pada seseorang yang bisa ia percayai, apa yang akan ia gunakan sebagai kunci? Ia melihat ke arah Mbah Mansur yang sedang tertidur pulas karena kelelahan. Di sampingnya, tas pemulung Mbah Mansur masih tergeletak.

Ratna teringat perkataan Mbah Mansur: 'Esok adalah hari ulang tahun cucuku.'

"Teguh, coba tanggal lahir anak perempuan Samsul. Di data forensik tadi, dia punya satu anak perempuan yang meninggal tahun lalu karena penyakit pernapasan akibat asap pembakaran hutan. Tanggalnya 12 Mei."

Teguh mengetik: 12052025.

CLICK.

Layar laptop berubah. Ratusan folder terbuka seketika. Isinya bukan hanya dokumen, tapi foto-foto satelit, rekaman suara, dan daftar transaksi perbankan yang sangat panjang. Ratna dan Teguh terpaku melihat folder paling atas yang berjudul: "OPERASI SAPU KAYU (S.K.)".

"Sapu Kayu..." bisik Teguh dengan nada ngeri.

"Jadi S.K. itu singkatan dari Sapu Kayu?"

"Lihat ini, Teguh," Ratna menunjuk sebuah dokumen PDF. "Ini bukan sekadar penebangan liar biasa. Mereka melakukan 'pencucian kayu'. Mereka menebang kayu Gaharu dan Jati dari hutan lindung, lalu melabelinya sebagai kayu dari hutan produksi legal milik PT. Silva Maju. Dan lihat siapa yang menandatangani dokumen pengirimannya."

Teguh mendekatkan wajahnya ke layar. Matanya membelalak. "Gubernur? Kapolda? Bahkan... pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup?"

"Ini adalah sindikat negara dalam negara," sahut Ratna dingin. "Samsul menyimpan bukti bahwa uang dari kayu ilegal ini digunakan untuk mendanai kampanye politik besar di provinsi ini. 'S' bukan hanya simbol kelompok, tapi simbol dari 'Sistem' yang mereka bangun untuk mengeruk harta alam tanpa sisa."

Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dari luar gubuk. Ratna segera mematikan laptop dan mencabut senjatanya. Teguh dengan sigap berdiri di samping pintu, menahan napas.

"Siapa di sana?" tantang Ratna.

Hening. Hanya suara jangkrik dan gesekan daun karet yang tertiup angin. Namun, dari celah dinding papan, Ratna melihat bayangan seseorang yang berdiri diam di bawah pohon. Orang itu tidak bergerak menyerang, hanya berdiri mengamati.

"Keluarkan dirimu atau aku menembak!" ancam Ratna lagi.

Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan wajah yang ditutupi masker kain melangkah masuk ke area cahaya lampu minyak. Ia mengangkat kedua tangannya, namun ia tidak tampak takut.

"Detektif Ratna, Brigadir Teguh," suara pria itu berat dan berwibawa. "Jika kalian ingin menghancurkan 'S', kalian tidak bisa melakukannya dengan cara polisi. Kalian butuh cara yang lebih kotor."

"Siapa kau?" tanya Teguh tajam.

Pria itu membuka maskernya. Wajahnya penuh bekas luka bakar di satu sisi, namun matanya memancarkan kecerdasan yang tajam. "Aku adalah orang yang seharusnya sudah mati di Rumah Kosong Cemara lima tahun yang lalu. Aku adalah 'H' yang menulis surat itu."

Ratna menurunkan senjatanya sedikit, namun tetap waspada. "H? Kau adalah orang yang memperingatkan Samsul?"

"Aku adalah mantan kepala keamanan Surya Atmadja. Aku tahu semua seluk-beluk Proyek S.K. sebelum mereka mencoba melenyapkanku karena aku menolak membakar desa penduduk asli di tengah hutan," pria itu melangkah lebih dekat. "Kalian punya datanya, aku punya jalannya. Tapi kalian harus siap kehilangan identitas kalian selamanya. Karena mulai besok, foto kalian akan ada di setiap sudut kota sebagai pembunuh Komisaris Bambang."

"Apa maksudmu?" Ratna mengerutkan kening.

"Bambang baru saja membuat laporan palsu. Dia menembak kakinya sendiri dan membunuh salah satu anak buahnya di dermaga tadi, lalu melaporkan bahwa kalian berdua adalah pelakunya yang bekerja sama dengan sindikat kayu untuk merebut kartu memori itu. Kalian sekarang adalah musuh publik nomor satu."

Ratna terduduk lemas di dipan. Rencana Bambang jauh lebih licin dari yang ia bayangkan. Ia bukan lagi pelindung hukum; ia adalah target buruan dari hukum yang ia bela.

"Jadi, Detektif," pria berinisial 'H' itu mengulurkan tangannya. "Apakah kita akan terus meratapi nasib, atau kita akan mulai membakar balik sistem yang mencoba membakar kalian?"

Ratna menatap Teguh, lalu menatap Mbah Mansur yang masih terlelap. Ia tahu tidak ada jalan kembali. Ia meraih tangan pria misterius itu dan menjabatnya dengan erat.

"Katakan padaku," ujar Ratna dengan tatapan yang kini sekeras baja. "Di mana kita mulai membakar?"

1
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
bikin tegang dan bikin penasaran saja apa yang akan ratna lakukan🤔
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
akhirnya selamat tapi tantangan masih di depan mata masih perlu banyak perjuangan
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
ratna semoga bisa ketemu kode yang di berikan ibunya aihhh othor pinter amat bikin readers tegang
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
si buta mengorbankan diri demi negara sungguh kehormatan bagi si buta, ternyata ibu nya ratna menghilang masih hidup
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
sungguh sangat menegangkan mereka menghadapi penjahat yang sangat susah di Lumpuhkan penuh dengan bahaya
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
masih banyak misi yang harus ratna perjuangan ini sudah masuk internasional terlalu bahaya
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
pintar sekali ya siska para penjahat benar-benar cerdik semoga ratna bisa keluar dan selamat
❤️⃟Wᵃf🤎Vella☘𝓡𝓳●⑅⃝ᷟ◌ͩѕ⍣⃝✰
benar keluarga memang harus tau terlebih itu istrinya
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
waduh ketahuan semoga mereka bisa keluar mereka dalam bahaya
❤️⃟Wᵃf🤎Vella☘𝓡𝓳●⑅⃝ᷟ◌ͩѕ⍣⃝✰
kenapa komandan bersikap begini harusnya ikut andil dalam menyikapi masalah bukan malah marah2
❤️⃟Wᵃf🤎Vella☘𝓡𝓳●⑅⃝ᷟ◌ͩѕ⍣⃝✰
waduh niat mencari untuk bisa menghasilkan makanan malah menemukan mayat
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
parfum nya kok sama wanginya tanda apa ya itu aihhh othor bikin penasaran sama tanda S itu🤔
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
baru saja bernapas lega ternyata masih ada rahasia di balik S
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
akhirnya mereka selamat tapi sepertinya itu belum selesai selina masih ada di luar bahay masih mengancam walau bambang tertangkap
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
suasana yang menegangkan semoga ratna hendra semuanya selamat
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
Siskaa setannn,anak kecil pun gak mau dilepas /Panic/
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
yok² kabur dulu Ratna sebelum kalian ditangkap oleh para setan berwujud manusia itu 😨
❤️⃟Wᵃf🤎M𝐀⃝🥀MIˢ⍣⃟ₛ §͜¢☘𝓡𝓳
Ratna gesit juga ya pintar bisa menyelinap ke dalam gak salah jadi polisi semoga berhasil melaporkan para penjahat
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
pliss moga aja mereka bertiga selamat dah,bahkan kalo Ratna bergerak Siska malah udah berada di situ
❤️⃟WᵃfRahma 💋🅚🅙🅢👻
wah gak nyangka ibu nya Ratna masih hidup+dia adalah kunci utama bagi Ratna dan teguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!