NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Neraka

Setelah beberapa saat akhirya Nia tersadar dari pingsannya.

Dia terkejut ketika samar-samar ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam mobil dengan kondisi tangan dan kakinya yang di ikat.

Nia mencoba melinat ke arah kaca jendela namun semuanya benar-benar asing. Dia tidak tahu kemana orang-orang itu akan membawanya, yang jelas saat ini lokasinya sudah sangat jauh dari pusat kota.

Sementara disampinguya duduk seorang lelaki mengenakan masker dan kaca mata hitam yang tidak lain adalah Veron.

"Hey apa-apaan ini...?? Mau dibawa kemana aku.….?? Tolong lepaskan aku...??" Pintanya sambil berusaha melepaskan simpul di tangannya.

"Alex...!! Dimana Alex...?? Kalian apakan dia...??" Tanya Nia yang tiba-tiba teringat dengan calon suamunya.

Tapi lagi-lagi lelaki itu hanya diam saja tanpa merespon apapun.

Antara takut dan bingung, entah apa yang sudah mereka lakukan pada Alex, karena Nia sama sekali tidak melihat keberadaan Alex di mobil itu.

Tapi mengingat banyaknya jumlah anggota mereka, mungkin saja Alex sedang berada di mobil yang lain.

"Aku ingin sekali buang air kecil, jadi tolong cepat lepaskan aku...!!" ucap Nia beralasan.

"Lakukan saja disini..." sahut lelaki itu singkat seolah tahu tawanannya sedang berpura-pura.

"Yang benar sajaa...??!! Kau serius menyuruhku buang air disini.?? memangnya kau mau tempat ini menjadi bau dan basah...??" tukas Nia masih berusaha mencari celah supaya ia bisa melarikan diri.

"Kau pikir aku bercanda..?? Lagi pula gaunmu Kan sangat tebal, jadi kalau kau buang air pasti semuanya akan diserap langsung oleh pakaianmu sendiri…??" sahut Veron dengan santainya.

"Apaaaaa...??!!" Pekik Jenia kehabisan kata-kata.

"(Sial, orang ini pasti sudah gila..!!! ternyata alasanku sama sekali tidak mempan padanya...)"

Merasa caranya tidak berhasil, Nia pun hanya bisa menghela napas sambil terus memikirkan ide lain yang lebih masuk akal.

Dia sama sekali tidak panik, karena selama menimba ilmu kedokteran Nia sudah dilatih untuk menguasai diri agar jangan mudah panik dalam menghadapi berbagai macam situasi dan keadaan. Tetap tenang adalah kunci utamanya.

"Aaaaww... ya ampun perutku sakit sekali, sepertinya aku ingin buang air besar, aaahhh... tolong berhenti dulu, aku ingin buang air besar...!!" pekik Jenia dengan akting terbaiknya yang nyaris sempurna.

Namun sayangnya orang-orang di mobil itu tetap tidak bergeming. Mereka hanya fokus menatap ke depan dan patuh pada perintah Veron.

Merasa di abaikan, akhirnya Nia hanya bisa terdiam sambil meratapi nasibnya. Tangannya yang gemetar serta matanya yang mulai berkaca-kaca sejak tadi, namun gadis itu berusaha untuk tetap tenang.

Bagaimanapun juga dia sedang bersama orang-orang asing yang tidak dia kenal.

Tidak panik bukan berarti dia tidak takut. Bahkan sejak awal pestanya dihancurkan Nia sudah merasa sangat ketakutan dengan sekelompok orang tersebut.

Lerlebih lagi mereka tidak peduli sedikitpun dengan perkataan Jenia yang membuatnya makin frustasi.

"Bagaimana..?? apa sudah selesai buang airnya..??" tanya Veron dengan angkuh seolah membuktikan bahwa Nia hanya berpura-pura.

Sementara Jenia hanya diam saja menatapnya dengan sorot mata penuh amarah yang tertahan.

Rasanya ingin sekali dia mengumpat dan berteriak seiadi-iadinya.

Namun ia memilih tetap tenang dan menyimpan tenaganya dan berharap bisa melarikan diri saat mereka lengah.

Sementara di samping, Veron tersenyum kecil dari balik maskernya. Meski terdengar berani, namun lelaki itu bisa melihat ketakutan dari gadis yang di sanderanya.

"Menarik sekali, padahal kekasihnya sangat pandai bersandiwara, tapi kenapa dia tidak bisa menyalin ilmunya..??!!" gumamnya terkekeh pelan menertawakan kebodohan Jenia.

Sekarang yang terlintas di pikiran Veron adalah kira-kira apa yang akan ia lakukan pada gadis bodoh itu.

Nampaknya ia akan punya mainan baru yang siap dijadikan kelinci percobaan.

Bahkan dalam kondisinya yang seperti itu Jenia masih saia memikirkan tentang kekasihnya.

Dia lebih mengkhawatirkan keselamatan Alex ketimbang dirinya sendiri, padahal jelas-jelas nyawanya juga sedang terancam.

Sementara laki-laki yang di khawatirkan justru sedang bersenang-senang dengan uang yang ia peroleh dari hasil menyerahkan seorang gadis pada kelompok mafia.

Benar-benar bodoh, andai saja Nia tahu kalau sebenarnya Alex adalah orang yang sudah tega menjadikan dirinya sebagai jaminan atas perianjian mereka.

Tanpa ragu lelaki biadab itu rela menukar nyawa calon istrinya demi sejumlah uang.

Sungguh pasangan yang serasi. Melihat hubungan tersebut membuat Veron semakin yakin bahwa cinta itu memang buta dan merepotkan.

Lelaki itu terus saja bergumam pelan dibalik maskernya. Antara geram dan tidak habis pikir kenapa mash ada orang sepolos Jenia di muka bumi ini.

Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri Veron sampai tidak menyadari kalau perlahan ikatan di tangan Jenia mulai terbuka.

Sejak tadi Nia tetap berusaha tenang dan bergerak dalam diam. Setelah bersusah payah meloloskan kedua tangannya, kini gadis itu mulai membuka ikatan yang menjerat kakinya.

Sekarang dia hanya perlu menunggu momen yang tepat untuk melarikan diri. Saat mobil mulai menuju melewati terowongan di tebing bebatuan yang cukup panjang, tiba-tiba Nia membuka pintunya dan langsung menjatukan diri ke luar dari mobil tersebut.

Sontak Veron dan para anggotanya terkejut ketika gadis itu berhasil lolos. Mereka pun segera berhenti dan mengejar Jenia.

Sementara Nia terus berlari sekuat tenaga tanpa tahu kemana arahnya.

Dalam ketakutannya. gadis itu menyusuri jalan tanpa menggunakan alas kaki. Sambil mengangkat gaun pengantin, ia makin panik ketika dari kejauhan mobil para mafia tersebut melaju semakin dekat ke arahnya.

Merasa semakin tersudut, tanpa pikir panjang Jenia yang baru keluar dari terowongan bebatuan itu masuk dan berlari menuju hutan.

Sambil menoleh ke belakang, tanpa sengaja kakinya tersandung akar pepohonan hingga terjatuh ke tepi lereng di bawah perbukitan.

Gaun putih yang cantik itu terguling bersama ranting-ranting pohon serta dedaunan kering di sekitarnya.

Nia terus berteriak hingga kepalanya membentur sesuatu yang sangat keras.

Perlahan penglihatannya mulai gelap dan gadis itupun kembali tidak sadarkan diri.

Veron yang sempat mendengar teriakan tersebut segera berlari menuju sumber suara bersama anggotanya.

Dia tertegun saat melihat kondisi Jenia yang sangat memprihatinkan. Gadis itu penuh dengan luka dan goresan di sekujur tubuhnya.

Gaun pengantin yang ia kenakan compang camping serta banyak bercak darah dimana-mana.

"Ternyata aku terlalu meremehkanmu..." gumamaya setelah memastikan tawanannya masih bernapas.

Lelaki itupun segera mengangkat tubuh Jenia dan membawanya keluar dari hutan.

Veron tidak menyangka kalau Nia punya keberanian sebesar itu sehingga nekat melarikan diri darinya.

.

.

.

Setelah beberapa saat Nia kembali tersadar. Bangun-bangun dia sudah berada di sebuah ruangan yang nampak asing, semacam kastil kuno dengan kerangkeng besi di dalamnya.

“Dimaa aku..??? Apa sekarang aku sudah mati..???” Gumamnya sambil melihat-lihat sekeliling.

Suaranya pun bergema ketika ia berteriak. Nia meraba kepalanya yang masih terasa pusing akibat benturan yang ia alami.

Tidak ada darah sedikitpun, bahkan semua luka-lukanya sudah di obati dan dibalut dengan perban. Yang tersisa hanyalah gaun pengantin lusuh yang masih melekat di tubuhnya.

Nia mencoba untuk membuka pintu besi yang ada di hadapannya, namun hasilnya nihil, pintu tersebut terkunci dengan rapat.

"Kau sudah sadar rupanya..." ucap seorang wanita cantik yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya.

Wanita itu nampak tersenyum ramah pada Jenia. Dia kemudian membuka kunci dan sambil membawakan pakaian serta beberapa jenis makanan untuk Nia.

"Siapa kau dan dimana aku sekarang..??" tanya Nia penasaran.

"Perkenalkan namaku Vivian, kau bisa memanggilku Via. Sekarang kau sedang berada di markas para anggota Mafia paling besar di kota ini..." ungkapnya menjelaskan.

"Apaaa..?? Markas....??”

Mengetahui hal itu Nia pun kembali terduduk lemas, pasalnya percuma saja dia berhasil melarikan diri kalau ujung-ujungnya kembali lagi ke tangan para penjahat yang menangkapaya.

"Alex...?? Apa kau tahu dimana Alex...??" tanyanya lagi sambil menyebutkan ciri-ciri orang yang ia maksud.

Namun Vivian menggeleng tidak tahu, karena memang Alex tidak ada disana.

Kemudian Vivian menyuruhnya untuk makan dan berganti pakaian, tapi Nia menolaknya. Dia tidak akan makan dan minum sebelum bertemu dengan Alex dan memastikan kekasihnya baik-baik saja.

"Biarkan saja dia..." ucap seseorang yang baru muncul, membuat kedua wanita itu menoleh secara bersamaan.

Sontak Vivian segera bangkit dan memberi salam saat melihat siapa yang datang.

Wanita itu juga bergegas keluar setelah Ben yang berada di belakang Veron memberinya isyarat untuk pergi.

Jenia sempat menahan lengan Vivian agar tidak meninggalkannya sendirian, namun perlahan Via melepaskan tangannya dan pergi dari sana.

Kini hanya tinggal mereka berdua yang ada di ruangan itu, sambil beradu tatap satu sama lain dengan pikirnnya masing-masing.

"(Sebenarnya siapa dia...??)"

"Kenapa dia terus menutupi wajahnya...??)"

"(Pasti tampangnya sangat menyeramkan...!!)"

"(Yaa, sepertinya begitu. Karena anak buahnya saja punya bekas luka di wajah, berarti luka yang di alami bosnya lebih parah sehingga harus ditutupi agar tidak kelihatan...)"

Begitulah isi pikiran Jenia saat memperhatikan Veron dengan seksama.

"Cepat habiskan makananmu atau kau akan mati kelaparan..!!" ucap lelaki itu memaksa.

"Tidak mau...!! Sebelum kau pertemukan aku dengan Alex...!!” sahut Jenia tak gentar.

Veron yang mendengar itu pun langsung tertawa hingga suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan, membuat Nia keheranan.

"Kenapa kau sangat ingin bertemu kekasihmu...?? padahal dia sendiri yang sengaja menyerahkanmu pada kami dasar gadis bodoh.….!!"

"Apa katamu...??!! Siapa yang kau sebut bodoh hah...?? Kau jangan bicara sembarangan tentang Alex ya...!! Lebih baik sekarang cepat lepaskan aku dari sini hey...!!!" teriak Jenia semakin kesal.

Dia sudah tidak bısa bersikap tenang dan sabar lagi menghadapi Veron. Apalagi setelah lelaki itu mengatainya bodoh.

"CEPAT KELUARKAN AKU DARI NERAKA INI...!!!" Teriaknya lagi sambil menggoyang kerangkeng besi itu dengan sekuat tenaga.

"Haha kau salah Nona, tempat ini bukanlah Neraka, melainkan hanya gerbangnya...!!" ucap Veron meluruskan sambil berlalu meninggalkan Nia sendirian.

Setelah malam tiba, gadis itu tetap tidak mau menyentuh makanannya sedikitpun, ia masih

meringkuk di pojok ruangan dengan gaun lusuhnya.

Perlahan air matanya mulai menetes membasahi wajahnya. Rasa marah dan takut kian menyatu menyelimuti hatinya.

Selang beberapa saat Vivian kembali datang mengunjungi Nia dengan membawakan makanan yang baru.

"Kenapa kau masih belum makan...?? Jika terus begini kau bisa sakit, setidaknya makanlah sedikit..." ucapnya membujuk Jenia dengan lembut.

Namun bukannya makan, gadis itu justru memohon agar Via mau membebaskannya dari tempat itu. Tapi lagi-lagi Vivian tidak berani berbuat apa-apa, ia justru bergegas pergi setelah tugasnya selesal.

"Tunggu…!!"

"Ada apa lagi Nia...??"

"Sebelumnya aku lupa berterimkasih padamu..."

"Hmm…?? terimakasih untuk apa...??" tanya Vivian nampak bingung.

"Terimakasih karena sudah mengobati luka-lukaku…”

"Maaf Nia, tapi bukan aku yang mengobati lukamu..." sahutnya sambil beranjak pergi.

"(Kalau bukan Via, lantas siapa yang melakukannya...??)" gumam gadis itu penuh dengan tanda tanya.

…………………………………………………………………………………

Ilustrasi Jenia Dara

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!