NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Malam itu, Jakarta tidak terasa seperti rumah. Udara panas yang menyesakkan seolah sengaja mencekik Almira saat ia berdiri di depan gerbang rumah dinas ayahnya di kawasan Jakarta Selatan. Hanya dalam hitungan jam setelah kejadian di bandara, segel kuning kepolisian sudah melintang di pintu jati yang biasanya terbuka lebar menyambut mereka.

Almira menatap nanar ke arah garis polisi itu. Semua pakaian, dokumen, dan kenangan mereka terkunci di dalam sana, dianggap sebagai aset yang perlu diperiksa. Debo berdiri di sampingnya, memeluk tas ranselnya erat-erat—satu-satunya barang yang berhasil mereka selamatkan selain kamera yang melingkar di lehernya.

"Kita mau ke mana, Kak?" suara Debo parau. Remaja itu terlihat jauh lebih kecil dari usia aslinya di bawah temaram lampu jalan.

Almira tidak menjawab. Tangannya merogoh saku, menggenggam secarik kartu nama yang ia pungut dari lantai bandara saat kericuhan terjadi. Kartu itu sedikit terlipat di ujungnya. Risky, S.H. – Konsultan Hukum. Di bagian belakangnya terdapat tulisan tangan yang terburu-buru: Temui aku di kafe seberang Polres kalau kau ingin tahu siapa yang mengirim paket itu.

"Ke kantor polisi, Deb. Kita harus cari pengacara," jawab Almira tegas, meski hatinya mencelos melihat beberapa tetangga yang biasanya ramah kini hanya mengintip dari balik gorden, lalu cepat-cepat mematikan lampu teras saat melihat mereka.

Mereka naik taksi online menuju Polres Jakarta Barat, tempat ayah mereka ditahan untuk pemeriksaan awal. Di sepanjang jalan, layar ponsel Almira terus bergetar. Notifikasi berita masuk bertubi-tubi. “Diplomat Senior Deplu Tertangkap Bawa 5 Kg Sabu,” “Rekam Jejak Baskoro: Pahlawan yang Ternyata Pengkhianat.” Almira mematikan ponselnya dengan kasar. Ia ingin berteriak pada dunia bahwa ayahnya adalah orang yang bahkan terlalu jujur untuk mengambil pulpen kantor ke rumah. Bagaimana mungkin pria itu bisa menjadi kurir narkoba?

Setibanya di depan kantor polisi, suasana masih hiruk-pikuk oleh wartawan yang haus berita. Almira menarik tudung jaket Debo, berusaha menyelinap masuk melalui pintu samping. Ia menemukan kafe kecil yang dimaksud dalam kartu nama itu—sebuah tempat remang-remang yang terhimpit di antara bangunan tua.

Di pojok ruangan, seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku sedang menyesap kopi hitam. Ia tampak tak acuh dengan keramaian di luar. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang keras dan mata yang menyiratkan kelelahan menahun.

Almira mendekat, meletakkan kartu nama itu di atas meja. "Kau yang menjatuhkan ini?"

Pria itu mendongak. Matanya menyapu sosok Almira dan Debo dari kepala hingga ujung kaki. "Duduklah. Aku Risky."

"Bagaimana kau tahu kami akan datang?" tanya Almira curiga.

Risky meletakkan cangkirnya, suaranya rendah namun tajam. "Aku sudah mengamati kasus ayahmu sejak koper itu melewati X-ray pertama di Amerika. Ada sinyal yang bocor. Ayahmu bukan pemain, dia hanya 'kuda' yang dikirim untuk disembelih agar pemain aslinya bisa lewat dengan aman."

Debo memukul meja dengan tinjunya. "Jangan sebut ayahku kuda! Dia difitnah!"

Risky tidak bergeming. Ia menatap Debo dengan dingin. "Marah tidak akan membebaskan ayahmu dari ancaman hukuman mati. Di negeri ini, barang bukti lebih bicara daripada air mata. Lima kilogram itu bukan jumlah yang bisa diselesaikan dengan kata 'maaf'."

Almira merasakan kakinya melemas mendengar kata 'hukuman mati'. "Kau bilang kau bisa membantu. Kenapa? Apa imbalannya? Kami tidak punya uang sekarang. Rumah kami disegel, rekening Ayah mungkin akan dibekukan."

Risky terdiam sejenak, memandang ke luar jendela ke arah gedung Polres yang terang benderang. "Aku tidak butuh uang kalian sekarang. Aku hanya benci melihat orang-orang di atas sana merasa bisa mengatur hidup seseorang semudah membalik telapak tangan. Aku butuh satu hal dari kalian: kejujuran mutlak. Siapa rekan ayahmu yang menitipkan koper itu?"

"Namanya Om Hermawan," sahut Almira cepat. "Dia rekan senior Ayah di D.C. Dia bilang itu titipan untuk keluarganya."

Risky tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Hermawan tidak ada di manifes penerbangan mana pun dalam tiga hari terakhir. Dia menghilang. Dan tebak apa? Di catatan kementerian, dia sedang cuti sakit selama sebulan."

Almira terpaku. Rasa dingin mulai merambat di punggungnya. Ia menyadari bahwa mereka bukan sekadar menghadapi kesalahpahaman, melainkan sebuah rencana yang telah disusun dengan sangat rapi dan kejam.

"Jadi... apa yang harus kami lakukan?" tanya Almira dengan suara bergetar.

Risky berdiri, mengambil jaketnya yang tersampir di kursi. "Malam ini, kalian menginap di motel murah di dekat sini. Jangan gunakan kartu kredit atau apa pun yang bisa dilacak. Besok pagi, kita akan mulai mencari jejak Hermawan sebelum dia benar-benar 'dihilangkan' oleh orang yang membayarnya."

Saat mereka keluar dari kafe, Almira menoleh ke arah gedung tahanan. Di sana, di balik tembok beton yang dingin, ayahnya mungkin sedang duduk sendirian, meratapi kehancuran hidup yang ia bangun selama puluhan tahun.

Almira mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Ia tidak tahu siapa Risky sebenarnya, atau apakah pria ini bisa dipercaya. Namun di tengah kegelapan Jakarta yang asing ini, hanya pria sinis inilah satu-satunya harapan yang mereka miliki untuk menemukan jawaban.

"Kita akan bawa Ayah pulang, Deb," bisik Almira, lebih kepada dirinya sendiri. "Apa pun harganya."

...****************...

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!