NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Tinggal

Hari-hari berikutnya tidak berubah drastis.

Tidak ada titik balik besar. Tidak ada peristiwa yang menggeser hidup Senja ke arah yang lebih terang.

Yang berubah hanya caranya berada di dalam hari.

Ia mulai bangun tanpa langsung menekan tombol snooze berkali-kali.

Bukan karena ia lebih bersemangat, tapi karena ia tidak ingin menunda keberadaannya sendiri.

Seolah menunda bangun sama saja dengan menunda hidup, dan ia sudah terlalu lama melakukan itu.

Kadang ia masih duduk lama di tepi kasur.

Menatap dinding kosong.

Merasa pikirannya berat seperti belum sepenuhnya masuk ke tubuhnya.

Kadang ia bertanya pelan ke dirinya sendiri, “Aku mau ngapain hari ini?”

Dan sering kali jawabannya tetap: nggak tau.

Tapi sekarang, ia tidak langsung membenci dirinya karena itu.

Ia tidak lagi menganggap kebingungan sebagai kegagalan.

Di kampus, Senja mulai melakukan hal kecil yang dulu jarang ia lakukan.

Ia tetap duduk di kelas meskipun pikirannya melayang.

Ia mencatat meskipun tidak sepenuhnya fokus.

Ia bertanya meskipun suaranya pelan dan ragu.

Bukan karena ia tiba-tiba rajin.

Tapi karena ia ingin hadir, meskipun setengah-setengah.

Dulu, kalau pikirannya kosong, ia memilih pulang.

Sekarang, kalau pikirannya kosong, ia tetap duduk.

Itu terasa aneh.

Capek.

Tapi lebih jujur.

Setelah kelas, Kay menunggunya di koridor.

“Kamu kelihatan lebih… ada,” kata Kay sambil tersenyum kecil.

“Kayak zombie sadar diri,” jawab Senja.

Kay tertawa. “Itu versi manusia paling jujur yang pernah aku dengar.”

Mereka berjalan berdampingan tanpa tujuan jelas.

Langkah mereka pelan, seolah tidak sedang mengejar apa pun.

“Aku masih sering kosong,” kata Senja tiba-tiba.

“Tapi sekarang aku nggak langsung panik. Aku cuma… duduk di dalamnya.”

Kay menoleh. “Itu susah, tau.”

“Kenapa?”

“Karena kebanyakan orang, kalau kosong, langsung cari cara buat lari. Scroll tanpa sadar, sibuk berlebihan, ketawa palsu, atau numpuk aktivitas biar nggak mikir.”

Senja mengangguk. “Aku dulu gitu.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku lagi belajar tinggal.”

Kay berhenti jalan. Menatap Senja agak lama.

“Kalimat itu berat.”

Senja tersenyum tipis. “Aku juga baru sadar.”

Sore itu, hujan turun deras.

Langit gelap lebih cepat dari biasanya.

Senja tidak langsung pulang. Ia duduk di halte kecil dekat kampus, sendirian.

Biasanya, ia akan mengeluh.

Biasanya, ia akan membuka ponsel tanpa tujuan, menunggu waktu lewat dengan sendirinya.

Hari ini, ia hanya duduk.

Mendengar hujan memukul atap seng.

Merasa dingin di tangan. Merasa lelah di bahu.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba mengusir perasaan itu.

Ia membiarkan capeknya ada.

Membiarkan kosongnya duduk di sampingnya.

Tanpa harus diubah. Tanpa harus dijelaskan.

Ia baru sadar satu hal yang selama ini luput:

perasaan tidak selalu harus diselesaikan.

Kadang hanya perlu ditemani.

Dan mungkin, selama ini ia terlalu sibuk mencari jalan keluar,

sampai lupa bahwa ia bahkan belum benar-benar masuk ke dalam dirinya sendiri.

Di rumah, ibunya sedang menonton televisi.

Suara acara itu tidak terlalu menarik. Hanya jadi latar.

Senja ikut duduk di sebelahnya.

Tidak bicara. Tidak main ponsel.

Ibunya melirik. “Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa,” jawab Senja.

Lalu menambahkan, setelah beberapa detik,

“Aku cuma pengen duduk di sini.”

Ibunya tersenyum kecil. Tidak bertanya lagi.

Tidak menuntut cerita. Tidak memberi nasihat.

Dan di situ, Senja merasakan sesuatu yang sederhana tapi asing:

ia tidak sedang menghilang.

Ia tidak sedang kabur.

Ia sedang… ada.

Bukan sebagai anak yang harus selalu kuat.

Bukan sebagai mahasiswa yang harus selalu punya arah.

Tapi sebagai manusia yang sedang lelah dan tidak tahu kenapa.

Malam itu, Senja menulis lagi di catatannya:

“Aku pikir sembuh itu tentang berubah.

Ternyata mungkin tentang berhenti pergi.

Berhenti ninggalin diri sendiri

saat aku paling butuh ditemani.”

Ia membaca ulang kalimat itu beberapa kali.

Tidak ada janji besar.

Tidak ada target hidup.

Tidak ada resolusi dramatis.

Hanya satu kesadaran kecil:

selama ini, ia tidak benar-benar hidup.

Ia hanya bertahan.

Ia menutup ponsel.

Merebahkan badan di kasur. Menatap langit-langit.

Ia masih belum tahu mau jadi apa.

Masih belum punya jawaban besar tentang hidup.

Masih sering kosong. Masih sering capek.

Tapi satu hal mulai terasa jelas, meski samar:

Untuk pertama kalinya,

Senja tidak lagi mencoba lari dari dirinya sendiri.

Ia tidak lagi memusuhi perasaannya.

Ia tidak lagi menuntut dirinya untuk segera membaik.

Ia sedang belajar satu hal yang selama ini paling sulit:

Tinggal.

Di tubuhnya.

Di pikirannya.

Di hidupnya sendiri.

Dan mungkin, untuk orang yang terlalu lama menghilang dari dirinya,

itu bukan langkah kecil.

Itu langkah paling berani yang pernah ia ambil.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!