Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Bab 34 Aku Masuk Saja Jika
Kamu Malu
Rumah Sakit Ibu Anak.
Akhirnya pekerjaan Edis tuntas untuk hari ini. Sambil membawa stroberi yang dikirim Denzel, dia berjalan menuju ke parkiran staf.
Dalam perjalanan menuju parkiran, Edis melihat sosok familier yang ada di depannya dan langsung mengenalinya.
Sosok tersebut adalah kepala departemen umum rumah sakit dan juga kader senior di rumah sakit tersebut.
Mereka biasanya akan saling menyapa ketika bertemu.
Edis mempercepat langkahnya dan berjalan ke sisi kepala departemen itu. Dia menyapanya dengan senyuman anggun, "Selamat malam, Bu Feni."
Mendengar sapaan Edis, Feni menoleh dan langsung mengenalinya. Dia lalu membalasnya dengan senyuman, "Selamat malam, Dokter Laurence. Kamu juga baru pulang kerja, ya."
"Iya, bulan depan adalah hari ulang tahun rumah sakit. Banyak yang harus dikerjakan di departemen umum. Bu Feni pasti sangat sibuk juga!"
"Tidak juga!"
Keduanya berbasa-basi sesaat, lalu bersama-sama menuju ke parkiran.
Sesampainya di parkiran dan sebelum masuk ke mobil, Feni menghela napas dan berkata, "Aku sudah pergi ke beberapa toko untuk mencari hadiah bagi para staf di hari ulang tahun rumah sakit nanti. Namun, aku tidak menemukan hadiah yang cocok. Ini benar-benar membuatku frustrasi."
Edis tersenyum dan berkata "Bu
Feni memang sangat menghargai staf rumah sakit."
"Itu karena banyak sekali pendatang baru yang berhasil kalian bimbing setiap tahun. Pekerjaan kalian sangat hebat. Tentu saja, aku harus memilih hadiah yang bagus untuk kalian."
Sambil bercerita, Feni sekalian bertanya kepada Edis, "Dokter Laurence, apakah kamu memiliki rekomendasi yang cocok? Aku benar-benar sudah pusing memikirkannya!"
Edis tersenyum anggun dan berkata, "Aku juga tidak punya ide."
Edis teringat akan sesuatu. Dia mengeluarkan stroberi dari tasnya dan memberikannya kepada Feni, lalu berkata, "Bu Feni, aku memang tidak punya ide. Namun, aku menyarankanmu untuk mencicipi stroberi ini. Kujamin stroberi ini akan meringankan beban pikiranmu
Feni lalu melihat stroberi sebesar kepalan tangan yang sedang dipegang Edis. Meskipun Feni sudah berumur dan berwawasan luas, dia tetap kaget ketika melihat stroberi itu.
"As, astaga, stroberi sebesar ini?"
Selain besar, stroberi ini juga tampak lezat.
Feni mengambil stroberi itu, lalu menelan ludah tanpa sadar dan menghela napas, "Dokter Laurence, ini beli di mana? Aku belum pernah melihat stroberi sebesar ini."
Edis tersenyum dan berkata, "Aku beli dari seorang pemuda kenalanku.
Stroberi ini sedang populer di kabupaten."
Setelah mengatakannya, Edis langsung berjalan menuju ke mobilnya. Dia membuka pintu dan berkata, "Bu Feni aku pergi dulu Menantuku sedang
Menunggu stroberi."
"Ah, baiklah!"
Setelah Edis pergi, Feni melihat stroberi di tangannya. Dia tidak bisa menahan godaan aroma manis stroberi itu dan langsung mencicipinya.
Kemudian, wajahnya langsung berseri!
Rasa ini!
Rasanya lezat sekali!
Setelah mencicipinya, Feni sudah tidak sabar hendak menggigit stroberi itu lagi.
Akhirnya Feni menghabiskan stroberi itu, meskipun belum puas, sekarang dia merasa lebih bersemangat.
Tiba-tiba, suatu ide muncul di benaknya.
Perusahaan yang mampu
membudidayakan stroberi semanis ini pasti bukan perusahaan biasa.
Perusahaan itu pasti menjual hamper stroberi juga!
Selain itu, stroberi ini cukup populer di kabupaten dan jelas berbeda dengan buah-buahan biasa yang ada di pasaran!
Pasti cocok untuk dijadikan sebagai hadiah untuk para staf.
Baiklah, perusahaan yang ini saja!
Setelah memikirkannya, Feni langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Edis yang baru saja pergi.
Pukul setengah tujuh malam.
Saat Denzel tiba di gerbang rumah.
Langit sudah gelap.
Saat masuk ke halaman, Denzel segera mengambil semua barang yang ada di sana, lalu masuk ke dalam rumah.
Begitu memasuki rumah, Denzel mencium aroma masakan. Dia menoleh dan melihat beberapa masakan di atas meja makan. Denzel takut masakan itu dingin, jadi dia langsung menutupi setiap masakan dengan piring.
Denzel menyeringai tanpa sadar. Dia membawa barang-barangnya ke depan meja televisi tua. Saat dia meletakkan barang-barang itu, sesosok yang familer memasuki rumah dari halaman belakang sembari membawa sesuatu.
Fiona memasuki rumah sambil membawa sup yang baru saja dia panaskan. Dia menatap Denzel dengan mata indahnya, "Kamu sudah pulang."
Denzel meletakkan barangnya dan
Menghampiri Fiona. Dia lalu mengambil sup yang sedang dipegang Fiona dan bertanya dengan lembut, "Apa yang kamu masak hari ini? Aku langsung mencium aroma wangi begitu masuk kemari."
Begitu Denzel mendekat, tanpa disadari jantung Fiona berdegup kencang. Ketika Denzel mengambil sup dari tangannya, Fiona langsung menarik tangannya, berpura-pura tenang dan berkata, "Aku hanya memasak beberapa masakan sederhana, mungkin sudah dingin sekarang. Aku akan memanaskannya nanti."
Setelah mengatakannya, Fiona melirik pria yang ada di depannya. Denzel sedang menatapnya dengan tenang. Namun, wajah Fiona tidak bisa berbohong, wajahnya terasa panas.
Denzel mengambil sup dari tangan Fiona. Dia menatap wanita yang sudah hampir sehari tidak dilihatnya, lalu
Selesai masak, langsung makan saja.
Jangan menungguku."
Denzel berbalik dan Fiona menepuk-nepuk pipinya yang memanas itu. Dia mengikuti Denzel dan berbohong lagi, "Aku belum lapar."
Saat berbicara, pandangan Fiona tertuju pada barang-barang yang ada di atas meja televisi. Dia lalu bertanya dengan penasaran, "Denzel, apakah kamu membeli sesuatu?"
Setelah Denzel meletakkan sup di atas meja makan, barulah dia menghadap Fiona dan berkata, "Aku membeli beberapa pakaian untukmu, habis makan kamu coba ya."
"Hah? Kamu membelikan pakaian untukku?" Fiona tercengang. Dia berjalan ke meja televisi dan melihat banyak kantongan kertas. Fiona merasa tersentuh dan bergumam, "Banyak sekali aku masih punya banyak
Pakaian."
"Sudahlah, masa aku tidak tahu kamu punya pakaian atau tidak? Ayo kemari, makanlah dulu. Kamu boleh mencobanya sehabis makan," kata Denzel sembari membuka penutup hidangan. Kemudian, Denzel baru menyadari semua masakan ini adalah makanan kesukaannya.
Ketika Fiona melihat kantongan yang tampak mahal di atas meja dan baru saja ingin mengatakan sesuatu, suara Denzel terdengar, "Istriku, aku sangat lapar. Bisakah kamu mengambilkanku sepiring nasi?"
"Hah? Oh! Baiklah."
Mendengar Denzel kelaparan, Fiona bergegas ke halaman belakang untuk mengambilkan Denzel sepiring nasi putih.
Wajah Fiona tersipu ketika dia
Teringat Denzel memanggilnya "istriku".
Pria ini... sudah dua hari ini memanggil "istriku".
Namun, saat Fiona memasuki dapur dan membuka lemari untuk mengambil piring, ada sesosok berpostur tinggi yang melingkupinya dari belakang.
Hembusan napas yang familier langsung menembus ujung hidungnya.
Fiona merasakan Denzel sedang berada di belakangnya. Tubuhnya terasa sedikit kaku. Sebelum Fiona merespons, tangan besar Denzel meraih lemari. Denzel mengambil dua buah piring sebelum Fiona sempat menyentuhnya.
Setelah mengambil piring, Denzel menatap wanita yang tampak membeku di depannya, lalu merayunya, "Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa aku akan menyuruh istriku yang sedang hamil untuk mengambilkan nasi?"
Setelah mengatakannya, Denzel mundur dan berjalan ke samping. Dia lalu mengambil nasi dari penanak nasi dan berkata, "Biar aku yang mengambil nasi, kamu ambil sendok dan garpu saja."
Denzel sengaja mengalihkan perhatian Fiona, dia takut Fiona akan menyuruh dia mengembalikan belanjaan itu.
Fiona baru sadar setelah terpana beberapa saat. Dia menoleh dan melihat pria itu sedang mengambil nasi dengan serius. Fiona diam-diam menepuk wajahnya agar tetap sadar, lalu bergumam, "Aku baru hamil tiga setengah bulan dan perutku juga belum membesar."
Setelah mengambil nasi, mereka kembali ke dalam rumah dan mulai makan.
Pikiran Fiona sempat teralihkan
oleh Denzel namun sekarang sambil
Makan Fiona memperhatikan barang-barang yang terletak di meja televisi. Meskipun dirinya penasaran dan tergiur oleh pakaian baru tersebut, dia tetap tenang dan berkata kepada Denzel, "Denzel, aku masih punya pakaian. Lebih baik kamu mengembalikan ..."
Denzel mengambilka sepotong iga asam manis untuk Fiona dan menyelanya, "Aku sudah membeli semuanya. Kamu bisa memakainya tanpa khawatir. Aku juga meminta pegawai toko untuk memotong labelnya, jadi baju-baju itu sudah tidak bisa dikembalikan lagi."
Fiona terkejut, "Lalu, bagaimana jika ukurannya tidak cocok denganku?"
Denzel meminum sesendok sup, menatap wanita yang ada di seberang meja makan, lalu berkata dengan percaya diri, "Pasti cocok. Kamu akan tahu setelah mencobanya nanti."
Fiona bergumam, "Jika tidak cocok, bukankah ini terlalu boros..."
Meskipun dia berkata demikian, Denzel menyadari Fiona makan lebih cepat dari biasanya.
Setelah selesai makan, Denzel membereskan semua peralatan makan.
Saat dia masuk ke rumah, kantongan di atas meja televisi sudah dibawa ke dalam kamar.
Kemudian, terdengar seruan dari dalam kamar, "Den, Denzel, kamu, kenapa kamu bahkan membeli pakaian dalam..."
Denzel duduk di bangku dengan senyuman tipis. Dia lalu menyahut Fiona yang ada di dalam kamar dan bertanya, "Coba pakai, apakah pas?"
Seketika terasa hening di dalam kamar. Kemudian, terdengar suara kaget dan malu-malu "Untungnya nasi
Denzel menyeringai dan langsung menggodanya, "Apakah benar-benar pas?
Keluarlah, coba aku lihat. Kalau kamu malu, aku saja yang masuk ke kamar."