Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Tanpa Pamit
Elvan melipat koran di hadapannya, menatap anak gadisnya yang sudah mulai menangis. Dia tidak senang melihat itu, tapi hatinya pun tidak mau sampai Hanin benar-benar pergi meninggalkannya.
“Papa cuma takut kamu meninggalkan papa, Nak. Papa sangat sayang dengan Hani, bahkan kami semua. Melihat usaha kerasmu mencari ayahmu papa merasa kamu akan melupakan kami.” Elvan menundukkan pandangannya sedih.
“Hani tidak seperti itu yang melupakan kalian begitu saja, tapi Hani butuh tahu siapa ayah kandung Hani. Hani tidak mau orang terus berpikir Hani ini anak tidak jelas.” Hanin menjeda kalimatnya, mengusap air mata di pipinya. Dia kemudian mengangkat wajahnya, menegakkan punggungnya. “Meskipun papa tidak memberi tahu Hani, Hani tetap akan pergi mencari ayah sampai ketemu.”
Bruk!!
Elvan seketika membanting koran di tangannya ke meja, mengejutkan Hanin dan Miranda.
“Papa tidak setuju!” kata Elvan. “Papa tidak akan mengizinkanmu pergi mencari pria tidak jelas itu, pria tidak bertanggungjawab, yang sudah menelantarkanmu.” Elvan tak lagi bisa menahan rasa kesalnya dengan keras kepalanya Hani.
“Hani tidak percaya ucapan Papa, sebelum tahu kejadian yang sebenarnya. Hani harap Papa bersedia memberitahu siapa dia.”
“Papa tidak akan pernah memberitahumu.” Elvan beranjak, masih kekeh menolak memberitahu Hanin.
“Pa, Hani mohon ...,” rengek Hani.
“Pa, beritahu Hani, mama yakin dia tidak seperti yang Papa pikirkan,” ujar Miranda ikut membujuk.
Elvan masih berdiri diam membelakangi Hanin. Menyembunyikan kecemasan yang sangat di wajahnya. Kecemasan yang dengan alasan yang tak bisa diungkapkannya.
“Sikap Papa ini sama artinya Papa ingin Hani pergi dari rumah ini, karena Hani tetap akan pergi mencari ayah meskipun hanya bermodal foto ini.”
Elvan menarik nafas dalam, berusaha meredakan amarah setiap kali memikirkan Hanin yang keras kepala.
“Kau ini perempuan, tidak baik pergi sejauh itu ke negeri orang hanya untuk mencari orang yang tidak jelas.”
“Hani pergi dengan Kak Awan.”
“Tetap saja papa tidak akan izinkan, kecuali kau pergi dengan Satya, papa baru akan memberitahumu.” putus Elvan.
Mendengar nama Satya, dan begitu besar kepercayaan Elvan padanya Hanin menjadi sedih. Satya tidak sebaik itu. Selain pernah menolaknya, Satya bahkan nyaris menodai dirinya. Hanin tidak bisa membayangkan jika dia pergi bersamanya apa yang akan kembali dilakukan Satya. Kepercayaan Hani pada Satya sudah rapuh. Satya bahkan tidak hadir di acara pertunangan dirinya dengan Awan, meskipun acara itu batal, seharusnya sebagai seorang kakak Satya peduli dengan dirinya, tapi kenyataannya tidak.
“Lupakan soal Kak Satya. Hani tidak ingin menganggapnya sebagai kakak lagi.”
Perkataan Hanin menunjukkan dia begitu marah terhadap Satya. Miranda khawatir Hanin semakin membencinya.
“Jangan bicara seperti itu soal kakakmu. Dia anak yang baik, meskipun dia pernah menolakmu pasti ada alasannya.”
Hanin tidak menyalahkan Miranda selalu berpikir Satya baik, dia adalah putranya dan kejadian di vila mereka tidak mengetahuinya. Hanin tidak berniat memberitahu peristiwa itu.
“Berhenti membicarakannya, Mah. Hani tidak akan pergi bersama dengannya.”
“Papa bukan tidak mengizinkan, dia itu khawatir kamu kenapa-kenapa. Nanti mama coba hubungi Satya untuk menemanimu,” kata Miranda memberikan pengertian.
“Tidak perlu, Mah. Hani tidak mau pergi dengannya.” Hanin beranjak berjalan meninggalkan mereka dengan kesal
“Kalau tidak mau mendengarkan ucapan papa, dan memaksa pergi, artinya kau sudah tidak menganggap kami ini orang tuamu!,” Elvan pun kekeh dengan keputusannya lalu pergi begitu saja.
Hanin sedih dan juga marah. Elvan menempatkannya pada posisi yang sulit. Dia jelas tidak berpikir seperti itu, tapi kepergiannya juga adalah hal yang penting untuk hidupnya. Dia tidak mau dianggap sebagai anak tak jelas apa lagi anak haram sepanjang hidupnya. Dia memilih dianggap sudah tidak menginginkan keluarga angkatnya, tapi di dalam hati sampai kapan pun keluarga itu adalah keluarga yang sudah menjaga dan membesarkannya dengan baik. Dia bukan anak yang tidak tahu balas Budi.
••
Rencana Hanin mungkin tak mendapatkan dukungan dari Miranda dan Elvan, tapi Louis dan Karlina mereka mendukung niatnya. Mereka yang kemudian membantu semua persiapan kepergian Hanin dan Awan ke Kairo, dari persiapan paspor dan sebagainya tanpa sepengetahuan Elvan dan Miranda.
Selama satu bulan itu Hanin menunggu prosesnya. Hingga saat liburan tiba mereka bisa langsung berangkat.
Miranda yang curiga dengan kesibukan Hanin yang tak biasanya, dia memeriksa kamar Hanin ketika Hanin pergi kuliah. Di saat itu dia menemukan paspor milik Hanin, yang itu artinya Hanin serius dengan rencana kepergiannya.
Miranda tidak ingin mencegahnya, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Hanin pergi sendiri. Dia diam-diam menghubungi Satya.
“Kau harus cepat pulang, Satya. Keadaan di rumah sedang tidak baik,” kata Miranda di telepon. Dia bicara diam-diam di luar rumah malam itu usai Hanin mengungkap keinginannya.
“Mama kenapa tegang begitu, ada apa sebenarnya?” balas Satya.
“Hanin memaksa pergi ke Kairo mencari ayahnya. Papa inginnya kamu yang temani dia, tapi Hanin menolak. Sepertinya Hanin kekeh akan tetap pergi bersama Awan.”
“Biarkan saja, bukankah itu sudah keputusannya. Dia dan Awan sudah bertunangan apa yang perlu dikhawatirkan. Toh tak lama lagi juga mereka menikah. Satya tidak mau ikut campur urusan mereka.”
“Dasar anak bodoh, apa kau tidak tahu Hanin dan Awan batal tunangan.”
Satya yang tengah santai rebahan di tempat tidurnya langsung melompat bangun mendengar perkataan Miranda.
“Maksud, Mama?”
“Pokoknya sekarang juga kamu harus pulang!”
“Tidak bisa, Mah. Ini sudah malam. Mama pikir aku di Indonesia, hanya naik taksi sudah sampai. Besok Satya baru bisa pulang.”
Miranda memahami posisi Satya, dia pun tak bisa memaksakan situasinya. Dia hanya bisa berharap Satya bisa datang tepat waktu sebelum Hanin pergi.
••
Malam harinya sebelum keberangkatan mereka, Awan mencoba melacak Identitas ayah Hanin di internet. Dia coba telusuri semua nama yang berhubungan dengan Aariz. Satu nama terakhir yang belum dia lacak adalah nama pria bernama Aariz Zayan Malik. Belum sempat dia melacaknya sebuah telepon masuk dari perusahaan ketenagakerjaan.
“Aku sudah menemukan pria yang berhubungan dengan Anissa Rahma, pria itu bernama Aariz Zayan Malik, tapi untuk tempat tinggalnya saat ini kami tidak tahu.”
“Terima kasih, nama ini saja sudah cukup,” balas Awan dengan perasaan senang.
Dari informasi itu Awan semakin yakin dengan nama itu adalah nama pria yang sedang dicarinya. Dia hanya tinggal menelusurinya saja. Jika dia orang terpandang pasti akan mudah ditemukan jejaknya.
••
Keesokan harinya Miranda dan Elvan sudah bersiap di ruang makan. Elvan melirik jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
“Mah, apa Hani belum bangun?” tanya Elvan.
“Mbok Indung sudah aku minta untuk melihat Hani, mungkin dia masih belum bangun,” pikir Miranda.
“Papa sudah kesiangan, papa makan terlebih dahulu.”
“Iya, biar mama yang menunggu Hanin.
Baru mau menyuapkan makanan ke mulutnya, Mbok Indung datang dari lantai atas sambil tergopoh-gopoh.
“Pak, Bu. Non Hani tidak ada di kamarnya, tapi bibi menemukan kertas ini di atas meja.
Elvan langsung merebut dan membacanya. Raut wajahnya yang semula santai kini berubah tegang membuat wajah itu bersemu merah.
“Ada apa, Pah?” tanya Miranda.
Elvan tak menjawab. Rahangnya mengeras dan telapak tangannya mengepal tanda tengah Manahan amarah di dadanya.
“Pah, Hani benaran pergi? Dia tidak berpamitan dengan kita?”
“Itulah dia sekarang. Sudah tidak penurut dan menjadi pembangkang semenjak dia tahu kita bukan orang tua kandungnya.”
“Ini semua kesalahan Papa tak memberikan izin padanya. Pasti dia berpamitan kalau papa tidak bersikeras dengan keputusan papa”
Elvan beranjak.
“Kenapa Mama selalu menyalahkan papa setiap ada masalah! Mama pikir papa senang dia pergi dengan cara seperti ini? Main kabur-kaburan. Memang dia tidak memikirkan perasaan kita sebagai orang tuanya. Papa memberikan keputusan itu juga demi kebaikannya. Kita akan tenang jika Satya yang menjaganya.”
Mbok Indung kebingungan, dia ingin menyela, tapi tak ada kesempatan.
“Berhenti bertengkar, Pak, Bu, kalau kalian terus bertengkar, Non Hani keburu jauh,” kata Mbok Indung memberanikan diri.
Elvan dan Miranda seketika tersadar dan menghentikan pertengkaran mereka. Miranda sudah tahu rencana kepergian Hanin, tapi dia tidak ingat jam keberangkatannya dan tidak mengira Hanin pergi pagi-pagi tanpa berpamitan.
“Kita ke bandara sekarang,” kata Miranda. Wanita itu masuk kamarnya dengan terburu-buru dan keluar lagi dengan tas di tangannya.
“Cepat, Mah!” teriak Elvan saat melihat Miranda berniat masuk kamar lagi. Namun, urung dan memilih menyusul suaminya.
Pak Joko telah siap dengan mobilnya, dia semenjak tadi juga mendengar pertengkaran dan pembicaraan mereka yang terdengar hingga di garasi.
Begitu mobil meninggalkan halaman keadaan rumah kembali sepi. Mbok Indung dan asisten rumah lainnya ikut dibuat cemas dan tegang. Kairo, bukanlah tempat yang dekat.