NovelToon NovelToon
Pemberontak Para Dewa Season 2

Pemberontak Para Dewa Season 2

Status: tamat
Genre:Perperangan / Keluarga / Action / Persahabatan / Mengubah sejarah / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:432.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.

Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.

Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 210

Arena Utama – Langit yang Terbelah.

Tekanan atmosfer turun drastis. Udara di dalam kubah pelindung arena menjadi berat dan berbau tembaga—bau darah.

Xing, Kapten Klan Asura, mundur sepuluh langkah. Keempat tangannya gemetar memegang senjata. Wajahnya yang berdarah akibat tandukan Tie Shan kini merah padam karena amarah yang meluap.

Dia, seorang Dewa Sejati (True God), dipermainkan oleh manusia kerdil ini.

"Kau..." Xing membuang ludah darah ke lantai. "Kau punya kekuatan. Aku akui itu."

"Tapi di Alam Semesta ini, kekuatan fisik manusia ada batasnya. Sedangkan kami, Ras Asura, memiliki warisan dari Raksasa Purba!"

Xing menusukkan keempat senjatanya (Kapak, Pedang, Tombak, Gada) ke lantai arena.

Dia merobek baju zirahnya, memperlihatkan dada bidang yang dipenuhi tato totem perang.

"Saksikanlah wujud keputusasaanmu!"

"Seni Terlarang Asura: Avatar Perang Dewa Raksasa!"

DUM! DUM! DUM!

Jantung Xing berdetak begitu kencang hingga terdengar seperti drum perang. Darah di tubuhnya mendidih dan menguap menjadi kabut merah pekat.

Tubuh Xing mulai membesar.

Tiga meter... Sepuluh meter... Lima puluh meter...

KRAK!

Lantai arena hancur dipijak oleh kaki yang kini seukuran gedung. Xing terus tumbuh hingga kepalanya menyentuh batas kubah energi setinggi 100 meter.

Kulitnya berubah menjadi baju zirah magma yang mengeras. Keempat lengannya kini setebal pilar istana, dan senjata-senjatanya ikut membesar karena terbuat dari Logam Roh yang bisa berubah ukuran.

Wajahnya bukan lagi wajah humanoid, melainkan topeng iblis bertaring dengan tiga pasang mata menyala.

Avatar Dewa Asura (Asura God Avatar).

"MATILAH, SEMUT!"

Suara Xing bukan lagi suara mulut, melainkan gema guntur yang meretakkan gendang telinga penonton yang lemah.

Dia mengangkat kaki raksasanya untuk menginjak Shi Hao—seperti manusia menginjak semut.

Bayangan raksasa menutupi Shi Hao.

Di pinggir arena, Nana menjerit. "TUAN FENG!"

Tie Shan (yang sedang dirawat Shu Ling) berusaha bangkit. "Tuan... lari..."

Namun, Shi Hao tidak bergerak. Dia mendongak menatap telapak kaki raksasa yang turun itu dengan tatapan bosan.

"Jadi kau ingin bermain ukuran?" gumam Shi Hao.

"Baiklah. Biar kutunjukkan padamu... siapa yang sebenarnya Raksasa."

Shi Hao merentangkan tangannya.

Di dalam Lautan Jiwa-nya, Darah Naga Kekacauan meraung.

Shi Hao tidak mengubah tubuh fisiknya menjadi besar. Itu cara kasar. Sebaliknya, dia memanggil manifestasi dari jiwa dan Dao-nya.

"Proyeksi Dewa Sejati: Naga Kekacauan Purba!"

ROAAAAR!

Suara auman naga terdengar. Bukan dari arena, tapi dari kehampaan di luar planet. Seolah-olah alam semesta sendiri yang mengaum.

Di belakang punggung kecil Shi Hao, ruang angkasa robek.

Kabut ungu dan emas meledak keluar.

Dari dalam kabut itu, sebuah kepala naga raksasa muncul.

Ukurannya? Kepala naganya saja sudah sebesar tubuh Avatar Xing.

Sisiknya berwarna ungu tua dengan pinggiran emas Abu-abu (Nirwana). Matanya seperti dua matahari yang terbakar dingin. Tanduknya menembus awan.

Proyeksi Naga itu melilit di sekitar tubuh kecil Shi Hao, melindunginya, lalu membesar hingga memenuhi setengah arena, berhadapan langsung dengan Avatar Asura.

Penonton ternganga. "I-Itu... Naga Kekacauan?! Legenda yang punah?!"

Xing, dalam wujud raksasanya, tertegun. Insting purbanya menjerit ketakutan melihat predator puncak rantai makanan kosmik di depannya.

"Tidak mungkin! Itu hanya ilusi!" raung Xing mencoba menyemangati dirinya sendiri.

"Hancur kau!"

Xing mengayunkan keempat senjata raksasanya secara bersamaan ke arah Shi Hao. Kapak membelah gunung, Gada menghancurkan kota.

Shi Hao, yang melayang di pusat dahi Proyeksi Naga itu, menggerakkan jarinya.

"Gigit."

Proyeksi Naga Kekacauan itu membuka mulutnya yang penuh taring energi.

KRAK!

Naga itu menggigit keempat senjata Xing sekaligus.

Gada pecah. Kapak retak. Tombak bengkok. Pedang patah.

Kekuatan rahang Naga Kekacauan mampu mengunyah hukum alam, apalagi sekadar senjata logam.

"APA?!" Xing melotot.

Sebelum Xing sempat menarik tangannya, ekor Naga itu bergerak.

WUSH.

Ekor naga raksasa itu menyapu mendatar.

"Sabetan Ekor Naga: Pemutus Cakrawala!"

BUK!

Ekor itu menghantam pinggang Avatar Xing.

Dampaknya seperti tabrakan asteroid.

Tubuh raksasa setinggi 100 meter itu terlipat dua. Xing terlempar ke samping, menabrak dinding kubah pelindung arena.

BOOM!

Kubah pelindung—yang dirancang menahan serangan Dewa Sejati—PECAH.

Xing terguling keluar arena, menghancurkan tribun penonton yang untungnya sudah kosong karena penonton lari ketakutan. Bangunan-bangunan di kejauhan runtuh tertimpa tubuh raksasanya.

Debu mengepul setinggi langit.

Perlahan, tubuh raksasa Xing menyusut kembali. Energinya habis. Dia kembali ke wujud asalnya yang setinggi tiga meter, terbaring di reruntuhan dengan seluruh tulang patah.

Di tengah arena yang hancur, Proyeksi Naga Kekacauan perlahan memudar, terserap kembali ke dalam tubuh Shi Hao.

Shi Hao mendarat dengan lembut di lantai arena yang kini menjadi kawah.

Dia menepuk debu di jubahnya, seolah baru saja selesai jalan-jalan.

Wasit (Seorang dari Kekaisaran Pusat) turun dengan tangan gemetar. Dia melihat Xing yang pingsan di kejauhan, lalu melihat Shi Hao yang tak tergores.

"PE-PEMENANGNYA... TIM ASURA!"

Tidak ada sorak-sorai. Hanya keheningan ngeri.

Mereka baru saja menyaksikan pertarungan tingkat monster yang melampaui level turnamen ini.

Shi Hao berjalan kembali ke timnya. Nana, Shu Ling, dan Luo Tian memeluk kaki Tie Shan yang terluka sambil menatap Shi Hao seperti menatap dewa sesembahan.

"Sudah selesai," kata Shi Hao datar.

Pangeran Jin berdiri kaku, gelas anggurnya sudah lama jatuh. Wajahnya yang tampan terdistorsi oleh campuran rasa takut dan kebencian yang mendalam.

"Naga Kekacauan..." desis Jin.

"Tidak salah lagi. Aura itu... Aura yang sama dengan orang yang menghancurkan istana ayahku di Alam Dewa."

Jin mengepalkan tangannya hingga berdarah.

"Dia bukan Feng. Dia Shi Hao. Anak haram Shi Tian."

"Dia mengejarku sampai ke sini."

Seorang bayangan hitam muncul di samping Jin. "Pangeran... haruskah kita menjalankan Rencana B?"

Jin menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan Qi Matahari-nya yang bergolak.

"Jangan sekarang. Dia terlalu kuat untuk dibunuh secara terbuka. Jika aku menyerangnya sekarang, aku mungkin kalah, dan itu akan mencoreng nama Kekaisaran."

Jin tersenyum licik, senyum yang menjanjikan penderitaan.

"Biarkan dia lolos ke babak selanjutnya."

"Babak selanjutnya adalah Dunia Rahasia: Labirin Bintang Kuno."

"Di sana, pengawas turnamen tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Dan di dalam sana... ada sesuatu yang lebih lapar daripada Naga."

Jin menoleh ke bayangan itu.

"Bangunkan Xing Tian (Si Pemangsa Bintang) dari tidur panjangnya di reruntuhan labirin."

"Beri dia 'umpan'. Katakan padanya... ada Daging Naga Segar yang baru saja tiba."

1
Edi Sopian
Kapal PEDEIPE
Eko Lana
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Eko Lana
aroma pembantaian bantaaaaaaiiiii
Nimas Nim
XHGFFJUUDOI uo
DAN_ SIBARANI
benar-benar lancang🤣
HINATA SHOYO
lanjutkan thor bngkitkan sihao dgn kekuatan baru yg mutlak biar bsa kasih kejutan musuh yg nyoba ngusik alammu yg damai😄gaskenn thor kerenn loe thorr lanjutkn segeraaaaa🤣🤣👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
kadang aku berfikir. bagaimana jika dunia tidak sesederhana apa yang sedang berjalan, namun terdiri dari multiple dimensi yang berjalan beriringan. mungkin langkah kaki manusia bahkan ada yang mengaturnya dengan tangan tangan yang begitu telitinya hingga manusia pun tidak tahu bahwa ia adalah bagian dari wayang yang diamainkan oleh sang dalang. ada karya yang menurutku dapat membuat seseorang berfikir kearah sana dan kalau kalian haus akan bacaan yang menarik mungkin rekomendasi karya karya yang menarik ada di othor satu ini "SANG IMAJINASI" Thor bisa tidak buat sebuah karya yang berkaitan dengan genre MMORPG.
REY ASMODEUS
tamat🤭🤭🤭🤭🤭
REY ASMODEUS
kasih nafas Thor, kasihan musuhnya, kenapa gak di cincang dulu. main tebas aja , beri mereka kematian yang paling nikmat.
Brogan
shen yu ini dr novel judul apa?
Sang_Imajinasi: cerita nya juga terkait di novel Dao Abadi
total 2 replies
alexander
bagus ceritanya rekomen
Eka suci
cerita kultivator di bumi 🥺
Eka suci
kirain kembali ke bumi
Eka suci
wow back to zero🥺
🌼🆚🐝
shi hao di gantikan pak manteb🤣🤣🤣🤣
Rumi Yati
Sad ending tp puas hati, terima kasih thor, sllu semangat,
Mamat Stone
/Good//Moon//Sun/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!