NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokumen Tambahan

Akhir semester bukan lah hal yang menyenangkan bagi setiap siswa. Tugas yang menumpuk dengan tenggang waktu yang pendek, ulangan yang bertubi-tubi, hingga aktifitas organisasi yang seolah tidak ada hentinya. Ujian akhir telah dilakukan sejak Senin kemarin, ketidak hadiran kepala sekolah tidak mengubah sedikit pun jadwal yang telah ditetapkan. Satu-satunya hal yang ditunggu di akhir semester adalah libur panjang akhir semester. Mereka perlu mengistirahatkan otak yang sudah dipake selama 6 bulan terakhir. 

Begitu juga dengan ke-6 anak IPS yang selama satu semester ini penuh dengan kesibukan. Selalu ada keluhan yang keluar dari mulut mereka setiap bell berakhirnya ujian selesai. Hingga pada akhir Minggu Class meeting dilakukan, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mengajukan diri untuk meramaikan suasana.

Saat ini mereka ada di dalam ruang kelas yang kosong, hampir semua siswa berada di lapangan membuat koridor benar-benar lengang. Sesekali akan terdengar suara beberapa siswa yang tengah bermain game. Suasana sekolah tidak berubah, seolah berita penemuan mayat di ruang kepala sekolah itu tidak pernah terjadi.

“Apa Yuan masih di sini?”  tanya Andre yang saat ini berbaring pada 3 kursi yang dijadikan satu.

“Tidak, arwahnya sudah pergi sebelum Ujian dimulai, dia mengucapkan terima kasih pada kalian” jawab Daniel.

"Baguslah, tidak ada lagi arwah yang bersemayam di kelas kita, atau Bahkan di sekolah kita. Aku masih tidak menyangka kepala sekolah bisa segila itu, bayangkan saja sekantor dengan mayat yang sudah membusuk itu tidak masuk akal sekali” ujar Ilyas dengan dramatis.

Tidak ada yang tahu apa hasil test kejiwaan dari kepala sekolah, kepolisan tidak mempublikasikan data karena dirasa melanggar privasi. Tapi bukan kah itu malah mepertegas keadaan jiwa kepala sekolah sebenarnya. Ia masih waras dan sadar kalau orang yang selalu didekatnya itu sudah mati. Beruntung dia tidak berkembang menjadi psikopat.

“Sebenarnya tidak busuk juga sih, menurut keterangan hasil otopsi ditemukan formalin dalam jumlah besar dalam tubuh jasad dan itu cukup untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan pembusukan” jawab Daniel tenang.

“Sebenarnya sejak kapan kau tahu ada mayat di ruang kepala sekolah Dan?” Tanya Andre begitu menyadari sesuatu.

“Sejak kasus kesurupan di lapangan, saat itu aku meminta foto kepala sekolah lama. Sebenarnya saat itu aku ingin memastikan arwah siapa yang aku lihat dan ternyata memang bukan kepala sekolah lama”  jawab Daniel tanpa menghiraukan perubahan ekspresi teman-temannya.

“Woy, yang benar saja kamu sudah tahu sejak lama, mengapa tidak memberi tahu kami?” Tanya Andre tidak terima.

“Aku perlu memastikan sesuatu, jadi aku tidak bisa mengatakannya terlebih dahulu. Asal mengatakan sesuatu tanpa bukti itu jatuhnya fitnah” jawab Daniel lagi.

“Jadi sudah jelas ya kenapa Vito bisa menjadi pembunuh, ayahnya saja psikopat. Motif mereka pun sama, hanya karena dikecewakan. Tapi aku jadi penasaran bagaimana reaksi Vito ketika tahu pembunuhan ibunya itu ayahnya sediri ya. Apakah dia marah atau kecewa?” ujar Jonatan sambil berpikir. Meski tidak terlalu akrab, Jonatan adalah orang yang paling sering berasa di dekat Vito. Jadi hal wajar jika ada rasa peduli dalam dirinya.

“Aku tidak peduli perasaan Vito, aku hanya penasaran bagaimana nasib Pak Bima saat ini, apa dia dipecat?” sahut Ilyas. Sejak kasusnya muncul ia lebih memperdulikan hal itu. Rasanya tidak adil jika orang-orang yang jujur malah mendapatkan masalah.

“Tidak Om Bima tidak dipecat, ia hanya dikucilkan oleh teman-teman sekantornya karena dianggap pengkhianat. Tapi sejak awal dia memang sudah tidak terlalu disukai oleh atasan dan teman kerjanya karena sifatnya yang seenaknya dan sulit diatur. Jadi itu tidak membuatnya pusing juga” jawab Andre tanpa minat. Beberapa saat yang lalu ia telah tuli mendengar ibunya yang memarahi Om Bima karena bertingkah sesukanya. Namun Om Bima hanya menjawab dengan satu kalimat,

“Aku mengerjakan tugas dengan baik”

Beberapa menit setelah artikel tentang Wijaya Kusuma dirilis, kegaduhan terjadi di kantor polisi. Indira yang tidak tahu menahu tentang masalah ini segera memburu Bima dan Andi di kantornya, namun saat ia datang kedua orang itu tengah dengan santai menikmati sarapan mereka. Andi dengan segera berdiri, tapi Bima tidak terpengaruh sedikit pun. Ia masih sempat memasukkan nasi yang telah ia sendok ke dalam mulutnya.

“Kau melakukan pelanggaran berat dengan melakukan penyelidikan tanpa izin dari atasanmu, apakah kau tau dimana letak kesalahanmu? Segera tarik artikel itu dan katakan itu hanya lah artikel yang dirilis secara sembarang dan tidak ada kaitannya dengan penyelidikan” kata Indira penuh dengan kepanikan dan kemarahan.

Indira tidak tahu kalau Bima telah menyelidiki kasus impor rokok ilegal yang ditangani oleh adiknya. Ia tahu setelah salah satu bawahnya mengatakan kalau Indra akan menjalani persidangan segera setelah ditangkap. Saat itu ia ingin segera memarahi dan mengajukan pemecatan terhadap Bima karena melanggar aturan dan melakukan penyelidikan tanpa adanya surat perintah. Tapi siapa sangka Bima telah menerima izin langsung dari kepala kepolisian pusat.  Itu membuatnya tidak bisa berkutik.

Dia pikir semuanya akan selesai di situ, tapi begitu artikel itu dirilis ketenangannya seketika hilang.

“Aku sudah mendapatkan izin dari atasan super untuk menyelidiki ulang kasus ini. Mungkin kamu yang sebaiknya berkemas, menyalahgunakan jabatan untuk menutupi borok dalam keluargamu bahkan menggunakan nya untuk naik jabatan itu benar-benar memalukan” jawab Bima setelah menelan makanannya. Dia menatap Indira dengan pandangan meremehkan.

“Apa kau tidak ingin menyelamatkan citra kepolisian? Tolong pahami kondisi ini baik-baik jika hal seperti ini diketahui oleh publik, kepolisian akan hancur dan kehilangan dukungan rakyat” ucap Indira mencoba membujuk.

“Menyelamatkan citra kepolisian atau menyelamatkan jabatanmu? Apa kau sedang berusaha untuk membersihkan namamu dan saudara-saudara mu hanya dengan mengatakan kesalahan penyidikan? Beruntung kau perempuan jika tidak kau sudah aku pasti sudah menghajarmu” ucap Bima bersungut-sungut, ia mengabaikan Andi yang tampak takut.

“Ini demi kepolisian” ucap Indira lebih keras.

Bima yang marah dan kehabisan rasa sabar akhirnya keluar dari mejanya dan melemparkan sebuah tamparan keras pada Indira, hingga wanita itu pingsan.

“Ini demi dirimu sendiri bukan siapa pun! Dan tamparan itu aku sudah menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya” ucap Bima tanpa rasa bersalah.

Esok hari setelah artikel itu dirilis Indira dan setengah dari anggota divisi kriminal dipecat secara tidak hormat oleh kepala kepolisian pusat. Posisi kepala divisi kini digantikan oleh seorang inspektur senior bernama Ridwan yang sebelumnya menjabat sebagai kepala divisi Humas. Tidak ada kenaikan pangkat bagi Andi dan Bima, bukan karena mereka tidak bisa tapi karena tidak mau. Sebagai bawahan mereka sudah punya begitu banyak tugas, ia tidak ingin mendapatkan lebih banyak tugas dengan gaji yang tidak jauh berbeda.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!