Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Cantik untuk Bahaya
Matahari bersinar terang saat Rea sudah rapi dengan seragam kafenya. "Paman, ayo sarapan! Oh ya, ini nomor teleponku ya, sudah aku simpan di HP kuning itu. Kalau ada apa-apa, telepon saja!" seru Rea semangat.
Galen hanya menjawab dengan gumaman "Hemm" pendek, namun tangannya diam-diam menggenggam HP Nokia kuning itu dengan erat. "Da Paman, Rea berangkat!"
Sesampainya di kafe, suasana terasa lebih tegang dari biasanya. Sindy menghampiri Rea dengan wajah cemas. "Rea, hari ini Direktur kafe mau datang. Namanya Nona Liona. Kamu harus sangat patuh kalau diperintah. Dia terkenal sangat kejam dan tidak suka kesalahan sedikit pun."
"Oke, siapp!" jawab Rea sambil memberikan pose hormat, meski hatinya mulai sedikit berdebar.
Di Kosan...
Galen sedang berdiri di dekat jendela saat Leon menghubunginya lewat perangkat komunikasi rahasia.
"Tuan, ada laporan. Nona Liona sedang menuju kafe miliknya. Ternyata kafe tempat gadis itu bekerja adalah milik keluarga Liona," lapor Leon. Liona adalah putri dari salah satu kolega bisnis gelap Galen yang juga dikenal memiliki temperamen buruk.
Mata Galen menyipit tajam. Aura mafianya keluar seketika. "Biarkan saja. Pantau dari jauh. Asal dia tidak menyakiti gadis itu, aku tidak akan bertindak. Tapi jika dia menyentuh sehelai rambut Rea... kau tahu apa yang harus dilakukan."
"Siap, Tuan."
Di Kafe...
Suasana yang tadinya ramai tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Suara dentingan sepatu hak tinggi bergema di lantai kafe. "Itu dia! Membungkuk semua!" bisik Sindy panik.
"Siang, Nyonya Liona," ucap semua karyawan serempak.
Liona berjalan angkuh dengan kacamata hitam dan tas bermerek mahal. Ia duduk di sofa VIP dengan gaya bos besar. "Bagaimana kinerja kafe ini?" tanyanya dingin.
"Bagus Nyonya, banyak sekali pelanggan yang ke sini belakangan ini," jawab manajer kafe dengan gemetar.
"Okee... Apa kita ada pelayan baru di sini?" tanya Liona sambil mengedarkan pandangan tajamnya.
Manajer segera memberi kode pada Rea. "Rea, sapalah!"
Rea maju dengan langkah kecilnya, berusaha tetap tenang meski kakinya sedikit gemetar. "Permisi Nyonya Liona, saya Rea, pelayan baru di sini."
Liona menatap Rea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Kerja dia bagus atau tidak?" tanya Liona pada manajer tanpa melepaskan pandangannya dari Rea.
"Bagus Nyonya, dia sangat cekatan dan rajin," bela sang manajer.
Liona hanya mendengus sinis. "Kita lihat saja nanti. Pelayan, ambilkan aku Espresso tanpa gula. Sekarang!"
"Baik, Nyonya!" Rea segera berbalik menuju mesin kopi, tidak menyadari bahwa di luar kafe, beberapa mobil hitam milik anak buah Galen sudah terparkir rapi, siap bertindak jika keadaan memburuk.
Rea segera menyajikan espresso pesanan Liona dengan sangat hati-hati agar tidak tumpah. Liona menyesap kopinya sedikit, lalu menatap semua karyawan.
"Nanti malam saya ada acara perayaan. Kalian semua berdandan yang rapi, kalian kuundang ke hotel," ucap Liona dengan senyum yang sulit diartikan.
Setelah itu, Liona sibuk dengan ponselnya. Ia diam-diam mengirim pesan kepada seorang kolega bisnisnya yang dikenal hidung belang: "Tuan, aku punya 'barang baru' yang sangat polos untukmu. Bersiaplah nanti malam di hotel."
Rea yang tidak tahu apa-apa justru merasa senang. Wah, ternyata Sindy salah. Nyonya Liona baik sekali, batin Rea polos.
"Ya sudah, saya pergi dulu," pamit Liona sambil berlalu pergi dengan angkuh.
Pekerjaan pun berlanjut hingga sore. Rea tampak bersemangat menyapu lantai kafe. "Sindy, Nyonya Liona mengundang kita! Baik ya dia," ujar Rea riang.
Sindy hanya mengerutkan dahi, merasa ada yang tidak beres. "Iya, tapi biasanya dia tidak seperti itu. Perasaanku agak tidak enak, Rea."
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Manajer mengizinkan mereka pulang lebih awal agar bisa bersiap. "Rea, nanti kujemput jam tujuh malam ya. Aku sudah tahu lokasi kosmu," kata Sindy sebelum mereka berpisah.
Di Kosan...
Rea pulang dengan wajah berseri-seri. "Paman! Paman! Rea pulang!" seru Rea sambil membuka pintu. Ia melihat Galen sedang berdiri menatap jendela, tampak sangat berwibawa meski hanya memakai kemeja biasa.
"Paman, malam ini Rea mau pergi ke acara kantor. Bos Rea baik sekali, kami semua diundang ke hotel mewah!"
Galen membalikkan badannya. Mata tajamnya menatap Rea dengan intens. Ia sudah mendengar laporan dari Leon tentang "rencana" Liona semalam melalui penyadapan. Galen tahu Rea dalam bahaya, namun ia ingin melihat sejauh mana Liona berani bermain api.
"Ke hotel?" tanya Galen, suaranya sangat rendah dan dingin.
"Iya! Rea harus dandan cantik. Paman di sini saja ya, jangan rindu sama Rea," canda Rea sambil tertawa ceroboh, lalu segera masuk ke kamar untuk mencari baju terbaiknya.
Galen hanya diam, namun tangannya meremas HP Nokia kuning itu hingga berderit. Ia segera mengirim pesan singkat ke Leon: "Siapkan pasukan di hotel malam ini. Jika pria itu menyentuh Rea, ratakan tempat itu dengan tanah."
Rea tampak sangat sibuk di dalam kamarnya. Suara gantungan baju yang digeser dan gumaman bingung terdengar hingga ke ruang tamu. Setelah hampir satu jam, pintu kamar terbuka perlahan.
Rea melangkah keluar dengan ragu-ragu. Ia mengenakan gaun hitam selutut dengan detail manik-manik kecil di bagian dada yang berkilauan terkena lampu kosan. Rambut hitamnya yang biasa diikat asal-asalan, kini dibiarkan terurai jatuh ke bahunya. Riasan tipis di wajahnya membuat matanya yang bulat terlihat lebih hidup dan bibirnya tampak merah muda alami.
"Pamannnn... bagaimana? Rea cantik tidak?" tanya Rea sambil memutar tubuhnya pelan, memamerkan gaunnya yang sederhana namun terlihat sangat pas di tubuh mungilnya.
Galen yang sedang duduk di sofa mendongak. Untuk pertama kalinya, sang mafia yang biasanya tidak pernah tertarik pada wanita itu terpaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Di matanya, Rea tidak hanya cantik, tapi terlihat sangat murni dan... rapuh.
Galen menyadari bahwa mengirim gadis sepolos ini ke "kandang serigala" seperti acara Liona adalah ide yang sangat buruk.
"Paman? Kok diam saja? Rea aneh ya?" Rea mengerucutkan bibirnya, merasa tidak percaya diri karena Galen hanya menatapnya tanpa suara.
Galen berdeham, berusaha menguasai dirinya kembali. Ia berdiri, berjalan mendekati Rea hingga bayangan tubuh tingginya menutupi gadis itu. Ia merapikan sedikit helai rambut Rea yang berantakan dengan jari-jarinya yang kasar.
"Kau..." Galen menggantung kalimatnya, matanya menatap dalam ke mata Rea. "Terlalu cantik untuk pergi ke tempat seperti itu sendirian."
Rea tersipu malu, wajahnya memerah. "Ih, kan Rea pergi sama Sindy, Paman. Jadi tidak sendirian."
Tepat saat itu, suara klakson motor Sindy terdengar di depan kos. "Rea! Ayo berangkat!" teriak Sindy.
"Ah, itu Sindy! Rea berangkat dulu ya, Paman. Jangan lupa kunci pintu!" Rea mengecup punggung tangan Galen—kebiasaannya pada orang yang lebih tua—lalu berlari keluar dengan ceria.
Galen menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan yang sangat gelap. Ia segera mengambil jas hitamnya dan HP Nokia kuning itu.
"Leon," ucap Galen saat panggilannya tersambung. "Saya berangkat sekarang. Pastikan tidak ada satu lalat pun yang mengganggu dia sebelum saya sampai."
Malam itu, sang mafia kejam tidak lagi mengejar musuh politiknya, melainkan mengejar seorang gadis mungil yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang dalam bahaya besar.