Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Melihat mu dari jauh
Semburat cahaya matahari pagi menembus celah jendela, namun bagi Aluna, pagi ini tidak terasa hangat. Ada kegelisahan yang menyelinap di hatinya saat ia merapikan seragam di depan cermin. Setelah menarik napas panjang, ia melangkah keluar rumah, berharap ada sebuah keajaiban yang mungkin saja terjadi.
Namun, begitu pintu gerbang terbuka, bukan motor yang ia kenali yang terparkir di sana. Melainkan Brian, yang sudah berdiri tegak dengan senyum lebar yang sangat kontras dengan mendungnya hati Aluna.
"Hai Aluna, selamat pagi! Kamu pagi ini cantik banget, bikin aku semangat, hehe," sapa Brian antusias. Matanya berbinar, benar-benar menunjukkan betapa bahagianya ia melihat gadis itu.
Aluna tertegun di tempatnya. Senyumnya kaku. "Pagi juga, Brian. Kok kamu ada di sini? Kan aku gak minta kamu jemput aku."
"Iya, gak apa-apa dong. Rumah kita kan searah, jadi ya aku mampir buat jemput kamu, Aluna. Udah yuk, sini naik motor aku. Nanti kalau lama-lama kita bisa telat lho," ajak Brian sambil memberikan helm yang sudah ia siapkan.
"Tapi Brian..." kalimat Aluna menggantung di udara.
Ia ragu. Matanya sempat melirik ke arah ujung jalan, berharap Bara muncul dengan motornya yang bising, lalu berhenti di depannya dan menyuruhnya naik seperti dulu. Ia merindukan sikap hangat Bara Namun, detik demi detik berlalu, jalanan tetap sepi dari sosok yang ia tunggu.
Aluna sadar, menunggu Bara sekarang terasa seperti menunggu hujan di tengah kemarau. Mustahil. Sikap Bara sudah berubah total, mendingin dan menjauh seolah mereka tidak pernah punya kenangan manis bersama.
Dengan berat hati dan perasaan kecewa yang ia sembunyikan rapat-rapat, Aluna akhirnya menerima helm dari tangan Brian. Ia terpaksa melangkah maju, meninggalkan harapannya di depan gerbang rumah, sementara hatinya masih tertinggal pada sosok yang bahkan tidak mengharapkan nya lagi.
Tanpa Aluna sadari, ada sepasang mata yang menatapnya dengan sisa-sisa kehancuran dari balik sebuah pohon besar di ujung jalan.
Bara a sudah menunggu di sana sejak fajar baru menyingsing, dengan mesin motor yang sengaja ia matikan agar suaranya tidak terdengar sampai ke rumah Aluna.
Tangannya masih mencengkeram erat helm di pangkuannya. Helm yang tadinya ingin ia berikan pada Aluna sebagai tanda permintaan maaf. Namun, pemandangan di depan gerbang itu membuat seluruh keberaniannya luruh seketika.Brian sudah di sana. Brian sudah mengambil posisinya dengan senyum yang jauh lebih cerah dari yang bisa Bara berikan.
Bara mundur selangkah ke balik bayangan pohon, dadanya sesak melihat Aluna yang sempat melirik ke arah jalan tempatnya bersembunyi.
"Aluna, kamu pasti menunggu aku jemput kamu kan? Tapi maaf Luna, aku gak bisa".
batinnya sambil memejamkan mata erat-erat.
Ia melihat Aluna akhirnya naik ke motor Brian. Setiap gerakan mereka terasa seperti belati yang mengiris hatinya tanpa ampun.
"Aku gak bisa karena Brian sudah lebih dulu datang.Aku juga gak mungkin mengganggu Brian. Aku gak mau persahabatan aku dan Brian hancur karena merebutkan kamu, Luna, Maafin aku.....Aku memilih mundur ".
Bara tetap di sana, diam mematung sampai suara motor Brian benar-benar hilang dari pendengarannya. Ia menunduk, menatap helm di tangannya dengan tawa getir yang tertahan. Pengorbanan ini ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Ternyata, melihat Aluna pergi bersama orang lain adalah luka yang tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan kata ikhlas".
*******""
Suara deru mesin motor Bara baru saja berhenti di parkiran SMA Bina Cendekia saat Aluna, yang sejak tadi berdiri gelisah di dekat gerbang, langsung berlari menghampirinya. Matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia tidak tenang selama perjalanan bersama Brian tadi.
"Bara, aku mau ngomong sebentar sama kamu. Kamu bisa nggak?" suara Aluna terdengar memohon, ada getaran harapan di sana.
Namun, Bara seolah tuli. Ia tidak menoleh sedikit pun ke arah Aluna, ia membuka helmnya, meletakkannya di spion, dan langsung melangkah pergi meninggalkan Aluna tanpa sepatah kata pun.
"Bara...!" seru Aluna. Ia tak menyerah, ia berlari kecil mengejar langkah lebar Bara yang tampak begitu terburu-buru. "Bara, Bara tunggu!"
Langkah Bara akhirnya terhenti tepat di koridor sekolah. Ia berbalik, menatap Aluna dengan tatapan yang tajam dan menusuk. Tatapan yang belum pernah Aluna lihat sebelumnya.
"Apalagi sih, Aluna?!"
"Kamu kenapa sih berubah sama aku?" tanya Aluna dengan suara yang mulai serak. Dadanya terasa sesak melihat dinding es yang dibangun Bara di antara mereka.
"Berubah apa sih? Gak jelas banget jadi cewek!" bentak Bara. Suaranya menggelegar, cukup keras hingga beberapa siswa yang lewat menoleh ke arah mereka.
Aluna seketika kaget. Tubuhnya gemetar dan pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia tidak menyangka Bara, orang yang paling ia percayai, sanggup membentaknya sekeras itu di depan umum.
Brian yang baru saja sampai di sana dan melihat kejadian itu tidak terima. Ia melangkah maju, memasang badan di depan Aluna.
"Bara! Lho kenapa sih bentak Luna? Kasihan kan dia jadi nangis!".
Bara hanya menatap Brian dengan tatapan kosong, lalu beralih sekilas ke arah Aluna yang sedang menangis sesenggukan. Ada kilat kepedihan di matanya yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tanpa menghiraukan Brian, Bara langsung memutar tubuh dan masuk ke dalam kelas, meninggalkan luka yang semakin menyayat di hati Aluna.
Brian menghela napas panjang, lalu berbalik menatap Aluna dengan lembut. Ia mengangkat tangannya, mencoba mengusap air mata di pipi gadis itu.
"Luna, udah ya, jangan nangis lagi. Hapus air mata kamu," ucap Brian dengan suara menenangkan.
Di dalam kelas, di balik pintu yang tertutup, Bara bersandar dengan napas yang memburu. Tangannya gemetar hebat. Ia baru saja menyakiti orang yang paling ia cintai, demi sebuah alasan yang bahkan Aluna tidak boleh tahu.
Suasana di dalam kelas mendadak tegang. Brian tidak bisa tinggal diam melihat sahabatnya berubah menjadi sosok yang begitu kasar. Ia melangkah lebar menuju meja Bara, menuntut penjelasan atas sikap yang menurutnya sudah keterlaluan.
"Bara, lho ada masalah apa sih sampai bentak Aluna dan buat dia nangis?" tanya Brian dengan nada menuntut. Suaranya rendah tapi penuh penekanan.
Bara yang sedang berpura-pura sibuk hanya mendengus. Ia bahkan tidak memandang Brian saat menjawab dengan nada yang sangat meremehkan. "Ya gak ada masalah apa-apa. Emang dasar Luna aja yang cengeng."
Deg.
Aluna, yang ternyata berdiri tidak jauh di belakang Brian, seketika tercengang. Dadanya seperti dihantam godam besar mendengar kata itu keluar dari mulut Bara. Cengeng? Setelah semua yang mereka lalui, Bara hanya menganggap air matanya sebagai bentuk kecengengan?
"Tapi lo gak harus segitunya dong, Bara! Kasihan Aluna!" Brian mulai terpancing emosi. Ia tidak habis pikir kenapa Bara bisa sekeras itu pada gadis yang dulu selalu ia lindungi.
Bara berdiri dari kursinya, menatap Brian dengan tatapan dingin yang sulit diartikan. Ia merasa dadanya makin sesak, bukan karena marah, tapi karena melihat betapa tulusnya Brian membela Aluna. Rasanya makin sakit jika ia tetap tinggal di sana.
"Udahlah Brian, lo tuh berisik tau nggak? Kayak ibu-ibu komplek," ketus Bara.
Tanpa menunggu balasan Brian, Bara langsung menyambar jaketnya dan melangkah keluar kelas begitu saja. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengan mereka. Udara di kelas itu terasa sangat panas, seolah oksigen di sana habis terbakar oleh rasa bersalah dan cemburu yang ia pendam sendiri.
Bersambung.........
Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️🙏 semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲♥️🙏🙏🙏