Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELAS BUBAR
"Yang ini?" tanya Salsa menunjukkan beberapa foto laki-laki bernama Amar, hasil penelurusan Salsa kepada teman-temannya. Bahkan teman Salsa sampai bertanya kenapa dia getol mencari sosok Amar.
Salsa mengakui ada orang yang mau menagih hutang ke dosen yang bernamta Amar tersebut, namun dari sekian foto yang masuk, tak sesuai dengan pencarian Karin.
Salsa menyenderkan badannya ke kursi, sampai sejauh ini tak ada hasil juga. Sampai kapan dia dikuntit si hantu ini, tetap saja berteman beda alam tuh rasanya merinding-merinding sedap.
"Mungkin dia sedang ke luar negeri," ucap Karin dengan entengnya. Salsa melongo, makin lama dong ketemunya si Amar.
"Gue gak kenal lu, tapi gue kecipratan repot. Makanya jadi cewek jangan gampang setor, jadi begini kan," omel Salsa dengan bibir ceriwisnya. Karin hanya menunduk dan cemberut.
"Kalau tahu akan begini, aku juga gak bakal mau!" sahut Karin kecewa.
"Ya kalau udah tahu duluan gak bakal ada orang yang menyesal!" kembali Salsa makin sebal dengan masa lalu Karin. Harusnya dia tak boleh judge berlebihan pada nasib seseorang, tapi Salsa hanya manusia biasa yang punya sisi julid, dan lupa kalau dirinya juga bisa melakukan kesalahan fatal. Kalau sudah begini, tak perlu tanya kenapa tapi lebih baik mencari solusi saja agar Karin segera kembali ke alamnya.
Baiknya Karin memang tidak mengganggu aktivitas Salsa, malah cenderung seperti satpam. Seperti halnya saat dia nongkrong makan mie ayam bersama Devita dan Rindu sembari menunggu kelas selanjutnya, ada seorang pelanggan seorang pekerja kantoran berdasi juga, makan gorengan 5 bilang ke penjualnya gorengan 3. Tentu saja Karin tak terima, ia baru menjawil Salsa untuk menegur pelanggan tersebut.
"Gue gak ada bukti Karin," ujar Salsa dengan bergumam dan mendelik ke Karin.
Karin juga tak bisa membuktikan, jadi ia biarkan saja pelanggan itu lolos dari pencurian gorengan, tapi Karin bakal kerjain tuh orang. Begitu keluar dari kedai mi ayam, Karin sengaja menjegal kaki tuh laki, hingga jatuh tersungkur.
Salsa dan temannya langsung menoleh saat beberapa orang terkejut ada orang yang jatuh. "Karin," ceplos Salsa melihat kaki karin masih diselonjorkan di sekitar jatuhnya laki-laki itu. Si hantu malah tertawa dan mengedikkan bahu.
"Balasan bagi orang yang sering bohong begini, kurang malah!" ujar Karin mendekati Salsa lagi.
Tak hanya itu ada kejadian luar biasa di kelas Salsa. Saat itu mereka lagi sibuk mendengarkan presentasi Kimia Organik tentang mekanisme reaksi senyawa dari salah satu kelompok, tiba-tiba kakak kelas yang mengulang di kelas Salsa dan kebetulan duduk di samping Salsa mendapat perhatian khusus.
"Cewek di samping kamu itu habis ini melahirkan," ujar Karin mengganggu konsentrasi Salsa. Awalnya Salsa tak menggubris, fokusnya masih mengarah pada presentasi. Namun, Karin kembali mengomel.
"Sadar napa, Salsa. Tuh perut meski kecil begitu sudah ada bayinya, dan pasti setelah ini merepotkan kamu," Karin kembali mengganggu konsentrasi Salsa, hingga tangan Karin usil menepuk lengan Salsa.
"Apa sih," protes Salsa, beberapa teman kelas menoleh padanya. Salsa hanya bisa meringis dan bilang maaf, kejatuhan cicak, begitu Salsa beralasan. Ia mendelik kembali pada Karin, memberi isyarat agar tak mengganggunya.
Selang beberapa menit, saat presentasi berakhir tinggal tanya jawab, Salsa dikejutkan dengan genggaman yang begitu erat dari Mbak Ita, kakak kelas di samping Salsa. Dia sudah keluar keringat dingin. "Sakit," desisnya dan membuat Salsa menjerit. Sontak saja semua menoleh ke arah Salsa.
"Tolongin gue," ucap Salsa sembari melepas genggaman tangan Ita. Teman-teman dan Bu Dosen tak jadi membuka tanya jawab, malah langsung menolong Ita dan Salsa.
"Dia pipis," teriak Devita saat melihat genangan air di bawah kursi Ita. Semua melihat ke arah itu.
"Kamu hamil?" tanya Bu Dosen yang tahu bahwa itu bukan air kencing, dan Ita mengangguk lemah, sembari menahan sakitnya kontraksi.
Sontak Bu Dosen menyuruh mahasiswanya menyingkirkan kursi-kursi, namanya mahasiswa pindah tempat juga diiringi kerempongan mulut, tapi tidak dengan Salsa yang malah menangis karena kulitnya sakit sekali dicakar Ita.
"Sal, lo gak papa?" tanya Rindu.
"Papa Rindu, ya Allah sakit!" ujar Salsa.
"Ini yang hamil Salsa?" ceplos Candra, dia mungkin bingung, karena yang merasa kesakitan justru Salsa. Namun Devita dan Rindu langsung menonyor kepala Candra.
"Sembarangan kalau ngomong!" sewotnya Devita dan Rindu pada Candra.
Bu Dosen menyuruh mahasiswa laki-laki yang bisa menyetir untuk mengambil mobilnya di depan gedung jurusan, Ita harus dibawa ke rumah sakit segera. Sembari menunggu Opi, mengambil mobil, Bu Dosen menyuruh Ita untuk menarik nafas keluarkan, namun apa yang terjadi saat Opi datang, bayi Ita sudah keluar dan ditangkap Bu Dosen.
"Hah?" teriak mereka yang melihat proses melahirkan secepat itu.
"Kapan kamu mengejan?" Bu Dosen kaget juga, karena si bayi sudah keluar dan langsung brol saja, untung tangan Bu Dosen sempat diarahkan ke jalan lahir Ita, dan sempat membuka rok Ita, tapi tak menyangka secepat ini.
Opi yang baru sampai terbengong di depan pintu, dengan wajah teman-temannya shock begitu, dan bayi di tangan Bu Dosen. "He, saya merangkap jadi Bu Bidan," ujar Bu Denok, mencairkan suasan hectic di kelas ini.
Bu Denok pun meminta salah satu dari mereka memanggil petugas kesehatan kampus, dan OB untuk membersihkan darah dan air ketuban ini. Semua mengikuti perintah Bu Dosen dengan nyawa tak lengkap, asal jalan saja. Masih shock juga.
Beberapa mahasiswa dari kelas lain pun ikut penasaran, ada yang melihat ingin masuk namun Opi menghadang mereka. Karin duduk di samping kursi Ita dengan menangis, mungkin kalau dia gak meninggal, dia akan melahirkan seperti Ita. Salsa melihat Karin, tiba-tiba iba saja pasti jiwa keibuan hantu itu muncul. Rasa sakit bekas cakaran juga tak terasa perih, moment riweh ini sangat menyisakan kenangan bagi kelas ini.
Saat petugas kesehatan datang, mereka diminta keluar, semua diam dan tak mau pergi memilih menunggu di depan kelas. "Obati bekas cakaran di tangan kamu, Sal!" ucap Bu Dosen yang sempat minta obat merah ke petugas dan plester.
Rindu menerima obat tersebut lalu mengobati lengan Salsa. Candra yang sempat bikin salah, datang membawa air mineral buat Salsa, dan menyodorkannya.
"Makasih, Can!" ucap Salsa dengan suara lemahnya.
"Sal, kamu harus ikuti cowok itu deh," baru juga tenang, Karin bikin gaduh lagi menyuruh Salsa berbuat keribetan lagi. Hufh. Kepala Salsa diarahkan Karin ke arah pemuda yang melihat mereka lalu naik ke tangga lantai tiga sembari menggunakan earphone.
"Gue capek," keluh Salsa berniat menolak perintah Karin, tapi temannya mengira dia capek karena menjadi korban cakaran, sehingga Opi langsung mengipasi Salsa, dan membuat mereka semua tertawa.