Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Target Dadakan, Elias
Permukaan cermin itu bergetar hebat, membiaskan cahaya keunguan "Aku cermin ajaib, Bianca. Aku hidup dari apa yang kau pantulkan. Setiap desah napasmu, setiap tetes keringat, dan setiap kehancuran pria-pria yang kau jerat adalah makanan bagiku. Aku menikmati emosi, obsesi, kegilaan, dan keputusasaan yang mereka rasakan saat menyentuhmu. Semakin kau bergelimang dosa dan harta, semakin kuat eksistensiku di dunia ini."
Lora berhenti sejenak, lalu suaranya merendah, nyaris berbisik di dalam benak Bianca.
"Kau mendapatkan dunia, dan aku mendapatkan jiwamu sebagai panggung pertunjukanku. Bukankah itu kesepakatan yang adil? Tanpaku, kau daging remuk tak bernyawa di trotoar. Denganku, kau adalah dewi yang akan membuat seluruh pria di Paris bertekuk lutut."
...****************...
Pagi menyapa dengan aroma kopi dan sisa gairah yang masih tertinggal di udara. Hernan bersiap pergi, ia ada perjalanan bisnis ke Skotlandia.
"Kau belum mengambil kartu kreditku?," bisik pria itu. Ia mengecup jemari Bianca, lalu dengan posesif tindakan cabul di dada Bianca. Bianca tidak terkejut, memang begitulah Hernan.
"Belum, aku menunggumu memberikanya saja." jawab Bianca sembari tersenyum.
Hernan menyesap kopi buatan Bianca dan memakan sandwichnya sedikit. "Bawalah, beli apa pun yang kamu suka. Terima kasih sarapannya, aku berangkat dulu."
"Hati-hati. Jangan nakal selama di Skotlandia," jawab Bianca datar.
Dulu, sebelum ia mengalami kematian dan hidup kembali, kalimat itu selalu ia ucapkan dengan rasa cemas takut kehilangan, dikhianati. Namun kini, setelah ia tahu bagaimana akhir hubungannya dengan Hernan dan diikat oleh kutukan cermin kuningan itu, rasa gentar itu lenyap.
Satu jam setelah Hernan beranjak pergi, Bianca mulai merasa haus akan tantangan baru. Ia ingin menguji perkataan Lora untuk memikat pria asing.
"Baiklah, Lora. Aku ingin mencari pria tampan, panas di ranjang, dan tentu saja kaya raya," ucap Bianca lantang. Ia menutup bedak padat berbentuk kerang dengan warna pink hologram miliknya. Lora memang licik; ia bisa bermanifestasi dalam bentuk cermin apa pun yang ada di dekat Bianca, membuatnya tak perlu repot membawa cermin segede gaban yang berat itu ke mana-mana.
Tiba-tiba, permukaan bedak kerang itu bergetar di genggaman Bianca. Suara Lora berdengung di kepalanya.
"Pilihan yang cerdas, Bianca. Mengapa terpaku pada satu pejantan jika seluruh dunia bisa menjadi peternakanmu?"
Permukaan cermin bedak itu menunjukkan sekilas bayangan sebuah bar hotel mewah di pusat Paris.
"Pergilah ke Hotel Ritz malam ini. Kenakan gaun yang paling tidak sopan. Ada seorang taipan Spanyol yang sedang mencari hiburan. Dia tidak hanya kaya, tapi juga punya selera yang 'kotor' di ranjang—persis seperti yang kau butuhkan untuk tetap awet muda. Ingat, Bianca... buat dia memohon, tapi jangan biarkan dia memiliki hatimu. Begitu dia merasa memiliki jiwamu, aku akan mengambil nyawamu."
Bianca tersenyum tipis. "Aku mengerti, Lora. Aku hanya akan mengambil hartanya, dan mungkin... sedikit tenaganya, ayo kita ke toko perhiasaan."
...****************...
"Aku ingin koleksi terbaru," lanjut Bianca sembari menatap deretan perhiasan di balik etalase kaca. "Sebuah gelang dan kalung yang indah, tentu dengan kualitas berlian terbaik."
Pegawai itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berisi perhiasan yang berkilau di bawah lampu kristal toko. "Ini adalah seri L’Éclat Éternel, Nona. Hanya ada tiga set di seluruh Paris."
Bianca menyentuh butiran berlian itu dengan ujung jarinya, merasakan dinginnya batu berharga yang akan segera menjadi miliknya tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun dari sakunya sendiri.
Bianca mencoba perhiasan itu di depan cermin, mengamati bagaimana berlian-berlian itu membiaskan cahaya di kulitnya. Di dalam pantulan tersebut, Lora tersenyum miring.
"Sangat serasi untuk leher jenjangmu, Bianca," bisik Lora pelan.
Wajah Lora adalah replika sempurna dari wajah Bianca, namun hanya Bianca yang bisa melihat ekspresi licik itu. Bagi orang lain yang berada di sana, cermin tersebut hanya memantulkan sosok Bianca yang sedang mengagumi kecantikannya sendiri.
Bianca memperhatikan sejenak pria tukang kayu itu. Pemandangan itu sangat kontras dengan kemewahan yang mengelilinginya. Di antara kilauan berlian dan aroma parfum mahal, pria itu membawa aroma maskulin yang berbeda: bau kayu pinus, keringat yang jujur, dan debu gergaji.
Pria itu, yang dipanggil temannya sebagai El, memiliki bahu yang lebar dan lengan yang kokoh dengan urat-urat yang menonjol, hasil dari kerja keras fisik bertahun-tahun.
Rambutnya sedikit berantakan, dan meskipun pakaiannya sederhana, ada daya tarik liar yang tidak bisa disembunyikan.
"Lihat itu, Bianca..." suara Lora mendesis, kali ini bukan dari bedak kerang, melainkan dari pantulan kaca etalase yang sedang diperiksa si tukang kayu. "Daging segar. Dia tidak memiliki emas, tapi lihatlah stamina itu. Dia sangat bugar, sehat, dan penuh dengan energi kehidupan yang murni. Tidak ada racun alkohol atau gaya hidup mewah yang merusak tubuhnya."
Bianca mengerutkan kening, masih memegang kartu kredit Hernan di tangannya. "Dia hanya tukang kayu, Lora. Dia tidak punya apa-apa untuk kukurung."
"Siapa bilang kau hanya harus memangsa singa?" Lora tertawa kecil, suara itu bergetar di permukaan kaca. "Sesekali, kau butuh makanan organik untuk menjaga apimu tetap bersih. Hernan memberikanmu harta, tapi pria seperti dia... dia bisa memberikanmu ledakan energi yang berbeda. Dan ingat, kau butuh pria yang 'perkasa' dan 'sehat'. Dia memenuhi semua syarat itu, bukan?"
Bianca menatap pria itu lagi. Saat si tukang kayu membungkuk untuk memeriksa engsel, otot punggungnya menegang di balik kemeja flanelnya. Tiba-tiba, pria itu mendongak, seolah merasakan sepasang mata yang mengawasinya.
Mata mereka bertemu.
Mata pria itu berwarna cokelat jernih, tajam namun jujur. Ia tampak tertegun melihat Bianca, seorang dewi yang berlumur berlian di tengah toko mewah. Ada rona merah tipis yang muncul di wajah pria itu, sebuah reaksi polos yang sudah lama tidak Bianca lihat pada pria-pria kelas atas seperti Hernan.
"Nona? Ini kartu kredit Anda," suara manajer toko memecah keheningan, mengembalikan kesadaran Bianca.
Bianca mengambil kartu itu, namun matanya tetap terkunci pada si tukang kayu. Sebuah ide nakal muncul di kepalanya. Jika ia harus terus menyalakan apinya, mengapa harus selalu dengan pria yang mengenakan jas?
"Tunggu," panggil Bianca saat pria tukang kayu itu hendak mengangkat bagian etalase yang rusak.
Pria itu berhenti, menatap Bianca dengan canggung. "Ya, Nona?"
"Siapa namamu?" tanya Bianca dengan nada memerintah namun lembut, persis seperti seorang majikan yang sedang memilih peliharaan baru.
"Elias, Nona. Elias Thorne," jawabnya dengan suara bariton yang rendah dan jujur.
Bianca tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Elias menahan napas. "Elias... apartemenku di Le Manoir d'Argent sepertinya punya beberapa furnitur kayu yang butuh sentuhan tangan ahli. Datanglah besok sore, setelah urusanmu di sini selesai."
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?