NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari jarak sebenarnya. Senja duduk diam di bangku mobil belakang, menatap jalanan yang dikenalnya sejak kecil, warung di sudut gang, pagar besi berkarat, pohon mangga yang dulu sering dipanjat adiknya. Semua tampak sama. Tapi dirinya tidak.

Tubuhnya masih lemah. Kepalanya sesekali berdenyut. Dan ada gelisah yang tak mau pergi, menempel di dada seperti debu basah. Ia menarik napas pelan, menahan mual yang datang dan pergi, lalu menggenggam tasnya erat, satu-satunya benda yang terasa bisa diandalkan.

Perlahan matanya terpejam karena kantuk tiba-tiba melanda, padahal perjalanannya hampir sampai tujuan.

Deka yang sedang menyetir beberapa kali mengamati dari cermin depan, entah memastikan Senja baik-baik saja atau mungkin ada maksud lain. "Senja, kamu tidur?"

Tidak ada jawaban. Itu membuat Deka dan Jelita saling pandang, yakin Senja benar-benar terlelap.

"Dia pasti sangat kelelahan," ucap Jelita yang duduk di bangku sebelah bangku sopir.

"Sepertinya."

Jelita sedikit condong ke Deka, lalu berbisik sangat pelan. "Aman, kan?"

"Harusnya. Dia keliatan nggak curiga," jawab Deka.

Jantung Senja berdegup keras. Matanya memang terpejam, tapi telinga mendengar. Ucapan mereka benar-benar terekam jelas.

Yang dia lihat kemarin bukan halusinasi.

Bukan salah lihat. Bukan kesalahpahaman. Tangannya mengepal. Dadanya perih, entah karena luka batin atau bekas malam itu, ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Rumah Senja akhirnya tampak. Atap seng yang sudah pudar, tembok dengan cat yang mengelupas. Senja berdiri sejenak di depan pintu, berharap dunia berhenti sejenak, memberi jeda baginya untuk sekedar mengatur napas.

Senja baru saja selamat dari malam yang nyaris merenggut nyawanya. Ia berharap, meski kecil, akan ada pelukan, atau setidaknya wajah khawatir.

Namun... sambutan tak ramah langsung terdengar ketika ia membuka pintu.

"Baru pulang?"

Suara ibunya--Winarti-- sama sekali tidak menggambarkan sebentuk kecemasan apalagi penuh kasih sayang. Suaranya terdengar datar, dingin, dan perhitungan.

"Iya, Bu," jawab Senja pelan.

Gadis itu melangkah masuk, meletakkan tas di rak sudut, melepas jaket yang masih menyimpan bau hutan. Lututnya gemetar sedikit saat ia berdiri. Belum sempat duduk, suara ibunya kembali memotong.

"Kamu tahu nggak jam berapa sekarang?"

"Siang, Bu."

"Dan kamu tahu harusnya kamu ngapain hari ini?"

Senja menunduk. "Kerja part time."

"Harusnya," ibunya menekankan. "Kamu masuk kerja. Bukannya malah main ke gunung segala. Kelulusan dirayain pakai capek-capekan. Pemasukan berkurang. Kamu pikir beras beli pakai apa?" Kata-kata tajam meluncur satu persatu dari bibir, mencambuk tanpa ampun.

"Aku---" Senja mencoba bicara. "Aku tersesat, Bu. Aku---"

"Tersesat?" ibunya tertawa pendek, sinis. "Alasan."

"Aku... hampir mati kedinginan, Bu..."

"Nggak usah drama."

Ayahnya duduk di meja makan, rokok mengepul, kopi hitam di atas meja. Ia melirik sekilas tanpa ekspresi berarti, lalu kembali menatap televisi yang suaranya terlalu keras. Diam... diam yang lebih menyakitkan dari makian.

Senja menelan ludah yang terasa berat. Dadanya sesak oleh kepiluan. "Aku sakit, Bu," katanya pelan. "Aku hampir---"

Ibunya mendekat. Matanya menyipit, meneliti wajah Senja dengan curiga. Pandangannya turun ke leher.

"Ini apa?"

Sebelum Senja sempat menutup, tangan ibunya sudah menyibak rambutnya, lalu menarik kerah bajunya kasar, hingga kain tersibak, memamerkan kulit di baliknya.

Ada bercak merah. Tidak satu, tidak dua, tapi ada beberapa. Ada di leher. Ada di dada. Jejak-jejak yang ditinggalkan Sagara menusuk mata ibunya.

Suasana hening sejenak, lalu meledak seperti bom nuklir.

"Kurang ajar! Dasar nggak tahu malu!" bentak ibunya. "Kamu pikir aku buta?!"

"Bu---itu bukan---"

Ibunya menarik bajunya lebih lebar, memastikan apa yang ia lihat. Ekspresi wajahnya berubah cepat, bukan sedih, bukan juga kaget, tapi jijik sekaligus marah.

"Pantesan! Pantesan betah ke gunung," katanya keras. "Cari laki-laki, ya? Biar ada yang sentuh-sentuh!"

Senja gemetar. Tangannya reflek menutup dadanya. "Bukan begitu, Bu," suaranya pecah. "Aku hampir mati kedinginan---"

"Alasan lagi!" Ibunya mencengkeram lengan Senja. Terasa kuat dan menyakitkan. "Dasar anak nggak tahu diri!"

Ayahnya masih santai mengisap rokok. Menghembuskan asap. Tidak berkata apa-apa. Masa bodoh.

Ibunya menoleh pada si ayah, matanya menyala. "Kamu diam aja? Ini anakmu! Maju jadi wanita nakal!"

Ayahnya mengangkat bahu. "Sudah besar. Pasti tahu tanggung jawab."

Kalimat itu jatuh seperti palu terakhir.

Ibunya tertawa pahit. "Dengar tuh? Ayahmu aja malu sama kamu."

Ia menyeret Senja ke depan. Pintu dibuka lebar. Di luar, beberapa ibu kompleks sedang duduk di bangku panjang, ngerumpi sore. Tawa mereka terhenti saat melihat pemandangan itu.

"Ini, Bu-ibu," suara ibu Senja meninggi, sengaja. "Anak saya. Baru lulus, tapi kelakuannya kayak apa!"

"Bu, jangan." Senja memohon. Air mata mengalir. "Aku capek. Aku sakit."

"Sakit?" Ibunya mendengus. "Aku lebih sakit. Sakit hati punya anak begini!"

Ia mendorong Senja ke depan, membuatnya tersandung. "Lihat! Lehernya! Dadanya! Masih berani pulang ke rumah!"

Bisik-bisik mulai pecah. Tatapan para ibu-ibu kompleks mulai menilai dan menghakimi.

"Ya ampun…"

"Masih muda…"

"Pantesan ibunya marah…"

Senja menutup telinga serasa ingin menghilang saja dari dunia. Ibu yang harusnya jadi rumah justru menjadikannya santapan gosip para tetangga. Harga dirinya diobral dengan nilai receh.

Adik lelaki Senja muncul, berdiri di ambang pintu. Remaja lelaki itu memandangnya sekilas, lalu mencibir. "Najis, punya kakak kayak lo."

Kata itu menusuk lebih dalam dari bentakan mana pun, menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.

"Masuk kamu!" Ibu Senja menyuruh putranya. "Nanti ketularan bejad kelakuannya."

Adiknya menurut. Tanpa menoleh lagi, apalagi membela. Itu tidak ada dan tidak bakal terjadi.

Senja berdiri di depan pintu rumahnya sendiri, tapi merasa seperti tamu yang tidak diinginkan.

Ibunya mencondongkan badan, berbisik tajam di telinga Senja. "Kamu bikin malu keluarga. Jangan harap ibu akan nampung kamu kalau sampai hamil."

Ayahnya meneguk kopi tetesan terakhir. Meletakkan cangkir. "Sudah. Jangan ribut terus."

Ibunya mendengus kesal seperti banteng, lalu berbalik masuk. Pintu ditutup keras.

Senja terduduk di lantai teras. Tangannya menutup wajah. Tangisnya pecah menyayat hati. Sunyi, tercekik, sendirian, itu yang dirasakan.

Di tempat lain, jauh dari rumah itu, Sagara duduk di kursi mobilnya, menatap kosong ke depan.

Tangannya masih gemetar saat mengingat wajah Senja pagi tadi, pucat, menahan nyeri, berusaha kuat. Setiap kali memejamkan mata, ingatan malam itu datang lagi. Dingin, panik, keputusan yang tak punya pilihan, menjadi satu.

Rasa bersalah itu tidak pergi. Justru semakin berat saat menyaksikan Senja pulang ke rumah yang tidak pernah ramah padanya. Sagara melihat kelakuan ibunya tadi.

Sagara tidak mencari pembenaran atas perbuatannya. Ia tahu satu hal, apa pun yang terjadi, ia adalah bagian dari akibatnya.

Kakek Adam duduk di kursi sebelah, menatap jalan. "Kamu belum bicara dari tadi."

Sagara menghela napas. "Aku salah, Kek."

Kakek menoleh, keningnya mengernyit. "Bukannya kamu menyelamatkan nyawa anak orang?"

"Itu tidak menghapus kesalahan yang lain."

Kakek terdiam. Arah pembicaraan Sagara membuatnya semakin yakin bahwa sesuatu telah terjadi di antara Sagara dan Senja. "Kamu mau tanggung jawab?"

Sagara mengangguk tanpa ragu. "Iya."

"Konsekuensinya berat."

"Aku tahu."

Kakek tersenyum pahit, tapi terselip juga kelegaan. "Kamu akhirnya dewasa."

Sagara menutup mata. Di benaknya, wajah Senja muncul lagi, kecil, rapuh, sendirian di depan rumah yang menolaknya.

Ia merogoh ponsel. Mengetik pesan. Menghapus. Mengetik lagi. Jarinya berhenti. Butuh waktu cukup lama untuk menulis satu kalimat.

Aku akan datang. Tunggu aku.

Pesan terkirim ke nomor telepon Senja yang tadi sempat dimintanya sebelum berpisah tadi.

Sagara menatap layar, dadanya berdebar.

Ia tidak tahu apakah Senja masih ingin melihatnya. Ia tidak tahu apakah keluarga Senja akan menerima apa pun selain caci maki.

Yang ia tahu hanya satu, Malam terlarang itu telah mengikat mereka.

Dan kini, dunia mulai menagih harganya.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!