Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 5
Perguruan Lembah Teratai adalah satu di antara sedikit perguruan besar yang sepuluh tahun lalu berdiri di pihak Putra Mahkota dalam perebutan harta kekuasaan Kerajaan Liungyi. Dukungan itu bukan tanpa alasan. Di balik keputusan besar tersebut, ada nama Jenderal Ziang Guang, jenderal terkuat Kerajaan Liungyi sekaligus pendekar legendaris yang berasal dari Perguruan Lembah Teratai.
Saat Istana berhasil direbut kembali dan Putra Mahkota naik takhta, Ziang Guang memilih melepaskan seluruh jabatan militernya. Ia menolak gelar dan penghargaan karena usianya, lalu kembali ke akar kehidupannya sebagai pendekar. Dua tahun terakhir, ia menetap di Perguruan Lembah Teratai, menjalani hari-hari dengan meditasi dan pengasingan diri.
Di sebuah bukit sunyi yang menghadap ke lembah berkabut, Ziang Guang duduk bersila. Nafasnya teratur, auranya tenang namun berat, seakan menyatu dengan alam di sekitarnya.
Ketenteraman itu tiba-tiba terusik.
“Tetua Ziang, Tetua Ziang!”
Seorang murid perguruan berlari tergesa-gesa mendaki bukit. Nafasnya tersengal, wajahnya pucat oleh kecemasan.
“Tetua Ziang, ada kabar buruk!”
Ziang Guang perlahan membuka mata. Rambutnya yang telah memutih tertiup angin gunung, namun sorot matanya tetap tajam seperti bilah senjata. Ia menarik nafas panjang sebelum bangkit berdiri dan menoleh ke arah murid tersebut.
“Katakan,” ucapnya pelan, tetapi suaranya terdengar jelas dan tegas.
“Tetua, kami melihat sekelompok orang asing bergerak menuju wilayah Perguruan. Gerak-gerik mereka mencurigakan.”
“Apakah kamu mengenali mereka?” tanya Ziang Guang.
“Tidak, Tetua. Mereka menutupi wajah, dan jumlahnya sekitar empat puluh orang.”
Ziang Guang mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang, namun matanya menyiratkan kewaspadaan.
“Apakah semuanya sudah tahu?”
“Sudah, Tetua. Seluruh perguruan dalam kondisi siaga. Murid-murid kecil telah dipindahkan ke bukit sebelah demi keselamatan.”
Ziang Guang melangkah ke sisi batu besar tempat golok panjangnya disandarkan. Tangannya menggenggam gagang senjata itu dengan mantap.
“Baik. Kamu kembali dulu. Aku akan segera menyusul.”
Murid tersebut memberi hormat dalam-dalam sebelum berlari kembali ke perguruan.
Ziang Guang memandang ke arah lembah yang tertutup kabut. Ia menghela nafas panjang, seolah menertawakan nasibnya sendiri.
“Benar-benar sulit merasakan hidup damai,” gumamnya lirih.
Sesaat kemudian, tubuhnya melesat turun dari bukit dengan kecepatan luar biasa, menggunakan ilmu meringankan tubuh yang yang sangat tinggi.
Sejak pensiun dari ketentaraan, ia telah menjual rumahnya di ibu kota. Seluruh harta benda dan kenangan duniawi ditinggalkannya. Baginya, Lembah Teratai adalah satu-satunya tempat yang masih mampu memberi ketenangan. Namun kini, bahkan ketenangan itu pun mulai terancam.
Ziang Guang langsung menuju Aula Utama perguruan. Di sana, para tetua telah berkumpul. Mereka adalah pilar pertahanan Lembah Teratai, pendekar-pendekar tingkat tinggi yang namanya disegani di dunia persilatan.
“Senior Ziang!”
Satu per satu para tetua memberi hormat begitu melihatnya masuk. Meski usia mereka tak jauh berbeda, semua tahu bahwa Ziang Guang bukan tetua biasa. Tingkat bela dirinya hampir setara dengan Maha Guru Jiao yang merupakan pemimpin Perguruan tersebut, namun saat ini, sang Maha Guru sedang melakukan latihan tertutup.
“Bagaimana situasinya?” tanya Ziang Guang.
“Mereka sudah memasuki jalur lembah, Senior,” jawab salah satu tetua dengan wajah serius.
“Siapa mereka, dan apa tujuan mereka datang secara sembunyi-sembunyi ke wilayah kita?” sahut tetua lain dengan nada curiga.
Ziang Guang terdiam sejenak, pandangannya menyapu wajah-wajah yang hadir.
“Untuk saat ini, kita tidak perlu berspekulasi. Perintahkan seluruh anggota agar tetap waspada, saling menjaga, dan tidak bertindak gegabah. Kita tunggu sampai mereka menampakkan tujuan sebenarnya.”
“Baik, Senior,” jawab salah satu tetua sebelum beranjak melaksanakan perintah.
Di dalam Aula yang luas itu, suasana menjadi semakin tegang. Tak seorang pun tahu bahwa kedatangan kelompok misterius tersebut bukan sekadar ujian bagi Perguruan Lembah Teratai, melainkan awal dari badai besar yang akan mengguncang perguruan yang damai itu.
—-
Kabut di jalur lembah semakin menebal ketika bayangan-bayangan hitam bergerak tanpa suara di antara pepohonan. Langkah mereka teratur, disiplin, jelas bukan gerombolan biasa. Empat puluh orang yang terlihat di depan hanyalah umpan. Di balik bukit-bukit batu dan celah sempit lembah, puluhan sosok lain telah lebih dulu mengambil posisi.
Mereka berasal dari Perguruan Aliran Netral.
Perguruan yang selama ini bersembunyi, namun justru menyimpan dendam terdalam terhadap satu nama.
Ziang Guang.
Sepuluh tahun lalu, ketika Kerajaan Liungyi berada di ambang kehancuran akibat pemberontakan, empat tetua Perguruan Aliran Netral diam-diam berpihak pada kaum pemberontak. Mereka bukan sekadar memberi perlindungan, tetapi ikut mendukung bahkan membantu strategi perang.
Sebagai Jenderal Kerajaan, Ziang Guang tidak memberi ampun.
Dalam satu pertempuran, keempat tetua itu tewas di tangannya. Tidak ada pengadilan. Tidak ada perundingan. Hanya keputusan seorang jenderal di medan perang.
Sejak saat itu, dendam Perguruan Aliran Netral tidak pernah padam.
Di balik topeng hitam, seorang pria bertubuh tinggi berdiri di atas batu besar, menatap ke arah Perguruan Lembah Teratai dari kejauhan. Matanya dingin, penuh kebencian yang dipendam bertahun-tahun.
“Hari ini, hutang darah itu akan dibayar,” ucapnya pelan.
Ia mengangkat tangan, memberi isyarat halus. Beberapa bayangan segera menyebar, memutari lembah, memutus jalur pelarian, dan mengepung dari segala arah. Tujuan mereka jelas. Ziang Guang harus mati. Namun itu belum cukup.
“Tidak boleh ada yang tersisa,” lanjut pria itu.
“Lembah Teratai harus lenyap malam ini.”
Sementara itu, di dalam Perguruan Lembah Teratai, suasana semakin tegang. Obor-obor dinyalakan, formasi pertahanan mulai dibentuk. Para tetua berdiri di posisi masing-masing, murid-murid senior memimpin barisan, sementara murid-murid muda telah disembunyikan sejauh mungkin.
Ziang Guang berdiri di depan Aula Utama, golok panjang tergenggam di tangannya. Angin malam berhembus pelan, namun instingnya berteriak keras.
Jumlah mereka tidak sedikit.
“Senior Ziang,” bisik salah satu tetua di sampingnya.
“Gerakan di lembah terasa ganjil. Sepertinya… mereka lebih banyak dari yang kita perkirakan.”
Ziang Guang mengangguk pelan. Ia sudah merasakannya sejak awal.
“Mereka datang bukan untuk menguji kekuatan,” ucapnya tenang.
“Mereka datang untuk membunuh.”
Tatapannya mengarah ke kegelapan lembah. Aura pembunuh yang samar namun pekat mulai merayap naik, menekan udara di sekeliling perguruan.
“Tapi kenapa?” tanya tetua lain dengan dahi berkerut.
“Kita tidak pernah bermusuhan dengan Perguruan mana pun.”
Ziang Guang terdiam sejenak. Wajah tuanya terlihat semakin dalam oleh bayangan obor.
“Aku tidak yakin, mungkin mereka datang bukan untuk Lembah Teratai,” katanya akhirnya.
“Mungkin sasaran mereka adalah aku.”
Beberapa tetua terkejut mendengar itu.
“Senior, maksudmu…”
“Perguruan Aliran Netral,” lanjut Ziang Guang tanpa ragu.
“Aku mengenali cara mereka bergerak. Terlalu rapi untuk pembunuh bayaran, terlalu kejam untuk sekadar peringatan.”
Hening seketika menyelimuti Aula.
“Kalau begitu, biarkan kami menghadapi mereka bersama, Senior,” ucap seorang tetua dengan suara mantap.
“Lembah Teratai tidak akan menyerahkan salah satu pilarnya begitu saja.”
Ziang Guang menoleh, menatap satu per satu wajah yang telah bersamanya melewati banyak badai.
“Aku tidak akan lari,” katanya tegas.
“Namun ingat, tujuan mereka bukan hanya kepalaku, dari jumlah yang datang, sepertinya mereka juga ingin memusnahkan perguruan ini.”
Seolah menjawab kata-katanya, sebuah anak panah melesat dari kegelapan dan menancap di tiang gerbang utama. Pada batangnya terikat sehelai kain hitam dengan simbol aneh terukir di atasnya.
Simbol Bergambar Awan.
Ziang Guang melangkah maju, mencabut anak panah itu, lalu memandang ke arah lembah.
“Kalau kalian menginginkan nyawaku,” ucapnya lantang, suaranya menggema menembus malam.
“Datanglah dengan terang-terangan.”
Sesaat kemudian, suara langkah kaki serempak mengguncang lembah. Dari balik kabut, satu per satu sosok bertopeng mulai bermunculan.
Malam itu, Lembah Teratai tahu, pertempuran yang akan terjadi bukan sekadar bentrokan biasa, melainkan pembantaian yang telah direncanakan dengan matang.
Dan darah, sekali lagi, akan membasahi tanah yang selama ini dianggap paling damai.