Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Jaga Jarak
"Ya sudah atuh, Neng. Gimana kalau kita duduk di luar saja. Aku takut khilaf... Eh, anu maksudnya. Lebih enak gitu di luar," tutur Ogi gelagapan. Dia bahkan tak berani menatap mata Arisa.
'Aku kan harus jaga jarak sama Neng Arisa. Jangan sampai aku punya perasaan lebih dalam sama dia,' batin Ogi.
"Tapi aku mau rebahan di sini, Kang! Nggak apa-apa atuh." Arisa membaringkan tubuhnya ke ranjang. Sementara Ogi masih mematung di tempatnya.
Tiba-tiba Arisa menunjukkan tangannya ke arah plafon. "Dari sana! Binatang itu jatuh. Emangnya udah biasa ya ada kelabang gitu di rumah?" imbuhnya.
"Di setiap rumah pasti ada, Neng. Apalagi kalau banyak rayapnya. Karena rayap itu adalah makanannya. Hewan itu memang berbahaya atuh, Neng. Tapi Gusti Allah menciptakan semua makhluk itu pasti ada manfaatkannya atuh," jelas Ogi panjang lebar. Dia memilih duduk di kursi.
"Kok kau malah ceramah sih." Arisa terkekeh. "Kau akan duduk di sana?" tanyanya.
"Aku di sini aja atuh, Neng..." jawab Ogi.
"Tapi aku merasa nggak nyaman kalau kau duduk di situ. Lebih baik kau ikut berbaring gitu sama aku. Di sini!" kata Arisa sembari menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya.
Wajah Ogi sontak bersemu merah bak kepiting rebus. Dia menggeleng dan berucap, "Enggak, Neng! Jangan atuh..."
Arisa memperhatikan Ogi yang tampak malu, dan dia menyadari itu. Sikap malu Ogi terasa begitu menggemaskan baginya. Membuat naluri jahilnya seketika muncul.
Arisa merubah posisi menjadi duduk. "Kang Ogi salting ya?" timpalnya.
"A-apa? Salting? Enggak kok. Ini Neng Arisa emangnya nggak kesakitan lagi?" balas Ogi, sengaja merubah topik pembicaraan di akhir.
"Udah berkurang. Kayaknya pengobatanmu tadi manjur," sahut Arisa. Dia tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke hadapan Ogi. Jelas dirinya sengaja melakukan itu untuk membuat Ogi salah tingkah.
Benar saja, Ogi jadi salah tingkah. Jantungnya bergemuruh tak karuan.
"E-eneng mau apa?" gagapnya sambil berusaha menghindar.
"Ternyata Kang Ogi lucu juga ya. Itu wajahnya merah banget. Kayak mau meledak. Hahaha!" Arisa yang tadinya menangis, kini bisa tertawa pecah.
"Merah banget ya, Neng?" Ogi tampak memegangi wajahnya. Dia bahkan berbalik ke arah cermin yang ada di belakangnya.
"Iya, kan tadi aku udah bilang merahnya kayak mau meledak. Kau itu sebenarnya udah pernah pacaran atau nggak sih, Kang? Kesannya kayak masih polos banget," ungkap Arisa.
"Pernah atuh, Neng. Kan Neng tahu sendiri ceritanya. Aku nggak sepolos itu kok," bantah Ogi.
"Terus kau pernah ngapain aja sama pacarmu dulu?" tanya Arisa.
"Ngobrol biasa aja atuh, Neng. Jalan-jalan, terus kadang aku ajak tadarus bareng," ungkap Ogi.
"Oh... Itu terdengar membosankan. Pantes pacarmu selingkuh. Eh, maaf, Kang!" Arisa menutup mulutnya dengan tangan.
"Terus kalau, Eneng? Ngapain aja dulu pas pacaran?" ujar Ogi.
Arisa tersenyum tipis. "Rahasia atuh, Kang. Kecuali kalau Kang Ogi jadi pacarku, baru deh bisa tahu," sahutnya sengaja menggoda.
"Tapi aku suamimu sekarang kan? Itu lebih dari sekedar pacar!" balas Ogi.
"Aku akan beritahu kalau Kang Ogi berani tiduran di sebelahku," tanggap Arisa. Dia kembali telentang ke ranjang.
Ogi terdiam seribu bahasa. Entah kenapa tantangan Arisa terasa seperti ejekan untuknya sebagai seorang lelaki. Alhasil Ogi memutuskan memberanikan diri telentang di sebelah Arisa. Sepertinya dia sangat penasaran dengan bagaimana gaya pacaran Arisa.
Ogi sengaja telentang di paling ujung, guna menjaga jarak dari Arisa. Tubuhnya bahkan kaku seperti robot. Yang ada dia justru kembali ditertawakan oleh Arisa.