Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Her Boyfriend?
"Sore, Tante," sapa Disa pada Bu Diah ketika tiba di rumah Dawai.
"Eh, Disa. Mau jalan sama Dawai?" tanya Bu Diah pada Disa dengan ramah.
"Iya, Tan. Diajakin Dawai," kata Disa.
"Lagi jomblo soalnya dia, Ma," sahut Dawai yang ternyata sudah berdiri di depan pintu.
"Ooh... Ya udah, sesama jomblo nggak boleh saling ngeledek," kata Bu Diah dengan wajah datar.
"Mama, ih," protes Dawai. Disa meringis mendengar kata-kata Bu Diah.
"Ya udah, Ma. Dawai pamit," ucap Dawai sambil mencium tangan mamanya.
"Disa pamit dulu, Tante," ucap Disa juga sambil mencium tangan Bu Diah.
"Ati-ati, ya," pesan Bu Diah sambil menatap punggung puteri dan sahabatnya berlalu. Bu Diah mengulum senyum.
'Kenapa mereka nggak pacaran aja?' batin Bu Diah, lalu melanjutkan aktivitas bersih-bersihnya.
Disa mulai bersiap melajukan motor matic hitamnya setelah Dawai selesai nangkring sambil memakai helm di atas motor Disa.
"Ke mall biasa?" tanya Disa memastikan tujuan mereka.
"Iyalah," jawab Dawai singkat.
"Berdoa dulu," kata Disa sambil tersenyum.
"Udaaaaah...."
"Ya udah turun," kata Disa sambil melihat ekspresi Dawai dari kaca spion.
"Bodo," jawab Dawai yang sudah hafal dengan candaan garing Disa. Disa tersenyum simpul melihat reaksi sahabat kecilnya itu, lalu melajukan motornya perlahan menuju tempat tujuan mereka.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam. Disa tak begitu suka ngobrol saat mengendarai motor. Selain karena tidak begitu terdengar apa yang dibicarakan lawan bicaranya, dia juga tidak bisa fokus berkendara. Dawai sudah sangat tahu tentang hal itu, dan memilih menikmati perjalanan dengan menyapukan pandangannya ke kanan kiri jalan.
Tak membutuhkan waktu lama, Disa dan Dawai sudah berada di area parkir mall tujuan mereka. Setelah melepas helm dan merapihkan rambut, keduanya berjalan menuju pintu masuk mall.
Dawai dengan santai menggaet lengan Disa sambil nyengir. Disa yang gemas dengan tingkah manja sahabatnya itu, dengan santai menoyor dahi Dawai yang sedang cengar cengir. Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih bagi orang yang tak tahu seberapa dekat hubungan mereka.
"Lu yang traktir kan?" tanya Disa pada Dawai saat memasuki mall.
"Yaelah... Cemas amat sih," jawab Dawai, tangannya masih menggaet lengan Disa.
"Nggak bawa dompet," kata Disa santai.
"Klise,"
"Beneran,"
Dawai hanya mencebikan bibirnya, mengetahui kebohongan Disa. Disa terkekeh melihat reaksi Dawai.
"Miss Dawai?" sebuah suara cukup mengejutkan Dawai.
Dilihatnya sosok cowok tengah berdiri di hadapannya. Dengan reflek, Dawai melepaskan tangannya yang sedari tadi menggaet lengan Disa. Disa mengerutkan alisnya sambil menatap Dawai dan sosok cowok di hadapan mereka secara bergantian.
'Siapa cowok ini?'
***
'Miss? Muridnya Dawai? Dia?' batin Disa tak percaya melihat sosok cowok, yang terbilang tak terlihat seperti seorang siswa SMA, berdiri di hadapannya.
"Ehem... Siapa, Sayang?" tanya Disa pada Dawai sambil merangkul bahu Dawai. Dawai yang cukup terkejut, menoleh ke arah Disa sambil menatap Disa penuh tanya. Disa hanya tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya saat menoleh ke arah Dawai.
"Oh... Itu... Ryan. Murid kelas dua belas di SMA tempat aku ngajar," jawab Dawai seolah tahu maksud sikap Disa.
"Oh... Yang tempo hari kamu ceritain?" tanya Disa santai.
'Kamu? Sejak kapan?' pekik Dawai dalam hati.
"I-iya," jawab Dawai sambil meringis.
"Kenalin. Disa. Her boyfriend," kata Disa pada Ryan sambil mengulurkan tangannya.
"Ryan," jawab Ryan singkat sambil meraih uluran tangan Disa sambil menatap tajam Disa. Dawai melirik ke arah Disa dan Ryan bergantian.
'Kenapa auranya mendadak gelap?' pikir Dawai.
"Ehem... Sayang, filmnya keburu main, nih," kata Dawai memecah suasana tegang yang menyelimuti Disa dan Ryan.
"Oh. Yuk kalo gitu. Kita duluan ya," pamit Disa pada Ryan santai, masih dengan merangkul bahu Dawai.
"Duluan ya, Ryan," pamit Dawai sambil tersenyum. Ryan hanya mengangguk dingin. Dawai dan Disa berlalu menuju atrium bioskop yang terletak di lantai tiga mall.
Ryan masih berdiri terpaku, menatap Disa yang berjalan dengan santai sambil merangkul bahu Dawai. Keduanya terlihat sedang ngobrol seru bak sepasang kekasih.
'Her boyfriend? She's got a boyfriend?' pikir Ryan masih tak mempercayai hubungan Dawai dan Disa.
"Woy! Ngliatin apa sampe bengong gitu?" kejut Rafa yang datang bersama Rendra dan Reno.
"Miss Dawai," jawab Ryan singkat dengan nada dingin khas dirinya.
"Hah? Serius?" tanya Rafa memastikan Ryan tidak sedang becanda, dan memang dia tidak pernah becanda. Ryan hanya mengarahkan dagunya ke arah Dawai di kejauhan, yang berjalan berdua dengan seorang pria yang sedang merangkul bahunya.
Rendra, Rafa, dan Reno melihat ke arah Ryan menatap. Mata Rendra sedikit terbelalak melihat pemandangan yang dilihatnya. Wanita yang menjadi targetnya tengah dirangkul oleh seorang pria. Seketika rahang Rendra mengeras.
"Mana sih?" tanya Rafa sambil menjulurkan lehernya dan melebarkan matanya demi mencari sosok guru incaran sahabatnya.
"Yang dirangkul cowok yang pake kemeja kotak-kotak coklat itu bukan?" tanya Reno memastikan. Ryan mengangguk.
"Mana? Mana? Oh! Itu! Eh? Cowok itu siapa? Pacarnya Miss Dawai? Atau jangan-jangan suaminya?" tanya Rafa beruntun. Pertanyaan terakhir Rafa membuat Rendra seketika menoleh ke arah Rafa.
"Wajar kan kalo dia udah punya suami. Banyak kan cewek-cewek sekarang yang nikah muda," kata Rafa mencoba melindungi diri dari kesalahan mulutnya yang tak bisa dikontrol.
"Her boyfriend," kata Ryan dingin.
"Boyfriend? Berarti masih pacar. Masih aman," kata Rendra. Ketiga sahabat Rendra seketika menoleh ke arah Rendra.
"Apa? Mereka belum menikah. Berarti masih ada kesempatan," kata Rendra menanggapi tatapan ketiga sahabatnya, lalu berjalan berlalu meninggalkan ketiga sahabatnya yang saling tatap.
"Kok lu tau kalo cowok itu pacarnya Miss Dawai?" tanya Reno pada Ryan penuh selidik saat mereka bertiga menyusul Rendra.
"Gue sempet nyapa Miss Dawai. Cowok itu ngenalin dirinya sebagai 'her boyfriend'," jelas Ryan dengan nada datar. Reno manggut-manggut mendengar cerita Ryan.
"Rendra keknya makin bersemangat buat naklukin Miss Dawai," kata Reno sambil menatap punggung Rendra.
"Lagian ini bukan pertama kalinya dia nargetin cewek yang udah punya cowok," kata Ryan.
"Gue rasa dia emang lebih semangat kalo targetnya udah punya cowok," kata Rafa dengan nada khawatir. Ryan tersenyum kecut menyadari bahwa sifat sahabat kecilnya itu tak pernah berubah.
"Dia akan bangga kalo bisa dapetin apa yang dimiliki orang lain. It's a bad side of him," kata Ryan. Rafa dan Reno manggut-manggut tanda setuju.
Keempat sahabat itu masuk ke mobil tanpa membahas tentang guru bahasa Inggris mereka. Keempatnya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Rendra sedari tadi diam tanpa suara, memikirkan sosok Dawai yang mengenakan baju biasa terlihat lebih imut dibanding saat di sekolah.
'It'll be more interesting than before,'
***
semngaatt ya thorrr