NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konvoi, Lumpur, dan Sepatu Limited Edition

Dini hari, pukul 04.30. Langit masih kelabu saat Every Riana sudah berdiri di tengah lapangan kampus, tempat truk-truk dan motor-motor River berkumpul. Tidak ada kantung mata, tidak ada rambut berantakan. Every tampil sempurna.

Ia mengenakan hoodie krem bermerek premium yang dipadukan dengan celana jogger senada, dan di kakinya... sepasang sneakers limited edition berwarna putih bersih, keluaran terbaru dari rumah mode ternama, yang harganya bisa membeli beberapa motor River. Rambutnya diikat kuda rapi, memamerkan anting berlian kecil di telinganya.

River menghampiri Every dengan sebuah jaket jeans lusuh di tangan. "Gue bilang pakaian tahan banting, Eve. Bukan iklan majalah fashion."

"Ini pakaian paling nyaman dan casual yang gue punya," balas Every dingin. Ia melirik sneakers putihnya. "Dan ini sepatu khusus untuk lapangan, kalau lo mau tahu. Harganya mungkin lebih mahal dari seluruh isi bengkel lo."

River hanya menggelengkan kepala, lalu menyodorkan jaket yang dibawanya. "Pakai ini. Atau lo mau mati kedinginan di atas truk terbuka gue?"

Every mendongak. "Gue nggak butuh jaket bekas lo."

"Ini jaket dari salah satu relawan kita. Nggak bekas, cuma nggak wangi parfum mahal lo aja," kata River, ekspresinya datar namun memaksa. "Pakai. Atau gue seret lo dari sini dan lo bisa pulang ke istana lo yang hangat."

Every mendengus sebal, namun akhirnya merebut jaket itu dan memakainya. Jaket itu kebesaran, membuatnya tenggelam, namun setidaknya mampu menahan dinginnya udara subuh. Every naik ke truk bak terbuka di sisi River, sedangkan anggota BEM lainnya naik di truk lain.

Konvoi pun dimulai. Truk-truk River melaju gagah, diikuti motor-motor trail yang siap menembus segala medan. Jalanan kota perlahan berganti menjadi pedesaan, lalu bebatuan, dan akhirnya... lumpur.

BRRAKK!

Truk River mendadak berhenti. Every terhuyung ke depan, nyaris menabrak punggung River. "Ada apa?"

River melompat turun tanpa banyak bicara. Every melihat ke depan, matanya membelalak. Di depan mereka, sebuah tebing kecil longsor, menutupi seluruh jalan dengan tumpukan tanah dan bebatuan licin. Truk taktis River tidak bisa lewat.

"Sial," gerutu River. "Harus lewat jalur memutar. Tapi itu bakal makan waktu dua jam lagi."

Every ikut melompat turun. Kakinya langsung terperosok ke dalam lumpur tebal. Sneakers limited edition-nya yang putih bersih kini berlumuran cokelat kotor.

"River! Sepatu gue!" pekik Every, suaranya naik satu oktaf.

River menoleh, menatap sneakers mahal yang kini tampak menyedihkan. "Itu yang namanya medan perang, Eve. Di sini, lumpur lebih berkuasa daripada label harga."

Every menatap lumpur yang menutupi sepatu kesayangannya dengan tatapan nanar, seolah sneakers-nya baru saja tewas di medan perang. Ia mengutuk dalam hati. Mungkin sepatunya, kurang mahal untuk medan perang ini.

"Ada jalan alternatif, tapi kita harus jalan kaki menembus hutan sekitar satu kilometer. Hanya yang sanggup yang ikut, sisanya akan memutar dengan truk," jelas River kepada semua relawan. "Gue akan pimpin yang jalan kaki. Ada yang mau ikut?"

Every mendongak, menatap River yang sudah bersiap dengan tas ranselnya. Semua relawan terlihat ragu.

"Gue ikut," kata Every tiba-tiba, membuat River menoleh padanya dengan kening berkerut.

"Lo yakin, Eve? Sepatu lo itu—"

"Gue nggak butuh ceramah," Every memotong dengan tajam, namun kali ini ada sedikit nada menantang di suaranya. Ia menatap sneakers-nya yang kotor, lalu menghela napas pasrah. "Gue cuma mau lihat, seberapa jauh sih 'neraka' yang lo maksud itu."

River menatap Every dengan senyum tipis, "Baiklah. Jangan bilang gue nggak ngasih peringatan, Tuan Putri. Karena setelah ini, sepatu lo itu nggak akan pernah putih lagi."

Every mendengus. "Gue bisa beli toko sepatu kalau gue mau, River. Tapi kali ini, gue mau lihat bagaimana lo bisa membuat gue berlutut di lumpur."

Every melangkah maju, mengikuti River yang mulai memimpin jalan menembus semak belukar. Lumpur semakin dalam, setiap langkah terasa berat, namun Every tidak mengeluh.

Jaket kebesaran yang ia pinjam dari River terasa hangat, dan setiap jejak lumpur di sneakers limited edition-nya adalah bukti bahwa ia sedang berada di garis depan. Bukan di belakang meja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!