NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Definisi Cantik di Mata Gus Azkar

"Mas..." panggil Rina lirih.

"Kenapa, Sayang?" sahut Gus Azkar, suaranya kini selembut sutra, tangannya mengusap sisa air mata di pipi Rina.

"Aku takut..."

"Ada Mas di sini, Sayang. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi."

"Tapi... kenapa Mas mau sama wanita jelek kayak aku? Aku juga... aku juga tepos," ucap Rina pelan, hampir tak terdengar karena rasa malunya yang amat sangat.

Gus Azkar sempat terdiam. Ia benar-benar bingung dengan jalan pikiran istrinya. Jelek dari mana? Tepos dari mana? tanyanya dalam hati. Padahal, sejak tadi ia harus berjuang mati-matian menahan diri karena melihat betapa menggoda dan "berisi" tubuh istrinya itu.

Gus Azkar menarik napas panjang, lalu ia tersenyum tipis—senyuman yang terlihat sangat tulus sekaligus nakal.

"Rina, dengarkan Mas," Gus Azkar meraih tangan Rina dan meletakkannya tepat di dadanya yang masih telanjang, agar Rina bisa merasakan detak jantungnya yang masih kencang. "Mas tidak tahu siapa yang bilang kamu jelek atau 'tepos'. Tapi Mas punya mata sendiri, dan Mas punya penilaian sendiri."

Gus Azkar mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Rina yang memerah. "Kamu itu cantik sekali, Rina. Sangat cantik sampai Mas hampir tidak kuat menatapmu lama-lama. Dan soal 'tepos'..." Gus Azkar menjeda kalimatnya, matanya melirik nakal ke arah tubuh Rina yang tadi sempat ia jamah.

"Sepertinya kamu butuh kacamata baru, atau kamu terlalu sering membandingkan diri dengan video-video di HP-mu itu," bisik Gus Azkar sambil terkekeh rendah. "Bagi Mas, kamu itu lebih dari cukup. Kamu sangat... berisi di tempat yang tepat. Mas bahkan kewalahan tadi, ingat?"

Rina langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gus Azkar, tangannya memukul pelan dada bidang suaminya. "Mas Azkar mesum!"

"Lho, Mas bicara fakta," balas Gus Azkar sambil mengeratkan pelukan. "Mulai sekarang, buang semua kata 'jelek' atau 'tepos' itu ke laut. Di mata Mas, kamu adalah perhiasan paling indah yang pernah Mas miliki. Tubuhmu, hatimu, dan sifat manjamu ini... semuanya Mas suka."

Rina mulai merasa tenang. Kehangatan tubuh Gus Azkar dan kata-kata pujiannya seolah menjadi obat yang mematikan racun dari masa lalunya. Ia merasa sangat dihargai, bukan sebagai objek, tapi sebagai seorang wanita seutuhnya.

"Mas..."

"Iya, Sayang?"

"Boleh... boleh peluk terus sampai pagi?" tanya Rina dengan suara manjanya yang kembali muncul.

Gus Azkar tersenyum lebar, ia merebahkan tubuhnya dan membawa Rina masuk ke dalam dekapannya di bawah selimut tebal yang sama. "Tentu saja. Bukan cuma sampai pagi, tapi sampai maut memisahkan kita."

Malam itu, di rumah sederhana dekat pantai, tak ada lagi suara ketakutan. Yang ada hanyalah suara napas dua insan yang baru saja memulai perjalanan baru, saling menyembuhkan dan saling memiliki.

Malam semakin larut, hanya terdengar suara deburan ombak di kejauhan dan detak jam dinding yang menemani kesunyian kamar itu. Rina telah terlelap sepenuhnya, napasnya teratur, wajahnya yang tadi sembab kini tampak tenang dalam dekapan hangat suaminya.

Gus Azkar tidak langsung tidur. Ia tetap terjaga, menatap lekat setiap inci wajah istrinya di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Hatinya bergetar hebat. Ada rasa sakit yang menusuk saat menyadari betapa hancurnya mental gadis di pelukannya ini akibat masa lalu yang kejam.

Gus Azkar mengusap sisa air mata di sudut mata Rina dengan ibu jarinya. "Mas berjanji tak akan pernah meninggalkan kamu, Sayang. Mas akan selalu menjagamu. Mas tak menyangka kamu serapuh ini," bisiknya sangat lirih, seolah takut suaranya akan memecah mimpi indah Rina.

​Pikiran Azkar melayang pada persaingannya yang tak kasat mata dengan Ustadz Zidan di pesantren. Ia tahu benar bahwa rekan gurunya itu juga menaruh hati pada Rina.

​"Mas tidak tahu kalau seandainya Mas keduluan Ustadz Zidan meminang kamu, sehancur apa Mas saat ini," gumamnya dengan suara serak. "Tapi yang pasti, sekarang Mas-lah yang sudah menjabat tangan ayahmu dan mengucap qobiltu. Kamu sudah sah milik Mas."

​Tanpa terasa, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Gus Azkar. Air mata haru dan syukur. Ia merasa Allah sangat baik telah mempercayakannya untuk menjaga permata yang terluka ini.

​"Jelek? Kata siapa kamu jelek, Sayang? Kamu itu cantik," ucap Gus Azkar tepat di depan wajah istrinya yang masih tidur. Ia tersenyum getir mengingat keluhan Rina soal tubuhnya tadi. "Menurut kamu, kamu itu tepos, tapi menurut Mas tidak. Kamu itu cantik luar dalam. Bagi Mas, kamu adalah wanita paling sempurna yang pernah Mas temui."

​Gus Azkar mencondongkan wajahnya, mendaratkan kecupan yang cukup lama di bibir Rina—sebuah kecupan tanpa gairah, hanya penuh dengan rasa cinta dan janji setia.

​"Mas mencintaimu, Sayang. Tidur yang nyenyak, mimpi indah..."

​Gus Azkar kemudian membetulkan posisi selimut mereka, mengeratkan pelukannya hingga tak ada celah di antara mereka, dan akhirnya memejamkan mata. Malam itu, ia tidur dengan sebuah misi baru: bukan hanya menjadi suami, tapi menjadi penyembuh bagi jiwa istrinya yang pernah patah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!