NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Audit Perasaan.

Aruna memperhatikan punggung Gavin yang menjauh di bawah lampu jalan yang remang. Pria itu berjalan menghindari setiap genangan air dengan presisi seorang penari balet- mungkin memang ada benarnya hobi kucing balerina itu mempengaruhi jalannya.

Ia kembali menatap Mochi yang kini tertidur pulas di dalam balutan kemeja flanel Gavin yang wangi. Aruna menghirup aroma yang tertinggal di kerah kemeja itu dan bergumam kecil, "garis keras, ya? Garis keras tapi kok bikin baper?"

Malam itu untuk pertama kalinya, Aruna tidak memutar musik keras-keras. Ia justru memilah manik-manik mengikuti sistem warna yang dibuat Gavin. Bukan karena takut diaudit, tapi karena ia ingin melihat senyum tipis Gavin lagi besok pagi.

Namun, Aruna tidak tahu bahwa dibalik keteraturan yang sedang mereka bangun, sebuah "anomali" dari masa lalunya sedang dalam perjalanan menuju kompleks mereka, siao menguji seberapa kuat pertahanan seorang Gavin Adnan.

*****

Hari Bazar pun tiba. Lapangan utama kompleks perumahan Harmoni berubah menjadi lautan tenda warna warni. Di standar nomor 05, Gavin berdiri dengan penggaris laser di tangannya, memastikan spanduk "Runa's Creative Corner" terpasang dengan kemiringan nol derajat.

"Mas, ini bazar warga, bukan pelantikan menteri. Santai dikit dong," protes Aruna yang sedang sibuk menata brosur bunga di atas meja.

Gavin menoleh menyesuaikan letak kacamatanya. Visual yang asimetris akan menurunkan minat beli sebesar dua puluh dua persen, Runa. Saya sedang mengoptimalkan profil Anda."

Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala. Namun ia tidak bisa menampik bahwa berkat bantuan Gavin, stand-nya terlihat paling profesional. Gavin yang hari itu memakai kaos polo berwarna hitam ketat -yang membuat beberapa ibu- ibu kompleks salah fokus- tampak sangat cekatan membantu melayani pelanggan, meskipun ia melakukannya dengan gaya pelayanan restoran bintang lima yang super kaku.

"Terima kasih, Bu Tejo. Ini kembaliannya. Uangnya sudah saya urutkan dari emisi tahun terbaru dan menghadap ke arah yang sama," ujar Gavin datar saat melayani pembeli pertama.

Keadaan berubah saat seorang pemuda berambut gondrong, memakai jaket denim belel, dan membawa gitar di punggungnya muncul di depan stand.

"Runa? Hei Babe! Beneran kamu ya?"

Aruna membeku. Senyumnya langsung luntur. "Rian? Ngapain kamu ke sini?"

Rian, mantan pacar Aruna yang merupakan seorang musisi idealis ( baca: pengangguran yang hobi ghosting), mencoba merangkul bahu Aruna. "Aku dengar kamu buka stand. Aku kangen, Na. Kamu makin cantik aja kalau lagi berantakan gini."

Gavin yang sedang mencatat inventaris di tabletnya, berhenti mendadak. Matanya menyipit melihat tangan Rian yang hampir menyentuh Aruna.

"Maaf, Bro," suara Gavin memotong udara, lebih dingin dari es batu di gelas es teh Bu Tejo. "Anda menghalangi lalu lintas pelanggan. Tolong mundur tiga puluh sentimeter dari garis meja."

Rian menoleh, menatap Gavin dari atas sampai ke bawah. "Siapa nih, Na? Asisten baru kamu? Atau Satpam Stand?"

"Saya tetangganya, " jawab Gavin tegas. Ia melangkah maju, memposisikan dirinya tepat diantara Aruna dan Rian. "Dan menurut peraturan RT no. 4 tentang ketertiban umum, dilarang melakukan kontak fisik yang tidak diinginkan di area publik. Anda sedang melakukan anomali perilaku."

Rian tertawa meremehkan. "Duh, kaku amat sih, Mas. Na, kamu serius betah sama cowok kayak gini? Yuk, kita cari tempat ngopi, kita obrolin lagu baru aku yang aku ciptain buat kamu."

Aruna tampak ragu dan tidak nyaman. "Rian, aku lagi kerja-"

"Dia sedang sibuk," sela Gavin. Ia mengambil sebuah bros bunga yang paling mahal dan menempelkannya di dada Rian dengan gerakan yang sangat cepat hingga pria itu tidak sempat menghindar. "Itu harganya seratus ribu. Karena Anda sudah menyentuhnya, maka secara otomatis terjadi transaksi. Silahkan bayar, lalu silahkan pergi."

"Eh? Apa-apaan nih?!" Rian panik.

"Bayar, atau saya panggil Pak RT untuk melakukan audit atas tindakan 'gangguan ketertiban' yang Anda lakukan sepuluh menit terakhir. Saya punya rekaman CCTV toko dan saksi mata yang kredibel," tambah Gavin, sambil menunjuk ke arah Bu Tejo yang memang sedang mengintip dengan semangat.

Rian yang tidak punya uang sepeserpun di dompetnya (seperti biasa), akhirnya mendengus kesal. Ia melepaskan bros itu, melemparnya ke meja, dan pergi sambil mengumpat pelan soal "orang-orang kota yang tidak punya jiwa seni".

Setelah Rian hilang dari pandangan, suasana stand menjadi canggung. Aruna menatap Gavin yang kembali sibuk merapikan bros yang tadi dilempar Rian.

"Mas Gavin... Mas barusan cemburu ya?" tanya Aruna dengan nada menggoda, meski hatinya berdebar.

Gavin terdiam sebentar. Ia meletakkan bros itu dengan sangat hati-hati di posisinya semula. "Saya nggak mengenal konsep emosi 'cemburu' dalam kamus audit saya, Runa."

"Terus kenapa tadi galak banget sama Rian?"

Gavin berbalik, menatap Aruna lurus-lurus. Jarak mereka sangat dekat. Di tengah keramaian bazar, rasanya hanya ada mereka berdua.

"Karena dia variabel pengganggu," kata Gavin pelan. "Dia tidak punya jadwal, tidak punya arah, dan dia mencoba merusak keteraturan yang... sudah saya bangun di sini. Termasuk keteraturan perasaan saya yang belakangan ini sulit saya hitung rumusnya setiap kali melihat Anda."

Aruna menahan napas. "Jadi... Mas Gavin merasa terganggu karena saya?"

Gavin melangkah satu tahap lebih dekat. "Sangat terganggu. Sampai-sampai saya lupa jadwal mencuci mobil saya tadi pagi hanya untuk memastikan spanduk Anda tidak miring."

Gavin perlahan mengulurkan tangannya, bukan untuk mengaudit, tapi untuk menyelipkan sehelai rambut Aruna yang nakal ke belakang telinganya. "Mulai sekarang, anggap saya sebagai garis keras yang menjaga Anda, Runa. Tanpa kecuali."

Gavin tidak menarik tangannya setelah menyelipkan rambut Aruna. Ujung jarinya sempat menyentuh daun telinga Aruna yang mendadak terasa panas. Aruna bisa melihat kilat di balik kacamat Gavin - sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekedar perhitungan angka.

"Mas," suara Aruna hampir habis. "Barusan itu pernyataan perang atau pernyataan cinta?"

Gavin berdehem, mencoba mengembalikan kontrol dirinya. Ia menarik tangannya kembali ke saku celana, namun gestur kaku itu kini terlihat seperti usaha keras untuk menutupi kegugupan.

"Itu adalah... pernyataan komitmen terhadap keamanan lingkungan," jawab Gavin. Meskipun telinganya sendiri memerah. Dan Sebagai kompensasi atas gangguan emosional yang Anda alami gara-gara mantan pacar Anda tadi, saya rasa Anda butuh asupan nutrisi yang terukur."

"Aruna tersenyum lebar. Ia tahu ini adalah cara Gavin mengajaknya berkencan tanpa harus mengucapkan kata "kencan". "Maksud Mas, Mas mau ngajak aku makan malam?"

"Makan malam yang terencana, Runa. Bukan spontanitas yang berakhir di pinggir jalan," koreksi Gavin. "Pukul tujuh malam. Di rumah saya. Saya sudah memesan menu sehat dengan keseimbangan karbohidrat dan protein yang pas."

Jantung Aruna berdetak sangat kencang. Dia terdiam menatap Gavin. "Jadi beneran Mas Gavin ngajak saya kencan?" tanya Aruna untuk lebih meyakinkan dirinya.

"Jangan lupa tepat jam tujuh malam, jangan telat." kata Gavin lagi. Kemudian kembali sibuk melayani pembeli di stand Aruna.

Aruna memandangi Gavin yang sedang sibuk itu, "Nggak nyangka kalo bakal kencan sama dia."

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!