Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sita
Mata Astrid masih memandangi layar ponselnya, menatap sinis karena melihat Hanin yang tampil dengan elegan dan professional saat mempromosikan produknya,
"Bu, masa iya sih si Hanin ini jadi mendadak pinter kayak gini, asalnya kan otaknya butek, bodoh" ujar Astrid berkata penuh kebencian.
"Ya, kali aja dia di training dulu makanya jadi pinter gitu, trus Live kayak tadi" ujar bu Hemas yang juga menatap Hanin dengan sinis.
Tak lama kemudian, Adrian datang .. pikiranya tampak kacau, sejak dia menceraikan Hanin hidupnya pun menjadi berantakan. Adrian juga suka mabuk, penghasilan yang Adrian dapat sekarang di bagi dua.. 50% untuk ibunya, dan 50% sisanya untuk dirinya sendiri.
Wajah Adrian yang dulu bersih, kini tampak suram bahkan terlihat kucel. Astrid kakaknya lalu menghampiri Adrian..
"Adrian, si Hanin tuh.. sekarang jadi tukang promosi produk kosmetik, Live juga di tiktok ya, jangan-jangan sekalian dia open 'BO' jualan apem karena mandul" ujar Astrid dengan kasar.
"Huss, mbak nggak boleh ngomong kayak gitu ah!," ujar Adrian, ada rasa penyesalan di hatinya karena telah menceraikan Hanin, sebuah keputusan yang ia ambil hanya karena pengaruh ibu dan kakaknya.
Hati Adrian kini terasa hampa, Hanin memang hanya istri biasa tapi dia telaten mengurusnya saat bersama.
Sita, perempuan yang dipilihkan oleh ibunya sekarang ini tidak pernah mau memikirkan dirinya telaten seperti Hanin dulu.
Sita adalah seorang karyawan bank swasta, ia memilih Adrian karena Adrian seorang ASN yang mempunyai gaji tetap, dan itu cukup membuat Sita memilihnya.
Orang tua Sita juga adalah sahabat ibu Hemas, Sita juga sangat dimanja orang tuanya, hidupnya penuh glamour.. padahal hanya pegawai bank biasa, dengan gaji yang biasa saja Sita juga pemilih dalam hal makanan, tidak bisa memasak bahkan apapun selalu di kerjakan dengan pembantu rumah.
Adrian sebenarnya tidak terlalu menyukai Sita walaupun dia cantik, Sita bukan tipe perempuan yang cocok dijadikan istri.. tapi ibu Hemas bersikeras menjodohkannya.
POV SITA
Namaku Sita, usiaku 29 tahun, pendidikan terakhir S1 Hukum, aku adalah seorang karyawan bank swasta terkenal dan aku bungsu dari 2 bersaudara.
Saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan duda cerai tanpa anak, namanya Adrian, pekerjaan ASN di pemda kota Bandung.
Sejak SMP aku memang sudah tertarik dengan putra teman mamaku ini, tapi aku malu mengungkapkannya.. Adrian cukup tampan dan baik, aku juga nggak meragukan penghasilannya karena Adrian pasti ada gaji bulanannya oleh pemerintah.
Adrian juga sudah melamarku karena desakan orang tuanya, tapi kadang aku suka badmood mendengar cerita mantan istrinya yang katanya mandul itu,
"Sita, kamu nggak usah sedih gitu.. Adrian nggak akan mungkin meninggalkan kamu" ujar mbak Astrid kakak Adrian.
"Aku hanya was-was saja Adrian kembali lagi atau selingkuh dengan mantan istrinya itu, aku nggak ingin itu" ujarku saat itu. "Nggak mungkin Sita, percaya deh sama mbak.." ujar mbak Astrid yang sepertinya mendominasi keluarganya.
Sebenarnya aku ingin saja menikahi Adrian secara resmi supaya ikatan kami lebih solid, tapi Adrian selalu beralasan mentalnya belum kuat dan masalah keuangannya.
Aku sangat mencintai Adrian sejak masa SMP, tapi baru sekarang cintaku di terima itupun karena dukungan orang tua kami.
Seperti hari ini contohnya, ketika Adrian menjemputku sepulang kerja dari kantor, "Mas kita jalan-jalan dulu yuk?" ujarku. Adrian seperti tidak suka dan acuh..
"Nanti dulu deh, aku capek" ujar Adrian, "kok gitu sih mas ngomongnya?" tanyaku.
"Ya, gimana ya aku ini pulang kerja harus cuci baju sendiri, beresin rumah, karena kalau besoknya aku kerjakan aku malas, takut kesiangan kerja" ujar Adrian. Aku hanya terdiam mendengar semua alasannya.
Akhirnya Adrian hanya mengantarku sampai rumah saja, padahal aku pingin pergi jalan berdua, makan atau hanya sekedar nonton.. seperti pasangan oada umumnya.
Ada perasaan janggal yang aku rasakan, seolah Adrian belum bisa move on dari mantan istrinya yang mandul itu.
Kadang saat kami berdua pun Adrian terlihat melamun, entah pikirannya kemana.. dan itu cukup membuatku kesal.
"Sita, sini ... "panggil mamaku, "ada apa mah?" tanyaku, "itu tadi Adrian mengantarmu pulang tapi kenapa nggak mampir dulu?" ujar mamaku.
"Mas Adrian buru-buru mah, dia belum beres-beres rumahnya, belum cuci baju, belum setrika, karena dia nggak mau telat kerja besoknya" ujarku.
"Oh, seharusnya kamu coba bantu Adrian mengurus keperluannya.. "ujar mamaku.
"Aku?, ah ogah aku mah.. ngapain aku harus bantu semua pekerjaan dia, memang aku istrinya, walaupun nanti juga aku jadi istrinya aku nggak akan bisa, biar aja pembantu yang kerjakan, aku kan kerja mah.." ujarku.
Mamaku hanya menggelengkan kepalanya.
Sejujurnya aku memang nggak menyukai pekerjaan rumah tangga, kalau pun nanti aku punya anak mungkin aku akan sewa baby sitter karena aku fokus dengan pekerjaanku.
"Sita, kamu ini .. bagaimana kalau nanti kamu punya baby, kamu harus urus poopnya, cebokin, dan lain-lain, harus belajar buat makanan bayi, itu semua harus dikerjakan sendiri, ngerti?" ujar mamaku.
Aku kembali ingat Adrian, sebenarnya aku sudah nggak kuat untuk melampiaskan hasratku padanya karena itu aku pendam sejak lama, maklumlah aku sudah berusia 29 tahun.. dari dulu aku menunggu Adrian.
Mungkin jika waktunya pas dan moodku sedang bagus aku akan coba ajak Adrian berhubungan suami istri.. karena mengajaknya menikah juga sulit, dan kalau sampai aku hamil aku akan minta pertanggung jawabannya.
Aku mencoba mengirim pesan singkat untuk Adrian,
Sita : Mas.. udah sampai rumah?
Adrian : Nggak ke rumah, ini aku di rumah ibu ikut cuci baju sekalian, males mau pulang ke rumah, nggak ada yang masakin sih..
Sita : jadi Mas kapan pulang ke rumah?
Adrian : Mungkin sebentar lagi..
Aku pun berpikir sejenak, besok kan aku libur kerja 2 hari apa salahnya aku nginap di rumah Adrian, aku bisa kencan berdua aja dengannya.. aku pun senyum-senyum sendiri membayangkan hasratku yang mungkin bisa tersalurkan.
"Aku harus bisa merayu Adrian dengan tubuhku ini, masa dia nggak tertarik, aku kan juga cantik" gumamku dalam hati.
Sore harinya, aku mulai bersiap-siap menuju ke rumah Adrian.. "mau kemana Sita?" tanya mamaku. "Mau makan bareng mah sama teman-teman SMA dulu, tapi acaranya di villa teman di lembang dan mungkin sampai lusa baru pulang, kan libur mah" ujarku berbohong.
"Oh, gitu ya sudah hati-hati di jalan, jaga diri baik-baik.. "ujar mamaku. "iya mah, makasih" ujarku, lalu aku segera berpamitan.
Aku segera menuju mobilku dan pergi meninggalkan halaman rumah, dengan kecepatan sedang aku langsung menuju rumah Adrian.
Ada perasaan lega sambil aku mengemudikan mobilku, rasanya tidak sabar untuk cepat sampai dan ...... memulai rencana yang sudah ada dalam pikiranku ini.
****