Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan Rahasia
Lantai bawah kediaman Grozen,
Bagian mansion dimensi yang sama sekali berbeda dari lantai atas yang penuh tekanan aura mistis. Di sini, udara tidak lagi menekan dengan keanggunan yang dingin, melainkan terasa lebih membumi. Hendrik, kepala pelayan itu, berjalan di depan kami tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sepatu kulitnya yang mengkilap seolah menyerap setiap getaran di atas lantai kayu yang dipoles sempurna.
Pria tua itu selalu membuatku tidak nyaman. Bukan karena ia memancarkan kekuatan fisik yang mengancam, tubuhnya ramping dan punggungnya tegap seperti tak termakan usia, tapi karena ketenangannya yang mutlak. Ia bukan hellhound seperti kami, bukan pula eksorsis seperti Irina. Namun, aku bisa merasakan bagaimana mantra perlindungan rumah ini bereaksi terhadap kehadirannya. Seolah-olah rumah ini adalah makhluk hidup dan Hendrik adalah detak jantungnya. Setiap langkahnya adalah izin bagi kami untuk tetap menginjakkan kaki di sini.
“Mari,” ucapnya singkat, suaranya kering seperti kertas tua namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Kami mengikuti jalan panjang dengan pilar batu berdiri kanan dan dikiri sepanjang jalan, di ruang terbuka. Terbuat dari batu berwarna cream. Mansion ini terasa jauh lebih luas dan kompleks dari terakhir kali aku berkunjung bertahun-tahun lalu. Sayap bangunan baru telah ditambahkan, tangga-tangga melingkar dengan ukiran mitologi manusia yang rumit berdiri dengan gagah, dan yang paling mencolok adalah kerapatan mantranya. Irina telah memperkuat bentengnya, ia tidak hanya membangun rumah, ia membangun sebuah suaka yang tidak bisa ditembus oleh kebencian makhluk yang jahat.
Cloudet menempel erat di dadaku. Wujud hellhound kecilnya membuat tubuhnya terasa seperti gumpalan bulu yang hangat namun gemetar. Matanya yang kuning emas bergerak gelisah ke segala arah, mencoba memproses detail-detail yang tidak masuk akal baginya. Di neraka, semuanya tentang tekstur kasar, suhu ekstrem, dan suara jeritan yang tak pernah putus. Di sini, semuanya terlalu sunyi. Terlalu bersih. Aroma lavender dan kayu cendana menggantikan bau belerang yang selama ini menjadi napasnya.
“Kita sampai,” ujar Hendrik, berhenti di depan sebuah pintu kayu ek yang kokoh.
Ia membuka pintu tersebut, menyingkapkan area pelayan khusus yang terletak di bagian belakang mansion. Berbeda dengan aula utama yang dirancang untuk mengintimidasi tamu, tempat ini terasa sangat hangat dan "hidup". Dinding-dindingnya dicat putih bersih, lampu-lampu dinding mengeluarkan cahaya kuning lembut yang menenangkan, dan ada aroma samar teh kering serta kain yang baru disetrika. Mantra di sini terasa lebih jinak, disesuaikan untuk kenyamanan penghuninya, bukan untuk menghancurkan penyusup.
“Kamarmu,” kata Hendrik, menunjuk pintu di sebelah kanan. “Dan milik Cloudet,” lanjutnya, menunjuk pintu tepat di sebelahnya.
Bersebelahan. Sebuah pengaturan yang cerdas. Irina tahu aku tidak akan bisa tidur jika aku tidak bisa mendengar napas adikku di balik dinding. Aku mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih yang kaku.
Kedua kamar itu identik, sederhana namun sangat manusiawi. Ada ranjang besar dengan selimut wol tebal, perapian kecil yang apinya sudah menyala dengan tenang, dan jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang yang rimbun. Tidak ada jeruji besi di jendela. Tidak ada segel penjara di ambang pintu.
“Di sini aman,” kata Hendrik, suaranya melembut sejenak seolah ia bisa membaca gejolak kecurigaan di kepalaku.
“Nona Irina menghendakinya demikian. Di rumah ini, tidak ada mangsa dan tidak ada predator. Hanya ada penghuni.”
Aku menatapnya tajam, mencoba mencari celah kebohongan, namun matanya yang tua hanya memantulkan ketulusan yang membosankan. Aku mendengus pelan, lebih untuk menutupi rasa canggungku sendiri.
Cloudet meronta kecil di pelukanku, ingin turun. Begitu kakinya menyentuh lantai kayu, ia berdiri dengan sedikit goyah. Ia berjalan memutar, mengendus-endus sudut ruangan sebelum akhirnya melompat kecil ke atas ranjang. Ia menepuk-nepuk selimut empuk itu dengan cakarnya yang mungil, matanya membelalak takjub saat tangannya tenggelam di antara bulu-bulu halus selimut.
“Hangat…” gumamnya dengan suara parau yang penuh kebahagiaan.
Aku menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang jarang kurasakan menyusup ke dadaku. Dari kejauhan, aku bisa merasakan aura Ayah, Jover, perlahan menjauh. Ia telah kembali ke posisinya di luar mansion, menjadi penjaga bayangan yang tak terlihat namun selalu ada. Ia adalah perisai terluar.
Aku mendudukkan diriku di sisi ranjang Cloudet, mengabaikan kamarku sendiri untuk sementara. Cloudet sudah meringkuk di tengah selimut, telinga hitamnya mengepak pelan, sebuah refleks yang hanya ia tunjukkan saat ia merasa sangat mengantuk dan aman.
“Calix,” panggilnya lirih, matanya hampir tertutup rapat.
“Apa?” jawabku pendek.
“Kau… masih di sini?”
Aku mengulurkan tangan, mengusap kepalanya perlahan, memastikan sentuhanku tidak membangunkannya. “Aku tidak pergi mana-mana. Tidurlah.”
Ia tersenyum kecil, sebuah ekspresi polos yang membuat taring kecilnya terlihat, lalu ia jatuh ke dalam tidur yang paling tenang yang pernah ia miliki sejak lahir.
Sementara itu, di lantai atas, suasana jauh dari kata tenang. Irina membawa Calona menuju ruang kerja pribadinya.
“Aku ingin bicara empat mata dengannya,” kata Irina pada Jover sebelumnya. Suaranya lembut, namun nada bicaranya adalah pedang yang tidak memberi ruang bagi penolakan.
Calona, sang Ratu Hellhound yang biasanya meledak-ledak, kali ini tidak membantah. Namun, aku bisa merasakan ketegangannya dari kejauhan. Mantra di rumah ini secara aktif menolak keberadaannya, udara di sekitar Calona seolah menipis setiap kali ia mencoba membusungkan dada. Irina adalah pemilik nya, dan di dunia manusia ini, hukum kontrak itu bersifat absolut.
Ruangan kerja Irina dipenuhi aroma teh herbal dan bunga kering yang menenangkan. Api di perapian menyala kecil, hanya cukup untuk memberikan kehangatan tanpa menimbulkan asap yang menyesakkan. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin sore yang membawa aroma hujan. Irina duduk anggun di kursi berukirnya, kedua tangannya melingkari cangkir porselen yang masih mengepul.
Di hadapannya, Calona duduk dengan punggung tegak lurus, wajahnya terjaga seperti prajurit di tengah medan perang. Namun, jemarinya yang mencengkeram kain gaun hitamnya menunjukkan betapa rapuhnya pertahanannya saat ini.
Irina menyeruput tehnya dengan sangat tenang sebelum akhirnya memecah keheningan. “Aku tidak mengerti, Calona.”
Suaranya sangat lembut. Tidak ada nada menuduh, tidak ada penghakiman dalam frekuensi suaranya. Justru kelembutan itulah yang membuat kata-katanya terasa seperti sayatan halus namun dalam di harga diri Calona.
Calona menunduk, tidak berani menatap langsung mata biru jernih majikannya. Irina melanjutkan, matanya menatap api di perapian dengan pandangan menerawang.
“Kau sendiri yang memberikan izin bagi Jover dan Nivera untuk bersama saat itu. Kau yang mengatur pertemuan mereka, kau yang menyusun kesepakatan itu di neraka. Dan kau sendiri pun tahu bahwa Jover tidak pernah mencintai Nivera. Baginya, itu hanyalah kewajiban untuk memastikan kelangsungan garis keturunan yang ku inginkan.”
Calona menutup matanya rapat-rapat, seolah mencoba menghalau bayang-bayang masa lalu.
“Lalu kenapa,” lanjut Irina dengan nada yang kini lebih berat oleh rasa penasaran yang tulus
“kau begitu marah? Kenapa kau menyalahkan Nivera atas sesuatu yang kau sendiri izinkan? Kenapa kau begitu ingin menghancurkan anak yang lahir dari izinmy sendiri?”
Keheningan jatuh di ruangan itu, hanya diinterupsi oleh derak kayu yang terbakar. Ketiga hellhound tersebut, Calona, Jover, dan Nivera adalah aset berharga yang terikat kontrak seumur hidup dengan garis keturunan Irina. Mereka terikat sumpah darah.
Namun, Nivera memiliki tempat yang berbeda. Ia adalah yang pertama. Ikatan Irina dengan Nivera terjalin jauh sebelum Jover dan Calona masuk ke dalam hidupnya. Irina sengaja menyembunyikan fakta itu untuk menjaga keseimbangan di antara mereka. Selama setahun penuh, Calona dan Jover mengira mereka adalah satu-satunya makhluk yang terikat kontrak dengan Irina, hingga akhirnya Nivera diperkenalkan.
Calona membuka mata, suaranya rendah dan serak. “Karena dia… dia berbeda. Dia tidak seharusnya ada di antara kami.”
Irina tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh kesedihan. “Nivera tidaklah lemah, Calona. Jangan pernah mengacaukan kelembutan dengan kelemahan.”
Kata-kata itu jatuh dengan tegas. Calona tahu kebenaran di baliknya. Ia selalu tahu, namun kebenciannya telah membutakan logikanya selama ini. Nivera bukanlah hellhound pembakar seperti dirinya atau Jover. Ia tidak membawa api penghancur yang bisa meruntuhkan dunia.
Nivera adalah sosok yang sangat langka, seekor Hellhound Putih. Di dalam hierarki mistis, ia adalah Penjaga Jiwa. Makhluk sunyi yang bertugas menggiring jiwa-jiwa menuju tempat peristirahatan terakhir mereka, penentu arah di persimpangan antara cahaya dan kegelapan. Ia adalah penjaga keseimbangan, bukan eksekutor.
Namun, di neraka yang didominasi oleh kekuatan fisik dan api hitam, kekuatan pasif dan suci seperti milik Nivera dianggap kotor. Dianggap sebagai anomali yang menjijikkan karena tidak bisa digunakan untuk berperang.
“Karena itulah,” lanjut Irina dengan tenang,
“kaummu menyebutnya hina. Karena dia memiliki apa yang tidak kalian miliki, kedamaian.”
Calona menggertakkan gigi, kemarahan mulai memercik kembali di matanya.
“Dan karena itulah,” Irina melanjutkan tanpa terganggu, “Cloudet lahir dengan kekuatan yang tidak stabil. Darah hellhound putih yang menuntun jiwa dan darah hellhound hitam yang menghancurkan materi, bersinggungan di dalam tubuh kecil itu. Mereka tidak menyatu dengan sempurna karena kedua kekuatan itu saling menolak.”
Api dan Penuntun Jiwa. Penghancur dan Pengarah.
“Kekacauan di dalam diri Cloudet bukan karena Nivera lemah,” kata Irina, kini menatap Calona lurus-lurus, menembus lapisan kesombongan iblis itu
“Melainkan karena dunia kalian yang penuh kebencian tidak pernah memberi ruang bagi sebuah keseimbangan. Kalian memaksa dua kutub beradu tanpa mediator.”
Calona menunduk lebih dalam, bahunya sedikit bergetar. “Dia sudah mati,” bisiknya, merujuk pada Nivera.
Irina mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan duka yang mendalam. “Ya. Dia memberikan sisa hidupnya untuk memastikan anak itu bisa lahir ke dunia ini.”
“Dan anak itu hidup,” lanjut Irina, suaranya mengeras
“Ia hidup dengan membawa beban ketidakseimbangan. terutama melalui kecemburuan dan ambisi yang kau ciptakan selama ini”
Irina berdiri dari kursinya, melangkah mendekat ke arah Calona. Ia tidak menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengintimidasi, namun kehadirannya terasa seperti gunung yang tak tergoyahkan.
“Tapi dengarkan aku baik-baik, Calona,” katanya, nada bicaranya kini mutlak dan tidak bisa dibantah oleh hukum apa pun. “Cloudet bukanlah aib. Dia bukan kesalahan yang harus dihapuskan.”
Ia berhenti tepat di depan Calona, meletakkan tangannya yang hangat di atas bahu dingin iblis itu.
“Dia adalah bukti bahwa sesuatu yang indah bisa lahir dari kekacauan. Dia adalah bukti keberanian Nivera.”
Calona menahan napas, tubuhnya kaku di bawah sentuhan majikannya.
“Dan kali ini,” lanjut Irina, tangannya yang lain mengelus perutnya yang buncit dengan penuh kasih, “aku bersumpah demi nyawaku dan nyawa anak yang aku kandung ini. aku tidak akan membiarkan dunia mana pun, baik neraka yang kejam maupun dunia manusia yang serakah menghancurkan anak yang tidak pernah memilih untuk dilahirkan dalam kondisi seperti ini.”
Keheningan kembali turun menyelimuti ruangan. Calona tidak menangis, karena iblis sepertinya tidak mengenal air mata penyesalan yang murni. Ia juga tidak membantah, karena ia tahu kebenaran kata-kata Irina telah menelanjangi semua kebohongannya.
Ia hanya bisa menunduk membisu. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah keberadaannya sebagai ratu yang kejam, diamnya bukan karena ia sedang merencanakan pembalasan dendam.
Melainkan karena ia akhirnya merasakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada api neraka. Melainkan rasa bersalah yang nyata.
Bersambung