Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Protektif atau cemburu ?
Sejak drama di ruang yayasan itu berakhir, atmosfer di Universitas Pelita Bangsa berubah total bagi Carmen. Nama Tiara dan Reva hilang dari daftar absensi, digantikan oleh selentingan kabar tentang proses hukum yang sedang mereka jalani. Kini, Carmen bisa berjalan di koridor kampus tanpa perlu menunduk atau merasa was-was akan ada jebakan yang menantinya.
Kehidupannya tenang, setidaknya dari gangguan musuh. Namun, ada satu hal yang mulai menjadi rutinitas barunya, yaitu kehadiran Farrel.
Siang itu, matahari terik membuat Carmen merasa mual hebat efek samping alami dari usia kehamilannya yang baru memasuki trimester pertama. Ia menyesap jus jeruk dinginnya perlahan, berharap rasa asam segar itu bisa meredam gejolak di perutnya.
"Segar banget ya, Car? Lo pucat banget dari tadi, apa gue perlu beliin camilan lain?" tanya Dara khawatir.
"Enggak usah, Ra. Jus ini udah cukup bantu ngurangin mualnya kok," jawab Carmen dengan senyum tipis.
Tepat saat itu, Farrel melangkah dengan tenang membawa semangkuk mie ayam. Ia mengabaikan tatapan memuja dan bisik-bisik dari meja seberang. Tanpa ragu, ia menarik kursi tepat di sebelah Carmen, membuat beberapa mahasiswi di pojok kantin tersedak minuman mereka sendiri.
"Eh, ada Kak Farrel!" sapa Carmen, sedikit terkejut namun menyambutnya dengan hangat.
"Selamat siang, Kak Farrel!" tambah Dara dengan nada menggoda, meski dalam hati ia berteriak 'Aura gantengnya nggak main-main!'.
Farrel hanya mengangguk singkat pada Dara, lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada Carmen. "Siang. Kamu cuma minum jus? Makanannya mana? Nanti asam lambungmu naik."
"Lagi nggak pengen makan berat, Kak. Cuma pengen yang segar-segar aja," sahut Carmen polos, tanpa sedikit pun curiga bahwa perhatian Farrel jauh melampaui batas perhatian seorang senior biasa.
Perhatian yang 'Berlebihan'?
Farrel menggeser mangkuk mie ayamnya, lalu meletakkan sebuah kotak kecil berisi buah potong dingin yang tampaknya sudah ia siapkan sebelumnya.
"Makan buahnya. Ini lebih baik daripada cuma minum air gula," ucap Farrel dengan nada dingin khasnya, namun gerakannya sangat perhatian.
Carmen terpana. "Buat aku, Kak? Makasih banyak ya. Kak Farrel baik banget, padahal kemarin udah bantu banyak soal kasus Tiara."
Farrel menatap Carmen dalam-dalam, ada kilat aneh di matanya yang sulit diartikan. "Jangan sungkan. Aku akan selalu ada kalau kamu butuh bantuan. Apapun itu."
Dara yang melihat interaksi itu hanya bisa menyenggol lengan Carmen sambil berbisik sangat pelan, "Car, ini sih fiks... Kak Farrel kayaknya beneran 'nyantol' sama lo. Sejarah baru nih, pangeran es mencair!"
Carmen hanya tertawa kecil, menganggap itu sebagai candaan. Baginya, Farrel adalah pahlawan yang tulus. Ia tidak menyadari bahwa di kejauhan, ada sepasang mata lain yang mengawasi mereka dengan rahang mengeras.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam mewah terparkir di area parkiran depan kantin. Samudera, yang sengaja datang untuk melihat keadaan Carmen demi memastikan istrinya baik-baik saja,serta ada jadwal mengajarnya setelah jam istirahat menyaksikan pemandangan itu dari balik kaca gelap.
Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat hingga buku jarinya memutih. Samudera tahu Farrel punya andil besar dalam menyelamatkan Carmen kemarin, tapi melihat pria lain duduk begitu dekat dan memberikan perhatian pada "miliknya" membuat sisi posesifnya bergejolak hebat.
"Kau bermain api, Farrel," gumam Samudera rendah.
Pemandangan di kantin itu benar-benar menguji kesabaran Samudera. Melihat Farrel begitu santai menyodorkan kotak buah pada Carmen membuat darahnya mendidih. Namun, ia sadar akan topeng yang harus ia pakai. Di mata dunia, ia adalah paman yang protektif, bukan suami yang terbakar cemburu.
Samudera keluar dari mobilnya, menenteng sebuah paper bag eksklusif dari restoran ternama yang khusus menyediakan nutrisi organik untuk ibu hamil. Langkah kakinya yang tegas membelah kerumunan mahasiswa, menciptakan keheningan sesaat karena auranya yang begitu dominan.
"Carmenita, keponakanku," suara Samudera terdengar berat dan cukup lantang, menarik perhatian seluruh penghuni kantin, termasuk Farrel yang langsung mendongak.
Carmen tersentak, hampir menjatuhkan sedotan jus jeruknya. "Om Samudera?"
Samudera meletakkan kotak makanan itu di depan Carmen, sengaja sedikit menggeser mangkuk mie ayam milik Farrel. "Om bawakan makan siang untukmu. Jangan makan makanan sembarangan, ingat kau itu memiliki pencernaan yang sensitif! Apalagi di masa-masa pemulihan mu setelah stres kemarin."
Samudera melirik Farrel dengan tatapan yang sulit diartikan, dingin, namun penuh otoritas. "Terima kasih sudah menemani keponakan saya, Farrel. Tapi saya sudah menyiapkan diet khusus untuknya."
Farrel hanya tersenyum sopan, meski batinnya merasa ada sesuatu yang berlebihan dari perhatian seorang paman. "Tentu, Pak. Saya hanya ingin memastikan Carmen tidak baik-baik saja."
Sore harinya, setelah jam mengajar Samudera berakhir, ia menjemput Carmen di titik biasa yang tidak terlalu mencolok. Di dalam mobil, suasana terasa kaku. Samudera baru saja menyalakan mesin ketika ia melihat Farrel melesat pergi dengan motor sport-nya, helm full face nya sempat menoleh sekilas ke arah mobil mereka.
Samudera terdiam, tangannya mencengkeram kemudi, matanya menatap tajam ke arah bayangan motor Farrel yang semakin menjauh.
"Om, kok gak jalan sih? Aku sudah lelah dan ingin pulang," gumam Carmen sambil mengusap perutnya yang terasa sedikit kencang.
Samudera menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia memutar tubuhnya sedikit ke arah Carmen, menatapnya dengan intensitas yang membuat Carmen merasa kikuk.
"Mulai besok, kau jangan terlalu akrab ataupun dekat dengan Farrel. Jaga jarak dan ingat posisimu saat ini, Carmenita!"
Mendengar instruksi yang tiba-tiba itu, Carmen mengernyitkan keningnya. Rasa lelahnya berubah menjadi kejengkelan. "Loh, memangnya kenapa, Om? Kak Farrel itu baik sama aku. Dia juga yang ikut bantu Mas Bayu cari bukti buat kasus Tiara kemarin. Tanpa dia, mungkin aku masih dituduh yang enggak-enggak."
"Aku tidak bilang dia orang jahat," potong Samudera dengan nada yang semakin rendah namun menekan. "Aku hanya bilang jangan dekat-dekat. Dia pria, Carmen. Dan dia punya maksud lain di balik kebaikannya."
"Maksud lain apa sih? Dia cuma teman kampus, Kakak tingkat yang baik!" bela Carmen, suaranya naik satu oktaf.
"Pokoknya tidak boleh, titik! Itu perintah, bukan diskusi," tegas Samudera sembari mulai menjalankan mobilnya dengan sentakan yang menunjukkan emosinya.
Carmen mendengus keras. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, membuang muka ke arah jendela dengan bibir yang mengerucut tajam.
'Kenapa sih dengan Om Samudera? Aneh sekali! Kemarin dia sendiri yang bilang terima kasih ke Kak Farrel, sekarang malah melarang-larang. Apa dia pikir aku ini anak kecil yang tidak bisa memilih teman?' batin Carmen kesal.
Ia tidak sadar, di balik kemudi, Samudera merasa seolah sedang mencekik dirinya sendiri. Rahasia pernikahan ini adalah penjara yang ia ciptakan sendiri, dan melihat "istrinya" membela pria lain adalah hukuman yang paling menyakitkan.
Bersambung...
thankyou thor /Pray//Pray//Pray//Heart//Heart//Heart/
ternyata diam diam mencintai Samudra
makasih kaka cerita nya, smoga sehat selalu dn tetap berkaya 🤗🥰😍❤️❤️❤️❤️
makasih ka El cerita nyaa, walaupun sempet esmosih tp om Sam berhasil bwt aq happy 🤭...meskipun bab nya pendek tp tidak mengurangi keindahan cerita nya kaa, aq suka buanngeeet 👍👍😍❤️❤️
novel ini membuktikan pikiran picik wanita pemuja pebinor
author dan reader sama saja
lihat pelakor dilaknat habis habisan sedangkan pebinor diperlakukan lembut
para pelakor dibinasakan dan pebinor bebas begitu saja (pikiran picik author tidak tega menghukum pebinor)
koment reader2 membuktikan wanita2 munafik
*ketika ada pelakor mereka akan koment laknat habis habisan giliran pebinor Farrel mereka tidak berani koment pedas, bahkan mereka membela kelakuan Farrel
lelaki pemuja pelakor itu lelaki munafik
wanita pemuka pebinor itu wanita munafik
dan novel karya author ini sangat membuktikan author nya pemuja pebinor
*pelakor dilaknat dan dibinasakan
*sedangkan Farrel jelas ikut andil dalam kejahatan itu bebas begitu saja
Thor selama kau melaknat pelakor tapi kau begitu lembut pada pebinor itu saja kau menunjukan sifat aslimu pemuja pebinor
dan pemuja pebinor dan pemuja pelamor itu adalah wanita atau lelaki jablay yang kesetiaan diragukan