Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Atas Manuskrip
Tangga menuju lantai bawah tanah perpustakaan terasa lembap dan pengap, sangat kontras dengan kemeriahan pesta di atas sana. Matteo bergerak dalam kegelapan tanpa bantuan cahaya senter, mengandalkan ingatan dan insting yang telah dilatih selama bertahun-tahun. Sepatu botnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas lantai batu yang dingin.
Di depannya, sebuah pintu besi raksasa dengan sistem pengunci mekanis kuno berdiri menghalangi. Ini adalah jantung dari Verona—tempat di mana sejarah asli kota ini disembunyikan dari publik.
Matteo mengeluarkan sebuah perangkat elektronik kecil dan menempelkannya ke panel pintu. Namun, seperti yang dikatakan Marcella, mesin itu hanya merespons deteksi biologis. Ia mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi sampel darah yang diambilnya secara diam-diam dari Elena malam sebelumnya—sebuah tindakan pengkhianatan kecil yang ia lakukan demi tujuan besar.
Klik.
Pintu itu berayun terbuka dengan suara dengung pelan. Di dalam, sebuah brankas kecil berbahan titanium berdiri di atas pedestal marmer. Matteo melangkah mendekat, namun indranya tiba-tiba menangkap gerakan dari balik rak buku besar di sudut ruangan.
"Aku sudah menduga kau akan datang ke sini, Putraku."
Isabella Valenti keluar dari kegelapan. Wanita itu tidak mengenakan gaun pesta, melainkan setelan hitam yang praktis, dengan sebuah pistol kecil yang diarahkan tepat ke jantung Matteo.
"Ibu selalu selangkah lebih maju," ucap Matteo tanpa rasa takut, meskipun otot-ototnya menegang siap untuk menerjang.
"Kau terlalu lemah karena wanita Moretti itu, Matteo," desis Isabella. "Daftar itu tidak boleh dibuka. Jika namaku ada di sana, kau pikir aku akan membiarkanmu menghancurkan apa yang telah kubangun selama puluhan tahun?"
"Jika namamu ada di sana, itu artinya Ibu memang pantas dihancurkan," balas Matteo dingin.
Sementara itu, di lantai atas, dansa Elena menjadi semakin berbahaya. Count D’Angelo mulai menyadari siapa wanita di hadapannya. "Kau... kau adalah putri Moretti! Penjaga! Tangkap wanita ini!"
Suara teriakan D’Angelo memecah musik orkestra. Kerumunan tamu pesta berhamburan dalam kepanikan. Elena tidak lari. Ia justru merenggut sebuah belati kecil yang tersembunyi di balik ikat pinggang gaunnya—pemberian rahasia dari Luca sebelum pesta dimulai.
"Sepuluh menit sudah habis, Count," ucap Elena dengan tatapan yang membara.
Di bawah tanah, suara tembakan meletus, bergema hingga ke aula pesta. Elena tersentak. Jantungnya seolah berhenti. Tanpa memedulikan para penjaga yang mengejarnya, ia berlari menuju tangga bawah tanah.
Ia tidak tahu siapa yang tertembak, namun satu hal yang pasti: Gema di langit Verona malam ini akan berakhir dengan darah, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali ke masa lalu.
Gema tembakan itu tidak hanya memekakkan telinga, tapi juga seolah merobek tabir kesunyian yang menyelimuti ruang bawah tanah perpustakaan. Asap mesiu yang tipis dan beraroma belerang mulai memenuhi ruangan yang lembap itu, menari-nari di bawah cahaya lampu darurat yang berkedip merah.
Matteo berdiri mematung, namun bukan karena peluru menembus dadanya. Peluru dari pistol Isabella menghantam sebuah guci porselen kuno tepat di samping kepala Matteo, meledakkannya menjadi ribuan serpihan tajam. Pria itu tidak bergeming; tatapannya tetap terkunci pada ibunya, sedingin es yang membeku di puncak Alpen.
"Tembakan pertama adalah peringatan, Matteo," Isabella berkata dengan nada suara yang bergetar antara amarah dan kesedihan. "Tembakan kedua akan memastikan bahwa keluarga Valenti tidak lagi memiliki ahli waris yang pembangkang."
Matteo menarik napas perlahan, tangannya masih memegang tabung sampel darah Elena di depan brankas titanium. "Ibu tidak akan melakukannya. Bukan karena Ibu mencintaiku, tapi karena tanpa aku, tidak ada satu pun orang di Verona yang akan tunduk pada perintah Valenti. Ibu butuh aku sebagai wajah dari kekuasaan ini, sementara Ibu tetap menjadi bayangan yang mengendalikan benang-benangnya."
"Kau meremehkan rasa sakit seorang wanita yang dikhianati oleh darah dagingnya sendiri!" Isabella melangkah maju, tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer. "Daftar itu... Gema Verona... itu bukan hanya berisi nama-nama pengkhianat. Itu berisi sejarah bagaimana ayahmu dan aku membangun kekaisaran ini dari reruntuhan Moretti. Jika kau membukanya, kau akan melihat bahwa pahlawan yang kau kagumi—ayahmu—tak lebih dari seorang pembunuh yang efisien."
Di lantai atas, aula pesta telah berubah menjadi neraka yang indah. Musik orkestra telah berhenti total, digantikan oleh jeritan para wanita dan teriakan komando dari para penjaga D’Angelo. Elena Moretti berdiri di tengah lantai dansa, belati kecil di tangannya berkilau terkena cahaya lampu kristal.
Count D’Angelo terhuyung mundur, tangannya menunjuk ke arah Elena dengan gemetar. "Tangkap dia! Dia mencoba membunuhku!"
Dua penjaga berseragam hitam merangsek maju. Elena tidak menunggu mereka mendekat. Ia menendang meja bundar yang berisi gelas-gelas sampanye, menciptakan barikade instan dari pecahan kaca. Sebelum para penjaga itu sempat menarik senjata mereka, Luca muncul dari balik pilar. Dengan gerakan yang sangat cepat dan brutal, tangan kanan Matteo itu melumpuhkan salah satu penjaga dengan pukulan di tenggorokan, sementara yang lain dilemparkan ke arah dinding.
"Signorina, ikut aku! Sekarang!" teriak Luca, suaranya parau di tengah kegaduhan.
"Matteo ada di bawah! Aku mendengar tembakan!" Elena membalas, matanya liar mencari jalan menuju tangga bawah tanah.
"Tuan Matteo bisa menjaga dirinya sendiri. Perintahnya adalah membawamu keluar!"
Elena tidak peduli. Ia menyentak lengannya dari genggaman Luca. "Dia tidak akan bisa menjaga diri jika ibunya sendiri yang menarik pelatuk! Aku tahu Isabella ada di bawah sana!"
Tanpa menunggu persetujuan Luca, Elena berlari menembus kerumunan yang panik. Gaun biru gelapnya tersangkut pada sudut meja, merobek bagian bawahnya hingga memperlihatkan kaki yang lincah berlari menuju pintu kecil di balik rak buku raksasa.
Kembali di ruang bawah tanah, Matteo akhirnya memasukkan sampel darah ke dalam sensor brankas. Cahaya biru memindai tabung tersebut.
Access Granted.
Pintu titanium itu berdesis, terbuka secara perlahan dan menyingkap sebuah buku kulit tua yang sangat tebal dengan pengunci perak. Di saat yang sama, Isabella menarik pelatuknya untuk kedua kali.
Matteo berguling ke samping, menjatuhkan diri di balik pedestal marmer saat peluru menghantam logam brankas dengan denting yang keras. Pria itu menarik pistol dari balik pinggangnya, namun ia ragu. Membunuh ibunya adalah garis yang belum siap ia lalui, meski wanita itu siap menghabisinya.
"Hentikan!"
Suara Elena menggema saat ia muncul di ambang pintu bawah tanah. Napasnya tersengal, wajahnya yang cantik kini ternoda oleh keringat dan debu. Isabella menoleh sejenak, memberikan celah yang dibutuhkan Matteo.
Dengan gerakan cepat, Matteo menerjang ibunya, mencengkeram pergelangan tangan Isabella dan membantingnya ke dinding. Pistol itu terlepas dari tangan Isabella dan meluncur di lantai, berhenti tepat di depan kaki Elena.
"Sudah berakhir, Ibu," desis Matteo, menahan tubuh Isabella dengan berat badannya.
Isabella tertawa sinis, meskipun wajahnya tampak menahan sakit. "Berakhir? Tidak, Matteo. Ini baru saja dimulai. Lihatlah daftar itu. Lihatlah apa yang dilakukan keluarga 'suci' Moretti untuk tetap berkuasa. Kau akan menyesal telah membukanya."
Elena mengambil buku tua itu dari brankas dengan tangan gemetar. Ia membuka halaman pertama yang berisi catatan tulisan tangan ayahnya. Namun, matanya tertuju pada sebuah foto kecil yang terselip di dalamnya. Foto seorang pria dan wanita yang sedang tersenyum di depan sebuah perkebunan anggur.
Pria itu adalah ayahnya, dan wanita di sampingnya... bukanlah ibunya, Marcella. Melainkan Isabella Valenti yang masih muda.
Dunia seolah berputar bagi Elena. Di belakangnya, Matteo melepaskan cengkeramannya pada ibunya, matanya terpaku pada foto yang dipegang Elena.
"Apa... apa maksud semua ini?" bisik Elena, suaranya pecah.
Di luar, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Gema di langit Verona malam ini bukan lagi tentang dendam dua keluarga, melainkan tentang cinta terlarang yang telah menghancurkan sebuah kota selama puluhan tahun.