NovelToon NovelToon
Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
​Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
​Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
​"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Hutang Nyawa dan Perjanjian Hitam

Siapa pria misterius itu dan apa hubungannya dengan berkas rahasia yang ia lihat di meja kerja Adrian tadi pagi? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Lana saat ia melangkah masuk ke dalam kelas yang sudah riuh oleh gosip pagi. Kehadiran Letnan Yoga yang berdiri kaku di depan pintu kelas semakin membuat suasana menjadi sangat tidak nyaman bagi Lana.

Lana duduk di bangkunya dengan perasaan gelisah yang luar biasa besar di dalam dadanya. Teman sekelasnya mulai berbisik sambil menunjuk ke arah koridor tempat sang tentara berjaga dengan waspada. Salah seorang teman Lana yang paling vokal, Siska, segera mendekat dengan tatapan mata yang penuh rasa ingin tahu.

"Lana, siapa pria tampan berseragam di depan itu? Kenapa dia mengikutimu seperti pengawal pribadi?" tanya Siska dengan nada yang sangat penasaran.

Lana terdiam sejenak sambil meremas tali tasnya hingga jari jemarinya memutih karena tekanan yang sangat kuat. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa pria itu adalah ajudan dari suaminya yang merupakan seorang Kolonel kaya raya. Rahasia pernikahan ini harus tetap tertutup rapat agar ia bisa tetap sekolah dengan tenang tanpa gangguan.

"Dia hanya kerabat jauh yang diminta paman saya untuk menjaga saya sebentar," jawab Lana dengan nada suara yang bergetar.

Siska tampak tidak puas dengan jawaban singkat itu dan terus memicingkan matanya dengan penuh kecurigaan. Ia melihat ke arah pergelangan tangan Lana yang tidak sengaja memperlihatkan kilauan permata dari balik lengan seragamnya. Lana segera menarik lengan bajunya ke bawah untuk menyembunyikan cincin pernikahan yang sangat mewah tersebut.

Pelajaran pertama dimulai namun pikiran Lana justru terbang kembali ke meja kerja Adrian yang penuh dengan dokumen rahasia. Ia teringat kata hutang nyawa yang tertulis dalam lembaran kertas kusam di dalam map cokelat milik suaminya. Apakah ayahnya benar-benar terlibat dalam sebuah perjanjian hitam dengan keluarga Al Fahri yang sangat berkuasa itu?

"Lana, silakan maju ke depan dan kerjakan soal nomor lima ini sekarang juga," perintah guru matematika dengan nada yang sangat tegas.

Lana tersentak kaget dan berdiri dengan gugup hingga kursinya berderit cukup keras di atas lantai kelas. Ia berjalan menuju papan tulis dengan langkah yang terasa sangat berat seolah kakinya terbuat dari timah panas. Matanya menatap deretan angka yang tampak seperti benang kusut yang sangat sulit untuk ia urai dengan logika.

Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari arah luar kelas yang membuat guru dan seluruh siswa menoleh ke arah jendela. Beberapa orang pria berpakaian safari hitam terlihat sedang bersitegang dengan Letnan Yoga di tengah koridor sekolah. Salah satu pria itu adalah orang yang tadi pagi menatap Lana dengan penuh misteri di balik pohon besar.

"Keluarlah, Nona Lana, ada hal penting yang harus kita bicarakan mengenai orang tua kandungmu!" teriak pria misterius itu dengan suara yang lantang.

Seluruh kelas seketika menjadi hening dan semua pandangan kini tertuju pada Lana yang berdiri membeku di depan papan tulis. Guru matematika itu tampak sangat bingung dan segera berjalan menuju pintu untuk memeriksa keadaan yang sedang terjadi. Lana merasa dunianya seolah sedang runtuh berkeping-keping di depan mata semua teman sekelasnya hari ini.

Letnan Yoga dengan sigap menghadang pria itu dan mengeluarkan senjata apinya namun tetap menyembunyikannya di balik jaket. Ketegangan yang tercipta di koridor sekolah itu membuat suasana menjadi sangat mencekam dan penuh dengan aura bahaya. Lana melihat Yoga sedang berbicara melalui alat komunikasi nirkabel di kerah bajunya dengan wajah yang sangat serius.

"Nona Lana, tetaplah di dalam kelas dan jangan mendekat ke arah jendela sedikit pun," perintah Yoga melalui tatapan mata yang sangat tajam.

Pria misterius itu tertawa sinis dan melempar sebuah kalung perak ke arah kaki Letnan Yoga dengan gerakan yang sangat kasar. Lana mengenali kalung itu sebagai milik ayahnya yang selalu dipakai sebelum beliau dikabarkan hilang dalam misi belasan tahun lalu. Rasa ingin tahu yang meledak membuat Lana mengabaikan semua larangan Adrian dan segera berlari keluar kelas.

"Berhenti! Jangan sakiti dia! Itu kalung milik ayah saya!" teriak Lana sambil menerjang kerumunan di koridor tersebut.

Lana berhasil meraih kalung itu namun tangannya justru ditarik paksa oleh pria misterius tersebut ke arah tangga darurat. Yoga segera melepaskan tembakan peringatan ke arah langit-langit gedung hingga membuat seluruh siswa berteriak histeris karena ketakutan. Suara tembakan itu menggema sangat keras di seluruh penjuru sekolah dan menciptakan kekacauan yang sangat luar biasa.

Tepat saat pria itu hendak membawa Lana pergi, sebuah helikopter militer muncul di langit sekolah dengan suara baling-baling yang sangat memekakkan telinga. Pintu helikopter terbuka dan memperlihatkan sosok Adrian yang sedang memegang tali peluncur dengan wajah yang sangat murka. Sang Kolonel terjun dengan sangat cepat dan mendarat tepat di antara Lana dan pria misterius tersebut.

Adrian segera memberikan pukulan telak ke arah wajah pria itu hingga ia tersungkur di atas lantai marmer yang sangat dingin. Ia kemudian menarik Lana ke dalam pelukannya yang sangat posesif dan melindungi tubuh gadis itu dari ancaman yang ada. Mata Adrian menyala-nyala karena amarah yang sangat besar melihat istri kecilnya hampir saja diculik di depan matanya.

"Sudah saya katakan untuk tetap diam, kenapa kamu selalu saja membangkang perintah saya?" desis Adrian dengan nada yang sangat tajam.

Lana hanya bisa menangis sesenggukan di dada bidang Adrian sambil menggenggam erat kalung perak milik ayahnya yang penuh dengan noda tanah. Ia tidak peduli lagi dengan semua gosip yang akan menyebar di sekolahnya setelah kejadian yang sangat dramatis ini. Yang ia inginkan hanyalah jawaban jujur dari mulut suaminya mengenai keberadaan ayahnya yang sebenarnya.

Pria misterius yang tersungkur itu tertawa terbahak-bahak sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Ia menatap Adrian dengan pandangan yang penuh dengan kebencian sekaligus kemenangan yang sangat aneh di dalam matanya. Lana merasakan tubuh Adrian menegang hebat saat pria itu menyebutkan sebuah nama yang tampaknya sangat sakral.

"Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya dari putri kandung sang pengkhianat negara?" tanya pria itu dengan nada yang sangat mengejek.

Adrian tidak menjawab melainkan segera memberikan instruksi kepada pasukan elitnya untuk membawa pria itu menuju markas bawah tanah. Ia mengangkat tubuh Lana dengan gaya menggendong pengantin dan membawanya menuju helikopter yang masih menunggu di lapangan sekolah. Lana merasa sangat malu karena seluruh warga sekolah kini menyaksikan ia dibawa pergi oleh sang perwira tinggi.

Di dalam helikopter yang sedang mengangkasa, Adrian tetap diam seribu bahasa dengan tatapan mata yang tertuju ke arah cakrawala luas. Lana mencoba menyentuh lengan Adrian namun pria itu justru menjauhkan dirinya seolah sedang jijik bersentuhan dengan istri kecilnya. Luka di hati Lana terasa semakin dalam saat ia menyadari bahwa ada rahasia gelap yang baru saja terbuka.

"Tolong katakan pada saya, apakah ayah saya benar-benar masih hidup di dalam penjara militer?" tanya Lana dengan penuh keputusasaan.

Adrian menoleh perlahan dan menatap Lana dengan pandangan yang sangat dingin seolah ia sedang menatap musuh di medan perang paling berdarah. Ia mengeluarkan sebuah kunci borgol dari sakunya dan memainkannya di antara jari jemarinya yang panjang dan sangat kuat itu.

"Ayahmu tidak berada di penjara, tapi dia adalah alasan kenapa kamu harus terikat dalam perjanjian hitam ini sampai mati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!