Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. BERKELILING MANSION
Matahari semakin tinggi, menyinari setiap sudut mansion yang berdiri kokoh layaknya benteng tak tertembus. Setelah sarapan yang cukup mengenyangkan, Dipta memenuhi janjinya untuk mengajak Keyla berkeliling. Keyla, yang mengenakan gaun katun putih sederhana dengan jaket rajut, melangkah di samping Dipta yang tetap terlihat gagah meski hanya mengenakan kemeja linen santai.
"Mansion ini sangat besar, Dipta. Tapi kenapa suasananya terasa begitu sepi meskipun banyak orang di sini?" tanya Keyla sambil menatap langit-langit lobi yang dihiasi lampu kristal gantung yang masif.
"Karena setiap orang di sini punya tugas masing-masing, Keyla. Mereka tidak dibayar untuk berkeliaran tanpa tujuan. Tempat ini adalah efisiensi dalam bentuk bangunan," jawab Dipta datar.
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang yang menuju ke sayap belakang mansion. Keyla tercengang melihat fasilitas yang ada. Ada puluhan kamar yang tertata rapi seperti asrama kelas satu, khusus untuk para pekerja dan tim keamanan.
"Ada dua dapur?" tanya Keyla saat mereka melewati area pelayanan.
"Benar. Satu dapur besar di sana khusus untuk menyiapkan makanan bagi dua puluh orang pekerja setiap harinya. Dan dapur yang lebih kecil di dekat ruang makan tadi khusus untuk kita. Aku ingin privasiku tetap terjaga," jelas Dipta.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu kaca transparan yang bertuliskan Medical Center. Di dalamnya, Keyla melihat peralatan medis yang sangat lengkap—ranjang pasien, tabung oksigen, bahkan alat pemantau jantung yang biasanya hanya ada di ICU rumah sakit besar. Seorang dokter wanita dan dua perawat tampak sedang merapikan botol-botol obat.
"Kenapa sampai ada klinik selengkap ini, Dipta? Jika ada yang sakit, bukankah lebih mudah membawanya ke rumah sakit di kota?" tanya Keyla heran, keningnya berkerut bingung.
Dipta tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ruangan itu sesaat, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Rumah sakit di kota terlalu banyak pertanyaan, Sayang. Di sini, aku lebih suka menyelesaikan semuanya secara mandiri. Keamanan adalah prioritas utama."
Keyla ingin bertanya lebih jauh, namun ia menangkap kilatan di mata Dipta yang seolah berkata jangan tanya lagi. Ia tidak tahu bahwa klinik itu sering kali menjadi saksi bisu luka tembak atau cedera fatal yang dialami anak buah Dipta dalam bisnis gelap persenjataan mereka. Bagi Dipta, membawa anak buah yang terluka ke rumah sakit umum sama saja dengan menyerahkan diri ke polisi.
*
Mereka melanjutkan perjalanan menuju lift utama untuk kembali ke lantai atas. Saat berada di dalam lift yang berdinding cermin gelap itu, mata Keyla terpaku pada panel tombol. Selain tombol lantai satu hingga tiga, ada satu tombol paling bawah dengan simbol aneh yang tidak menyala.
"Lantai bawah tanah itu... tempat apa, Dipta?" tanya Keyla, jarinya hampir menyentuh tombol tersebut.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Dipta menangkap tangan Keyla, menariknya menjauh dari panel. "Itu bukan tempat untukmu, Keyla."
"Kenapa? Apakah itu gudang senjata lagi?"
"Lebih dari sekadar gudang," jawab Dipta singkat, suaranya kini terdengar lebih dingin dan tegas. "Aku tidak memberimu izin ke sana. Jangan pernah mencoba turun ke bawah tanah tanpa aku, atau tanpa pengawalan khusus. Mengerti?"
Keyla menelan ludah. Ketegasan Dipta membuatnya sedikit merinding. "Kau selalu penuh rahasia."
"Beberapa rahasia ada untuk melindungimu, bukan untuk membatasimu," ujar Dipta sambil merangkul bahu Keyla saat pintu lift terbuka di lantai dasar, mengalihkan pembicaraan sebelum Keyla bertanya lebih dalam tentang ruang bawah tanah yang sebenarnya adalah penjara dan ruang interogasi paling kejam di wilayah itu.
**
Mereka keluar menuju area luar mansion. Begitu menginjakkan kaki di halaman, mata Keyla langsung berbinar. Berbeda dengan bagian dalam mansion yang kaku dan gelap, taman di luar sini sangat asri. Ada deretan pohon apel yang sedang berbuah, kebun sayuran organik yang hijau, dan bunga-bunga liar yang tumbuh di sela-sela pepohonan.
Beberapa kelinci putih melompat keluar dari semak-semak, dan tupai-tupai lincah terlihat berkejaran di dahan pohon.
"Wah! Ini cantik sekali!" seru Keyla, ia berlari kecil menuju kebun apel. "Dipta, kenapa tempat secantik ini dibiarkan tersembunyi? Kita harus menanam lebih banyak bunga di sini. Mawar, melati, atau lili. Taman ini butuh lebih banyak warna."
Dipta berdiri di belakangnya, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Ia menatap punggung Keyla yang tampak begitu ceria. "Tanamlah apa pun yang kau mau. Aku akan memerintahkan tukang kebun untuk menyiapkan apa pun yang kau minta."
"Benarkah?" Keyla menoleh dengan senyum lebar.
"Asalkan kau senang," jawab Dipta tulus.
Mereka terus berjalan hingga sampai ke tepian danau buatan yang terletak di bagian paling belakang mansion. Air danau itu sangat tenang, hampir seperti cermin yang memantulkan pepohonan rimbun di sekelilingnya.
"Bolehkah aku bermain di tepi danau itu? Airnya terlihat sangat sejuk," tanya Keyla, ia sudah bersiap melepas alas kakinya.
Namun, sebelum Dipta menjawab, permukaan air yang tenang itu tiba-tiba terbelah. Sebuah moncong panjang dengan kulit bersisik keras muncul ke permukaan, disusul oleh sepasang mata predator yang dingin.
"Buaya?" Keyla memekik kaget, melompat mundur dan hampir terjatuh jika Dipta tidak sigap menangkap pinggangnya.
Tak hanya satu, di sudut lain danau, dua ekor buaya raksasa lainnya tampak sedang berjemur di atas bebatuan yang setengah tenggelam.
"Dipta! Kenapa ada buaya di sini? Kenapa kau memelihara hewan semenakutkan itu?" tanya Keyla dengan napas memburu karena terkejut.
Dipta menatap predator-predator air itu dengan pandangan datar. "Mereka adalah penjaga yang paling efisien, Keyla. Mereka tidak butuh gaji, tidak bisa disuap, dan mereka sangat patuh jika tahu siapa yang memberi mereka makan."
"Untuk apa? Ini mengerikan!"
Dipta mengusap rambut Keyla, mencoba menenangkannya. "Suatu saat, jika kau sudah siap, aku akan memberitahumu segalanya. Tapi untuk sekarang, cukup tahu bahwa danau ini bukan tempat untuk berenang."
Keyla menatap danau itu dengan ngeri. Ia tidak tahu bahwa buaya-buaya itu sering kali digunakan Dipta untuk melenyapkan "jejak" atau memberi pelajaran bagi mereka yang berkhianat. Di balik keindahan danau itu, tersimpan kekejaman yang tak terbayangkan.
**
Rasa takut Keyla perlahan mereda saat Dipta membawanya kembali ke area taman yang lebih aman. Mereka duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu jati, di bawah naungan pohon apel yang rindang. Angin sepoi-sepoi dan aroma alam membuat suasana menjadi sangat rileks.
Keyla menyandarkan kepalanya di bahu Dipta, sementara Dipta merangkulnya erat. Rasa lelah setelah penyatuan mereka yang berkali-kali semalam, ditambah dengan perut yang kenyang setelah sarapan besar, mulai membuat kelopak mata Keyla terasa berat.
"Dipta... taman ini benar-benar membuatku mengantuk," bisik Keyla lirih.
Dipta tidak menjawab, ia hanya membiarkan Keyla mengubah posisinya. Keyla kini merebahkan kepalanya di pangkuan Dipta, menekuk kakinya sedikit agar merasa nyaman di atas bangku taman. Tak butuh waktu lama, napas Keyla menjadi teratur dan dalam. Ia kembali tertidur pulas.
Dipta menunduk, menatap wajah istrinya yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Ia mengusap pipi Keyla dengan ibu jarinya, tersenyum geli. "Bangun siang, makan banyak, lalu tidur lagi di taman. Kau benar-benar seperti bayi, Keyla," gumamnya pelan.
Dipta tetap duduk di sana selama hampir tiga puluh menit, membiarkan istrinya beristirahat. Setelah memastikan Keyla benar-benar terlelap, ia mengangkat tubuh kecil itu dengan hati-hati agar tidak terbangun. Ia membawa Keyla kembali masuk ke dalam mansion, naik ke kamar utama, dan membaringkannya di atas tempat tidur raksasa. Ia menyelimuti Keyla dengan selimut bulu yang hangat, lalu mencium keningnya lama.
***
Setelah memastikan istrinya aman dalam tidurnya, ekspresi lembut di wajah Dipta seketika sirna. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan sangat pelan, dan berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di ujung lorong.
Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, Dipta duduk di belakang meja mahoninya yang besar. Ia mulai membuka beberapa berkas legal terkait pengiriman logistik Mahendra Group. Namun, fokusnya terganggu oleh ketukan tegas di pintu.
"Masuk," ujar Dipta dingin.
Doni, orang kepercayaan Dipta yang paling setia, masuk dengan wajah serius. Ia menunduk hormat sebelum mendekati meja Dipta.
"Lapor, Tuan Besar," ujar Doni dengan suara rendah. "Target yang melarikan diri dari gudang minggu lalu sudah berhasil ditemukan oleh tim pengejar di perbatasan."
Dipta mendongak, matanya berkilat tajam. "Di mana dia sekarang?"
"Sesuai perintah Anda, dia sudah diamankan dan sekarang berada di ruang bawah tanah, Tuan. Di sel nomor empat," jawab Doni. "Dia siap untuk diinterogasi."
Dipta menyandarkan punggungnya, mengetukkan jarinya di atas meja. Ruang bawah tanah yang tadi ia larang untuk Keyla masuki kini sedang menampung seorang pengkhianat yang mencoba mencuri data perakitan senjata mereka.
"Bagus. Siapkan peralatannya. Aku akan turun sepuluh menit lagi," perintah Dipta. "Pastikan tidak ada suara yang sampai ke lantai atas. Istriku sedang tidur."
"Baik, Tuan."
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu