Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20# Penyerangan
Keheningan di dasar jurang malam itu terasa sangat tidak wajar. Cahaya lumut biru yang biasanya menenangkan kini berpendar redup, seolah-olah alam bawah tanah itu sendiri sedang menahan napas. Semua orang di dalamnya sedang terlelap dalam tidur yang paling nyenyak setelah rekonsiliasi emosional antara Naya dan Cicilia. Namun, di balik kegelapan dahan-dahan hitam yang mengelilingi perkemahan Dasha, ratusan mata merah kecil mulai terbuka satu per satu.
Arlo terbangun bukan karena suara, melainkan karena naluri. Ia merasakan getaran halus di permukaan tanah. Sebelum ia sempat berteriak, sebuah bayangan kurus melesat dari atas pohon raksasa.
"BANGUN! SEMUANYA BANGUN!" teriak Arlo sekuat tenaga.
Suara teriakan Arlo dibalas dengan jeritan melengking yang mengerikan. Puluhan Silvan Striker makhluk berkulit kayu dengan kuku panjang terjun dari kegelapan, menyerang perkemahan dari segala penjuru. Kekacauan pecah seketika. Tenda-tenda darurat yang dibangun susah payah robek dalam sekejap.
Tidak ada waktu untuk takut. Rick menyambar tombak listriknya dan langsung menusukkannya ke dada seekor monster yang mencoba menerjang Lily. Zephyr bergerak seperti bayangan, belatinya menebas leher-leher monster dengan presisi mematikan sementara ia tetap berada di depan Naya. Harry dan Dokter Luz saling memunggungi, menggunakan senjata api rakitan dan pisau besar untuk menghalau serangan yang bertubi-tubi.
Bahkan Rayden, yang biasanya akan langsung meringkuk di bawah selimut, kali ini terdesak. Seekor Silvan Striker berhasil mencengkeram tas pancinya. Dengan wajah pucat pasi dan mata melotot, Rayden berteriak histeris. "JANGAN SENTUH PERALATANKU, KAU POHON BERJALAN!" Rayden mengayunkan sendok sayur logamnya dengan kalap, menghantam kepala monster itu berkali-kali. Meskipun gemetar, kakinya tidak mundur. Ia terpaksa bertarung demi nyawanya sendiri.
Pertarungan melawan Silvan Striker ini sangat berat. Mereka semua mulai terluka. Finn yang masih terluka dari pagi tadi harus menahan perih saat bahunya kembali dicakar. Tom dan Rony berteriak memberikan instruksi, mencoba mempertahankan perimeter perkemahan.
Tiba-tiba, Rick berhasil melukai satu Silvan Striker yang ukurannya lebih besar, kemungkinan pemimpin kawanan itu. Monster itu mengeluarkan lengkingan frekuensi tinggi yang sangat memekakkan telinga. Ia bukan sekadar mengerang kesakitan, ia sedang memanggil bantuan.
Dari kejauhan, suara berat dan raungan rendah yang sangat mereka kenal mulai terdengar. Phenix Omega. Tidak hanya satu, tapi sekelompok predator itu datang karena panggilan Silvan Striker.
"Sial! Mereka memanggil bantuan!" teriak Dasha sambil melemparkan tombak kayunya.
Kedatangan Phenix Omega mengubah malam itu menjadi pembantaian. Monster-monster itu meluncur turun dari langit jurang, menghancurkan apa pun yang tersisa. Selene mencoba berdiri dan memberikan perlawanan dengan kekuatannya, namun kondisinya yang masih lemah membuatnya terhuyung. Arlo segera menangkapnya, menahan serangan kuku Phenix Omega dengan pedang besinya hingga percikan api memercik di kegelapan.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Becca sedang berusaha menolong Lira yang terjepit di bawah reruntuhan tiang tenda. Becca, sang penyembuh yang lembut, tidak menyadari seekor Phenix Omega sedang menukik tajam tepat di belakangnya.
"BECCA! AWAS!" jerit Dasha.
Namun terlambat. Kuku raksasa Phenix Omega itu menembus punggung Becca, mengangkat tubuh gadis itu ke udara sebelum membantingnya keras ke dinding batu tebing.
"TIDAAAKKK!" raungan kolektif pecah dari mulut tim Dasha.
Kematian Becca memicu kemarahan yang luar biasa. Tom, yang biasanya tenang, mengamuk dengan kapaknya, membelah kepala Silvan Striker yang ada di depannya. Arlo dan Rick bersatu, melakukan serangan kombinasi yang berhasil menumbangkan satu Phenix Omega. Mereka semua, tanpa terkecuali, menyerang dengan kekuatan sisa yang mereka miliki. Naya bahkan menggunakan sisa-sisa kristal energi untuk menciptakan ledakan kecil guna mengusir monster-monster itu.
Darah membanjiri perkemahan. Setelah pertarungan yang terasa seperti selamanya, beberapa monster mulai mundur karena jumlah mereka juga banyak yang berkurang. Phenix Omega yang tersisa pergi kembali ke kegelapan, sementara Silvan Striker yang masih hidup melata kembali ke pepohonan.
Hening kembali turun, namun ini adalah hening yang penuh duka.
Dasha berlari menuju tubuh Becca yang terkapar di bawah dinding tebing. Ia memangku kepala sahabatnya itu, namun mata Becca sudah kosong. Luka di dadanya terlalu parah. Gadis yang selama sembilan bulan menyembuhkan luka mereka kini telah gugur.
Semua orang berkumpul mengelilingi tubuh Becca. Cicilia menutup wajahnya, terisak hebat karena ingatan tentang Leo kembali muncul. Lily dan Rony menangis dalam diam, sementara Tom memukul dinding batu dengan frustrasi. Harry menundukkan kepala, ia sudah terlalu sering melihat kematian, namun kali ini terasa lebih menyakitkan karena mereka adalah anak-anak yang seharusnya memiliki masa depan.
"Kenapa... kenapa dunia ini tidak membiarkan kita bernapas sebentar saja?" bisik Rayden yang kini jatuh terduduk di tanah, seluruh tubuhnya berlumuran darah monster. Keberaniannya tadi menguap, digantikan oleh rasa frustrasi yang sangat dalam.
Arlo berdiri di samping Dasha, tangannya mengepal erat hingga gemetar. Ia menatap Dokter Luz dengan tatapan yang sangat tajam. "Ini adalah 'pembersihan' yang kau maksud, kan? Menara tidak ingin kita bersatu!"
Luz tidak menjawab, ia hanya menatap tubuh Becca dengan tatapan yang sulit diartikan.
Malam itu, tidak ada yang tidur lagi. Mereka menghabiskan waktu dengan mengubur Becca di bawah lumut biru yang paling terang sebagai penghormatan terakhir. Kehilangan Becca bukan hanya mengurangi jumlah mereka, tapi juga menghancurkan sedikit semangat yang baru saja mereka bangun.
Di dasar jurang yang kini hancur total, semua orang yang tersisa menyadari satu hal, Tidak ada tempat aman. Tidak ada waktu untuk berduka terlalu lama. Menara telah memulai permainannya, dan jika mereka tidak bergerak sekarang, mereka semua akan berakhir di liang kubur yang sama dengan Becca.
"Kita berangkat sekarang," ucap Arlo dengan suara yang dingin. "Kita tidak akan menunggu sampai pagi. Kita bawa dendam ini sampai ke jantung Menara."
Dengan tubuh penuh luka dan hati yang hancur, mereka mulai melangkah keluar dari perkemahan Dasha yang telah menjadi puing. Perjalanan menuju Lembah Tanpa Suara dimulai dengan air mata yang mengering dan senjata yang digenggam lebih erat dari sebelumnya.