Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"
Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja?
Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa?
Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Ruang Isolasi 01
Udara di dalam lorong sektor empat selalu memiliki rasa besi yang tertinggal di lidah, sebuah perpaduan antara sistem penyaringan udara yang terlalu kuat dan aroma logam dari peralatan bedah yang disterilkan. Aku melangkah dengan ritme yang teratur, mencoba menenangkan debaran jantungku yang tidak sinkron dengan langkah kakiku. Setiap pagi, sebelum lampu utama fasilitas dinyalakan sepenuhnya, aku selalu menyempatkan diri untuk datang lebih awal. Aku ingin melihatnya saat dia masih berada dalam fase sisa-sisa tidurnya, sebelum kemarahan dan insting liarnya mengambil alih kesadarannya sepenuhnya.
Aku sampai di depan panel kontrol utama. Tanganku yang terbungkus sarung tangan lateks tipis bergerak lincah menekan serangkaian kode akses. Layar monitor di depanku menyala, menampilkan grafik biologis yang rumit. Garis-garis hijau dan merah itu melompat-lompat, menceritakan sebuah kisah tentang perubahan seluler yang tidak alami. Tekanan darahnya meningkat, suhu tubuhnya stabil di angka empat puluh derajat celsius, dan aktivitas gelombang otaknya menunjukkan pola pemangsa yang sedang waspada.
"Kau datang lebih awal hari ini, Dokter," suara itu muncul dari interkom, bukan dari dalam sel, melainkan dari rekan kerjaku, Marcus, yang berada di ruang pengawasan sebelah.
Aku mendekatkan mikrofon ke bibirku. "Aku perlu mengkalibrasi ulang dosis penenang sebelum sesi penyuntikan gen Enigma tahap ketiga dimulai, Marcus. Bagaimana kondisinya semalam?" tanyaku sambil mata tetap terpaku pada layar monitor.
"Dia meronta lagi sekitar pukul dua pagi. Sensor tekanan pada kaca mencatat ada hantaman sebesar lima ratus kilogram. Dia hampir saja meretakkan lapisan pelindung bagian dalam jika sistem kejut listrik tidak segera aktif secara otomatis," jawab Marcus dengan nada suara yang terdengar lelah.
Aku menghela napas panjang. "Jangan gunakan kejut listrik kecuali benar-benar darurat. Itu bisa merusak jaringan saraf yang sedang kita rekonstruksi."
Setelah mematikan sambungan dengan Marcus, aku melangkah masuk ke ruang observasi utama yang hanya dipisahkan oleh kaca tebal dari AL. Ruangan itu remang-remang. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu indikator di dinding. Di sana, di tengah ruangan yang dingin itu, AL duduk bersila di lantai. Dia tidak memakai baju, hanya celana kain khusus yang sudah robek di beberapa bagian akibat pertumbuhan massa ototnya yang sangat cepat.
Punggungnya menghadap ke arahku. Aku bisa melihat tulang belikatnya yang bergerak-gerak di bawah kulit, seperti ada sesuatu yang hidup dan merayap di bawah sana. Rambut hitamnya yang panjang dan sedikit lembap karena keringat menempel di lehernya yang kokoh. Urat-urat di lengannya menonjol, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang kuat.
"Aku tahu kau di sana, Esmeralda," ucap AL tanpa menoleh sedikit pun.
Suaranya bukan lagi suara manusia yang aku kenal sebulan lalu. Ada gema di dalamnya, sebuah vibrasi rendah yang bisa kurasakan getarannya di lantai yang aku pijak. Penggunaan namaku olehnya selalu membuatku merasa telanjang, seolah dia bisa melihat menembus jas laboratorium ini dan membaca semua rasa bersalah yang aku simpan.
"Aku perlu melakukan pemeriksaan rutin, AL. Tolong berbaliklah dan dekati area sensor," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap profesional dan tidak bergetar.
AL bergerak. Gerakannya tidak kaku seperti manusia, melainkan halus dan efisien seperti seekor kucing besar. Dia berdiri, dan aku kembali diingatkan betapa tingginya dia sekarang. Tingginya bertambah hampir sepuluh sentimeter sejak awal eksperimen, dan bahunya melebar secara signifikan. Saat dia berbalik, mata emasnya langsung mengunci mataku. Tidak ada lagi sisa warna cokelat manusia di sana. Yang ada hanyalah warna kuning menyala yang tajam, dengan pupil yang bisa menyempit menjadi garis vertikal saat cahaya mengenainya.
"Apakah hari ini kau akan memberiku lebih banyak racun itu lagi?" tanya AL sambil berjalan mendekat ke arah kaca.
Setiap langkahnya terasa berat dan penuh ancaman. Dia berhenti tepat di depan kaca, hanya beberapa inci dari tempatku berdiri. Aku bisa melihat taringnya yang sedikit menyembul dari balik bibirnya, putih dan tajam.
"Itu bukan racun, AL. Itu adalah gen Enigma yang akan membuatmu menjadi makhluk paling kuat yang pernah ada. Kau harus bekerja sama agar proses ini tidak menyakitimu lebih jauh," balasku, meskipun di dalam hati aku tahu bahwa aku sedang berbohong pada diriku sendiri. Proses ini sangat menyakitkan, dan aku adalah penyebabnya.
AL menyentuh kaca dengan ujung jarinya. Kuku-kukunya kini lebih menyerupai cakar, hitam dan runcing. "Kuat? Untuk apa menjadi kuat jika aku harus dikurung dalam kotak kaca seperti binatang sirkus? Kau mengambil kemanusiaanku, Esmeralda. Kau mengambil jiwaku dan menggantinya dengan monster ini."
Aku menundukkan kepala, pura-pura memeriksa papan data di tanganku untuk menghindari tatapannya yang menghakimi. "Proyek ini memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar individu. Data yang kami dapatkan darimu bisa menyelamatkan jutaan orang dari penyakit degeneratif."
AL tertawa, suara itu lebih mirip dengan geraman yang keluar dari tenggorokan hewan buas. "Jangan gunakan alasan mulia itu untuk menutupi rasa hausmu akan ilmu pengetahuan dan uang yang mereka berikan padamu. Kau suka melihatku berubah, bukan? Kau suka melihat bagaimana otot-ototku tumbuh dan bagaimana aku kehilangan kendali atas diriku sendiri."
Dia tiba-tiba menghantamkan telapak tangannya ke kaca. Suara benturannya begitu keras hingga aku tersentak mundur. Alarm di ruang kontrol berbunyi singkat, namun aku segera mematikannya.
"Mungkin karena dia lucu," bisikku pada diri sendiri, teringat pada saat pertama kali AL dibawa ke sini sebelum dia kehilangan sifat ramahnya. Saat itu dia masih bisa tersenyum dan bercanda tentang betapa buruknya makanan di fasilitas ini. Namun sekarang, senyum itu telah digantikan oleh seringai predator.
Wajahnya mendekat ke kaca, mengendus udara seolah-olah dia bisa mencium aromaku melalui sistem ventilasi. "Baumu berubah hari ini, Esmeralda. Ada bau kecemasan yang sangat kuat. Apakah kau mulai takut bahwa ikatan di tanganku ini tidak akan cukup kuat untuk menahanku saat bulan mencapai puncaknya malam ini?"
Aku mencoba mengabaikan pertanyaannya. "AL, aku akan mengaktifkan lengan mekanik untuk mengambil sampel darahmu. Tolong masukkan lenganmu ke dalam lubang akses."
AL tidak bergerak. Dia terus menatapku, seolah sedang menghitung berapa detik yang aku butuhkan untuk lari ke pintu keluar jika kaca ini tiba-tiba pecah. Ketegangan di ruangan itu menjadi begitu pekat, seolah oksigen telah habis dihisap oleh kehadirannya yang mendominasi.
"Jawab aku dulu, Dokter yang cantik. Apa yang akan kau lakukan jika aku berhasil keluar dari sini? Apakah kau akan menembakku dengan pistol penenang itu, atau kau akan membiarkan monster yang kau ciptakan ini mencicipi kulitmu?" tanya AL dengan nada yang sangat pelan namun penuh dengan intimidasi.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa keberanianku. "Aku akan melakukan tugas profesiku, AL. Tidak lebih dan tidak kurang. Sekarang, masukkan lenganmu atau aku akan terpaksa menggunakan gas penenang untuk membuatmu pingsan terlebih dahulu."
AL menatapku selama beberapa saat lagi, sebuah keheningan yang terasa seperti selamanya. Akhirnya, dia mendengus dan memasukkan lengan kirinya ke dalam lubang akses yang terjaga keamanannya. Aku segera mengoperasikan lengan mekanik untuk mengambil sampel darahnya. Saat jarum menusuk kulitnya yang keras, aku melihat rahangnya mengeras, namun dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Cairan merah gelap yang hampir terlihat hitam mengalir masuk ke dalam tabung sampel. Itu bukan lagi darah manusia biasa. Konsentrasinya jauh lebih kental dan mengandung energi kinetik yang sangat tinggi. Setelah selesai, aku menarik kembali lengan mekanik dan menutup lubang akses tersebut.
"Terima kasih atas kerja samanya, AL. Istirahatlah. Sesi utama akan dimulai dalam empat jam," kataku sambil bersiap untuk pergi.
Saat aku berbalik, aku mendengar suaranya lagi, kali ini tanpa nada kemarahan, hanya sebuah pernyataan yang dingin. "Kau bisa lari ke ujung dunia sekalipun, Esmeralda. Tapi gen Enigma ini sudah mengenali baumu sebagai miliknya. Tidak ada tempat persembunyian yang cukup aman bagi seorang pencipta dari ciptaannya yang lapar."
Aku tidak membalas ucapannya. Aku segera keluar dari ruang observasi dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya. Tanganku sedikit gemetar saat aku melepaskan sarung tangan lateks dan membuangnya ke tempat sampah medis. Aku harus segera ke laboratorium pusat untuk menganalisis sampel darah ini. Aku tahu, waktu kami semakin sempit. Transformasi AL hampir mencapai tahap kritis, dan jika aku tidak menemukan cara untuk menyeimbangkan agresivitas gen Enigma itu, fasilitas ini akan menjadi kuburan bagi kami semua.
Di dalam kepalaku, kata-kata AL terus terngiang. Aku mulai meragukan setiap keputusan yang telah aku ambil. Apakah ini benar-benar untuk ilmu pengetahuan, ataukah aku memang telah menciptakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di dunia ini? Aku melihat ke arah cermin di lorong, melihat wajahku yang terlihat pucat dan kelelahan. Mata itu, mata yang selalu mencari jawaban, kini hanya penuh dengan keraguan.
Aku harus melanjutkan penelitian ini. Aku harus memastikan AL tetap berada di bawah kendali. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu bahwa kendali adalah sebuah ilusi saat berhadapan dengan kekuatan alam yang telah dipaksa bangun oleh tangan manusia.