NovelToon NovelToon
Malaikat Yang Tersakiti

Malaikat Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Bullying dan Balas Dendam / Bullying di Tempat Kerja / Putri asli/palsu / Nikah Kontrak / Pernikahan rahasia
Popularitas:27.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yenny Een

Keheningan malam yang gemuruh memeluk kota Topaz. Sinar gelap menerobos kegelapan dalam penantian panjang. Sunyi riuh memeluk hati yang gaduh merenung diri. Dhona, wanita berusia 22 tahun, dikurung di dalam ruangan sempit di salah satu rumah sakit jiwa.

Apakah dia gila? Tentu saja tidak. Dhona sengaja dibuat gila oleh saudara angkatnya agar dia bisa diusir dari rumah orang tuanya.

Semenjak kehadiran saudara angkatnya, kehidupan Dhona berubah. Dhona yang berhati bak malaikat, dimanfaatkan kebaikannya oleh Alia, anak angkat yang ditemukan ayahnya di sebuah panti asuhan.

Dhona dijadikan pembantu, difitnah, dibully.
Dalam keputusasaan, Dhona lelah menjadi orang baik. Dhona mematahkan julukan malaikat yang selama ini melekat. Dhona dipengaruhi ilmu hitam.

Apakah Dhona benar-benar terjebak dalam lingkaran kebencian?

Terus ikuti jalan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Devi hanya duduk diam menyaksikan Dhona dituduh dan dipukuli keluarganya. Itulah tujuan utama Devi. Devi ingin menunjukkan kepada Dhona betapa jahatnya keluarganya. Dhona harus bangkit dan melawan.

Semakin Dhona sakit, Devi berharap semakin tertanam kebencian di dalam hatinya. Sifat-sifat baik hati dan ikhlas masih bersarang di dalam diri Dhona. Devi harus bisa menyingkirkan itu semua.

Devi melihat kondisi Phia yang mendapatkan serangan jantung. Salah seorang petugas polisi memeriksa Phia. Petugas itu mengangkat tubuh Phia dan mengajak Ardian ke rumah sakit. Dengan sangat terpaksa Ardian membawa Phia ke rumah sakit.

Petugas itu sendiri yang membawa Phia ke ruangan UGD. Tidak berapa lama setelah Phia dicek kondisinya, Phia menghembuskan napasnya yang terakhir. Phia meninggal murni karena serangan jantung. Tidak ada bekas penganiayaan di tubuhnya.

Petugas itu menelpon seseorang melaporkan kejadian yang baru saja terjadi. Petugas itu terdiam, entah apa yang diinstruksikan. Pandangannya kosong, pikirannya tidak fokus. Dia mengakhiri panggilan teleponnya.

Dia menatap Phia yang sudah tidak bernyawa di atas brankar ruangan UGD. Dia juga memandangi Ardian dan Alia yang berdiri di samping brankar Phia. Mereka terlihat tenang, tidak seperti wanita yang baru saja mereka tangkap sebelumnya yang histeris meminta ibunya dibawa ke rumah sakit.

Petugas polisi itu meninggalkan rumah sakit. Dia berdiri di depan rumah sakit. Dia menunggu seseorang. Setelah 15 menit menunggu, sebuah motor matik berhenti di sampingnya.

"Bang, Fajar!" Panggil seorang wanita yang bernama Bulan.

Ternyata yang menjemputnya adalah adiknya. Adiknya dengan wajah penuh emosi menunjukkan ponselnya kepada Fajar. Teman SMA dia dulu berada di kantor polisi. Dia dituduh membunuh ibunya. Kejadiannya baru saja terjadi.

Fajar mengambil ponsel adiknya. Fajar memperhatikan wajah wanita yang sedang duduk di kantor polisi. Iya, dia adalah wanita yang baru saja dibawa rekannya ke kantor polisi.

"Apa benar dia temanmu? Selama berteman, bagaimana dia? Anak nakal?" tanya Fajar.

"Bang, dia itu Dhona. Dia yang bantuin aku ke rumah sakit dan bayar tagihan rumah sakit waktu maagku kambuh dulu," jawab Bulan.

"Dia orangnya?" mata Fajar membelalak.

"Iya Bang. Aku gak percaya dia lakuin itu. Dia orangnya sangat baik. Aku yakin 1000% bukan dia pelakunya. Tolongin dia, Bang!" Bulan meneteskan air mata.

Fajar bingung harus berbuat apa. Dan di saat yang sama, Fajar mendapatkan telepon dari sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. Dia sekarang berada di kota Topaz. Sahabatnya meminta bantuan Fajar.

Fajar menerima pesan dari sahabatnya. Sahabatnya mengirimkan sebuah foto kepada Fajar. Lagi-lagi Fajar mendapatkan kejutan, orang yang dicari sahabatnya adalah Dhona yang sekarang ini berada di kantor polisi.

Fajar sedikit menjauh dari Bulan. Fajar menghubungi sahabatnya. Fajar terlihat serius. Fajar menutup teleponnya. Fajar menghampiri Bulan dan meminta Bulan mengantarnya ke kantor.

Bulan memberikan helm kepada Fajar. Fajar memasang helmnya. Fajar menggas motor secepat mungkin menuju kantor polisi.

Bulan terus memohon agar Fajar bisa membantu Dhona. Bulan yakin bukan Dhona pelakunya. Fajar meminta Bulan tenang dan terus lah berdoa agar Dhona terbebas dari tuduhan itu.

Fajar masuk ke dalam kantor. Suasana kantor polisi ramai karena tidak hanya kasus Dhona masih banyak kasus dan tersangka lainnya di dalam sel yang ada di sana.

Fajar mencari Dhona. Fajar melihat Dhona di dalam sel dengan wajah bercucuran air mata. Dhona terlihat lesu tidak seperti beberapa waktu yang lalu. Dhona merasa ada yang memperhatikan. Dhona menoleh ke arah Fajar. Dhona ingat, dia petugas yang datang ke rumahnya.

Dhona berdiri dan mendekati Fajar. Dari balik jeruji besi Dhona bertanya bagaimana keadaan Phia. Apakah Phia dibawa ke rumah sakit. Dhona takut sesuatu terjadi kepada ibunya. Selama ini ibunya diberi racun oleh Alia.

"Maaf, apa nama kamu Dhona?" tanya Fajar.

"Iya, saya Dhona. Bagaimana keadaan ibu saya?" Dhona balik bertanya.

Fajar sangat yakin, Dhona belum melihat media sosialnya. Atau mungkin Dhona tidak punya ponsel. Dhona tidak tahu apa yang lagi viral di luar sana.

"Dhona, kamu harus tenang. Kamu harus merelakan kepergian ibumu."

"Rela? Maksudnya?" Dhona menggenggam erat jeruji besi yang ada di depannya.

"Saya, ayah dan saudaramu sempat membawa ibumu ke rumah sakit, tapi sesampainya di sana beliau telah meninggal dunia."

Kabar meninggalnya Phia, bak pisau tajam yang menghujam jantung Dhona. Seketika dunianya serasa runtuh. Tidak ada lagi tempatnya mengadu. Tidak ada lagi kasih sayang seorang ibu. Tidak ada lagi orang yang melindunginya.

Tubuhnya merosot terduduk di lantai tahanan yang dingin. Dhona terpaku, menangis dalam diam. Tidak ada lagi kekuatan. Dhona sudah lelah. Dhona hanya bisa pasrah.

Bagai tersambar petir, Dhona kaget setengah mati setelah mendengar informasi dari petugas polisi Fajar bahwa dirinya dituduh sebagai pembunuh ibunya. Kini beritanya menjadi viral di media sosial.

"Apa salahku? Dosa apa yang aku perbuat? Kurang apa aku?" Dhona meratapi nasibnya.

Terjadi keributan di sel sebelah Dhona. Tahanan yang ada di sana saling memukul. Suasana sungguh di luar kendali. Terjadi kebakaran di kantor polisi. Fajar membuka sel Dhona. Fajar membantu Dhona keluar dari kantor polisi. Fajar menghubungi sahabatnya.

Kobaran api di kantor polisi semakin meninggi. Masing-masing petugas menyelamatkan arsip-arsip penting yang bisa mereka selamatkan. Tahanan di dalam kantor polisi pun memanfaatkan keadaan untuk melarikan diri.

Fajar berhasil membawa Dhona ke tempat yang jauh dan sepi dari kantor polisi. Sebuah mobil berhenti. Fajar menyuruh Dhona masuk ke dalam mobil. Seseorang membukakan pintu mobil untuk Dhona.

"Dhona, hanya ini yang bisa aku lakukan. Terima kasih kamu sudah menyelamatkan adikku saat itu," Fajar menjabat tangan Dhona.

Dhona tidak mengerti apa yang Fajar bicarakan. Dhona melihat Fajar dan seseorang berpelukan. Fajar pamit dan secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

"Dhona, ayo masuk," Zayyan membukakan pintu mobil untuk Dhona.

"Kamu, yang ada di rumah sakit?" Dhona mencoba mengingat.

"Iya, aku Zayyan."

Zayyan membawa Dhona ke.luar kota Topaz. Dhona minta bantuan Zayyan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Zayyan menenangkan Dhona. Zayyan meyakinkan Dhona jika saat ini Dhona ke rumah sakit bisa dipastikan Dhona kembali akan dimasukkan ke penjara.

"Aku ingin menemui ibu untuk terakhir kalinya, tolong," pinta Dhona.

"Percayalah, aku akan membawamu ke ibu untuk yang terakhir kalinya. Aku harap kamu percaya sama aku," tatap Zayyan.

Mobil yang membawa Zayyan dan Dhona terus melaju meninggalkan kota Topaz.

🌑 Rumah Sakit Mutiara

Ardian mendengar kabar, kantor polisi di mana Dhona ditahan terbakar. Ardian juga mendapatkan informasi Dhona ditemukan meninggal di kantor polisi. Dhona mengalami sesak napas karena banyak terhirup kepulan asap.

Alia merasa bahagia mendengar Dhona sudah pergi untuk selama-lamanya. Tapi tidak dengan Ardian. Walaupun dari luar Ardian sangat tidak perhatian tapi mendengar Dhona meninggal, Ardian merasa hampa.

Ardian diam-diam mengirim orang untuk mencari jenazah Dhona dan dimakamkan di sebelah makam Phia. Itulah yang bisa Ardian lakukan di akhir hidup Phia dan Dhona.

"Ma, akhirnya Dhona dan ibunya mati," bisik Alia.

"Apakah sudah saatnya Mama menggantikan posisinya? Mama sudah lelah bersembunyi," sahut Rana.

"Untuk apa bersembunyi. Bukannya Mama istri sah Ayah. Walaupun istri muda," Alia tersenyum bahagia.

"Kita harus pergi ke pemakaman malam ini juga. Untuk melepas kepergian sepupuku tersayang," Rana tertawa lepas merayakan kemenangannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Fang
Mungkinkah ini Devi?
Queen
Jgn², Devi
Queen
Astaga 😱
Queen
Dikira digebukin 🤭
Khong
yg nabrak ternyata komplotan Alia
Fang
😱😱
Fang
😱
Fang
Maklum belum honeymoon 😄
Al!f
Seru, salaj paham keluarga. Apakah Zayyan digebukin? 🤣
Al!f
Doa mau tidur 🤣
Al!f
Mantap 😍
Al!f
😱😱😱😱
Al!f
Wawwwwwe
Fang
Mukul tembok akhirnya 🤣
Fang
😱😱😱😱
Na!
Dhona ngaku
Al!f
lanjut 💪
Al!f
Tabrak aja sekalian
Al!f
/Tongue/
Al!f
Hadeh, lepas dari Alia ketemu Mak Lampir 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!