NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kontrak Bermaterai

Menyakitkan adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan betapa hancurnya perasaan Maya Anindya saat ini. Setiap serat hati dia terasa seperti dipotong dengan pisau yang runcing, membuatnya sulit bernapas. Ujung pulpen emas itu terasa sangat berat di antara jari-jari tangannya yang masih terus bergetar hebat karena rasa takut dan kemarahan yang bergabung. Di hadapannya, Arga Dirgantara berdiri dengan wibawa yang sangat menindas seolah sedang menunggu mangsa yang tidak berdaya, tubuhnya tegak seperti tiang yang tak tergoyahkan.

"Gunakan waktumu dengan bijak karena musuh tidak akan pernah memberikan ampunan," bisik Arga Dirgantara dengan suara yang sangat dingin dan rendah, seperti angin malam yang menusuk kulit. Suaranya hanya terdengar oleh Maya, namun kekuatannya cukup membuat dia terbangun dari keterkejutan.

Maya Anindya menatap lembaran kertas yang kini sudah ditempeli meterai resmi kerajaan sebagai tanda sahnya sebuah perjanjian hukum. Warnanya merah tua terasa seperti darah yang membeku, menandakan ikatan yang tidak bisa dibatalkan. Dia melihat namanya bersanding dengan nama pria kaku tersebut dalam sebuah ikatan yang sama sekali tidak didasari oleh rasa cinta — hanya oleh ketakutan dan janji perlindungan. Air mata gadis itu jatuh membasahi permukaan kertas hingga menciptakan noda kecil yang tampak sangat suram, melarikan tulisan yang menjebak dia.

"Apakah setelah ini saya akan benar-benar aman dari kejaran orang-orang jahat itu?" tanya Maya Anindya sambil menahan isak tangis yang menyesakkan dada, suara yang lemah seperti bisikan angin. Dia berharap mendapatkan jawaban yang bisa membuatnya merasa tenang, meskipun dia tahu itu mustahil.

Arga Dirgantara tidak segera menjawab melainkan hanya menarik kursi kerjanya hingga menimbulkan suara decitan yang sangat memilukan telinga, memecah keheningan ruangan. Dia mengambil sebuah dokumen rahasia lainnya yang tertutup amplop hitam, di dalamnya berisi foto-foto pengintaian terhadap kediaman lama gadis tersebut beberapa jam lalu — foto Maya yang sedang berjalan ke sekolah, sedang minum es di warung, bahkan sedang menangis di depan makam ibunya. Pria itu melemparkan foto-foto tersebut ke hadapan Maya Anindya untuk menunjukkan kenyataan yang sebenarnya sangat pahit: mereka telah diteliti lama.

"Keamananmu adalah harga yang harus kubayar dengan pangkat serta nama baikku," jawab Arga Dirgantara dengan rahang yang terlihat sangat mengeras, tulang rahangnya terlihat menonjol karena ketegangan. Dia tidak bersembunyi lagi bahwa perjanjian ini adalah pengorbanan bagi dirinya juga.

Goresan tinta hitam akhirnya mengukir nama Maya Anindya di atas meterai tersebut dengan gerakan tangan yang sangat terpaksa, seolah setiap huruf adalah beban yang semakin berat. Dia merasa baru saja menjual kebebasan masa mudanya kepada seorang perwira yang sama sekali tidak memiliki perasaan kasih sayang, menjadikan dirinya harta benda yang diproteksi. Setelah tanda tangan itu selesai, Arga Dirgantara segera mengambil kembali kertas tersebut dan menyimpannya ke dalam brankas besi yang berdiri kokoh di sudut ruangan.

"Sekarang kamu adalah milikku sepenuhnya dan tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu," tegas Arga Dirgantara sambil menatap mata istrinya dengan sangat posesif, tatapannya terlihat campuran antara perlindungan dan dominasi. Dia merasa tanggung jawabnya semakin besar sejak tanda tangan itu ada.

Kunci brankas itu diputar dengan suara denting logam yang sangat nyaring sebagai penanda bahwa kontrak pernikahan mereka telah terkunci rapat, tidak bisa dibuka lagi tanpa izinnya. Maya Anindya merasa jiwanya ikut terperangkap di dalam kotak besi yang sangat dingin serta gelap tersebut selamanya, jauh dari cahaya dan kebebasan. Namun tiba-tiba suara alarm tanda bahaya dari luar gedung Markas Komando mulai berbunyi dengan sangat keras serta mengejutkan, membuat seluruh gedung bergoyang dan telinga berdering.

"Tetap di belakangku dan jangan pernah melepaskan genggaman tangan ini jika kamu ingin selamat," perintah Arga Dirgantara sambil meraih senjata api dari balik pinggangnya, tangannya cepat dan terlatih. Logam senjata itu terasa dingin di tangannya, menandakan bahwa bahaya yang mereka khawatirkan telah tiba di depan pintu.

 

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!