"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Tak Bisa Di Lawan
Setelah Bella memohon tadi pagi, Dariush belum kembali lagi sampai malam. Bella termenung di jendela kamar itu. Bahkan jendelanya pun di pasang teralis besi yang kokoh.
Wajah teduh itu kini makin memprihatinkan, dia mengusap air matanya dan memandang langit. Akan kah hidupnya benar benar akan berakhir di sini?
"Ya Tuhan, Izinkan aku bertemu mommy dan daddy sebelum aku mati. Aku merindukan mereka."
CEKLEK
Bella menoleh ketika ada yang membuka pintu kamarnya. Muncul seorang lelaki tampan, dengan tinggi diatas rata rata, dipenuhi bulu halus di dagunya. "Kamu siapa?"
"Eum hai...aku nggak nyangka Dariush menyimpan rahasia di kamarnya. Ternyata itu kamu." Ucap Sean dengan tersenyum simpul.
"Terus?"
Sean mendekatinya namun Bella semakin mundur dan terpojok tembok.
"Jangan dekat dekat! Mau apa kamu?" Bella semakin menjerit saat Sean menghampirinya.
Sean bahkan tidak menjawab dia justru menurunkan kepalanya, mensejajarkan dengan wajah Bella. "Cantik." cukup lama dia memandanginya.
BRAK
"KELUAR!"
Dariush teriak dengan kesal. Dia menyeret Sean keluar dari kamarnya. "Wow wow... Tenang bro. Aku tidak akan menyentuh milikmu. Tepatnya, belum ku sentuh." Seringai Sean.
"Jangan macam macam, kalau tidak_"
"Kalau tidak apa?" Sean balik menantang dengan tatapan mautnya. Dariush mengusap wajahnya frustasi. Dia masuk ke kamar tanpa menghiraukan Sean lagi.
BRAK
Bella masih mematung di tembok. Takut? Tentu saja! Dia hanya diam dikamar tak di Izinkan keluar kamar. Dia menunggu Dariush bicara. Sementara Dariush melonggarkan dasinya dan membuka jas-nya.
"Ini, ganti baju sudah malam." Dariush memberikan beberapa baju tidur untuk Bella. Dia melangkah ke kamar mandi tanpa bicara lagi.
Bella menerimanya dan berjalan ke walk in closet. Ia melepaskan semua pakaiannya. Ternyata Dariush keluar lagi dari kamar mandi, tatapannya terhenti kala melihat keindahan tubuh Bella.
GLEG
Bohong kalau Dariush tidak nafsu. Dia kembali lagi ke kamar mandi dan menutup pintunya keras. Bella terperanjat kaget. Dia mengusap ngusap dadanya. "Itu om marah marah mulu perasaan."
Bella melihat dirinya di cermin, baju tidur yang diberikan Dariush sangat pas di tubuhnya dan cantik sekali. Dia berjalan ke sofa dekat jendela. Bella duduk meratapi nasibnya sampai tertidur.
Dikamar mandi Dariush malah bermain solo sambil membayangkan wajah Bella. "Ohh shit!! Aku akan segera menikahinya. Aku tidak bisa menunggunya lebih lama lagi."
Dariush keluar dari sana, namun dia melihat Bella tertidur di sofa. Dia memindahkan wanitanya dulu ke kasur. Lalu ke bawah menemui Fabio.
-
-
-
"Apa boss? Anda serius boss?" Tanya Fabio keheranan. Bagaimana bisa baru kenal 3 hari Dariush ingin menikahi Bella tanpa tahu asal usulnya seperti apa.
"Yap, hubungi orang tuanya. Minta mereka datang besok malam." Tegas Dariush.
Nampaknya Fabio masih sedikit ragu dengan bossnya itu. Dia masih membeku di tempatnya. Sebetulnya dia kasihan dengan Bella, tapi jika boss-nya sudah berkehendak mau bagaimana lagi.
"Tunggu apalagi Fabio? Hmm?"
"Saya harap boss bisa memperlakukannya dengan baik." Lirih Fabio.
"Maksudmu!"
"Saya punya adik perempuan yang seusia dengan non Arabella. Saya hanya membayangkan jika_"
Dariush mengerti kemana arah omongan Fabio. "Tenang saja! Dia akan tetap hidup selama bersamaku!" Tegasnya.
Fabio juga bilang jika anak buahnya memantau pergerakan Jay, asisten pribadi orang tuanya Bella. Dariush meminta Fabio membawa Jay kerumah ini besok.
"Baik boss!" Fabio keluar dari ruangan itu.
Dariush melangkah lagi ke kamarnya, ia begitu terpanah akan kecantikan dan kelembutan Bella. Memandanginya membuat hatinya jatuh. Ada rasa yang tak biasa. Dia naik ke kasur dan memeluk Bella dari belakang.
"Eugh...!" Bella melenguh namun matanya tetap terpejam. Betapa lelahnya dia seharian hanya menangis dan makan. Bella benar benar terkurung di dalam sangkar.
-
-
-
Besok paginya Fabio dan anak buahnya menemui Jay yang masih ada di hotel. Jay sendiri tidak mengenali mereka. Fabio menjelaskan jika ingin Arabella selamat dia harus mengikuti perintah tuan Dariush.
Jay dengan ragu ikut bersama Fabio. Sementara Dylan masih mencari keberadaan Bella. Dia tak tahu jika Jay dibawa oleh Fabio. "Harus kemana lagi aku mencari kamu, Bell?" Lirihnya.
Fabio membawa Jay ke kediaman bossnya. Sepanjang perjalanan wajah Jay tak bisa bohong jika dirinya sedikit takut. Pasalnya dia hanya membawa beberapa anak buahnya saja. Dia takut tidak bisa menyelamatkan Arabella.
Sesampainya di mansion megah itu Jay tetap mengikuti kemana Fabio membawanya. "Anda tunggu disini. Sebentar lagi boss turun!" Ucapnya.
Boss yang mereka tunggu masih terlelap bersama sang gadis tercintanya. Bella tidak menyadari jika dirinya tidur berpelukan dengan Dariush.
Matanya terbuka perlahan saat sorot matahari mulai tajam. "Eugh...hoaaam udah siang sepertinya. Loh kok kamu_" Bella tak melanjutkan lagi ocehannya dia justru terpikat dengan ketampanan pria yang kini tidur dengannya.
Tangannya terulur ke wajah bringas yang tegas itu. Ibu jarinya menyentuh mata Dariush yang masih terlelap.
"Aku tahu kamu baik, tolong Izinkan aku pulang." Lirihnya dengan wajah sendu.
"Tidak!" Dariush membuka matanya, tatapan keduanya makin menegang. Tangan Bella terhenti.
"Aku masih punya tanggung jawab terhadap pegawaiku dan pekerjaanku. Setidaknya beri mereka kabar tentangku. Lalu kamu bisa membawaku." Celetuk Bella masih dengan memohon.
Bukannya menjawab namun jari Dariush malah menyentuh bibir kenyal Bella yang merah merona alami. Dia mendekatkan dirinya dan mencium lagi bibir yang kini menjadi candu untuknya.
Bella sedikit terkejut akan serangan pagi ini. Dia mengikuti alur permainan Dariush. Bella juga tak menolak. Seperti ada sengatan listrik yang Dariush berikan. Namun ia sendiri masih menampiknya.
Keduanya saling mengecap dan menyesap dipagi hari merasakan kenyalnya daging dan hasrat yang bergelora.
"Kenapa menciumku? Apa aku akan dijadikan budak s*ks?" Lirihnya di sela sela ciumannya.
Mendengar itu Dariush naik pitam. "Jaga bicaramu nona! Kalau aku seperti itu sudah dari awal aku melakukannya." Darisuh kesal dia turun dari kasur meninggalkan Bella.
Namun belum juga Dariush benar benar pergi Bella sudah berteriak.
"LALU KENAPA KAMU MENCIUMKU? AKU HANYA INGIN PULANG SETIDAKNYA KABARI ORANG TUAKU. Aku mohon padamu. Aku akan menurutimu." Suaranya melemah dan sungguh menyayat hati.
"Karena kamu milikku!"
Dia menghampiri lagi Bella, mengukungnya menciumnya dengan penuh nafsu pagi itu. "Hmmpt_"
Bella tak bisa melawan, bibirnya ingin menolak namun badannya seakan butuh sentuhan Dariush. Keduanya saling beradu saliva. Pria bringas itu terus meng-eksplore rongga mulut gadisnya.
Ciumannya turun ke leher jenjang yang putih dan mulus, Dariush tak segan segan memberikan tanda kepemilikannya di sana. Tangan Bella meremas rambut Dariush pelan seolah gejolaknya akan meledak.
Bella merasakan jika Junior milik Dariush sudah menegang. Namun dia takut melakukannya. Pasalnya mereka belum menikah. Bella tak ingin memberikan kesuciannya dengan cuma cuma. Ada rasa yang tak bisa dilawan.
Tangan Dariush sudah berani memegang gunung kembar itu. Pagi yang indah. "Ahh..." Desahan kecil lolos dari bibir Bella.
"Cu-cukup kita belum menikah ahh...!"
"Kita akan segera menikah!"
"APA?!"