Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.
Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.
Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syaheera part 4
...🫀Ternyata Kita Cinta 🫀 ...
...-Ketika aku punya harapan, dunia punya kenyataan-...
...***...
Melewati setengah hari dengan status Nona Muda pertama dari keluarga Jason, ada banyak kesenjangan yang Syaheera rasakan.
Di Viola, dia dan Kansya punya Tomi, Roy dan Remo sebagai teman dan orang-orang yang bisa diandalkan.
Di sini ia memiliki satu orang pelayan wanita dan satu pengawal yang khusus untuk selalu menjaga dan melayaninya, hanya dia seorang yang boleh mereka layani.
Runa, ia terlihat lebih muda dari Heera, dan dialah pelayan pilihan Peter. Sementara sang pengawal bernama Joel, pemuda berperawakan tinggi tegap dengan setelan serba hitam.
Tidak seperti halaman yang masih menyimpan kenangan masa kecilnya, kediaman itu telah banyak berubah. Ada beberapa bangunan tambahan yang membuat kediaman itu semakin mewah.
Berada di lantai dua, Syaheera terkesima melihat kamarnya. Ruangan itu sangat besar, berkali-kali lipat lebih besar dari kamarnya di kota Viola. Ruangan itu juga memiliki tempat khusus untuk meletakkan pakaian, tas, sepatu, perhiasan dan aksesoris pendukung penampilan lainnya. Ada juga beranda di luar kamar yang cukup besar. Semilir angin mengayunkan tirai di kamar itu, membelai wajah cantik Syaheera hingga ia memejamkan mata.
"Aroma Lumina berbeda dengan Viola, tapi cukup nyaman," bisik sang hati.
Runa telah selesai membongkar koper Syaheera. "Nona, malam ini Nona ada janji dengan Tuan Peter, apa mau memilih gaun dari sekarang? Atau Nona mau beristirahat dulu?"
Oh, iya, hampir saja lupa, malam ini ia harus menemani Peter bertemu rekan bisnisnya. "Nanti saja. Aku ingin istirahat sebentar."
"Baik, Nona."
"Ah, apa Remo masih ada di sini?"
"Tidak, Nona. Tidak lama setelah Nona sampai, dia diperintahkan untuk langsung kembali ke Viola."
Syaheera mengerutkan kening. "Kenapa Remo harus langsung pulang? Apa dia tidak boleh berlama-lama di sini?"
"Saya tidak tahu, Nona."
Mengangguk kecil dalam tanya yang bersarang di hati. "Baiklah. Kau boleh pergi. Jika aku tidak bangun hingga sore hari, tolong bangunkan aku."
"Baik, Nona," sahut Runa begitu patuh.
Merebahkan diri pada ranjang nan empuk, Syaheera akui tempat tidur ini lebih nyaman dari tempat tidurnya di Viola. Akh! Lagi-lagi ia membandingkan keadaan di Viola dengan Lumina. Belum sehari ia meninggalkan kota kecil itu, apakah dia sudah merasakan rindu?
Kepulangan Remo terus mengusik pikiran, ia langsung mengirim pesan pada pengawal sang nenek.
"Kenapa kau langsung pulang?"
Sejenak Syaheera memejamkan mata sembari menunggu balasan dari Remo. Ketika sang mimpi hampir menyapa, suara notifikasi membuat ia membuka mata.
"Maaf Nona. Saya pergi atas perintah Tuan dan Nyonya. Mereka mengkhawatirkan Nyonya Kansya jika saya berlama-lama di Lumina."
Sebuah jawaban yang masuk akal, tapi juga terasa janggal. Sejauh ini kota Viola aman sentosa, kesehatan sang nenek juga baik-baik saja. Lagipula, ada Tomi dan Roy di sana, juga Nena dan Raina.
Saat hendak kembali mengetik pesan pada Remo, ketukan di daun pintu kamar menyita atensi.
Sejurus kemudian Celia muncul bersama pelayan wanita yang membawa segelas susu dalam nampan.
"Kau akan beristirahat, ya? Minumlah susu ini, agar saat bangun nanti lebih segar," ucap Celia.
Segera Syaheera bangun dari tempat tidur, "Terima kasih, Tante."
Celia maju selangkah dan meraih jemari Syaheera. "Tidak perlu berterima kasih, kita keluarga."
Syaheera tersenyum, begitu juga dengan Celia. Usai memastikan anak tirinya meminum susu, Celia pun pergi.
Embusan angin dari jendela-jendela yang terbuka, seperti sentuhan halus yang membelai pucuk kepala Syaheera. Denting jam dinding perlahan mengantarkan gadis ini pada muara alam mimpi. Aroma tumbuhan di taman yang terbawa angin, menambah rasa nyaman hingga tanpa waktu lama, dengan napas teratur ia telah terlelap dalam tidur.
...***...
"Nona ...."
Kening Syaheera mengernyit.
"Nona Syaheera ...."
Dengan malas Syaheera bergerak, panggilan pelan Runa akhirnya membuatnya bangun, "Ya. Apa sudah sore?"
Sang pelayan berjongkok sembari menatapnya yang masih dalam posisi rebahan di tempat tidur. "Iya. Sekarang sudah pukul 4 sore."
Kedua mata besar itu bagai terkena lem, susah sekali untuk dibuka, Syaheera hanya mampu membukanya sebentar kemudian terpejam lagi. "Kenapa kau berjongkok seperti itu? Berdirilah."
"Terima kasih, Nona," sahut Runa seraya membawa diri untuk berdiri.
Nyaman sekali tidur siang ini, rasanya malas sekali untuk bangun. "Janjiku dengan Ayah nanti malam. Aku akan memakai gaun apa saja nanti, kau bisa pilihkan gaun untukku?"
"Tapi Nona, saya sudah melaporkan Anda akan bersiap sore ini. Jadwal Anda sudah dibuat."
"Aku ingin tidur sebentar lagi, boleh, ya?"
Runa berpikir beberapa detik, kemudian, "Baik ---"
"Tidak boleh."
Suara tegas itu mengejutkan Syaheera, mengusir rasa kantuk dengan segera. Suara itu juga membuat Runa bungkam. Lantas, Syaheera langsung duduk dan mendapati Celia kembali berada di kamarnya.
"Kau harus bersiap dari sekarang," pungkas Celia. Ia kemudian melirik ke arah Runa, "Bantu Nona memilih gaun."
"Iya, Nyonya."
"Kau seperti pelayan baru di kediaman ini. Bukankah sudah dianjarkan untuk selalu mengingatkan Nona dan Tuan di rumah ini untuk tidak melanggar aturan!" Celia berdecak.
"Ma --- maaf, Nyonya." Pelayan ini terlihat gugup. Segera ia meraih lengan Heera untuk pergi bersamanya.
Terheran-heran Syaheera dengan keadaan saat ini, suasana seperti apa ini?! Ketenangan seketika sirna sejak Celia muncul.
"Syaheera sayang, berdandanlah yang cantik, ya?"
"I-iya, Tante."
Seulas senyum mengantarkan kepergian Syaheera dan Runa menuju walk-in closet. Senyum hangat Celia pada Heera sangat berbanding terbalik dengan sikap tegasnya pada Runa. Masih segar dalam ingatan, ibu tirinya ini sangat baik hati dan lembut, melihat sikapnya tadi membuat Heera sedikit terkejut. Atau --- hanya dirinya saja yang berpikir berlebihan.
Janji dengan Peter pada pukul 7, namun pada pukul 6 ia telah siap.
"Runa, aku lelah duduk tegak di depan cermin. Bolehkah aku bermain ponsel di tempat tidur sembari menunggu pukul 7?"
"Gaun anda akan kumal, Nona. Riasan anda juga akan rusak, terlebih tatanan rambut Anda."
Tanpa melontarkan kata 'Tidak' ucapan Runa sudah cukup menjawab pertanyaan Syaheera.
Wajah cantik itu tertekuk, ia menyandarkan diri di kursi rias. "Ada berapa banyak peraturan di rumah ini?"
"Sangat banyak, Nona."
"Selain harus melakukan sesuatu sesuai jadwal, juga harus menunggu dengan sabar di depan cermin seperti ini, hal apa lagi yang tidak boleh dilakukan?"
"Duduk bungkuk seperti udang yang sedang Nona lakukan," jawab Runa.
Seperti sentilan pada hati kecilnya, Syaheera segera menegakkan badan. "Bahkan duduk pun tidak lepas dari aturan?"
"Iya, Nona."
"Seingatku dulu tidak ada hal seperti ini."
"Peraturan ini sudah ada sejak saya bekerja di sini, Nona."
"Oh, ya? Sudah berapa lama kau bekerja di sini?"
"5 Tahun 8 bulan 3 hari ... 6 jam 21 menit." Jawaban pelayan ini sempat tersendat ketika ia melirik jam di dinding, untuk memastikan waktu yang tepat.
Syaheera menelan air ludah. "Bahkan bulan, hari, jam dan menitnya kau hitung."
"Memang harus seperti itu, Nona. Salah satu syarat melamar pekerjaan di sini adalah tepat waktu."
Mendengarnya saja sudah membuat kepala berdenyut, Syaheera menggelengkan kepala demi mengusir rasa itu. "Sejak kapan Ayah membuat peraturan ini."
"Nona, peraturan ini dibuat oleh Nyonya. Bagi pelayan yang tidak mematuhi aturan akan dipecat."
Menarik napas kemudian melengos keras, "Pantas saja kau terlihat sangat takut padanya. Ternyata benar kata Nenek, Tante memegang kendali atas semua hal di rumah ini."
Usai berbincang sebentar dengan Runa, Syaheera mengajaknya ke beranda kamar. Setidaknya mereka tidak harus menunggu dalam ruangan yang terasa menekan.
"Hati-hati dengan gaunnya, Nona."
Sebuah hal baru bagi Heera, sekadar untuk menemani sang ayah bertemu rekan bisnis, dirinya harus mengenakan gaun malam yang panjang hingga menyentuh lantai. Kedua tangannya juga memakai sarung tangan berwarna hitam, senada dengan gaun yang melilit tubuhnya.
"Di sini tidak ada Tante Celia, tolong angkat buntut gaun ini agar aku lebih mudah berjalan. Juga ... untuk sementara saja, tolong peniti belahannya, bagiku ini terlalu terbuka," cicit Syaheera menunjuk pahanya yang mengintip malu.
Runa dibuat bimbang, di satu sisi ia harus mengingatkan Syaheera untuk tetap taat pada peraturan, namun di sisi lain ia dapat memahami bahwa majikan barunya tidak terbiasa dengan pakaian itu.
"Ah, sudahlah! Peraturan-peraturan itu semakin membuatku sesak napas. Aku perlu udara bebas!"
"Maaf, Nona."
"Berhenti meminta maaf, aku tidak marah. Hanya belum terbiasa saja."
Beberap menit menghirup udara segar di beranda, Joel datang mengabari mereka bahwa waktunya telah tiba.
"Baiklah, anggap saja malam ini aku adalah ratu, harus berwibawa dan anggun," batin Syaheera.
Langkah kaki jenjangnya menarik perhatian orang-orang yang menunggu kehadirannya di ruang keluarga. Ia menuruni tangga dengan pelan namun pasti.
Rhea mencebik dalam hati, "Gadis desa! Kau terbantu karena gaun itu indah!"
"Kakak, kau cantik sekali!"
Perkataan Luke membuat Syaheera tersipu.
Dan Tuan Peter, senyumnya tak pudar sejak kemunculan putrinya pada anak tangga paling atas.
"Thalia ... dia sangat mirip denganmu," batin Peter.
Celia mengulurkan tangan untuk menyambut langkah Syaheera, "Cantik sekali!"
"Terima kasih, Tante."
"Kakak!" Bola mata Luke seperti akan melompat, ia sangat bangga akan kecantikan Syaheera.
"Cih, biasa saja!" desis Rhea yang membuat Luke geram.
Peter sudah memesan ruangan pribadi di restoran Gulzar. Dalam perjalanan ia tak henti memuji kecantikan sang putri, ia juga mengatakan betapa wajah Syaheera sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ada rasa haru mendengar celoteh sang ayah, Syaheera dapat merasakan betapa Peter mencintai Thalia. Tapi, jika itu cinta mengapa harus ada orang ketiga?
"Ayah ...."
"Ah, sebentar," sela Peter. Ada panggilan masuk pada ponselnya yang membuat Syaheera urung untuk bertanya, tentang cinta sang ayah dan ibunya yang harus diwarnai orang ketiga.
"Mereka akan segera tiba, mungkin kita akan terlambat. Kau harus menuangkan minuman pada putra rekan Ayah nanti, sebagai permintaan maaf karena keterlambatan kita."
"Baiklah, Ayah."
Peter tersenyum, ia sangat puas dengan sikap baik dan patuh putrinya.
Benar saja, setelah sampai di restoran telah ada dua pria yang menunggu mereka di sana. Seorang pria seumuran Peter dan seorang pemuda.
Syaheera memerhatikan pemuda yang duduk membelakangi.
"Maaf, Raffan, kami terlambat."
"Tidak apa-apa, hanya beberapa menit. Silakan duduk, Peter," sahut tuan yang tampak ramah itu.
"Aha, inikah gadis itu? Dia cantik sekali!" ucapan Raffan membuat sang putra menoleh ke belakang, tepat bertatapan dengan Syaheera.
...To be continued ......
...Terima kasih sudah berkunjung. Tunjukkan cinta kalian dengan vote ❣️ akan lebih bagus jika disertai komentar yang membangun 💞...
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..