Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara
Malam itu berlalu begitu cepat, dingin, dan sangat berjarak. Tanpa dimintapun Pramahita tau bahwa ia tak boleh tidur bersama Dirga di atas ranjang yang empuk yang dihias sedemikian rupa. Itu dirancang untuk Dirga dan Loria, bukan untuknya dan Dirga.
Itulah mengapa Hita akhirnya terlelap di atas sofa panjang, tidur tanpa bantal dan selimut hingga ia menggigil semalaman. Itu bukan hal yang asing baginya, karena di rumahnya sendiri juga Hita diperlakukan seperti itu, lebih buruk dari seorang budak yang tak ada harganya. Yang paling penting adalah ia tau di mana ia harus memposisikan dirinya.
Sinar matahari menyusup melalui jendela yang ditutupi oleh tirai tipis, menusuk langsung ke arah Hita yang masih terlelap meskipun tak nyenyak. Dia bergerak pelan, matanya mengerjap untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerangi ruangan.
Saat matanya terbuka, Hita langsung disambut dengan pemandangan Dirga yang tengah bersiap-siap mengenakan kemejanya.
Laki-laki itu melakukannya dengan gerakan terukur dan sempurna, membenarkan kerah dan lengan kemeja sembari menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Selamat pagi," sapa Hita pelan, perlahan-lahan mendudukkan diri di sofa.
Hita merasakan tubuhnya kaku, membuatnya meringis pelan dan meregangkan pinggangnya dengan tangan terangkat.
Dirga tak sekalipun menoleh ke arah gadis itu, masih menyelesaikan kegiatannya dengan tampang datarnya yang biasa.
Namun saat ia bicara, Dirga bukan bicara untuk membalas sapaan Hita, namun mengucapkan kata-kata pedas.
"Ternyata apa yang dikatakan oleh Loria itu benar," celetuknya tiba-tiba. "Kau memang seorang pemalas."
Hita sontak terdiam, menurunkan tangannya yang terentang dengan bahu merosot. Pemalas? Bahkan ini adalah kali pertama Hita bangun sesiang ini—walaupun kini masih jam setengah delapan pagi. Biasanya, Hita selalu dibangunkan pagi-pagi buta untuk membantu para pelayan di rumah untuk bekerja melayani keluarga.
Komentar Dirga itu membuat Hita menatap laki-laki itu dengan tatapan merasa bersalah.
"Maaf," cicit Hita pelan. "Ini kali pertama aku terbangun sesiang ini, mungkin karena lelah," timpalnya, berharap secercah pemahaman dari sang suami yang baru saja ia nikahi kemarin.
"Lelah adalah alasan yang buruk." Namun alih-alih memberikan pengertian, Dirga melemparkan kalimat dingin itu lagi. "Seorang pemalas akan menggunakan semua alasan hanya untuk membenarkan sikap malas mereka. Itu adalah kebiasaan buruk yang dilakukan oleh orang-orang yang tak dapat bertanggungjawab atas diri mereka sendiri. Sama halnya sepertimu."
Dirga menoleh, tangannya sibuk melipat lengan seragamnya saat melemparkan tatapan tajam pada Pramahita.
"Mulai besok, kau harus bangun lebih awal," tuntut Dirga. "Aku tak akan menerima perempuan pemalas di rumahku. Kau harus menyadari posisimu, jangan bertindak sesuka hatimu dan menyusahkanku di rumahku sendiri."
Dirga kembali menoleh ke arah cermin saat kembali berucap. "Dan satu hal lagi, jangan pernah kau menyentuh barang-barangku. Kau akan mengotori mereka dengan tanganmu yang kotor."
Hati Hita mencelos begitu mendengar kata-kata Dirga. Yang ia harapkan saat pagi hari yang cerah adalah kata-kata manis dan menenangkan, setidaknya untuk melupakan sejenak apa yang terjadi.
Tapi sepertinya Dirga tak memberi celah, terus menyakitinya melalui kata-kata yang menyakitkan yang laki-laki itu lontarkan sendiri.
"Aku mengerti, Kak." Hita menunduk, menahan rasa sakit hati. "Aku tidak akan menyentuh barang-barang kakak dan... mengotorinya dengan tanganku."
Dirga mengangguk acuh, merasa puas karena telah mengingatkan Hita akan posisinya pagi ini.
"Bagus, memang seharusnya kau mengerti."
Begitulah pagi ini diawali, dengan peringatan dan ucapan dingin Dirga yang jelas-jelas menciptakan jarak diantara keduanya.
Pramahita masih terdiam di tempatnya, merasa kecil dan tak mampu bicara. Hanya satu yang ia inginkan. Semoga ia bisa segera keluar dari kemalangan ini.
...****************...
Hita keluar dari kamar mandi begitu selesai membersihkan diri. Dengan handuk yang melilit tubuhnya, Hita melangkah kembali ke arah kamar dan mendekat ke arah lemari.
Dirga sudah berangkat bekerja, meninggalkan Pramahita tanpa berpamitan hangat layaknya pengantin baru yang romantis.
Hita mengerti bahwa ia tak akan pernah mendapatkan hal itu, karena ia bukanlah orang yang Dirga cintai, dan... Ia juga tak mencintai Dirga yang sepantasnya menjadi kakak iparnya.
Baru saja tangan Hita hendak menyentuh gagang lemari, ia teringat akan peringatan yang dilontarkan oleh Dirga.
Ia tak boleh menyentuh barang-barang milik Dirga sembarangan, tak boleh mengotorinya dengan sentuhan tangannya yang tak layak menapak pada benda-benda mahal dan berharga di rumah ini.
Hita menghela napas, setelah itu mengingat bahwa ia tak sama sekali membawa pakaian kemari. Ini terlalu mendadak, sehingga ia tak sempat mengemasi barang-barangnya dan membawa beberapa baju salinan.
Hita hanya membawa satu, dikenakan kemarin malam sebagai baju ganti dan bodohnya telah ia cuci.
"Apa yang harus aku pakai sekarang?" gumamnya, menggigit ujung jari sembari berpikir.
Hita melangkah mendekati pintu, membuka kayu itu sedikit dan menyelinapkan kepalanya keluar, menoleh ke sana kemari untuk melihat setidaknya apakah ada orang yang bisa ia mintai bantuan.
"Ada sesuatu yang sedang kau cari?"
Suara itu sontak membuat Hita menoleh.
Perlahan-lahan Hita memutar kepalanya ke samping, langsung dihadapkan oleh sosok pemilik suara yang terdengar tegas namun tak kasar.
Hita terbelalak saat melihat sosok yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Seakan terhipnotis, Hita memperhatikan laki-laki yang tak ia ketahui nama ataupun statusnya itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Setelan kantor rapi terpasang pas dan rapi di tubuhnya, kilauan terlihat pada sepatu kulit mahal yang membalut kaki, bahkan rambut yang ditata rapi sehingga menonjolkan fitur-fitur wajah yang sempurna.
Jika bisa Pramahita bicara, dia adalah mahakarya tuhan yang langsung ia kagumi pada pandangan pertama.
"Kau baik-baik saja?"
Hita segera tersadar begitu laki-laki itu bicara, sebelah alisnya terangkat heran saat melihat Hita terpaku menatapnya bahkan tak sedikitpun berkedip.
"Ah... Maaf," ucap Hita sedikit cengengesan. "Aku sedang menunggu pelayan lewat untuk... Meminjam pakaian," jelas Hita, menelan ludah saat menyadari sosok di hadapannya itu adalah nyata, bukan khayalan.
"Meminjam pakaian? Pada pelayan?" ulang laki-laki itu, ketidak percayaan terukir di wajahnya meskipun tak dengan jelas ditunjukan.
Hita mengangguk. "Ya, aku melupakan koperku di rumah, jadi aku tidak memiliki pakaian untuk digunakan sekarang," bohong Hita, mengatakan bahwa ia melupakan kopernya padahal jelas-jelas ia tak sempat mempersiapkan diri.
Laki-laki itu mengangguk pelan, secerah pemahaman terukir di wajahnya. "Mengapa kau tidak langsung saja mengatakannya pada Dirga? Bagaimanapun kau tanggungjawabnya sekarang."
Hita terdiam mendengar pertanyaan laki-laki itu. Laki-laki itu tak mengerti bahwa itu adalah hal yang tak mungkin, mengingat bagaimana dinginnya sikap Dirga pada Hita.
"Itu... Aku hanya tidak ingin merepotkan Kak Dirga," balas Hita. "Dia sepertinya terburu-buru untuk pergi ke kantor, jadi aku juga tidak sempat mengatakannya." Dengan lancar Hita berbohong, berlagak seolah-olah ia benar-benar lupa.
"Begitu." sekali lagi laki-laki itu mengangguk pelan. "Aku akan meminta Lian untuk membawa beberapa pakaiannya padamu, kau tak harus menggunakan pakaian pelayan."
"Lian?" Hita mengerjap, tak mengenali siapa lagi sosok yang disebut oleh laki-laki itu.
"Lian adalah adikku," jawab laki-laki itu, kali ini memasang senyum tipis dan menggeleng pelan begitu melihat ekspresi bingung Hita. "Dia juga adik Dirga."
"Kalian bersaudara?" tanya Hita, rasa penasarannya terusik begitu menyadari bahwa ia sama sekali tak mengenali Dirga dan keluarganya.
Selama ini Hita tak pernah memperhatikan Dirga, mengingat laki-laki itu yang selalu menempel pada Loria dan tak mau lepas.
Rasanya tak pantas untuk Hita mencari tau, dan kini Hita tak tau siapa-siapa saja yang menjadi anggota keluarga laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya.
Laki-laki itu mengangguk, mulutnya terbuka untuk bicara, namun suara melengking seorang gadis terdengar lebih dulu dan membuat kata-kata itu tertahan.
"Kak Bram!"
Seruan keras itu terdengar, menggema dan begitu menggelegar di kediaman Martadinata yang begitu besarnya.
Bram. Itu adalah nama laki-laki yang kini berdiri di hadapan Pramahita.
Hita memperhatikan gadis yang berlari mendekat, diiringi oleh suara ketukan sneakers yang menggema di lantai mengkilap rumah besar.
Gadis itu tampak begitu cerah dengan sweater kuning kebesaran dan celana longgar yang menutupi hingga ke mata kaki. Sebuah tas selempang hijau tersampir di bahu, tampak lengkap dengan botol minum yang senada.
"Panjang umur," gumam Bram, tersenyum dan menatap gadis yang baru saja ia bicarakan dengan Hita—Lian.
Bram menoleh ke arah Hita. "Dia adalah Lian, adikku yang baru saja aku bicarakan," ujarnya memperkenalkan.
Lian berhenti tepat selangkah di hadapan Bram, dengan tangan bertumpu di lutut dan tubuh membungkuk, napasnya tersengal-sengal karena berlari.
Sepertinya kamarnya berada di paling pojok atau mungkin di lantai atas, hingga membuat gadis berambut pendek itu begitu kelelahan.
"Kak..." Lian terengah-engah, mendongak untuk menatap sang kakak yang balas menatapnya sembari bersedekap dada. "Ayah memblokir kartu kreditku lagi, menyita mobilku juga," ucapnya mengadu dengan wajah cemberut.
"Kau pasti melakukan sesuatu yang membuat ayah melakukan itu." Seakan-akan terbiasa dengan sikap adiknya, Bram justru tak membela. "Sudah Kakak katakan untuk tidak membuat masalah, tapi kau masih saja melakukannya. Siapa yang bisa disalahkan di sini?"
Mendengar ucapan kakaknya, Lian hanya mendengus kesal karena tak mendapatkan pembelaan.
Pramahita yang masih berada di sana memperhatikan, merasakan kehangatan menjalar di hatinya saat melihat interaksi kakak beradik itu. Saat Lian beralih menatapnya, ia tersenyum tipis sebagai sapaan.
"Wah, aku tidak menyadari bahwa ada Kak Pramahita juga," celetuk Lian, senyum lebar mengembang di wajahnya begitu mendapati kehadiran Hita.
"Hita melupakan pakaiannya, jadi lebih baik kau pinjamkan beberapa pakaianmu," kata Bram, membuat Lian menoleh.
"Benarkah?" Lian kembali menatap Hita, lalu kembali pada Bram. "Tapi aku sudah mengunci kamarku, dan aku juga sedang buru-buru karena sudah terlambat," ujarnya tampak kecewa, mengangkat lengan dan mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Begini saja." Lian mendekat ke arah pintu, tempat di mana Hita muncul, sementara tubuhnya berada di balik pintu dengan balutan handuk. "Aku mengerti bahwa kak Dirga mungkin tak mau meminjamkan kemejanya karena..." Lian menggantungkan ucapannya, tak ingin menyakiti Pramahita dengan menyebut nama Loria.
"Karena alasan yang pasti sudah kita mengerti," timpalnya, menatap Hita dengan senyum manis yang menambah pesonanya. "Jadi aku rasa tidak masalah jika untuk sementara ini Kam Bram yang meminjamkannya. Nanti saat aku sudah pulang dari kampus, aku akan mengajaknya berbelanja. Bagaimana?" sarannya, membuat Hita sontak menatap Bram yang juga balas menatapnya.
Bram tampak berpikir sejenak, sebelum mengangguk singkat. "Baiklah, aku akan menyuruh pelayan membawakan pakaianku padamu," putusnya, lalu beralih pada Lian, mengeluarkan kartu kreditnya yang menjadi tujuan awal Lian menemuinya. "Berangkatlah agar tidak telat, saat datang pergilah berbelanja. Untuk kartu kredit dan mobil yang disita, Kakak akan bicara dengan ayah nanti."
Senyum mengembang di wajah Lian, tangannya langsung mencomot cepat kartu kredit di tangan Bram. "Siap, Bos!" serunya bersemangat, memberikan gestur hormat yang jenaka.
Lian segera melanjutkan langkahnya, setengah berlari menuju tangga untuk ke lantai bawah, meninggalkan Bram dan Hita bahkan lupa berpamitan. Bocah itu memang perlu diberikan lebih banyak pelatihan sopan santun.
Keduanya bertatapan sejenak, sebelum akhirnya Bram tersenyum tipis dan mengangguk sebagai tanda pamit dan pergi.
Hita menghela napas, senyum tipis terukir di wajahnya. Setidaknya masih ada yang peduli dan membantunya di sini, walaupun bukan suaminya sendiri.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga