Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perseteruan yang Tersembunyi
Sementara itu, di ruang kerja yang hanya diketahui segelintir orang kepercayaan, ibu tiri Elisabet berdiri di depan meja besar. Wajahnya merah karena amarah dan kegembiraan sekaligus. Di sekelilingnya, beberapa pendukungnya—kerabat jauh, pengacara yang mudah dibeli, dan pegawai lama yang loyal—berkumpul rapat.
“Tidak bisa diterima!” teriak salah seorang pria, suaranya bergema di ruangan gelap. “Bagaimana mungkin 90 persen harta diberikan pada Elisabet? Itu terlalu banyak!”
Marcellina Hartono mengangkat tangannya, menenangkan. “Tenang dulu! Kita bukan di luar sana berteriak tanpa rencana. Ini semua tentang strategi. Kita bisa mengembalikan hak yang ‘seharusnya’ menjadi milik kita.”
Seorang perempuan lain, kerabat jauh, menimpali dengan nada mengejek: “Seharusnya ayah Elisabet tidak segan memberikan semuanya pada anaknya. Sekarang semuanya tersentral pada satu orang. Bagaimana jika kita mengambil langkah cepat sebelum dia menguatkan posisinya?”
“Langkah cepat?” ucap Marcellina Hartono sambil menyeringai tipis, mata berkilat. “Kamu tahu maksudku. Kita tidak bicara hukum, tapi posisi. Aset, saham, properti… semuanya bisa diatur. Dan kita sudah tahu beberapa celahnya.”
Seorang pria muda yang dipercaya sebagai manajer aset berbicara, nada panik terdengar jelas. “Tapi… Elisabet baru pulang. Semua dokumen ada di bawah pengawasannya sekarang. Kita tidak bisa langsung melakukan apapun tanpa risiko.”
Marcellina Hartono tertawa dingin, mengguncang pundaknya. “Kamu terlalu takut! Risiko itu bagian dari permainan. Aku pernah hidup dengan risiko yang jauh lebih besar. Kalian pikir aku akan mundur hanya karena putri itu baru saja kembali?”
Salah seorang pengacara mengetuk meja. “Kalau kita bergerak sekarang, semua harus diam-diam. Tidak boleh ada jejak.”
“Diam-diam!” teriak seorang perempuan, nadanya hampir histeris. “Aku tidak mau Elisabet menikmati semua ini. Ayah memberikan semuanya padanya—dan aku tidak akan diam! Ini waktuku. Ini hakku juga!”
Marcellina Hartono menatapnya tajam. “Kalau bertindak bodoh, kamu menjerat kita semua. Kita harus cerdik, lembut, dan memanfaatkan setiap celah. Jangan sampai putri itu mengetahui niat kita sebelum waktunya.”
Sejenak, ruangan itu sunyi. Semua orang menelan amarahnya, menahan teriakan yang hampir meledak. Mata Marcellina Hartonotetap menyala, penuh rencana licik.
“Aku akan mengatur semuanya,” bisiknya pelan, nyaris seperti mantra. “Elisabet mungkin pewaris sah. Tapi pewaris sah tidak selalu bisa melawan niat yang dirancang dengan cerdik. Percayalah—ini baru permulaan.”
Seorang pria muda mengerutkan dahi. “Dan jika dia tahu?”
Marcellina Hartono (Ibu tiri Elisabet) tersenyum dingin, tanpa ragu. “Jika dia tahu… kita akan lihat siapa yang lebih cepat. Siapa yang punya strategi, dan siapa yang hanya percaya pada warisan ayahnya.”
Suara teriakan, bisikan, dan tawa dingin itu bergema di ruangan. Dinding kayu memantulkan ketegangan. Malam itu, tidak ada yang tidur dengan tenang—hanya perencanaan licik yang diam-diam merayap, berputar, dan menunggu waktu yang tepat untuk dilepaskan.
Di lantai atas, Elisabet tertidur di kamarnya, tidak tahu bahwa bayangan lama dan niat jahat kini bergerak cepat di dalam rumahnya sendiri. Malam yang tenang di permukaan hanyalah selimut tipis untuk badai yang sedang merangkak perlahan, menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Mimpi Buruk yang Menghantui
Elisabet terlelap, namun tidurnya tidak tenang. Mimpi lama kembali menghantui mimpi yang selalu membuat hatinya tercekat.
Ia berada di lorong gelap, hujan deras memukuli jalanan. Petir menyambar, menerangi sesaat sosok ayahnya yang tersungkur di tanah, wajahnya tegang, tangan terulur ke arah Elisabet.
“Lari! Elisabet, lari sekarang!” teriak ayahnya, suara penuh ketegangan dan rasa takut.
Tapi langkah Elisabet terasa kaku, tubuhnya seakan tidak mau bergerak. Dari bayangan gelap, pria bersenjata muncul, menembakkan peluru yang menghantam tanah di dekatnya, memercikkan air dan lumpur ke wajahnya.
Tiba-tiba, seorang pria asing muncul di sampingnya, menarik Elisabet ke lorong sempit di antara reruntuhan. “Ikuti aku! Jangan lihat ke belakang!” kata pria itu, nadanya mendesak tapi tegas.
Elisabet hanya bisa mengangguk, tubuhnya gemetar hebat. Saat mereka berlari, matanya sempat melihat ayahnya tersungkur, darah menodai baju dan tangannya, wajahnya memelas tapi tegas, memaksa Elisabet untuk terus lari.
Detik-detik itu terasa abadi. Tembakan, teriakan, hujan deras—semuanya menelan kesadarannya, menumpuk rasa takut yang tidak pernah hilang.
Kemudian, mimpinya pecah.
Elisabet membuka mata dengan napas tersengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Tangannya meraba-raba tempat tidur, mencari kenyamanan yang tidak ada. Dan di sana, di sampingnya, ia melihat baju lama ayahnya sisa-sisa mimpi yang tercampur kenyataan terasa seakan berlumur darah.
Panik, ia terhuyung berdiri. Mata berkaca-kaca, jantung berdetak keras, seluruh tubuhnya gemetar. Trauma itu begitu nyata, seolah ayahnya benar-benar ada di sana, memintanya untuk tidak berhenti, untuk tetap bertahan.
“Elisabet… ayah…” bisiknya, suaranya parau. “Kenapa… kenapa harus seperti ini?”
Ia terjatuh kembali ke tempat tidur, menahan napas, mencoba menenangkan tubuh dan pikirannya. Tapi ketenangan itu tidak datang. Mimpi itu, darah itu, bayangan ayahnya yang jatuh, terus membayangi—meninggalkan bekas yang dalam, menandakan bahwa masa lalu tidak akan pernah benar-benar pergi.
Dan di luar kamar, rumah megah itu tetap tenang, terlalu tenang. Tapi Elisabet tahu, ancaman tidak tidur. Dan malam ini, serta setiap malam yang akan datang, mimpi buruk itu akan terus kembali, mengingatkannya bahwa tidak ada yang aman, dan setiap langkahnya kini harus diwaspadai.
...----------------...
Sementara itu di kota lain
Batam — Bayangan Masa Lalu (Armand)
Hujan tipis mulai turun ketika Armand meninggalkan hotel. Jalanan lengang, hanya lampu jalan dan beberapa kendaraan yang melintas. Bau laut tercampur dengan asap kendaraan, tapi Armand tidak menghiraukan itu. Matanya fokus pada tujuan yang sudah menunggu: gudang tua di pinggiran kota.
Di sana, seseorang berdiri menunggu—siluet pria tinggi, jas gelap, wajah tak terlihat jelas dalam remang lampu.
“Selamat datang,” ucap suara itu, dingin tapi akrab.
Armand menatapnya lama sebelum menanggapi. “Sudah lama.”
Pria itu melangkah mendekat, menyodorkan map hitam. Tanpa sepatah kata pun, Armand mengambilnya.
Map itu berisi foto-foto, nama-nama, dan catatan kecil tentang aktivitas yang masih berlangsung orang-orang yang dulu berada di bawah pengaruh organisasi Perisai Malam.
Armand menutup mata sejenak. Ingatannya kembali ke malam-malam gelap: perintah rahasia, uang yang berpindah tangan tanpa jejak, dan keputusan yang membuat banyak orang kehilangan segalanya.
“Semua ini… sudah bergerak,” kata pria itu.
Armand membuka map, menatap wajah yang dikenalnya di setiap foto. Mantan pejabat yang dulu diam-diam dibantunya, pengusaha yang pernah ia lindungi, hingga beberapa perwira militer yang kini punya agenda sendiri.
“Siapa yang memulai?” tanya Armand.
Pria itu mencondongkan tubuh. “Mereka tidak menunggu lama. Armand… mereka tahu kamu kembali ke Batam. Dan beberapa dari mereka mulai bergerak untuk… mengambil alih. Sama seperti dulu.”
Armand meraih kursi dan duduk, tangannya menepuk meja pelan. Napasnya berat. “Artinya aku tidak bisa hanya menunggu.”
“Benar,” ucap pria itu. “Jika kamu bergerak sekarang, kamu bisa mengatur jalur aman. Tapi jangan lengah. Orang-orang lama… mereka punya dendam. Dan beberapa masih hidup karena itu.”
Armand mengangguk pelan. Ia tahu keputusan yang ia buat saat memimpin organisasi itu dulu, walau dengan niat baik, meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus begitu saja.
“Mulai dari sini,” katanya pelan tapi tegas. “Aku harus tahu siapa yang bergerak dan siapa yang diam. Semua jalur harus terkontrol.”
Pria itu tersenyum tipis. “Seperti dulu, Armand. Seperti dulu.”
Hujan semakin deras di luar, menimbulkan suara ketukan yang monoton di atap gudang. Armand menatap jendela, matanya fokus pada kegelapan.
Masa lalu telah bergerak.
Dan kali ini, ia tahu, tidak ada ruang untuk kesalahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...