Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Masa kini 5
Melihat Ratu Aurelia dan Snow melompati tembok pembatas pacuan kuda, membuat beberapa orang membelalak kan matanya dengan tak percaya. Selama ini, mereka tahu sang ratu bisa berkuda, tetapi selalu di dampingi yang mulia Raja Reynold. Mereka tidak menyangka jika kemampuan berkuda sang ratu akan sehebat ini. Dengan rambutnya yang terbang terbawa angin, Ratu Aurelia terlihat seperti seorang penunggang kuda profesional, sementara Snow melompat dengan lincah dan kuat.
Liam, yang sedari tadi mengikuti langkah Ratu Aurelia dari belakang, tidak bisa tidak membelalakkan matanya ketika melihat Ratu Aurelia dan Snow, kuda putih yang gagah, melompati tembok pembatas pacuan kuda dengan mudah. "Astaga!" Liam mengembuskan napas, masih terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat. Wajahnya yang biasa tenang kini berubah menjadi serius.
"Siapkan kuda-kuda!" Liam memerintahkan para prajurit yang sedang berjaga di sekitar pacuan kuda, suaranya yang tegas membuat para prajurit langsung bergerak. "Kita harus segera menyusul yang mulia Ratu, sebelum ia pergi jauh !"
"Baik, Sir Liam!" ucap para prajurit serempak, sambil berlari menuju kandang kuda untuk menyiapkan kuda-kuda mereka.
Liam kemudian menoleh ke arah Liana, yang masih berdiri di sampingnya dengan mata yang masih membelalak. "Lady Liana, tolong beritahukan kepada yang mulia raja, saya akan segera menyusul yang mulia ratu dengan para prajurit," ucap Liam dengan suara yang tegas dan tenang.
Liana yang mendengar suara Liam langsung tersadar dari rasa terkejutnya, segera ia menolehkan kepalanya saat mendengar instruksi Liam yang di tujukan kepadanya. Wajahnya yang cantik kini berubah menjadi serius, ia tahu bahwa ini bukanlah sekedar tugas biasa. "Baik, Sir Liam," ucap Liana, sambil menganggukkan kepalanya.
Dengan gerakan yang cepat, Liana segera berlari ke arah ruang kerja yang mulia raja, jantungnya berdetak kencang karena kekhawatiran. Ia tahu bahwa harus segera memberitahu Raja Reynold tentang apa yang sedang terjadi, sebelum semuanya terlalu larut. Napasnya mulai terengah-engah, suaranya yang biasanya lembut kini terdengar terputus-putus.
Sementara itu Liam dan beberapa prajurit segera menyusul yang mulia Ratu Aurelia, kuda-kuda mereka berlari dengan kencang, derap kaki kuda yang keras membuat tanah bergetar. Mata Liam terus mencari sosok yang mulia Ratu Aurelia, ia tahu bahwa harus segera menyusulnya sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
"Percepat!" teriak Liam kepada para prajurit, suaranya yang keras membuat mereka mempercepat kuda-kuda mereka. Debu yang beterbangan di belakang mereka membuat suasana semakin tegang, hanya suara derap kuda dan angin yang terdengar.
Liam terus memacu kudanya, matanya tidak lepas untuk mencari keberadaan yang mulia ratu aurelia. ia memandang dengan tatapan tajam, mencari di antara pepohonan yang menjulang tinggi ke langit.
----------
Liana terus berlari dengan cepat, napasnya yang terengah-engah tidak membuatnya berhenti, ia tahu bahwa ia harus segera sampai di ruang kerja yang mulia Raja Reynold. Penjaga yang melihat kedatangan Liana, serta melihat ekspresi tergesa-gesa di wajahnya, segera mengetuk pintu untuk melapor kan kepada yang mulia Raja Reynold.
"Lapor yang mulia, lady Liana ,pelayan pribadi yang mulia ratu aurelia meminta izin untuk masuk!" suara penjaga yang keras dan formal membuat Liana berhenti sejenak, ia mengambil napas dalam-dalam.
"Biarkan dia masuk!" suara Raja Reynold yang dalam dan tenang terdengar dari dalam, membuat penjaga membuka pintu lebar-lebar dan Liana bergegas masuk, membungkuk di depan Raja Reynold.
"Sa...lam yang mu...lia, semoga Zorvath selalu diberkati dewa-dewi" ucap Liana sambil membungkukkan badan dengan suara yang bergetar, matanya yang biasanya cerah kini terlihat redup karena kekhawatiran. Raja Reynold yang mendengar nada suara Liana yang bergetar segera mengangkat kepalanya yang sedang membaca beberapa dokumen.
"Ada apa?" ucap Raja Reynold dengan nada dinginnya, mata yang tajam menatap Liana yang masih membungkuk dalam.
"Mohon maaf yang mulia..." ucap Liana dengan kepala yang semakin menunduk dalam, suaranya yang biasanya lembut kini terdengar terputus-putus.
Raja Reynold mengangkat sebelah alis dengan penasaran, "Kenapa kamu terlihat sangat ketakutan, Liana? Apa yang terjadi dengan Ratu Aurelia?"
Liana mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara, "Yang...mu...lia, Ra...tu... naik Snow..."
Raja Reynold masih setia menunggu dengan raut wajah yang mulai gelap, mata yang tajam menatap Liana yang masih berusaha berbicara.
"Men...nuju ke hut...tan... Sir Liam sedang mengejar beliau," ucap Liana dengan terbata-bata, akhirnya berhasil mengeluarkan kata-kata yang ingin diucapkannya.
Raja Reynold yang mendengar perkataan Liana, raut wajahnya sudah berubah memerah karena amarah serta rasa cemas dan khawatir langsung menyerangnya. Matanya yang tajam berubah menjadi me merah, urat-urat di lehernya menonjol, dan napasnya yang biasanya tenang kini berhembus dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Raja Reynold dengan nada suara yang berat, suaranya yang dalam membuat Liana merasa takut.
"Ampuni hamba yang mulia... setelah keluar dari ruangan dokter Andreas, suasana hati yang mulia Ratu tidak baik... beliau kelihatan sangat sedih yang mulia," ucap Liana, suaranya yang lembut kini terdengar terputus-putus.
Raja Reynold tidak berkata apa-apa lagi, ia mengibaskan tangannya seraya berkata " pergi" Suara nya yang keras dan tegas membuat Lisna langsung mengundurkan diri dari ruang kerja raja Reynold.
-----------
Setelah kepergian Liana dari ruang kerja Raja Reynold, suasana menjadi sunyi dan hanya terdengar suara napas Raja Reynold yang berat. Tirai yang berhembus lembut dihembuskan oleh angin sepoi-sepoi, membuat bayangan di baliknya terlihat seperti bergerak.
Tiba-tiba, bayangan itu bergerak, dan seorang pria yang tinggi dan berwajah dingin muncul dari balik tirai. Ia mengenakan pakaian hitam yang membuat ia terlihat seperti bayangan.
"Apa yang terjadi, Yang Mulia?" tanya Philip, suaranya yang rendah dan berat membuat Raja Reynold menoleh ke arahnya, matanya yang tajam menatap wajah Raja Reynold dengan intens.
Raja Reynold menghempaskan napasnya, ekspresi kekhawatiran yang semakin dalam tergambar di wajahnya. "Ratu Aurelia pergi ke hutan bersama Snow setelah pemeriksaan dengan dokter Andreas. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, Philip."
Philip mengangguk mengerti, matanya yang tajam tidak meninggalkan wajah Raja Reynold. "Saya akan mencari penyebabnya, Yang Mulia. Saya akan menemukan apa yang membuat Ratu Aurelia melakukan hal ini."
Raja Reynold menatap Philip dengan intens, "Lakukan itu, Philip. Bawa dokter Andreas ke sini. Saya ingin tahu apa yang terjadi selama pemeriksaan itu."
"Baik, Yang Mulia," Philip pun segera undur diri dari hadapan Raja Reynold, langkahnya yang tenang dan cepat membuat ia menghilang dari pandangan Raja Reynold.
Setelah kepergian Philip, Raja Reynold tidak membuang waktu lagi. Ia segera memanggil beberapa prajurit kepercayaannya dan bersama-sama mereka melangkah ke arah kandang kuda. Suasana di istana menjadi lebih tegang.
Ketika mereka tiba di kandang kuda, Raja Reynold langsung memanggil penjaga kandang kuda. "Siapkan kuda-kuda terbaik! " perintah Raja Reynold dengan suara yang tegas.
Penjaga kandang kuda segera mengangguk dan mulai menyiapkan kuda-kuda terbaik. Raja Reynold sendiri memilih kuda hitamnya yang bernama jhon, seekor kuda yang kuat dan cepat.
Dalam beberapa menit, mereka telah siap untuk berangkat. Raja Reynold memacu jhon dengan kecepatan tinggi, diikuti oleh prajurit-prajurit kepercayaannya. Mereka melaju ke arah hutan Blackwood, tempat Ratu Aurelia pergi dengan Snow.
16 Desember 2025
Happy reading