Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
...Panca...
...────୨ৎ────...
11 hari yang lalu...
"Pakai uang kecil aja, mas!" begitu kata si tukang tambal ban, saat aku menyodorkan lembaran merah muda bergambar Soekarno kepadanya.
"Yah, Pak. Kalau begitu saya tukarkan dulu, sebentar!" Bapak tukang tambal ban hanya mengangguk kemudian mengerjakan motor Mbak-mbak yang kebetulan juga mengalami ban bocor.
Untung saja ada Indomarket di seberangnya, jadi aku tak perlu bingung harus kemana lagi untuk menukarkan lembaran terakhir yang ada di dompetku itu.
HPku berbunyi waktu aku bersiap membayar belanjaaanku. Ternyata Bayu, teman satu kelompokku di kelas.
...📩...
"Hallo."
^^^"Wei, Panca kamu di mana? Giliran kita habis ini!"^^^
"Ban ku bocor, loh Bay."
^^^"Halah, alesan! Bilang aja mau kabur!"^^^
...Ctakkkkk,...
Permintaan panggilan video: Bayu.
^^^"Lah, wong di toko, gitu kok katanya ban bocor!"^^^
Suara Bayu begitu keras sehingga Mbak kasir di depanku juga menyipitkan mata, rasanya dia juga mendengarnya.
"Ini saja, kak? Atau sekalian cokelatnya, beli satu gratis satu?" tawar mbak kasir kepadaku.
Sedang HP yang kupegang masih ribut dengan teriakan Bayu dan keramaian dalam kelas.
Aku mengangguk, dan menaruh uang di mejanya untuk satu botol air mineral. Tapi Mbak kasir yang memakai masker hitam itu tiba-tiba menyatukan kedua tangannya, "Maaf, kak. Kami baru saja buka, jadi belum ada uang kecil untuk kembaliannya."
^^^"Ya, udah beliin kita jajan aja, kalau kamu gak bisa presentasi Panca!"^^^
Bayu yang mendengar pembicaraan kami, ikutan nyaut.
Akhirnya aku kembali menyusuri rak snack dan kembali ke meja kasir dengan menayangkan kamera belakang sebagai bukti ke Bayu, kalau hari ini jelas tidak bisa datang ke presentasi mereka.
"Nih, loh! Puas, kan sekarang?"
^^^"Bagus! Kita tunggu di tempat biasa!"^^^
Iya begitu lah, Bayu. Datang tanpa salam, hilang pun tanpa kabar. Tiba-tiba saja layar HPku balik ke beranda, tanda dia mengakhiri panggilannya.
Tapi, aku cukup lega karena tak harus bertemu dengan dosen yang, iya bisa dibilang bikin ngantuk. Cuma satu orang yang nggak pernah kelihatan ngantuk di kelas, iya Yoana namanya.
Cewek, dia tuh kayak bisa mendeteksi makhluk lain gitu, iya mungkin dia menganggap Pak Anzwar, dosen Metafisika kita adalah makhluk ghaib jadi selalu waspada adalah cara dia mempertahankan diri.
"Terima kasih, selamat berbelanja kembali," ucap Mbak kasir sambil menyatukan kedua tangannya lagi.
"Sama-sam...."
...DOOOOAARRR...
...Bruuakkkk Brakkkkkk...
Kami sama-sama menoleh ke pintu kaca. Beberapa orang berlarian, beberapa lainya merapikan motor-motor yang berserakan di tepi jalan.
"Astagfirulahh...." jerit Mbak kasir memelototiku. "Mas, ada apa itu?"
Kami pun berjalan ke luar pintu. Banyak ibu-ibu menangis sambil memegang erat anak-anaknya, sebagian lagi berteriak histeris. Sedang yang muda berhamburan menonton, merekam dengan HPnya dan yang lain berlari mendekati yang berjatuhan.
Aku baru baru ingat.
Motorku?
Mereka semua berlari ke arah sana. Ke arah lapak tambal ban yang ada di ujung pertigaan lampu merah. Banyak orang tampak berdarah-darah memegangi tangannya, kakinya.
Ya, tuhan.
Mengapa Bus Pariwisata itu hanya menampakan seperempat dari body nya dengan ke-4 ban belakang menukik ke atas?
Kemana perginya lapak tambal ban bertenda biru yang semula ada di ujung jalan sana?
Aku pun berlari untuk memastikan. Banyak orang berlarian mengerubungi Bus Pariwisata itu, mencoba memanjat dan mengeluarkan yang masih menjerit-jerit dari dalam Bus.
Motorku?
Hanya helem Bogo berwarna biru muda yang masih tertata rapi di samping trotoar. Aku rasa itu milik perempuan yang menembel ban bersamaku tadi.
Lalu, kemana perempuan itu?
Jangan-jangan....