NovelToon NovelToon
BURN OUT

BURN OUT

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Misteri / Tamat
Popularitas:55.8k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

JLEEEB!!!!

Hie Yang melempar pisau secara sembarangan dan tepat menancap di paha kanan petugas In Hae.

"Aku rasa sudah cukup, aku harus mengurus dua rekan perempuanmu di tempat lain." ujar Hie Yang dan berjalan dengan santai. "Ah, rayakan juga kegagalan kalian menangkapku, aku sudah meninggalkan kopi yang aku buat dengan tanganku sendiri, disana aku meramu dengan perbandingan latte dan sedikit pestisida 2:1."
(cut chpt 54)

Berbagai macam peristiwa pembunuhann misterius terjadi secara beruntun, dengan bukti dan jejak yang berbeda.

Mampukah polisi dan para detektif bekerja sama untuk mengungkap motif dan siapa dalang dari pembunuhann tersebut?

𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑖𝑛𝑖 ℎ𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑛𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑔𝑎𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑎𝑢𝑡ℎ𝑜𝑟.
𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑡𝑜𝑘𝑜ℎ, 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡, ℎ𝑎nya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
salam author Yoshua.
-semoga semua berbahagi-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BURN OUT >>>>5

Situasi TKP yang sangat kacau, hampir seluruh lantai kamar penuh dengan pecahan kaca dan noda darah. Bahkan di beberapa titik dinding pun ada noda darah dengan berbagai macam situasi.

Petugas Ahn melihat ke sekeliling rumah. Kamar mandi, dan beberapa ruangan di lantai dua itu. Dengan sigap dan cepat, mata elangnya mencari hal yang sangat mengganjal di pikirannya.

"Dimana putri pemilik rumah?" tanya petugas Ahn sambil melongok ke kamar tempat TKP. "Seluruh ruangan di lantai dua tidak ada."

Semua petugas yang ada di kamar itu saling berpandangan sesaat, tak ada yang menyadari ketidakhadiran Hong Areum(9) , putri Hong Da Seok (42).

Petugas Han yang sedang jongkok mengidentifikasi lokasi, menghela nafas beberapa kali, terlihat wajah kesalnya, lalu berdiri.

"Kita prioritaskan mencari putri pemilik rumah. Petugas Ha yoon tetap di sini." kata ketua Han meninggalkan kamar lokasi pembunuhan. Mengikuti petugas Ahn mencari Hong Areum di seluruh ruangan di rumah itu.

"Temukan putri pemilik rumah! Namanya Hong Areum, usia 9 tahun. Cari di seluruh sudut rumah ini!" perintah ketua Han pada polisi yang berjaga di lantai satu.

"Baik, Pak!" jawab beberapa petugas polisi bergegas bergerak.

Ketua Han menuju ke dapur di lantai satu di bagian ujung rumah. Seluruh lemari dan sudut di dapur itu ia periksa. Namun tak ada tanda Hong Areum disana.

Kemudian ia berpindah ke sebuah ruangan di sebelah dapur, tampak seperti gudang. Banyak benda-benda lama yang terlihat usang dan berdebu. Set meja dengan kursi kayu yang ditata rapi di atas meja. Lampu-lampu antik, botol-botol bir kosong, dan beberapa benda lain yang terbungkus kain berwarna putih.

"Areumi... Areumi... Kami polisi. Kami tidak bermaksud jahat. Kamu bisa mendengarku?" ketua Han memperhatikan pelan-pelan seluruh ruangan, berharap ada jawaban dari Hong Areum.

Namun tetap nihil, tak ada sahutan. Bahkan ketika semua benda yang ditutup kain di buka oleh ketua Han, tak ada jejak Areum di sana.

Ketua Han kembali menghela nafas, berpikir sejenak. Membayangkan dirinya jika menjadi gadis usia 9 tahun, terjadi kekacauan di rumahnya, kira-kira akan sembunyi dimana.

Sementara itu petugas Ahn menyusur ruangan lain, ia menuju sebuah ruangan di sebelah gudang tempat ketua Han berdiri sekarang.

Petugas Ahn mendapati kamar yang sangat gelap. Tak ada penerangan sama sekali, tak ada ventilasi sama sekali.

"Ruangan apa ini?" gumam petugas Ahn sambil menghidupkan senter dari ponselnya.

"Areumiya... Kamu petak umpet di sini? om ini polisi, kami datang membantumu. Kamu sembunyi dimana?" petugas Ahn mencoba memanggil Hong Areum.

Ruangan sangat sepi, tak terlihat sedikit pun pergerakan. Petugas Ahn memeriksa dengan seksama. Karena ruangan sangat gelap, kaki petugas Ahn terantuk sesuatu, dan membuat beberapa benda roboh dari penataannya.

"Krasaaaak....! Braaaaak..!!!" suara gaduh dari benda-benda yang roboh.

"Petugas Ahn!" seru ketua Han yang berlari segera melongok ke dalaam ruangan gelap tempat petugas Ahn melakukan penyisiran. "Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?"

"Sepertinya aku merobohkan banyak barang, ketua." kata Petugas Ahn sambil mengarahkan cahaya senternya ke benda- benda seperti lukisan yang dibungkus kertas, tampak roboh semua.

"Ruangan ini pengap sekali. Tak ada lampu kah?" tanya petugas Han ikut masuk dan memeriksa.

"Tidak kutemukan saklar lampu." jawab petugas Ahn.

"Biar aku lihat benda apa ini, tetap arahkan senter ke sini." ketua Han jongkok membuka salah satu papan yang terbungkus kertas.

Papan pertama dibuka ketua Han. Dan membuat keduanya terkejut, mengernyitkan dahi dan rasa tak percaya sedikit mengganggu mereka.

"Apa ini?!!!" seru petugas Han.

Lukisan pertama, disana dilukiskan situasi sebuah TKP yang sangat berantakan. Persis seperti situasi kamar Hong Dang Seok saat ini. Lalu ketua Han membuka bungkusan kedua. Semakin terkejut mereka saat melihat lukisan kedua.

"Ketua Han. Situasi seperti apa ini!!" seru petugas Ahn ikut jongkok memperhatikan lukisan kedua dengan seksama.

Lukisan kedua begitu persis tepat menggambarkan Hong Dang Seok yang mati tertusuk dadanya dengan pisau carving bermata satu, panjang bilah tajamnya 18cm, dan panjang gagang 12cm. Pisau tajam ini tepat mengenai dada kiri Hong Dang seok sampai menembus jantungnya.

Mata kedua petugas penyidik membulat sempurna, menatap setiap inci dari lukisan potret itu. Tak mau membuang banyak waktu, ketua Han segera membuka bungkusan ketiga. Tepat seperti dugaan mereka.

Lukisan ketiga adalah lukisan potret kematian istri Nam see Myun(36), istri dari Hong Dang Seok. Terlihat jelas dalam lukisan, perempuan itu telentang di belakang rumah, dengan kepala belakang bocor bersimbah darah, tepat terkena pojok pot bunga yang terbuat dari semen.

Mata Nam see Myun terbelalak persis seperti sebelum ketua Han membantu memejamkan mata mayat Nam See Myun. Kedua tangan Nam See Myun penuh dengan noda darah, baju tidur sedikit menerawang yang dikenakannya pun terdapat banyak sekali noda darah, seakan pakaiannya digunakan untuk mengelap darah.

Petugas Ahn tersadar dari rasa terkejutnya dan segera membuka lukisan ketiga. Berharap akan menemukan petunjuk tentang Hong Areum. Namun hal berbeda yang mereka temukan.

Lukisan keempat justru membuat kedua petugas penyidik itu semakin terbelalak dengan degup jantung semakin terpacu. Lukisan potret itu terlihat seperti cermin bagi kedua petugas penyidik.

"ketua Han!!!" seru penyidik Han.

Lukisan keempat adalah potret ekspresi petugas Han yang jongkok bersama petugas Ahn saat menatap lukisan. Jadi saat keduanya melihat lukisan keempat, benar-benar seperti mereka sedang bercermin.

"Siapa mereka? Bagaimana mereka bisa memprediksi semua ini dengan sangat tepat?" ketua Han terlihat sedikit frustasi dan menghela nafas beberapa kali.

Petugas Ahn menggigit memasukkan ujung ponselnya dalam mulutnya, kedua tangannya sibuk membantu ketua Han membuka lukisan-lukisan selanjutnya.

Dan semua lukisan menggambarkan situasi bagaimana seluruh petugas polisi, penyidik dan tim forensik menyisir seluruh rumah itu.

Ada juga Lukisan yang menggambarkan korban yang meninggal di kolam renang. Korban kedua yang melompat ke dalam kolam pun dilukis di sana, namun tak ditemukan satupun lukisan yang bisa digunakan sebagai petunjuk untuk menemukan Hong Areum.

"Kirimkan bantuan, terlalu banyak barang bukti di sini!" seru ketua Han saat melakukan panggilan telepon pada kepala Polisi, Da Gwang Seok(47).

Ketua Han dan petugas Ahn kembali mencari Hong Areum di ruangan lain di dalam rumah itu.

"Ketua!! Ketua!!" seru seorang petugas polisi tergopoh-gopoh berlari memanggil ketua Han.

"Ada apa? Kamu menemukan putri pemilik rumah?" ketua Han menyahut.

"Lihatlah halaman belakang! Ada jalan menuju ruang bawah tanah!" seru petugas polisi itu.

Petugas Ahn dan petugas Han saling pandang sejenak, lalu bergegas menuju tempat yang ditunjukkan petugas polisi itu.

"Yang lain, tetap lakukan pencarian putri pemilik rumah di seluruh ruangan! Jangan ada yang dilewatkan! Dan hati-hati jangan sampai merusak TKP!" seru petugas Han sambil berlari.

.

.

.

.

"Ruang bawah tanah!! Rumah ini sangat banyak misteri!" pikir ketua Han dalam hati.

...****************...

To be continue....

1
Handoko
jadi serpihan kacanya ada dua ? yang dipasang Jae Hwa saat dia memotong ujung pohon pinus dan menembakkan serpihan kaca dari sana dengan senar. dan satu lagi dipasang oleh kepala Gwang ?
Handoko
wah .. jika saat ini usia Hong Areum 9 tahun berarti Jae Hwa bercinta dengan See Myun saat usianya masih 17 tahun dan See Myun 26 tahun.
Handoko
bukankah surat itu ditemukan Hyun Hee di dalam kotak surat ? berarti tidak pernah bertemu dengan pengirimnya.
Handoko
jadi .. pengakuan Areum tentang paman polisi yang memberinya lukisan aneh, tentang paman yang malam selanjutnya memberinya pisau untuk membantu ibunya berlatih akting, tentang dia yang tidak sengaja menusuk ayahnya di dada, dan tentang paman kedua yang datang lalu bertengkar dengan paman polisi, adalah pengakuan palsu ? di situ Areum juga baru bersembunyi setelah insiden.
Handoko
rentetan kejadian ini sangat berbeda dengan pengakuan Hong Areum dan video yang dikirimkan kepada polisi.
Handoko
hampir mengiris jari tangan saat posisi tangan sedang menguleni adonan pangsit ? 🤔
Handoko
selisih kakak beradik itu 16 tahun. berarti usia Jae Hwa sekarang adalah 27 tahun.
Handoko
apakah Api adalah pacar Na Hee ? atau kali ini dia menggunakan identitas pacar Na Hee ?
Handoko
yup para polisinya memang begitulah 🤣
Handoko
teriakan di tengah ladang luas pasti akan menggema ke berbagai arah.
Handoko
di sini Roy Jung secara sadar menjadikan adiknya pemuas nafsu lelaki. tapi di bab lain diceritakan Roy Jung frustasi dan merasa gagal menjaga adik kesayangannya karena dilecehkan dua orang pria di mobil.
Handoko
masalah sepenting ini kenapa tidak dilaporkan kepada ketua tim terlebih dahulu ? malah bergerak sendiri.
Handoko
lalu alamat di kartu penduduknya ?
Handoko
bukankah mereka adalah anggota tim dua dengan ketua Han ?
Handoko
aku pikir karena topinya memiliki pola tertentu seperti yang ditemukan di kursi rias Nam See Myun.
Handoko
dan bagaimana dengan barang bukti berupa jam tangan usang yang terkubur di halaman rumah kontrakan petugas Dak Ho ?
Handoko
lha bagaimana ini ? Park Nam Ji Palsu kan hanya menyewa rumah petugas Dak Ho selama dua bulan. sedangkan Park Minna dan pasangannya dibunuh di bulan Januari 2017 di hari ulang tahun Hyuna.
Handoko
ini juga yang jadi pertanyaan dalam benak ku.
Handoko
harusnya segalanya berawal dari sidik jari. sidik jari adalah salah satu pembeda antara manusia satu dengan lainnya.
Handoko
Hong Aerum sempat bertemu seseorang yang dia sebut paman kedua. kenapa tidak dicoba dibuat sketsa wajahnya berdasar kesaksian Aerum ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!