NovelToon NovelToon
Kekasih Bayaran

Kekasih Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:5.5M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Selamat datang di karyaku yang ke-18

Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.

Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Scandal

Kekasih Bayaran Bagian 5

Oleh Sept

Melihat adiknya tenggelam dan kini pingsan, Arjuna reflek langsung beranjak dan lari meninggalkan kursinya. Diikuti sang sekretaris, Olivia. Semua terlihat panik, tapi Tim khusus langsung melakukan pertolongan pertama.

Hal-hal semacam ini sudah diperhitungkan, jadi bila ada accident atau kendala kecil, makan Tim khusus pun sudah siap.

"Uhuk ... Uhuk!"

Kavi terbatuk saat perut bagian atasnya dipompa. Beruntung Winda tadi bergegas menarik tubuhnya ke permukaan. Karena tadi setelah meraih bola di dasar kolam, tiba-tiba kaki Kavi terasa keram mendadak, alhasil ia tidak bisa balik ke permukaan.

"Apa kau baik-baik saja?" Fenita langsung menyibak semua orang. Ia jongkok di samping Kavi yang masih berbaring. Pria itu kemudian duduk, lalu mengangguk.

"It's okay," kata Kavi agar semua tidak panik. Apalagi saat ditatapnya wajah sang kakak yang terlihat tegang dan khawatir. Kavi hanya mengangguk menatap Arjuna.

"Istirahatlah!"

Tangan Arjuna menepuk pundak Kavi, kemudian meminta Kavi untuk istirahat di kamarnya.

"Tidak ... saya tidak apa-apa, Pak. Saya masih kuat." Kavi menolak disuruh istirahat di dalam kamarnya.

"Ini perintah!" ujar Arjuna tegas. Dan Kavi hanya bisa menunduk pasrah. Mau protes juga percuma. Kakak laki-lakinya itu pria yang tegas, dingin dan sangat pemaksa.

"Ayo! Aku antar ke kamarmu!" Fenita bersiap berdiri, ia siap mengajukan diri.

Di sisi lain, Winda menatap miris.

'Astaga ... kalian memang romatis!' julid Winda dalam hati melihat sikap Fenita yang perhatian pada pria yang baru saja ia tolong. Tapi lupa mengatakan terima kasih. Winda pun berbalik, menjauh dari kerumunan.

Setelah kejadian tidak terduga itu, outbound kembali dilanjutkan. Semua masih seru, tapi tidak seseru sebelumnya. Hingga waktunya istirahat karena mereka juga butuh makan dan membersihkan diri.

***

Kamar Winda

Winda menatap kamarnya masih kosong, seperti bu Fenita masih di kamar Kavi. Wanita muda itu pun mandi dan ganti baju, kemudian kembali berhabung bersama yang lain untuk mengisi perut.

Sore itu Winda dimanjakan dengan banyak makanan manis, ia pun jadi sangsi. Jangan-jangan pulang dari puncak gula sarahya naik. Karena makanan di villa sangat beragam manisnya. Aneka kue yang disediakan sangat mengugah selera, membuat Winda tidak tahan untuk memakannya.

Setelah habis beberapa kue, Winda kemudian menikmati sore dengan meminum teh madunya. Ia duduk bersama rekan yang lain sembari menikmati pemandangan yang asri.

Tiba-tiba ia teringat orang rumah. Winda pun menelpon menanyakan kabar sang ibu.

"Hallo ... bu Susi?" sapa Winda di telpon.

"Iya, Mbak Winda."

"Ibu bagaimana?"

Terdengar bu Susi malah tersenyum. "Ada, sedang main sama cucu Ibu. Kamu jangan khawatir. Ibu Rissa baik-baik saja."

Winda bisa bernapas lega, ia kemudian mengucapkan banyak terima kasih pada bu Susi yang super baik tersebut.

"Makasih banyak, Bu Susi."

"Hemm ... iya. Sama-sama."

Tut Tut Tut

Akhirnya telpon pun diputus. Lega, ibunya baik-baik saja, Winda pun bisa menikmati sore indah dengan sempurna.

Krekk ...

Wanita muda dengan rambut panjang tergerai setengah basah itu menoleh ketika seseorang menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

"Anak-anak bilang, kamu tadi yang nolong aku?" tanya sosok tersebut. Pria tampan, tinggi, putih, rahang tegas, mata tajam dan ganteng.

"Oh ... itu. Hemm," jawab Winda sekenanya. Sebab dia sudah negative thinking pada Kavi sejak awal. Jadi Winda kurang suka dengan pria seperti Kavi.

"Thanks!"

"Hemm."

"Kapan-kapan ku traktir," janji Kavi.

"Terima kasih," ucap Winda ramah dan mengambil gelas di meja. Ia kemudian beranjak meninggalkan Kavi. Karena di belakang pria itu, Fenita sudah berjalan mengarah padanya.

Seperti tahu diri, Winda pun meninggalkan Kavi. Winda mengira Kavi dan Fenita menjalin hubungan khusus.

"Kenapa keluar?" tanya Fenita dan langsung duduk di bangku yang semula Winda duduki.

Kavi hanya melempar senyum, kemudian ikut beranjak. Ia permisi karena mau ke kamar kecil. Padahal modus, cuma mau ningalin Fenita. Kavi sangat manis saat merayu Fenita saat mengajukan banyak laporan. Begitu tidak ada hal penting lagi, ia akan menghindar dengan halus. Dasar pria licikk.

"Lah? Mereka malah pergi?" gumam Fenita yang tidak sadar kalau sedang dihindari.

***

Saat akan mencari Winda, Kavi clingak clinguk melihat sekitar. Ia belum selesai bicara keburu Fenita datang.

"Cepet banget ilangnya tuh orang?" gumam Kavi lirih.

Tanpa sengaja ia malah melihat sesuatu yang cukup membuatnya mundur untuk bersembunyi di balik pilar besar di sampingnya.

"Apa yang mereka lakukan?"

"Apa selama ini mereka menjalin hubungan khusus?"

"Mama sama papa bisa heboh!"

Kavi terus saja bicara sendiri, kemudian mengintip kembali.

Dilihatnya Olive memeluk tubuh seorang pria dari belakang, dan pria itu adalah sang kakak, Arjuna Trinadaru Mahindra.

Samar-samar Kavi bisa mendengar suara Olive yang sedikit serak.

"Oke ... aku yang salah. Kesalahan itu ... sepenuhnya aku yang ceroboh."

"Olive! Lepaskan tanganmu," pinta Arjuna, terdengar pelan tapi sangat tegas.

Olive menarik tangannya, ia kemudian terduduk dan mengusap pipinya yang basah.

"Saya akan bekerja professional seperti sebelumnya." Wanita berpakaian rapi dan modis itu kemudian kembali berdiri dan bersikap normal.

Tapi setelah Arjuna pergi dan meninggalkan sekretarisnya itu, Olive kembali mengeluarkan sisi aslinya. Ia menepi di balik tiang yang ada di dekatnya. Terisak seorang diri, meratapi kecerobohan mereka. Dan dia harus menahan semuanya sendiri.

Dari tempatnya bersembunyi, Kavi mengumpat sang kakak. Kenapa membuat wanita baik seperti Olive menangis dalam seperti itu. Jelas lukanya tidak biasa.

Karena kenal baik dengan om Jonathan dan tante Li. Kavi pun mendekati Olive. Tapi, dari arah kanan, ia melihat Winda yang berjalan bersama karyawan lain. Kavi menoleh, menatap Winda dan Olive bergantian.

'Mereka sudah dewasa, pasti bisa mengatasi masalah mereka sendiri,' pikir Kavi kemudian menyusul Winda.

"Win! Winda tunggu!"

Seketika Winda menoleh dan langsung berjalan cepat.

"Astaga ... dia lagi dia lagi!" gerutu Winda kesal.

sedangkan Olive, masih di tempatnya. Setelah puas menangis, ia pun berniat menenangkan diri barang sejenak.

Tanpa memberi tahu siapa-siapa, Olive meninggalkan villa. Ia berjalan meninggalkan Villa dengan jalan kaki, orang yang tidak tahu mengira Olive sedang menikmati pemandangan. Padahal Olive sedang kalut.

Wanita itu terus saja berjalan ke manapun kakinya melangkah. Hingga tanpa sadar, perutnya terasa keram. Ia meringis menahan sakit, dan dia kembali menangis ketika melihat darah keluar dari bawah tubuhnya.

BERSAMBUNG

IG Sept_September2020

Fb Sept September

1
Arida Susida
Luar biasa
Yuningsih Nining
suamiku tergoda pelakor
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
Yuningsih Nining
mo baca judul yng ini di sini koq susah gaada?
Yuningsih Nining
semangat lanjut thor
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
Yuningsih Nining
bilang jg semua 500 jt dl yng dr mm mu buat bantu Winda ,
Yuningsih Nining
jujur apa ada nya sm mama nya kavi , toch udah telanjur semua barang Winda kebongkar mma mu
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu
Andriyati
is sok arogan padahal yg bayar gaji nya kan kantor, bukan kamu,, sok berkuasa sekali anda bu
Nurmiati Aruan
kamu sih bi... disayang malah ngelunjak...
Nurmiati Aruan
ahh... Winda juga terlalu....
Nurmiati Aruan
si ayah tuh yang telpon...
Memyr 67
𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗲𝗱 𝘄𝗶𝗻𝗱𝗮
Memyr 67
𝗺𝗮𝘁𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗱𝗲𝗸 𝘁𝗲𝗿𝗻𝗼𝗱𝗮
Memyr 67
keseeel jengkeeeel. hanum si pembuat kacau masih othor kasih kesempatan hidup lagi. jengkeeel bener bener jengkeeeel.
Memyr 67
aq berharap hanum yg nggak tau diri nggak sadar diri mati aja. lenyap dari novel ini. tukang bikin kacau.
Memyr 67
ghadi lantaran kwturunan kaya aja, sok kuasa. disetir istri sebego hanum kok diem aja. yg begok banyak bener di sini ya?
Memyr 67
tu kan? othor ratu tega. winda nggak punya salah apa apa ke kavi dan keluarganya, dah mau dikuliti aja.
Memyr 67
tega bener othor ma kavi. kavi yg baik, berjiwa sosial tinggi, disiksa habis babisan, dibuat sial tanpa henti. sedang arjun yg seenaknya memperbudak olivia diberi enak. menikmati malam pertama dengan olivia. sungguh othor terlalu.
Memyr 67
semua kekacauan, karena mamah hanum. bisanya bikin kacau, dan suami begoknya yg membereskan kekacauan yg dibuat hanum. ghadi bucin ke hanum, dah buta mata buta hati, istri tukang bikin kacau nggak pernah "dididik"
Memyr 67
nggak tau ngurus anak hanum, cuma tau mendoktrin anak, itu namanya tidak mendidik. salahkan diri sendiri atas keadaan anak anak tersayang sekarang. ibu ibu egois nggak ada lawan.
Memyr 67
dah tau dari masih kecil, arjun pemaksa. tapi malah menjatuhkan cinta ke pria model arjun, olivia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!