Diandra, gadis cantik yang dibesarkan di panti asuhan. Balas budi membawanya pada perjodohan, yang tidak diharapkan oleh suaminya.
Mampukah Diandra menaklukkan sang suami yang hatinya telah dipenuhi oleh dendam pada wanita karena sebuah perselingkuhan?
Simak, perjalanan cinta Diandra yang diwarnai tawa dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Didi
"Angga akan ikuti kemauan mama, tapi kenapa harus dengan anak ingusan seperti itu sih ma?!" Jawab Angga sambil melirik tajam kearah Diandra.
"Apa om bilang? Anak ingusan? Saya sudah dewasa ya,,, apa om enggak bisa lihat body saya yang tumbuh sempurna ini?" Protes Diandra yang tak terima dikatakan ingusan.
"Tapi, kalau benar saya masih ingusan seperti yang om bilang... itu artinya saya anak ingusan yang bisa bersikap dewasa, tidak seperti om yang sudah berumur tapi pikiran nya masih seperti anak kecil. Baperan,,, enggak bisa move on, enggak bisa menerima kenyataan dan hidup dalam bayangan!" Ketus Diandra menyindir pemuda dewasa dihadapan nya, dan memanggil Angga dengan sebutan om.
"Cih,, tahu apa kamu anak kecil tentang kehidupan?!" Olok Angga yang tak terima dengan ucapan Diandra.
"Tahu,,,"
"Di cukup," bu Rahma memotong pembicaraan Diandra dan menatap tajam kearah putri nya, "kenapa kamu panggil nak Angga om? Itu enggak sopan nak?" Protes bu Rahma pada putri nya.
"Ya kan usia nya jauh di atas Didi bu?" Diandra membela diri.
Bu Dewi tersenyum, panggil kakak saja nak.. kedengaran nya lebih enak," pinta nya menatap lembut Diandra.
Diandra mengangguk dan pasrah, "iya tante," ucap nya pelan.
Sedangkan Angga nampak tak peduli dengan panggilan apapun terhadap diri nya.
"Mbak Rahma, seperti nya mereka butuh waktu sendiri untuk saling mengenal lebih dekat. Tapi sebelum kita memberi kan mereka waktu, kita tentukan dahulu tanggal pernikahan nya," Ucap bu Dewi mengagetkan kedua anak muda itu.
"Apa?!" Seru Didi dan Angga bersamaan.
"Iya, kalian akan segera menikah," tegas bu Dewi kepada Diandra dan putra bungsu nya.
Sedangkan bu Rahma hanya diam menyimak, beliau yang awal nya khawatir dengan nasib putri nya.. kini berangsur lega setelah melihat sendiri bagaimana sikap santun Angga terhadap orang tua seperti diri nya, dan beliau yakin bahwa sebenar nya Angga adalah pribadi yang baik.
"Tapi tante, minggu depan Didi baru mau ujian,," ucap Didi menjelaskan keberatan nya.
"Kalau begitu, kalian akan menikah dua minggu lagi.. setelah Didi selesai ujian." Ucap bu Dewi memutuskan secara sepihak.
Bu Rahma mengangguk menyetujui, sedangkan Angga hanya terdiam.
Angga memang selalu bersikap dingin pada wanita dan kata-kata nya selalu ketus, tapi terhadap orang tua.. khusus nya sang mama, dia akan berubah menjadi anak manis yang penurut.
Selama ini, sang mama hanya diam dan membiarkan putra nya menyembuhkan sendiri luka hati nya.. dan berharap sang putra akan segera membuka hati untuk wanita lain dan menikah. Namun hingga bertahun-tahun sikap putra nya itu masih saja tak berubah, Angga tetap menjadi pribadi yang dingin dan hati nya membeku.
"Tante maaf.. apakah sebelum pernikahan itu dilaksanakan Didi boleh mencari keberadaan ayah Didi dulu?" Tanya Diandra dengan hati-hati dan berharap bu Dewi bisa mengerti keadaan nya.
"Ayah?" Bu Dewi balik bertanya sambil mengernyit, "apa ayah mu masih hidup?"
Diandra menggeleng,,
"Saya ingat, mbak Rahma pernah bercerita tentang asal usul Didi. Apa mbak Rahma tidak pernah mencari tahu tentang keberadaan ayah nya Didi? Bukan kah mereka dipisahkan dengan sengaja dan bukan atas kemauan pihak ayah nya Didi?" Tanya bu Dewi menyelidik.
"Diana melarang saya untuk mencari suami nya,, dia bilang, keluarga nya mengancam akan membunuh bayi nya jika dia berani muncul lagi di kehidupan suami nya. Keluarga suami nya juga melarang mencantumkan apapun yang berhubungan dengan suami nya pada bayi yang di kandung nya, hingga hanya ada nama Diana saja di dalam akte kelahiran Didi." Tutur bu Rahma sendu.
Sejenak suasana menjadi hening,
Bu Dewi nampak geram dengan perilaku keluarga dari ayah Diandra.
Sedangkan Angga, yang meskipun diluar terlihat cuek dan dingin, tak urung mendengar sepenggal kisah pilu Diandra membuat nya sedikit bersimpati. Ya, hanya sedikit... dan itu pun hanya sebagai sesama manusia, bukan simpati sebagai lawan jenis.
"Nak, kami akan turut membantu mencari ayah mu," balas bu Dewi sesaat kemudian memecah kesunyian.
"Benar jeng Dewi, Didi harus menemukan ayah nya, dan meminta restu dari ayah nya. Apalagi sebagai anak perempuan, Didi butuh wali untuk menikahkan diri nya. Kecuali jika memang ayah Didi sudah tiada atau memang tak dapat diketahui lagi jejak nya, maka perwalian nya bisa di wakilkan oleh wali hakim," ucap Bu Rahma penuh pengharapan.
"Mbak, apa ibu kandung Didi sempat bercerita dimana alamat tinggal nya? Mungkin kita bisa melacak nya dari sana?" Ucap bu Dewi penuh harap.
Bu Rahma menggeleng, Diana hanya menyebutkan nama,, sedangkan kota Jakarta sangat besar bukan?" Jawab nya putus asa.
"Bu, ibu masih menyimpan surat nikah milik ibu Didi bukan? Barangkali di sana ada alamat ayah?" Tanya Diandra berharap.
"Kamu benar nak, tunggu.. ibu akan mengambil nya," bu Rahma hendak beranjak dari tempat duduk nya, tapi buru-buru Didi mencegah nya.
"Bu, ibu belum boleh banyak bergerak. Duduk lah bu, kita bisa melihat nya lain waktu," cegah Didi sambil membantu sang ibu kembali duduk.
"Nak, tapi itu sangat penting dan kita membutuhkan surat nikah ibumu secepat nya. Kamu ambilkan saja ya, ada di almari baju ibu.. di dalam laci," pinta bu Rahma memberitahukan tempat nya.
"Ibu yakin menyuruh Didi untuk mengambilkan nya? Tapi almari itu kan tempat privasi ibu?" Tanya Diandra sedikit ragu.
Ya, bu Rahma memang sangat menjaga privasi nya. Anak asuh nya bahkan tak ada yang berani masuk ke dalam kamar nya, hanya Diandra yang berani masuk dan itupun dia tak berani menyentuh barang-barang yang berada di kamar ibu angkat nya itu.
"Iya nak, ambillah.. ibu mengijinkan mu," ucap bu Rahma dengan yakin.
"Baik bu, jika ibu sudah mengijinkan," Diandra kemudian segera masuk ke dalam untuk mengambil buku nikah kedua orang tuanya.
Tak berapa lama, Diandra sudah kembali dengan buku nikah berwarna hijau di tangan nya dan menyerahkan buku tersebut kepada bu Rahma.
Tangan bu Rahma nampak bergetar membuka buku itu, buku berwarna hijau yang sudah terlihat lusuh.. teringat kembali bagaimana dulu Diana sering memandangi buku itu sambil menangis, hingga air mata nya membasahi buku yang mengukuhkan perjalanan cinta nya dengan sang suami. Namun takdir berkata lain, kebersamaan yang manis dengan sang suami hanya berjalan singkat dan kini dia harus terpisah dengan suami nya hanya karena perbedaan status sosial.
Diana memang berasal dari keluarga miskin, bahkan dia sudah menjadi yatim saat masih dalam kandungan dan menjadi piatu ketika usianya belum genap dua tahun. Diana kemudian di asuh oleh nenek nya yang sudah menjanda, dan hidup serba kekurangan.
Saat baru lulus SMA, nenek nya meninggal dunia. Diana kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota kecamatan, dan di sanalah Diana bertemu dengan seorang pemuda tampan dari kota yang tengah menjalani koas di daerah itu.
Perkenalan mereka berlanjut, dan benih-benih cinta di hati Diana dan dokter koas itu terus bersemi. Hingga setelah tugas nya di daerah itu usai, sang dokter membawa Diana pulang ke kota dan menikahi gadis sebatang kara itu. Tentu saja pernikahan yang tanpa restu, karena sang dokter berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang, sedangkan Diana hanya lah gadis miskin dari pedalaman yang tak jelas asal usul nya.
Bu Rahma membacakan alamat yang tertera dalam buku nikah itu dengan suara bergetar, "Jl. XX nomer sepuluh, Jakarta Pusat."
"Daerah itu dekat dengan tempat tinggal kami yang lama mbak, yang sekarang ditempati oleh putri sulung saya," ucap bu Dewi dengan mata berbinar. "Kami akan segera mencari tahu tentang ayah Didi, semoga secepat nya keberadaan ayah Didi diketemukan," lanjut nya penuh harap.
"Tante, boleh kah Didi ikut ke sana? Didi libur tiga hari karena hari tenang sebelum ujian dimulai senin depan?" Pinta nya memohon.
semangaaat ye ye ye🥳
.tp ak ky blum bca yng ini ap sudh lupa soalny..hp kmren rusk.ini hp bru jd crta yng sudh prnh ak bca mlah d ulang tp klo dh inget crtanya ak lwti..tp klo kluarga alamsyah smua sudh ak bca..