NovelToon NovelToon
Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Nikahmuda / Badboy
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Pencarian jati diri sebagai seorang yang dilahirkan dari orang tua heterogen. Ia mengalami dilema saat bertemu dengan saudara seibu beda ayah yang punya kehidupan lebih damai walau dalam kesederhanaan. Hatinya terketuk ingin mengenal islam setelah menemukan makam almarhum mama yang belum pernah ia kunjungi seumur hidup. Dalam perjalanan panjang menjelajah harapan, peristiwa demi peristiwa pun ia alami. Hadirnya seorang gadis yang semakin membuat jiwanya cenderung ingin mengenal islam lebih dalam. Menjemput hidayah ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan mencari jalan pulang akan banyak halangan dan rintangan yang datang silih berganti serta ujian bertubi yang menyayat hati. Karena istiqomah butuh perjuangan disertai kesabaran dan keikhlasan.

"Bagaimana aku bisa mendo'akanmu, sedangkan Tuhan yang kita sembah berbeda."
(Hara)

"Aku hanya seorang perempuan akhir jaman yang mendamba laki-laki soleh sebagai suami."
(Jenar)

Akankah keduanya menyatu dalam satu iman?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Another Surprise.

🌹Jangan terlalu terbuai dalam kesenangan, tapi jangan terlalu larut juga dalam kesedihan. Sewajarnya saja, karena Alloh tidak menyukai apapun yang berlebihan.🌹

Jenar.

Senin sore yang syahdu. Terdengar suara hujan deras dari luar rumah, berisik menghujam atap rumah. Aku baru saja selesai mandi, menggosok rambut panjangku yang basah dengan handuk. Kupilih pakaian yang agak tebal untuk menutup tubuhku yang menggigil.

Pulang dari kampus tadi, aku basah kuyup karena kehujanan. Aku pulang diantar oleh Aina, karena om Dito tidak menjemput. Sikap nekat yang umum dilakukan oleh anak muda seumuranku, berani menerjang hujan tanpa memakai jas hujan. Alhasil kini badanku merasa kedinginan sampai kulit jariku mengeriput.

“Lain kali kalau om kamu nggak bisa jemput, naik taksi online aja, Jen. Dari pada kehujanan gitu, nanti masuk angin.”

Aku menjawab seruan tante Yumna dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, “tadi dari kampus belum hujan, Tan. Udah hampir sampai, malah deres, tanggung mau berhenti pakai jas hujan.”

“Alesan aja, kamu ini. Kalau kamu sakit, tante yang nggak enak sama bunda kamu. Dikira nggak diurus kamu di sini.” Tante Yumna masuk ke dalam kamar membawa cangkir yang mengepulkan uap panas sekaligus menguarkan aroma jahe.

Aku menerima cangkir berisi wedang jahe buatan tante Yumna itu, segera kusesap untuk menghalau udara dingin. “Aman, Tan. Jenar nggak pa-pa, kok.” Jawabku menenangkan kekhawatiran tante Yumna.

“Sini! Tante bantu keringin rambut kamu.” Tanpa menunggu persetujuanku, tante Yumna mengambil handuk yang kusampirkan di pundak.

Otomatis aku duduk di kursi sembari memegang cangkir dengan kedua tangan, membiarkan panas cangkir berbahan keramik itu menjalari telapak tanganku yang dingin. Pelan-pelan kusesap lagi wedang jahe agar seluruh tubuhku ikut menghangat.

“Rambut kamu bagus, Jen. Panjang, lebat, nggak rontok lagi. Rambut tante dulu juga panjang gini, tapi semenjak punya anak jadi sering rontok. Sebel, deh. Akhirnya dipotong sampai pendek banget.”

“Jenar suka rambut panjang, Tan. Kata bunda, biar kalau dibelai lama, biar yang membelai betah gitu.”

“Bunda kamu ada-ada aja.”

Tante Yumna dengan sabar mengusap rambutku yang sangat panjang dengan handuk. Ia rela membungkuk demi menjangkau ujung rambutku yang menjuntai melewatii pan-tat. Rambutku memang sangat panjang, sudah bertahun-tahun hanya sering kupotong ujungnya sedikit saja agar tidak bercabang, karena aku memang suka memanjangkan rambut.

Setelah air tidak lagi menetes dari rambutku, barulah tante Yumna mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutku. Tanteku ini memang baik, mengurusku seperti anaknya sendiri. Kata kak Aneesha, dulu waktu ia tinggal di sini juga begitu, tante Yumna selalu penuh perhatian.

Sayangnya beberapa hari lagi kami harus berpisah. Tante Yumna harus ikut om Dito ke Ternate. Aku pasti kehilangan sosok keibuan yang pengertian ini. Aku pasti akan merindukan suasana kekeluargaan di rumah om Dito yang nyaman.

“Jadinya kamu tetep nggak boleh ngekost sama ayahmu?”

“Iya, Tan. Kata ayah suruh tinggal di Magelang, biar ada yang ngawasin gitu.”

“Jauh, dong dari kampus?”

“Iya. Kata ayah mending jauh tapi ada yang ngawasin. Dari pada dekat tapi ayah pikiran terus.”

“Punya anak cewek seribet itu memang.”

“Ayah aja yang ribet, Tan. Teman-teman Jenar banyak yang ngekost, di Jogja juga banyak kostan khusus akhwat. Tapi ayah tetap nggak ijinin Jenar ngekost.”

“Ayah kamu trauma kejadian Aneesha dulu, kali, Jen. Jadi lebih hati-hati sama kamu.”

“Bisa jadi, Tan. Ayah memang shock banget sama kejadian itu, nggak nyangka aja orang yang dipercaya bertahun-tahun mau ngrusak anak ayah.”

“Makanya, kamu harus pinter jaga diri. Jangan sampai kecewain ayah sama bunda kamu. Berteman dengan siapa pun boleh, tapi sewajarnya saja.”

“Insyaalloh, Tan.”

Aku dan Tante Yumna ngobrol sambil ia mengeringkan rambutku. Sesekali ia berteriak menjawab pertanyaan putra-putrinya dari luar kamar. Wedang jahe dalam cangkir tak lagi menguapkan asap panas, sebab telah kuminum sebagian. Aku melihat ponsel di atas meja menunjukkan lampu berkedip-kedip, tanda ada pesan masuk.

Aku memanjangkan tangan untuk mengambilnya, sebab tante Yumna sedang menarik rambutku. Kubuka layar ponsel yang berwarna gelap dengan menyapukan jari, kusentuh ikon aplikasi berkirim pesan warna hijau. Yang pertama kali kubuka adalah pesan dari mas Ghufron.

Dua ibu jariku menggantung di atas layar ponsel, bingung harus menyentuh huruf apa untuk membalas pesan mas Ghufron. Ingatan tentang kata-kata om Dito tempo hari, wajah mas Ghufron yang terlihat lesu dalam keceriaan, cerita mas Ghufron waktu di kantin kampus kemarin. Juga tentang artikel yang kubaca di mesin pencarian karena aku curiga dengan memar di tangan mas Ghufron yang tak kunjung hilang. Semua seperti rekaman kaset yang berputar di otakku.

Aku meletakkan ponsel di atas meja, menyudahi chat dengan calon suamiku itu. Kutengadahkan kepala demi berbicara dengan tante Yumna, “Tan! Besok Jenar bolos kuliah, boleh, ya?”

“Kok, bolos? Memangnya kamu mau kemana?”

“Nemenin mas Ghufron cek lab.”

Tante Yumna diam, sisir yang tadi digunakan untuk menyisir rambutku menggantung di atas kepala. Hairdryer menyala tapi tidak mengarah ke rambutku. Tante Yumna sepertinya terkejut mendengar ucapanku. Sebab di keluarga kami kalimat seperti pemeriksaan laboratorium, cek lab dan sejenisnya adalah satu momok menakutkan tentang suatu penyakit.

***

Aku menemani mas Ghufron melakukan pemeriksaan laboratorium di rumah sakit akademik, sesuai rujukan dari klinik tempat mas Ghufron periksa sebelumnya. Kebetulan dokter yang menangani adalah dokter residennya mas Ghufron, jadi kami bisa mendapat penjelasan secara detail tapi tidak menakut-nakuti. Dokter Chandra menurutku adalah dokter yang ramah terhadap pasiennya.

“Kamu dokter muda yang co-asst di sini, kan?” Begitu pertanyaan pertama dokter Chandra saat kami baru saja masuk ke ruangannya.

“Saya yakin sebenarnya kamu sudah mempunyai firasat sendiri mengenai kondisi kamu sebelum melakukan pemeriksaan laboratorium ini,” dr. Chandra memberikan selembar kertas hasil uji laboratorium tes darah yang dijalani oleh mas Ghufron tadi.

“Separah apa, dok?” Tanya mas Ghufron setelah mengamati ketikan di atas kertas berkop nama rumah sakit di bagian atasnya.

“Insyaalloh masih bisa diatasi dengan transfusi trombosit. Tapi kita perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui jenis kerusakan sel darahnya.”

“Maksud dokter pemeriksaan sum-sum tulang belakang?”

Aku mengambil hasil cek laboratorium yang masih dipegang oleh mas Ghufron, membaca baris demi baris tulisan yang membuat napasku sesak. Orang awam pun sudah bisa menyimpulkan hanya dari membaca beberapa baris ketikan tersebut. Sebagai tenaga kesehatan, tentunya sebutan ilmiah pada surat tersebut sudah familier untuk kami.

“Saya berikan rujukan untuk melakukan transfusi, ya? Nanti langsung ke UGD saja biar segera ditangani.”

Aku dan mas Ghufron saling pandang sebelum mas Ghufron bertanya, “harus hari ini, dok?”

“Ya, kalau bisa secepatnya. Agar bisa segera diobservasi, jenis dan cara pengobatan selanjutnya. Kamu harusnya tahu, penurunan jumlah leukosit seperti ini bisa disebabkan oleh banyak hal.”

“Tapi saya belum mempersiapkan apa-apa, dok. Kalau harus opname-”

Aku memotong ucapan mas Ghufron begitu saja, “saya bisa kasih kabar ke Nalini, Mas. Biar dia bisa bawakan baju ganti untuk mas-”

“Nduk!” tapi mas Ghufron jelas tidak setuju dengan kalimatku, “mas harus bicarakan ini sama bapak dan ibu dulu. Mereka belum tahu apa-apa tentang penyakit mas.”

“Tapi, Mas?”

Aku urung melanjutkan kalimat karena mas Ghufron menggeleng keras, jelas ia punya pertimbangan sendiri tentang hal yang mengejutkan ini. Sedangkan yang ada dipikiranku hanya bagaimana mas Ghufron cepat ditangani, jangan sampai terlambat.

“Begini saja, saya tuliskan surat rujukan dulu. Kalau kamu sudah siap, tinggal datang kemari, oke?”

Kami meninggalkan ruang periksa dr. Chandra dengan sama-sama saling diam. Aku tidak punya kekuatan untuk membuka suara, meski mas Ghufron tetap terlihat ceria seperti tidak sedang sakit. Padahal aku tahu diagnosa dr. Chandra, meski tidak disebutkan secara spesifik sudah pasti mengarah ke penyakit yang serius.

Aku tetap diam sampai kami duduk bersisian di dalam taksi online yang membawa kami pulang. Hal itu justru menjadikan mas Ghufron salah tafsir akan diamku,.

“Kamu marah, Nduk?” Aku menggeleng. Memancing mas Ghufron bertanya lagi, “dari tadi kamu diam. Kenapa, hem?”

“Saya nggak tahu harus ngomong apa, Mas. Mas juga dari tadi diam.”

“Mas mikirin banyak hal, Nduk.”

“Soal transfusi?”

“Salah satunya. Kamu tahu, kan? Berapa banyak pendonor untuk satu kantong trombosit dan biayanya tidak ditanggung asuransi jaminan kesehatan yang mas punya. Mas khawatir jadi beban pikiran bapak sama ibu.”

“Kalau masalah biaya, jangan dipikirkan. Insyaalloh saya bisa bantu, Mas. Saya punya tabungan.”

“Jangan, Nduk. Masa belum apa-apa mas udah ngrepotin kamu.”

Aku tahu mas Ghufron terlalu saklek soal bantuan biaya. Selama kami berteman, tidak sekali pun aku mengeluarkan uang jika sedang jalan bersamanya. Ia paling anti dibayari oleh perempuan, soal apapun.

Namun, kali ini aku sedang tidak ingin patuh pada sikapnya. Setelah sampai di rumah, aku berpikir keras bagaimana cara agar mas Ghufron ditangani dengan sebaik mungkin. Aku harus bisa memastikan tunanganku itu mendapat fasilitas dan layanan pengobatan terbaik.

Aku harus bisa melobi pejabat rumah sakit agar mas Ghufron mendapat penanganan khusus. Di saat seperti ini, satu-satunya yang melintas di otakku adalah meminta bantuan kepada kak Aneesha. Dengan uang dan koneksi yang ia dan suaminya miliki, kak Aneesha pasti bisa membantuku.

Sore itu juga aku menghubungi kakak perempuanku. Kuceritakan semua tentang apa yang terjadi dengan mas Ghufron. Mulai dari memar yang muncul di tubuhnya, obrolanku dengan om Dito tempo hari. Juga tentang hasil pemeriksaan laboratorium yang dijalani oleh mas Ghufron tadi.

“Leukimia?” Pertanyaan singkat yang kak Aneesha sebutkan hanya kujawab dengan anggukan, padahal aku tahu ia tidak mungkin bisa melihatnya.

Kak Aneesha hanya mengatakan satu kalimat saja, “insyaalloh Ghufron akan mendapat perawatan terbaik,” tapi aku cukup membuatku merasa tenang.

Setelah mas Ghufron memberi kabar bahwa ia siap untuk menjalani transfusi, tentunya atas persetujuan kedua orang tuanya. Aku dan om Dito menjemputnya lalu mengantar mas Ghufron ke rumah sakit. Om Dito rela tidak masuk kerja demi ikut ke rumah sakit, padahal aku tidak memintanya.

Ketika mas Ghufron sedang menjalani rangkaian pemeriksaan awal di UGD, saat itulah aku melihat bukti bahwa kak Aneesha tidak akan membiarkan adiknya berada dalam kesulitan.

Aku sedang duduk di ruang tunggu bersama om Dito dan Bu Nuning, sedangkan pak Haryo sedang mengurus administrasi rawat inap. Saat beberapa orang dokter secara bersamaan masuk ke ruang UGD dan membuat semua tenaga kesehatan menghentikan aktivitas mereka. Salah seorang diantara para dokter tersebut berkata, “pasien atas nama Ghufron al-Ghazali di mana?”

Ketika tirai yang menutup brankar tempat mas Ghufron berbaring dibuka dan seorang perawat keluar dari dalam sana, dokter yang rambutnya sedikit panjang itu mengucapkan kalimat yang membuat semua tenaga kesehatan di ruang UGD tiba-tiba sibuk, “VVIP! Rekam medisnya mana? Sudah dilakukan pemeriksaan apa saja?”

Tirai kembali ditutup, aku om Dito dan bu Nuning tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh para dokter itu di dalam sana. Hanya bisa mendengar suara-suara bersahutan dokter dan tenaga kesehatan yang sedang menangani mas Ghufron.

Kami menunggu cukup lama, hingga tirai kembali dibuka dan seorang perawat mendekat ke arah kami, “pasien akan dipindahkan ke ruang rawat.”

Tepat saat pak Haryo kembali dari mengurus administrasi. Kami menyambutnya dengan dahi berkerut sebab pak Haryo berkata pelan, “saya tidak bisa mengurus administrasi untuk Ghufron, katanya sudah ada yang urus. Saya tidak tahu siapa.”

Aku menyunggingkan senyum dalam hati, semua ini pasti kak Aneesha dan kak Reyfan yang melakukannya. Entah dengan perpanjangan tangan siapa, yang jelas aku akan sangat berterima kasih kepada mereka.

Kami mengikuti langkah perawat mendorong brankar mas Ghufron pindah dari ruang UGD ke kamar rawat. Aku tahu bu Nuning dan pak Haryo saling berbisik, tapi aku tetap diam. Belum waktunya aku menjelaskan kepada mereka. Nanti setelah kupastikan dengan kak Aneesha, baru aku akan berbicara dengan bu Nuning dan pak Haryo agar mereka tidak bingung.

Aku menatap nanar pintu ruang rawat inap VVIP di hadapanku yang tertutup rapat, sesaat setelah brankar mas Ghufron didorong masuk oleh perawat. Kami belum diperbolehkan masuk, sebab dokter akan melakukan pemeriksaan lagi sebelum dilakukan transfusi.

Bu Nuning dan pak Haryo duduk di bangku tunggu, masih saling berbisik. Kusandarkan punggung pada dinding, memejamkan mata seraya membuang napas. Ya Alloh … semua ini seperti kejutan bagiku. Datang tiba-tiba saat aku merasa hidupku sedang baik-baik saja.

Another surprise! Semoga tidak ada lagi yang akan membuatku terkejut, nantinya ….

.

.

.

Bersambung....

1
buk epi
mak otorrr,,, pean ten pundi ??
Naftali Hanania
udah masuk THN 2026..tp kayak nya cerita ini gak akan ada kelanjutan..sayang sekali...padahal dr awal cerita baguusss bgt
Kak Author sehat dan bahagia selalu ya🙏
Adel Akil Atmaja
bukan karna adik Aneesha tapi kamu memang nggak bisa marah sama Jenar, pak Hara
eMakPetiR
2026
kak dhesmaaaaaaa
Adel Akil Atmaja
ini Jenar juga mau menyangkal perasaan nya pak Hara kan dia juga ada rasa sama kamu. tapi pikiran nya berkata itu tidak boleh karna nggak mungkin.
eMakPetiR
Mbak Desma sayang...
Nur Ainy
Mbak Desi ditunggu kelanjutannya mbak...cerita yg sangat2 bangus
Popo Hanipo
kak author kapan nih updet lagi ini novel favorit yg setiap hari ku tunggu ,,semoga kakak sehat selalu amiiii
Popo Hanipo: amiiiinnn
total 1 replies
Nur Ainy
mbak dilanjut dong mbak pak hara ma jenar😍😍
Tuti Rusnadi
apa kabar kak Desi.... kangen banget nih sama keuwuan Jen-Ha.... ditunggu up-nya ya kak 😍
Intan Amalia
mba des loh... msh pd nungguin UP nya Hara jenar loh
aquawomen
lanjut ka
semangat 💪
lLvy
ya allah thorrr setelah setahun pak hara belum lanjut juga 😭😭😭😭
jangan di gantung pak hara nyaaa
ian
apakabarny nih mba?gak disuruh nunggu tapi aku masih penasarN loh
Nur Ainy
Mbak Desi..pak hara kemana niih belum sembuh y
eMakPetiR
Assalamu'alaikum kak Desma sekalian...
gimana kabarnya?
aq rindu pak Hara, eh salah dink.. Jenar wiss jenar.. tapi prosentasenya tetep banyakan pak Hara 🤣
Euis Mardiani
mbak desi ditunggu kelanjutannya jenar sama hara
Maria Kibtiyah
jgn2 si tiara tar suka lagi sama hara
Maria Kibtiyah
tiara ini pasti yg pernah tidur ma hara gimana tuh klw ketemu sama hars
Maria Kibtiyah
wah apa tiara ini tiara yg pernah one night stand ma hara dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!