Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Daren Melamar Jamila
Suara raungan mesin jet pribadi Gulfstream G650ER milik Daren membelah kesunyian Bandara Halim Perdanakusuma tepat saat fajar menyingsing.
Daren tidak tidur sedetik pun selama penerbangan dari Munich. Di pangkuannya bukan lagi dokumen integrasi sistem atau laporan laba rugi, melainkan sebuah kamus bahasa Indonesia-Inggris dan sebuah buku kecil berjudul Basic Guide to Islam yang ia beli secara kilat di bandara transit.
Wajahnya kaku, matanya merah, namun tekadnya lebih keras daripada beton gedung pencakar langit di Frankfurt.
"Jer, kita langsung ke Sukamaju, baru check in Hotel" perintah Daren saat mereka menuruni tangga pesawat.
"Tapi Ren, kamu masih pakai pakaian formal! Kamu mau masuk ke sawah pakai sepatu Oxford seharga sepuluh ribu dolar itu?" Jerry mencoba menalar, meski ia tahu itu sia-sia.
"I don't care! Sebelum Harun Dubai datang membawa emas dan singkong untuk melamar Mila, aku harus sudah ada di depan pintu rumah Engkong Malik!"
Debu jalanan desa Sukamaju beterbangan saat mobil SUV hitam mewah meluncur masuk ke pekarangan rumah kayu Engkong Malik. Kehadiran kendaraan itu kontras dengan ketenangan desa yang baru saja memulai aktivitas pagi.
Jamila, yang sedang menyapu teras dengan daster batik sederhana, tertegun. Sapu lidi di tangannya hampir jatuh saat melihat sosok pria jangkung dengan setelan jas mahal keluar dari mobil. Daren berdiri di sana, terlihat sangat tidak selaras dengan latar belakang jemuran kerupuk dan kandang ayam.
"Daren?" bisik Jamila. Jantungnya berdegup kencang, antara marah, bingung, dan... rindu yang ia tekan dalam-dalam.
Daren tidak menjawab. Ia melangkah pasti menuju pintu rumah. Engkong Malik keluar dari dalam sambil membetulkan letak sarung dan pecinya yang miring. Ia memicingkan mata, menatap tamu tak diundang itu dengan pandangan menyelidik.
"Assalamualaikum, Engkong," ucap Daren. Pelafalannya kaku, lidahnya yang terbiasa dengan aksen Jerman dan Inggris terdengar aneh, tapi ada kesungguhan di sana.
Engkong Malik terdiam sejenak, lalu menjawab pelan,
"Waalaikumsalam. Ada apa lagi, Daren? Bukannya kamu sudah kembali ke negaramu kenapa kembali lagi?"
Daren berdiri tegak di hadapan Engkong.
"Saya datang untuk melamar Jamila, Kong. Secara resmi. Saya tidak akan pergi sebelum Engkong memberikan restu."
Di balik pohon nangka, Harun Dubai yang kebetulan lewat membawa sekardus kurma langsung menghentikan langkahnya. Kupingnya memanas.
Engkong Malik menghela napas panjang. Ia duduk di kursi rotan di teras, tidak segera mempersilakan Daren duduk. Jamila berdiri di ambang pintu, matanya berkaca-kaca menatap punggung Daren yang tampak rapuh meski dibalut jas mahal.
"Daren," suara Engkong terdengar berat dan dalam.
"Lamaran itu bukan cuma soal bawa harta berlimpah atau kedudukan. Aku sudah bilang, Jamila ini cuma gadis desa. Dia butuh imam yang bisa menuntunnya, bukan sekadar bos yang bisa membelikannya dunia."
"Saya bisa belajar, Kong! Apa pun syaratnya," potong Daren cepat.
Engkong Malik menggeleng perlahan.
"Kamu bukan orang muslim, Daren. Di keluarga kami, iman itu dasar. Aku tidak mungkin menyerahkan cucuku pada orang yang tak seiman, kita berbeda arah tujuan"
Daren mengepalkan tangannya. Ia menarik napas panjang, lalu berucap dengan suara yang bergetar.
"Kalau begitu, saya akan masuk Islam sekarang juga. Saya ingin menjadi mualaf. Saya akan sunat, saya akan belajar ngaji, saya akan melakukan apa pun agar sah menjadi suami Jamila."
Suasana mendadak hening. Jamila menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jerry yang berdiri di dekat mobil hanya bisa memijat pelipisnya.
Namun, reaksi Engkong Malik di luar dugaan. Ia tidak tersenyum, tidak pula tampak senang. Wajahnya justru mengeras.
"Tidak," jawab Engkong pendek.
"Kalau itu alasanmu, aku justru semakin tidak akan menerimamu."
Daren tertegun. "Kenapa, Kong? Bukannya itu yang Engkong mau? Seorang muslim?"
Engkong Malik berdiri, mendekati Daren. Beliau meletakkan tangannya yang kasar karena bertahun-tahun mencangkul di atas bahu jas Daren yang halus.
"Daren, dengarkan kata-kata orang tua ini baik-baik," ucap Engkong dengan nada menasihati.
"Islam itu bukan tiket untuk mendapatkan wanita. Agama ini bukan syarat administratif seperti kamu mengurus visa atau kontrak bisnis. Kamu bilang mau masuk Islam karena ingin Jamila? Itu salah besar."
Daren terpaku. Logika bisnisnya di mana setiap pengorbanan harus menghasilkan keuntungan tiba-tiba terasa tumpul.
"Kalau kamu masuk Islam karena Jamila," lanjut Engkong,
"maka saat nanti kamu marah pada Jamila, kamu akan meninggalkan Tuhanmu. Saat nanti Jamila mengecewakanmu, kamu akan merasa agamamu tidak ada harganya. Kamu menjadikan Tuhan sebagai alat tukar. Itu namanya menghina Sang Pencipta."
Engkong Malik berjalan ke arah kebun, memberi isyarat agar Daren mengikutinya. Mereka berhenti di bawah pohon nangka tempat kamera tersembunyi Daren dulu terpasang.
"Daren, masuk Islam itu artinya tunduk. Aslama artinya menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, kamu harus masuk Islam karena kamu sadar bahwa kamu butuh Allah. Bukan karena kamu butuh Jamila. Kamu harus merasa kecil di hadapan-Nya, bukan merasa besar karena bisa membeli segalanya."
Engkong menunjuk ke arah sawah yang menghijau.
"Lihat padi itu. Dia tunduk karena berisi. Kamu harus mengosongkan hatimu dari kesombongan Munich itu dulu. Jangan jadikan imanmu sebagai mahar, Iman itu adalah nyawamu."
Daren terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar miskin. Hartanya yang triliunan, pengaruhnya di Eropa, dan kecerdasannya dalam negosiasi tidak berguna di hadapan kearifan seorang kakek tua yang hidup di desa terpencil.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Kong?" tanya Daren lirih. Ego sang CEO perlahan lirih.
"Pulanglah," ucap Engkong lembut.
"Renungkan. Cari tahu siapa Tuhanmu. Baca, pelajari, dan tanyakan pada hatimu, apakah kau melakukan ini untuk Jamila, atau karena kau benar-benar tersesat dan butuh bimbingan-Nya?"
"Tapi bagaimana dengan Jamila? Bagaimana kalau Harun Dubai..."
Engkong Malik terkekeh kecil. "Jodoh itu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, Daren. Tidak akan tertukar oleh singkong rebus atau berlian , kalau Jamila memang bagian dari tulang rusukmu, dia tidak akan lari ke mana-mana. Tapi untuk saat ini, pintuku tertutup untuk lamaranmu."
Jamila yang sejak tadi mendengarkan dari kejauhan, menunduk dalam. Ia melihat Daren, pria yang biasanya begitu dominan, kini berdiri lesu dengan kepala tertunduk di bawah terik matahari Sukamaju.
Ada rasa sakit di hati Jamila, tapi ia tahu Engkong benar. Ia tidak ingin Daren menjadi mualaf hanya demi dirinya. Ia ingin Daren menemukan kedamaian yang sesungguhnya.
Daren berbalik dengan perlahan. Ia berjalan menuju mobilnya tanpa kata-kata lagi. Namun, sebelum masuk ke dalam mobil, ia berhenti dan menatap Jamila yang masih berdiri di teras.
"Mila," panggilnya. Jamila menoleh.
"Aku akan kembali," ucap Daren, kali ini tanpa nada memerintah.
"Setelah aku menemukan jawabannya"
Daren melepas jas hitamnya yang gerah, melampirkannya di lengan, dan melonggarkan dasinya. Ia menatap Harun Dubai yang masih mengintip dari balik pohon.
"Harun!" teriak Daren.
Harun tersentak. "Ya, Daren?"
"Jika Mila jodohmu, akan melepaskannya untukmu, tapi jika Mila jodohku jangan ganggu Mila lagi "
" Deal" Harun Dubai menjabat tangan Daren.
Daren masuk ke dalam mobil. Saat mobil itu perlahan meninggalkan Sukamaju, Jerry bertanya,
"Jadi kita balik ke Munich?"
Daren menyandarkan kepalanya ke kursi, matanya menatap buku Basic Guide to Islam di tangannya.
"Tidak, Jer. Check in Hotel di dekat sini. Dan besok, carikan aku guru agama Islam yang tidak tahu siapa itu Daren si CEO."
Jerry ternganga.
"Kamu serius, Ren?"
Daren tersenyum tipis sebuah senyum yang berbeda, lebih tulus dan sedikit lelah..
"Engkong benar, Jer. Selama ini aku selalu membeli apa yang aku mau. Sekarang, aku ingin belajar bagaimana caranya meminta pada Yang Memiliki Segalanya."
Di teras rumah, Engkong Malik tersenyum sambil menyeruput kopi pahitnya. Ia tahu, perjalanan Daren baru saja dimulai. Bukan perjalanan bisnis, melainkan perjalanan pulang menuju hati yang tenang.
Bersambung...