Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Penyelamatan 1
Mika berlari. Sepatu menampar tanah basah.
“Berhenti!” Teriakan meledak.
Langkah mengejar.
Mika memaksa tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Ia tidak tahu arah. Tidak tahu jalan pulang. Ia hanya tahu, jangan tertangkap.
Di ujung halaman, ia melihat celah pagar. Ia merunduk. Menyusup. Bajunya tersangkut kawat. Kulitnya tergores. Tapi ia lolos.
Ia jatuh di luar pagar, tanah lembab menempel di lututnya.
Langkah berat berhenti di balik pagar.
Pria itu mengumpat.
“Biarin. Mungkin cuma anak desa nyasar.”
Suara lain menjawab dari dalam, “Levis nggak mau ada ribut malam ini.”
Pria itu meludah ke tanah.
“Kalau dia balik lagi, habisin.”
Pagar menutup. Langkah pergi.
Sunyi kembali. Mika tidak bergerak beberapa detik. Napasnya memburu. Matanya menatap gudang itu seperti menatap mulut binatang.
Jovan dan Pak Raka ada di dalam. Dan itu semua dalam pengawasan Levis.
Mika menggigil. Bukan karena dingin. Ia baru saja masuk ke dunia yang tidak memakai aturan desa.
Dan Levis…belum tahu, bahwa gadis desa itu…tidak pulang untuk menunggu.
Mika merangkak berdiri.
Tangannya mengepal. Luka kecil di lengannya mengeluarkan darah tipis. Ia tidak peduli.
Ia menatap sekali lagi ke arah gudang. Lalu berbalik.
Berjalan cepat menuju gelap.
Bukan untuk kabur. Tapi untuk mencari cara masuk kembali.
Dengan benar. Dan kali ini…tidak akan ceroboh atau pun terlihat bodoh.
.
Mika pulang sebelum subuh.
Langkahnya pelan, napasnya masih belum rapi. Desa masih tidur. Rumahnya gelap. Pintu tidak dikunci sejak semalam. Ia menutupnya perlahan, seolah suara engsel bisa memanggil bencana.
Di ruang tengah, kursi kayu Pak Raka masih kosong. Meja makan masih menyimpan piring yang tidak disentuh.
Mika berdiri lama. Lalu duduk.
Ia menangis. Bukan keras. Hanya air yang jatuh tanpa suara. Karena ia sudah melihat tempatnya. Gudang itu. Markas itu. Ia tahu Jovan tidak akan keluar dengan cara baik.
Pagi datang seperti biasa. Ayam berkokok. Kabut turun rendah. Orang-orang mulai membuka warung. Desa tetap pura-pura normal. Tapi kehilangan tidak pernah benar-benar bisa disembunyikan.
Bu Sari lewat depan rumah, berhenti sebentar. “ Mika selamat pagi,"
Mika membuka pintu sedikit. Wajahnya pucat.
Bu Sari menatap cepat, seperti takut bertanya terlalu dalam. “Ayahmu mana, Nak?”
Mika menelan. “Ke luar sebentar.”
Jawaban itu rapuh. Tapi desa selalu menerima jawaban rapuh, asal tidak dipaksa jadi jelas.
Bu Sari mengangguk pelan. “Kalau butuh apa-apa… bilang ya...”
Mika hanya tersenyum tipis.
Pintu ditutup lagi. Ia tidak bisa pergi ke kepala dusun. Itu sama saja menyalakan lampu di tengah malam.
Levis akan tahu. Ia tidak bisa mengumpulkan warga. Warga hanya punya mulut, bukan nyali.
Dan ia…tidak punya waktu.
.
Jovan berdiri di depan jendela markas. Kaca memantulkan wajahnya. Wajah yang pernah ia tinggalkan.
Levis tidak mengurungnya. Di tempat seperti ini, pintu hanya formalitas. Yang menjadi jeruji adalah satu nama:
Pak Raka.
Suara langkah terdengar di belakang. Levis masuk tanpa mengetuk. Rapi seperti biasa.
Seolah ini rumah keluarga, bukan sarang pembunuh. “Kau tidak tidur.”
Jovan tidak menoleh. “Kau juga tidak.”
Levis tersenyum tipis. “Aku tidak punya kebiasaan tidur ketika sesuatu baru saja kembali.”
Jovan menahan napas. “Aku tidak kembali.”
Levis mendekat sedikit. “Tapi kau di sini.”
Sunyi sebentar.
Levis menepuk pelan bahu Jovan. Sentuhan saudara.
Ancaman yang dibungkus halus.
“Ayo,” katanya.
Jovan menatap tajam. “Ke mana.”
Levis berjalan duluan. “Melihat sesuatu.”
........
Koridor markas panjang. Lampu putih menggantung.
Dua pria berdiri di setiap sudut.
Mereka menunduk ketika Levis lewat. Tatapan mereka pada Jovan berbeda. Ada yang hormat. Ada yang takut. Ada yang heran kenapa ia masih hidup.
Levis berhenti di depan pintu besi. Ia mengetuk dua kali.
Bukan meminta izin. Memberi tanda. Pintu dibuka. Udara dingin keluar dari dalam. Bau lembab. Bau darah yang belum kering.
Jovan melangkah masuk. Dan tubuhnya berhenti.
Di tengah ruangan…Pak Raka.
Duduk di kursi. Tangan terikat.
Wajahnya pucat. Ada lebam di sudut bibir. Kakinya yang pincang terulur kaku. Tapi matanya…masih mata yang sama.
Pak Raka menatap Jovan lama.
Seperti ingin memastikan sesuatu. Bahwa ini nyata.
Jovan tidak bersuara. Tapi rahangnya mengeras.
Levis berdiri santai di samping pintu. “Dia kuat,” katanya ringan. “Untuk ukuran orang desa.”
Jovan akhirnya bicara. Pelan.
Tapi tajam. “Jangan sentuh dia lagi.”
Levis mengangkat alis. “Kenapa?”
Jovan menatap lurus. “Karena aku sudah di sini.”
Levis tertawa kecil. “Ah…”
Ia berjalan mendekat ke Pak Raka.
Jovan bergerak refleks, Levis mengangkat tangan.
Dan dua pria langsung menahan langkah Jovan.
Pak Raka tidak bergerak. Hanya menatap Jovan dengan keras.
Jangan bodoh.
Levis berhenti tepat di depan Pak Raka. Ia jongkok, menyamakan tinggi. “Pak Raka,” katanya ramah.
Pak Raka tidak menjawab.
Levis mengangguk, seolah mengerti. “Orang tua desa memang keras kepala.”
Ia berdiri lagi, menoleh pada Jovan. “Kau lihat?”
“Ini akibatnya kalau kau bermain jadi orang baik.”
Jovan mengepalkan tangan.
“Apa maumu.”
Levis tersenyum tipis. “Aku sudah bilang. Aku mau kau pulang.”
Jovan menahan napas. “Aku sudah mati di dunia itu.”
Levis mendekat. Suaranya turun, halus seperti racun. “Tidak ada yang mati, Jovan. Yang ada hanya orang yang kabur.”
Levis mengangkat dagu ke arah Pak Raka. “Dan kabur selalu punya harga.”
Sunyi.
Lampu di ruangan berdengung pelan.
Pak Raka tiba-tiba bicara. Suara seraknya berat. “Dia bukan milikmu lagi.”
Levis menoleh, tersenyum. “Ah. Akhirnya bicara.”
Pak Raka menatapnya tanpa takut. “Kalau kau pikir bisa menarik dia kembali…”
Pak Raka menarik napas. “…kau akan kehilangan lebih banyak daripada dia.”
Levis tertawa kecil. “Kau bicara seperti pernah hidup di sini.”
Pak Raka diam. Dan diam itu terlalu dalam.
Levis menyipitkan mata sebentar, seperti mencium sesuatu. Menarik. Tapi ia tidak membongkar sekarang. Belum.
Levis hanya menepuk pelan pundak Pak Raka. “Tenang. Aku tidak akan membunuhmu malam ini.”
Jovan menegang.
Levis menoleh padanya. “Aku butuh kau utuh dulu.”
Kalimat itu jatuh seperti pintu besi ditutup.
.
Ketika malam tiba.
Mika keluar lewat pintu belakang. Langit gelap.
Desa tidur dengan lampu redup dan pagar bambu. Jalan tanah basah oleh embun. Suara serangga menempel di udara seperti kain tipis.
Mika berjalan tanpa membawa senter. Ia tahu jalan.
Dan ia tahu tempat itu.
Pabrik bata.
Bangunan merah kusam di pinggir kecamatan. Tempat yang tidak dipakai orang desa karena tanah di sekitarnya seperti menyimpan sesuatu yang tidak mau dilupakan.
Dan lengannya masih punya bekas goresan kawat untuk mengingatkan bahwa ia hampir ketahuan.
Ini bukan kunjungan kedua.
Ini sebuah penyelamatan.