Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyanyian yang Meminta Tumbal
Jalan setapak menuju pintu air lama itu terasa seperti lorong waktu. Semak belukar yang menyibak tadi kembali menutup rapat di belakang Sekar, seolah memutus akses mundurnya. Di depannya, bangunan pintu air peninggalan Belanda itu berdiri angkuh, dinding batanya yang merah kusam ditumbuhi lumut tebal. Di bawah bangunan itu, air sungai Opak dan Oya bertemu, menciptakan pusaran alami yang hari ini berputar lebih gila dari biasanya.
Dan nyanyian itu... semakin jelas.
“Come to the water... where the pain dissolves...”
Liriknya berbahasa Inggris, tapi aksennya aneh. Kuno. Setiap suku kata terdengar basah dan lengket. Suara itu meliuk-liuk di udara, memantul di dinding-dinding lembah sungai, menciptakan gema yang membuat kepala Sekar pening.
Sekar menutup telinganya dengan telapak tangan, tapi suara itu tidak bisa diblokir. Nyanyian itu tidak masuk lewat telinga, tapi merembes lewat pori-pori kulit. Rasanya seperti ada jarum-jarum halus yang menusuk gendang telinganya dari dalam.
Ia melangkah perlahan mendekati bibir pintu air. Di sana, duduk di atas beton pembatas yang retak, ada seorang wanita.
Wanita itu cantik luar biasa. Kulitnya seputih pualam, rambutnya pirang panjang terurai basah menutupi punggung telanjangnya. Ia menyisir rambutnya dengan jemari yang lentik. Dari pinggang ke atas, ia tampak seperti model majalah asing. Tapi dari pinggang ke bawah, tubuhnya menyatu dengan air yang berbuih, bukan sirip ikan seperti prajurit tadi, melainkan bulu-bulu burung yang basah dan cakar yang tajam tersembunyi di balik ombak.
Siren.
Makhluk mitologi yang konon suka menyesatkan pelaut menuju karang kematian.
Wanita itu berhenti bernyanyi saat Sekar muncul dari balik semak. Ia menoleh perlahan. Matanya biru terang, namun kosong. Tidak ada pupil di sana, hanya warna biru laut Mediterania yang luas dan hampa.
"Ah..." desah wanita itu. Suaranya merdu, tapi membuat bulu kuduk Sekar berdiri. "Seorang gadis kecil dengan mainan curian."
Mata Siren itu tertuju pada cincin di jari Sekar.
Sekar mundur selangkah, tangannya gemetar. "Saya... saya tidak mencuri. Ini pemberian."
Siren itu tertawa. Tawanya seperti suara lonceng kaca yang pecah. "Pemberian? Manusia selalu suka memberi nama manis untuk dosa-dosa mereka. Kamu pikir benda kecil itu bisa melindungimu dari nyanyianku?"
Wanita itu mulai bersenandung lagi. Kali ini nadanya lebih tinggi, lebih menusuk.
“Sleep now, weary soul... the deep is warm... no fire here...”
Kaki Sekar terasa berat. Kelopak matanya memberat. Ada dorongan yang sangat kuat untuk melangkah maju, untuk terjun ke dalam pusaran air di bawah pintu air itu. Rasanya... damai. Di dalam air sana, tidak ada api biru yang membakar hutan. Tidak ada kuda hantu. Hanya ada ketenangan abadi.
Satu langkah...
Sekar melangkah maju tanpa sadar. Matanya terpaku pada gerakan tangan Siren yang melambai, memanggilnya seperti ibu memanggil anak yang tersesat.
Dua langkah...
Ia sudah berdiri di bibir beton. Satu langkah lagi, dan ia akan jatuh ke dalam pertemuan dua arus sungai yang mematikan itu.
“Jump...”bisik Siren itu manis.
Tiba-tiba, cincin di jari Sekar menyengat panas. Bukan panas biasa, tapi panas yang menyakitkan, seolah jarinya sedang dibakar rokok.
"Aduh!" jerit Sekar, reflek menarik tangannya ke dada.
Rasa sakit itu menyadarkannya seketika. Kabut ilusi di kepalanya buyar. Ia melihat Siren itu bukan lagi sebagai wanita cantik, tapi sebagai monster kurus kering dengan wajah keriput dan mulut yang menganga lebar penuh taring kecil-kecil.
Sekar terkesiap, mundur teratur menjauhi bibir tebing.
"Kau menolak hadiahku?" desis Siren itu, wajah aslinya kini terlihat jelas. Kecantikannya tadi hanyalah topeng sihir. "Kau lebih memilih terbakar bersama pulau ini daripada tidur nyenyak di pelukan rajaku?"
"Aku tidak butuh tidur," jawab Sekar, suaranya bergetar tapi ia paksakan untuk tegas. "Dan ini bukan pulaumu."
Siren itu memekik marah. Ia mengepakkan sayapnya yang basah—ternyata ia punya sayap di punggungnya—dan terbang melesat ke arah Sekar. Cakar kakinya yang tajam terarah lurus ke wajah Sekar.
Sekar menjerit, menutup wajahnya dengan lengan. Ia tidak punya senjata. Ia tidak bisa bertarung.
Tapi serangan itu tidak pernah sampai.
CRAAAK!
Sesuatu mencambuk udara dengan keras. Siren itu terlempar ke samping, menabrak dinding pintu air hingga batanya rontok. Makhluk itu menjerit kesakitan, memegangi bahunya yang mengeluarkan asap.
Sekar membuka matanya. Di depannya, melayang di udara, adalah selendang batiknya. Selendang lurik kumal yang biasa ia pakai untuk menggendong bakul pasar. Selendang itu kini bergerak sendiri, ujungnya kaku dan tajam seperti cambuk.
"Benda apa ini?!" teriak Siren itu ketakutan. "Sihir macam apa ini?"
Sekar menatap selendang miliknya dengan bingung. Ia teringat kata-kata Simbah: Cincin itu kunci. Tanya sama batunya.
Ternyata cincin itu tidak mengeluarkan sinar laser atau tameng energi. Cincin itu mengalirkan kekuatan ke benda-benda di sekitar Sekar yang memiliki "memori". Selendang itu... itu selendang bekas Eyang Sumi. Benda yang sudah puluhan tahun dipakai untuk tirakat, untuk bekerja keras, untuk mengusap keringat.
Benda itu punya sukma.
"Ini bukan sihir," kata Sekar, keberanian mulai tumbuh di dadanya. Ia merasakan koneksi aneh dengan selendangnya. Ia bisa merasakan kemarahan kain itu. Kemarahan karena tanah kelahirannya diinjak-injak orang asing. "Ini... ini pamor."
Siren itu mencoba menyerang lagi, kali ini dengan memuntahkan gelombang suara yang memekakkan telinga.
Sekar secara naluriah mengibaskan tangannya ke depan. Selendang lurik itu melesat, membelit leher Siren itu di udara, membungkam suaranya.
"Diam!" bentak Sekar.
Selendang itu mengencang. Siren itu meronta-ronta, mencakar kain itu, tapi kain lurik itu sekuat baja. Sekar menarik tangannya ke bawah, dan Siren itu terbanting keras ke tanah becek.
Makhluk itu menggelepar seperti ikan di darat. Matanya menatap Sekar dengan ketakutan murni.
"Ampun..." cicit Siren itu, suaranya parau karena tercekik. "Ampun... jangan bunuh aku..."
Sekar berdiri di atasnya, napasnya memburu. Adrenalin membanjiri tubuhnya. Ia bisa saja menghabisi makhluk ini. Tinggal satu perintah pikiran, dan selendang itu akan mematahkan lehernya.
Tapi Sekar melihat air mata di mata makhluk itu. Air mata ketakutan. Sama seperti ketakutan yang ia rasakan tadi pagi.
"Pergi," ucap Sekar dingin. "Kembali ke lautmu. Bilang sama teman-temanmu, suara kalian fals di telinga orang Jawa."
Selendang itu mengendur, melepaskan lilitannya.
Siren itu terbatuk-batuk, mengusap lehernya yang memar biru. Ia menatap Sekar dengan pandangan tak percaya, lalu buru-buru merangkak ke bibir tebing dan menjatuhkan diri ke dalam air.
BYUR!
Suasana kembali hening. Hanya suara gemuruh air pertemuan dua sungai yang tersisa.
Sekar jatuh terduduk di tanah. Kakinya lemas. Selendang luriknya jatuh terkulai di sampingnya, kembali menjadi kain kumal biasa.
Ia melihat tangannya. Cincin batu hijau itu tidak lagi menyala, tapi warnanya berubah menjadi lebih terang sedikit. Seolah ia baru saja "makan".
Sekar sadar, ia baru saja memenangkan pertempuran pertamanya. Bukan dengan otot, tapi dengan warisan.
Namun, ia tidak punya waktu untuk merayakannya. Ia bangkit, berjalan tertatih menuju pintu air. Ia harus melihat kondisi air di sana sesuai perintah Pangeran.
Ia mengintip ke bawah, ke dalam pusaran air yang gelap.
Dan jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Di dasar pusaran air itu, ia melihat sesuatu yang berkilau. Bukan emas, bukan permata.
Itu adalah sebuah retakan besar di dasar sungai. Dan dari retakan itu, keluar gelembung-gelembung magma. Tapi magmanya tidak merah. Magmanya biru.
Air sungai itu tidak cuma terkontaminasi garam. Air itu sedang diubah menjadi bahan bakar.
"Mereka tidak mau memadamkan Merapi," bisik Sekar, menyadari rencana gila Poseidon. "Mereka mau meledakkannya."
Poseidon ingin memicu letusan dahsyat dengan menyuntikkan tekanan air laut langsung ke dapur magma Merapi. Jika itu terjadi, seluruh Yogyakarta akan terkubur, bukan oleh abu vulkanik, tapi oleh uap panas bertekanan tinggi yang akan merebus semua makhluk hidup dalam radius lima puluh kilometer.
Sekar harus lari. Ia harus mencapai lereng Merapi sebelum "ketel uap" raksasa ini meledak.